Volume 2: Refleksi

1515 Views |  1

Setiap individu terlahir dalam sebuah kehidupan kolektif yang dikenal dengan nama “komunitas.” Secara eksplisit maupun implisit; ilmu, budaya, dan cara hidup sebuah komunitas akan tercetak dalam diri individu.

Komunitas terbentuk dari kesamaan latar belakang dan visi untuk mencapai tujuan bersama, dengan bergerak cepat dari bawah ke atas, kadang memangkas jalur birokrasi hirarkis yang berbelit. Kemudian, dialektik ruang maya kini hadir; memecah dan membentuk komunitas pada saat yang bersamaan. Individualisme meningkat, masyarakat makin acuh tak acuh dengan sekelilingnya. Di sisi lain, berkatnya, pembentukan komunitas tidak lagi terbatasi oleh ruang dan waktu.

Dalam Ruang edisi 9 kategori “Refleksi”, kami menyuguhkan serangkaian upaya para akademisi, praktisi, pengamat, maupun mereka yang berada di tengah-tengah komunitas untuk memaknai kembali apa yang selama ini mereka catat, rekam, dan rasakan. Sembilan artikel yang akan kami terbitkan sepanjang bulan November ini akan mengantar kita untuk tidak hanya berpikir kembali, tetapi juga mengalami lebih dalam melalui sudut pandang tiap kontributor akan tantangan yang dihadapi komunitas dalam pemahaman mereka.

Yusni Aziz dalam artikelnya “Di Balik Pintu Surga Persia” yang tempo hari dimuat di koran Tempo mengawali wacana dengan pengalamannya mengamati fenomena yang ia amati pada  masyarakat Persia dari sebuah bangunan arsitektural khas timur tengah: masjid. Kemudian Robert Dujmovic mewacanakan hal serupa dalam pengamatannya tentang “Architecture and Community”, menitikberatkan hubungan sebab-akibat antara keduanya. Sementara Yoppy Pieter memberi suguhan esai foto bertajuk “Teater Tribal Bumi Takpala” tentang suasana kampung tribal di Alor, dan dinamika di dalam komunitas mereka di tengah arus modernitas. Di artikel “Arsitektur Rizoma”, Andreas Fitrianto membahas seluk-beluk arsitektur akar-rumput dengan pemaknaan dan pengemasan yang unik. Lalu Sigit Kusumawijaya menjabarkan perkembangan ruang publik di dunia maya sebagai wadah baru yang membentuk komunitas-komunitas dalam kategori sosial-budaya tertentu di artikel “Komunitas Online di Era Media Sosial dan Perannya di dalam Menciptakan Ruang Publik”. Ivan Nasution memberikan gambaran komunitas pendatang di negeri asing yang mengokupasi ruang publik dalam jumlah besar sehingga menimbulkan sebuah fenomena dan menghadirkan karakter ruang yang baru, dalam esai foto “Minggu Pagi di Victoria Park: Sebuah Fenomena Eksklusi dan Inklusi”. Pengamatan lebih lanjut tentang tarik-menarik komunitas di antara ruang publik maya dan fisik dengan studi kasus di Jepang dilakukan oleh Dam Hee Kim, Ya Han Tu, dan Ahmad Nazmi dalam artikel “From Cyberspace to Cityscape: Virtual Communities and the City”. Yusni Aziz berupaya mendapat jawaban akan pertanyaan mengenai peranan arsitek dalam komunitas pada “Wawancara dengan Johan Silas”. Di akhir wacana, Kamil Muhammad menutup volume kedua edisi Komunitas ini dengan artikel “Traces”, berisi pemikirannya seputar komunitas dalam pengalamannya menjadi sukarelawan di komunitas Ciliwung Merdeka.

Kami berharap serangkaian artikel di atas akan membawa kita semua untuk merefleksikan dan meredefinisi pemahaman tentang “komunitas” dengan lebih bijak, bagaimanapun istilah tersebut dimaknai dalam setiap konteks yang disuguhkan oleh setiap kontributor. Karena pada akhirnya, setiap kita terlahir dalam sebuah kehidupan kolektif yang merepresentasikan ilmu, budaya, dan cara hidup tertentu (dan terkadang, kontradiktif satu dan yang lain) dalam setiap gerak-gerik. Hingga kembali ke diri kitalah, kompromi antara apa yang kita pahami dan apa yang selama ini melatarbelakangi kehidupan kita harus diputuskan.

Selamat menikmati Ruang!

admin
Ruang adalah sebuah majalah online bertema arsitektur, kota, dan lingkungan binaan, beserta segala permasalahannya. Kami tertarik dengan cara pandang yang beragam dalam melihat sebuah tema; karenanya, kami mengambil sebuah posisi yang objektif dengan memberikan kesempatan kepada setiap pandangan untuk menyuarakan argumennya. Tidak ada benar dan salah dalam berpendapat, yang ada hanya argumen yang lebih berdasar. Kami percaya bahwa konsensus bukanlah sebuah tujuan. Karenanya kami berupaya agar setiap edisi diwarnai oleh beragam kontributor: praktisi, akademisi, pengamat, penikmat, pengguna, patron maupun kritikus dari berbagai disiplin ilmu.

Ruang tidak mencari solusi terhadap sebuah permasalahan yang diangkat dalam setiap tema. Bagi kami, untuk saat ini merupa pertanyaan yang baik dan tepat lebih diperlukan daripada terburu-buru mengambil solusi. Maka, setiap edisi akan dibuka oleh sebuah pertanyaan berupa call for paper yang akan melahirkan sebuah edisi. Dan, edisi tersebut menjadi pengantar bagi sebuah temuan awal dari tema yang ditampilkan. Namun edisi tersebut belum akan ditutup, dan akan terus dibuka untuk mencari cara pandang lain mengenai permasalahan dalam tema tersebut.