Village is a Future Community

2245 Views |  1

(sebuah catatan atas presentasi Singgih S Kartono)

Jum’at 23 Agustus 2013.

Di rumahnya di desa Kandangan, Pak Singgih mengajak saya duduk melihat sejumlah slide presentasinya. Ia ingin menceritakan beberapa pemikirannya seputar komunitas Desa, yang ia sebut sebagai “a Future Community,”

Dan mulailah ia bercerita;

“Pada dasarnya semua aktifitas saya itu berkisar pada bagaimana sebuah desa bisa berkembang sesuai dengan potensinya, jadi di presentasi ini saya tulis; I believe, Village is the answer.

Menjawab apa sebenarnya? Terutama menjawab gambaran kehidupan yang sustainable dan lestari. Ya, sebenarnya komunitas lestari itu lebih bisa diwujudkan dalam komunitas desa.

Salah satu yang membuat saya kembali ke desa adalah pernyataan ini:

Someday, there will be many people work in remote areas, but they connected internationally cause of advancement on information and telecommunication technology.” (Alvin Toffler, 1970)

Suatu saat akan banyak orang bisa bekerja di tempat-tempat terpencil dan terkoneksi secara internasional karena kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi.

Hal ini sudah terbukti dan menjadi suatu penguat bahwa kita tidak selalu harus berkumpul di kota; desa-desa pun bisa berkembang. Kenapa orang berkumpul di kota? karena semua informasi ada di kota, hal ini membuat komunikasi di kota menjadi lebih mudah.

Nah, sekarang kondisinya sudah berubah. Di samping banyak hal yang lain, yang menjadi permasalahan saat ini adalah kelestarian lingkungan dan kelestarian kehidupan itu sendiri.

Kenapa desa? Karena saya lahir di desa, sehingga saya mengenal komunitas ini dengan baik.

KEMUDIAN desa adalah suatu komunitas yang sangat lengkap. Walau berukuran kecil, desa memiliki wilayah, pemerintahan, aktifitas ekonomi, bahkan budaya sendiri.

Kemudian ini berdampak pada kekuatan komunitas itu sendiri. Desa hampir mampu untuk self-sufficient, kalau memang betul-betul dikonsepkan seperti itu. Contohnya Badui Dalam. Badui Dalam itu sangat kuat, mereka tidak pernah kekurangan beras karena mereka membuat suatu sistem yang melarang memperjual-belikan beras.

Kemudian, pada ekstrim yang lain, hampir sebagian besar kebutuhan kota itu di-impor. Ya, memang kelihatannya kota memiliki banyak industri, tapi bahan-bahan industri itu didatangkan dari tempat lain.

Yang bisa betul-betul self-sufficient itu sedikit!

Dalam konteks sebuah komunitas: Kota dan Desa. Desa itu kuat. Kota itu lemah.

KEMUDIAN, desa itu bisa menjadi apa saja sih? Atau apa yang bisa dikembangkan di desa?

Misalnya pertanian dapat dikembangkan jadi organic farming, argo forestry. Ini sebenarnya sudah ada, kayak kebun-kebun kopi atau yang lain.

Kemudian desa juga bisa membangun sumber energi terbarukan, seperti pembangkit listrik di aliran sungai. Kalau pemerintah Indonesia serius dan melihat desa sebagai sebuah potensi, dan tidak ingin ada suatu masalah atau bencana listrik nasional, mereka seharusnya membangun sistem energi di tiap desa, misalnya energi surya atau lainnya yang lebih mandiri.

Kemudian local clothing industry, sebenarnya orang di komunitas desa bisa membuat pakaian sendiri. Dan lagi-lagi orang-orang Badui sudah melakukannya sendiri.

Kemudian Architecture construction, manusia  membutuhkan tempat bernaung atau shelter. Namun hal berkembang lebih jauh, tidak hanya untuk tempat berteduh, tapi menjadi bagian dari kebudayaan manusia itu sendiri. Bahkan arsitektur di desa kemudian memberikan wajah yang sangat kuat bagi desa itu sendiri.

Ini menjadi suatu hal yang sangat menantang!

Kemudian contextual education, pendidikan itu sebenarnya “core” dari sebuah komunitas. Jadi kita harus membuat suatu sistem pendidikan yang kontekstual. Apa sih yang dibutuhkan oleh komunitas ini? pendidikan itu harus di-set-up sesuai konteks dan tidak perlu “Ngoyo Woro” atau kemana-mana, alias nggak jelas. Tidak fokus dan ke sana kemari. Ya, pendidikan sekarang itu ngoyo woro.

Kemudian eco-socio-culture tourism, ya contohnya Spedagi.

Kemudian village bank, desa sebenarnya punya kekuatan finansial tersendiri. Ini bisa dibuktikan dengan keberadaan bank-bank yang tumbuh pesat di pedesaan, seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Hal ini menunjukkan bahwa di desa ada uang, yang terkumpul karena orang membutuhkan uang tunai dan dia harus mengembalikannya lagi. Cara seperti itu ternyata bisa mengumpulkan dana yang cukup besar. Bagaimana jika BPR ini dimiliki oleh masyarakat? Nah, itu sebenarnya ide dasar yang sangat bagus, tapi untuk merealisasikannya dibutuhkan strategi-strategi yang membantu mengarahkan masyarakat untuk membangun kekuatan finansial desa.

Di desa juga bisa dibuat creative industry, misalnya Magno.

Kemudian processing industry, desa menghasilkan pertanian dari argo foresty atau organic farming, dia bisa mengaktifkan processing industry-nya. Industri ini perlu untuk mengamankan harga hasil argo foresty dan organic farming. Jadi misalnya, sayur atau bahan makanan yang sifatnya segar itu waktunya cuma sebentar, tapi kalau dia diproses, dia akan punya waktu yang lebih panjang. Industri pengolahan itu sendiri akan memberikan lapangan kerja bagi masyarakat Desa.

Kemudian alternative healthcare, yang dibutuhkan adalah bagaimana agar masyarakat menjadi lebih sehat. Kalau seseorang memakan makanan organik, kehidupan tempat tinggalnya bebas polusi, tentu dia akan lebih sehat. Sehingga fasilitas kesehatan tidak menjadi beban bagi komunitas itu sendiri. Lalu karena penyakitanya itu penyakit kelas “teri”, diobati dengan herbal pun sembuh, jadi nggak perlu “obat apa lah”.

Village is a Future Community (Illustrasi. Dok. Singgih S Kartono)

 

INI SAYA sebut village is a future community. Kita sebenarnya bisa membuat hal ini. Semacam sesuatu hal yang sebenarnya luar biasa ya, karena di kota itu nggak bisa bikin argo foresty kecuali kalau maksain. Desa memiliki lebih banyak potensi untuk melakukan itu. Nah, kalau kita ngobrol tentang isu kelestarian bumi, ini juga harus menyangkut bagaimana kita menjaga populasi manusia tidak bertambah terus menerus. Dan itu pun bisa dilakukan melalui komunitas kecil, yah misalnya Desa.

Jadi, misalnya pertumbuhan di desa  stabil, kemudian diaplikasi di banyak desa, ya tentu saja populasi total suatu negara atau dunia bisa terjaga. Tanpa, dibutuhkan perang, atau bencana alam yang “dibuat” untuk membunuh manusia agar populasi menjadi stabil.”

Slide presentasinya kemudian menampilkan pengalamannya mengikuti acara konfrensi Internasional yang pada tahun 2012 diadakan di Thailand.

 Ia lanjut bercerita;

 “International Conference of Design for Sustainability (ICDS) adalah acara dua tahun sekali, tahun 2012 kemarin diadakan di Thailand. Kami diajak ekskursi, mengunjungi kuil dan desa tradisional, ketemu biksu dan belajar aspek spiritual. Kemudian kami membuat suatu diskusi yang kemudian disimpulkan dalam presentasi tiap kelompok. Nanti di ICDS Kandangan pun akan seperti itu, malah  lebih karena kita punya project-project yang sedang berlangsung dan memang dibuat khusus.

Nah, pada diskusi di Thailand tadi, kelompok saya berkesimpulan bahwa sustainable living itu sebenarnya suatu yang terkait dengan alam. Ini hal yang paling dasar. Kemudian kita belajar kehidupan yang lebih simpel. Kehidupan para biksu. Dari sini kita dapat gambaran akan kehidupan yang lestari.

Village sustainable living (Illustrasi. Dok. Singgih S Kartono)

Village sustainable living (Illustrasi. Dok. Singgih S Kartono)

Ada beberapa point penting terkait sustainable living. Nah, kalau di desa, desa harus direvitalisasi atau digiatkan kembali. Kalau di kota, kita dapat membuat urban village, tapi kata kuncinya tetap Desa.

Ini gambaran di desa, sustainable living di Desa, kemudian ini ada gambar tentang sungai, pohon-pohon. Ya ini untuk menggambarkan suatu komunitas itu adalah sesuatu yang utuh dengan segala aktifitas yang saling terkait. Kemudian di kota, kita mesti membuat bangunan buatan, karena keadaan lahan yang terbatas.

Urban sustainable living (Illustrasi. Dok. Singgih S Kartono)

Urban sustainable living (Illustrasi. Dok. Singgih S Kartono)

Jadi komunitasnya berupa gedung, dan orang bisa membuat pertanian vertikal yang dapat menampung air hujan di bagian atas kemudian digunakan untuk proses komunitas di bawahnya dan diputar lagi. Ini suatu siklus atau rantai hidup yang dibuat.

UNTUK SPEDAGI sendiri, tujuannya adalah untuk menarik external resources. Agar sumber daya yang ada bisa datang ke Desa untuk membantu perkembangan (komunitas) Desa yang lebih baik.”

Spedagi (Illustrasi. Dok. Singgih S Kartono)

Spedagi (Illustrasi. Dok. Singgih S Kartono)

Slide-slide presentasinya telah habis. Malam kini benar-benar semakin larut. Kami sudah sama-sama menguap dan kantuk. Saya kembali ke sofa untuk tidur. Mata sudah terpejam tapi beberapa slide yang baru saja selesai ia perlihatkan masih terbayang. Sesuatu yang menarik tak lekas dilupakan.

Muh Darman
Seorang blogger, beberapa liputannya tentang arsitektur dipublikasikan melalui blog ruang17 - (www.ruang17.com) sebuah blog arsitektur yang dibuatnya sejak tahun 2010. Tak hanya mengisi dengan liputannya sendiri, blog ruang17 juga menerima
kontributor dari rekan-rekan yang membagikan informasi secara gratis untuk peningkatan mutu bacaan dan informasi arsitektur di Indonesia.