Teater Tribal Bumi Takpala

1858 Views |  2

 

Fala foka, rumah adat suku Abui ©Yoppy Pieter

Fala foka, rumah adat suku Abui ©Yoppy Pieter

Cakrawala yang berganti jingga menjadi latar langkah saya menuju Kampung Adat Takpala di kabupaten paling timur gugusan Nusa Tenggara Timur. Mimpi yang sudah hadir sejak dua tahun lalu. Sejak saya terhipnotis oleh kesahajaan orang Abui dalam layar televisi.

Ragu yang berlomba dengan detak jantung menemani saya berjalan menanjak. “Sudah terlalu sore ini, semoga orang-orang Abui masih mengizinkan saya untuk singgah,” ucap saya dalam hati.

“Halo, selamat sore,” sapa seorang pria berambut putih dan berperawakan kurus kekar. Ia kemudian mengenalkan diri sebagai Martinus.

“Bermalam saja di sini, besok ada tamu dan kita ada tari penyambutan,“ tegasnya sambil mengunyah sirih. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya untuk bisa bermalam di sini. Untuk merebahkan diri di lantai-lantai bambu fala foka, rumah adat Alor, yang sesekali berdernyit mengikuti gerakan tubuh saya.

Malam begitu menyita kesunyian. Takpala memang sebuah kampung yang tidak terlalu dipenuhi penduduk. Melonjakknya jumlah keluarga telah memaksa sebagian besar dari mereka berpindah ke kampung-kampung di bawah bukit yang lebih luas.

Menyambut pagi, seorang perempuan muda menyeduh sejumput kopi pada gelas bermotif bunga. Saya duduk tertegun di tepian fala foka memandang saujana biru di atas laut Flores.

“Selamat pagi,” sapa Martinus dengan senyum ramah. Kami mulai membicarakan jati diri mereka sebagai orang Abui dan kampung adat Takpala, tempat lahirnya para ksatria.

Lima tahun sebelum Indonesia merdeka, Piter Kafilkae, ayah Martinus mewakafkan tanahnya sebagai lahan berdirinya kampung adat Takpala. Eksodus tersebut dilatarbelakangi sebuah aturan kerajaan tentang balsem, atau pajak kerajaan. Tidak mudah bagi raja untuk menerapkannya ke suku Abui yang tinggal di pegunungan Alor.  Akhirnya ia menetapkan pemindahan ini untuk mempermudah pelaksanaan kebijakan tersebut.

Jajaran bangku tamu menghadap mesbah. ©Yoppy Pieter

Jajaran bangku tamu menghadap mesbah. ©Yoppy Pieter

Menurut Martinus, eksodus tidak sontak mengubah tatanan hidup suku Abui yang hidupnya bersandar pada alam. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa pergeseran zaman juga membawa dampak pada hidup mereka.  Walaupun babi hutan masih banyak tersedia di hutan, orang-orang Abui akan berpikir ulang untuk hidup seutuhnya dari berburu. Mereka sudah mendapatkan bekal bagaimana menghasilkan uang dari sektor pertanian, dan sektor pariwisata dengan memberdayakan seluruh kerabat Abui di Kampung Adat Takpala.

Tidak ada yang tahu pasti kapan Takpala berganti nama menjadi kampung adat Takpala, sebuah kampung yang menampung hajat hidup yang secara perlahan mengalami pergeseran fungsi sebagai tujuan wisata.

Penambahan kampung adat semakin menegaskan bahwa Takpala mentasbihkan dirinya sebagai destinasi kultural di zaman yang sudah modern. Hal ini tidak dipandang sebagai ancaman, bahkan perannya telah memberikan sumbangsih kepada kekayaan nusantara sebagai living museum. 

Seperti jajaran fala foka yang menyita pandangan saya sejak datang di sini. Rumah adat yang ditopang pilar-pilar kayu dengan atap limas dengan tiga lapisan ruang di dalamnya. Saya kalahkan ragu untuk melihat ke dalam, dan seorang perempuan mempersilahkan saya untuk masuk.

Saya berdiri di lantai dua. Di dalam ruangan yang tidak teraba dimensinya tanpa bantuan pelita. Saat ia dinyalakan, kedua mata saya mulai dapat menangkap detail-detail kayu dan rumbia yang saling bersimpul, jajaran piring di lantai, sebuah tikar dengan selimut di dekat tungku api. Suasana tempat di mana perempuan menghabiskan waktu mereka saat malam, juga memasak.

Saya mengadahkan kepala ke lantai tiga yang ukurannya menyempit. Di dalam terlihat tumpukan jagung masih terbungkus kulit bernoda asap, dan tumpukan pusaka pemilik rumah tersemat di ruang paling atas. Pengapnya asap dan cahaya yang temaram mendekap saya dengan pengap, saya kemudian memutuskan keluar untuk menyambangi rumah tetangga.

 

Walau tidak begitu luas, Takpala sangat kaya dalam tatanan kehidupan sosial Abui. Kristen Katolik dan Protestan mendominasi kartu identitas penduduk, meski kepercayaan terhadap alam masih mengalir deras di diri mereka. Tidak sepenuhnya konsep trinitas dipandang sebagai pegangan hidup.

Fala foka sendiri tidak didirikan tanpa aturan.  Mereka berdiri mengelilingi sebuah situs peninggalan zaman Megalitikum yang disebut mesbah. Sebuah mikro kosmik dalam kepercayaan nenek moyang yang diamini Abui.

Udara hangat mengiringi kerabat yang datang.  Para perempuan telah berbalut kain tenun dengan rambut yang dibiarkan mengembang, disusul kerabat lelaki dengan rangkaian senjata  sebagai identitas kesatria. Takpala yang sunyi kini berubah menjadi panggung pertunjukan, sebuah teater tribal.

Tali diikatkan pada batang-batang pohon asam, dan kain-kain tenun berkibar dihembus angin dari laut Flores. Dalam sekejap, pasar tradisional hadir di samping teater itu. Para perempuan berkumpul menggelar dagangan. Cendramata khas Alor, kerajinan tangan dan kain tenun menggoda saya untuk berbelanja.

Ketika saya kembali melihat Martinus, ia sudah mengenakan pakaian ksatria Abui, lengkap dengan pedang dan perisai perang. Ia bukan lagi sosok yang sama seperti beberapa menit lalu.

Teriakan menggema dari ujung kampung menyambut serombongan tamu Eropa. Saat itu juga sosok Martinus berlari, menari dengan otot yang berdenyut di balik kulitnya yang legam. Matanya menggeliat mengikuti sapuan pedang .Menarikan Cakalele dengan liar, berteriak, indah sekaligus menakutkan.

Martinus menarikan Cakalele ©Yoppy Pieter

Martinus menarikan Cakalele ©Yoppy Pieter

Saya kemudian teringat dengan kisah para ksatria yang ia sampaikan tadi malam. Bagaimana leluhur mereka berperang dengan suku lain dari pulau-pulau di sekitar Alor. Saya hampir percaya dengan seni perang para leluhur yang terkadang di luar nalar logika saya. Seperti saat ia menyatakan kemampuan terbang ke pulau-pulau tetangga demi mempertahankan harga diri dengan berperang.

Mesbah kini dikelilingi putaran perempuan yang membentuk simpul lingkaran Lego-lego. Gemerincing gelang kaki, gigi-gigi mereka yang berwarna burgundi, rambut keriting, serta tangan yang saling bertautan membentuk simbol eratnya persaudaraan , lembut, dan kokoh. Lantunan syair Abui tidak henti-hentinya membahana.

Ketulusan mereka mengisi udara yang semakin hangat. Walau menari di hadapan tamu kerap mendapat cibiran miring sebagai pentas eksploitasi, atau penistaan autentitas adat leluhur. Namun tidak adil jika kita tetap mengamini cibiran tersebut, mereka hanya mempertahankan hidup lama di tengah dunia yang semakin tidak menghargai masa lalu. Kompromi mempertahankan ajaran leluhur dan menyambung hidup adalah pilihan mutlak suku Abui di bumi yang melahirkan mereka, Alor.

Perempuan-perempuan Abui dalam formasi lego-lego yang melambangkan persatuan ©Yoppy Pieter

Perempuan-perempuan Abui dalam formasi lego-lego yang melambangkan persatuan ©Yoppy Pieter

Yoppy Pieter
Based in Jakarta, Indonesia. Yoppy Pieter is a photographer who documents social issues and travel. His interests led him to work as an advertising coordinator at a travel magazine in 2004. Three years later he began to pursue photography as a medium to channel his passion.

He took some photography training in PannaFoto Institute, Permata Photojournalist Grant, and the Angkor Photo Workshop. Since 2010, he has been working as freelance photographer and also a travel writer. His works are published in www.yoppycture.com