Rumah

1394 Views |  Like

oleh Yandi Andri Yatmo dan Kristanti Dewi Paramita

 

Memahami makna ‘rumah’ bagi masyarakat Indonesia bukan perkara sederhana. Bahasa Indonesia mencatat setidaknya puluhan penggunaan kata rumah dengan berbagai makna dan penggunaannya masing-masing. Orang kerap mengartikan rumah sebagai tempat tinggal. Namun ‘rumah’ tidak selalu bermakna ruang ‘tinggal’, sebab apabila demikian tentu istilah ‘rumah tinggal’ tidak akan diperlukan. Ada rumah-rumah yang ditujukan hanya untuk kegiatan-kegiatan tertentu, seperti rumah ibadah, rumah makan, rumah baca, rumah duka, rumah produksi, hingga rumah jagal. Ada istilah yang menggunakan kata ‘rumah’ dengan arti kiasan, seperti rumah sakit atau rumah tangga. Rumah sakit tentu bukan rumah untuk sakit, tapi malah rumah untuk mencari kesehatan. Begitu juga rumah tangga, tentu tidak serta merta rumah yang berisi tangga. Apabila pencarian makna tersebut disederhanakan hanya menjadi ‘rumah’ yang ditinggali, terdapat pula berbagai jenis rumah yang ditinggali namun hanya untuk saat tertentu, seperti rumah dinas, rumah kost, rumah yatim piatu, hingga rumah tahanan.

Lalu, rumah dengan makna seperti apa yang dicari?

Indonesia memiliki kebudayaan yang kaya dengan beragam suku yang memiliki tradisi dan rumah adatnya masing-masing. Nama-nama rumah adat tradisional seperti rumah panjang, rumah panggung, hingga rumah gadang, tentu tidak asing lagi di telinga. Namun bagaimana makna penamaan rumah-rumah tersebut dipahami? Rumah panjang adalah rumah yang menampung beberapa keluarga untuk bertinggal bersama dalam satu deret rumah yang panjang. Rumah panjang bermakna sebagai rumah yang memenuhi kebutuhan bertinggal penghuni rumah yang melebihi satu unit keluarga bersama-sama. Rumah panggung adalah rumah yang ditinggikan sehingga dasar rumah tidak menempel pada tanah. Rumah panggung merupakan tanggapan rumah terhadap situasi alam dan memudahkannya beradaptasi terhadap ancaman bencana. Rumah gadang dalam bahasa Minangkabau memiliki arti ‘rumah besar’, sebab rumah tersebut memang diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan bertinggal secara komunal dengan jumlah orang yang cukup banyak. Rumah gadang berfungsi tidak hanya sebagai ruang bertinggal, namun juga menampung kegiatan sosial komunitas tersebut, seperti pertemuan keluarga besar , upacara-upacara adat dan perayaan komunitas. Dengan demikian, rumah-rumah adat tersebut memiliki makna bagaimana suatu rumah akan digunakan dan bagaimana rumah tersebut berada dalam suatu lingkungan.

Dalam konteks modern penamaan rumah berubah dan terjadi pergeseran dalam memaknai rumah-rumah tinggal. Arsitek pada umumnya menamai rumah-rumah hasil karyanya dengan berbagai sebutan, mulai dari ‘rumah baja’, ‘rumah botol’, ‘rumah kampung’ hingga ‘rumah murah’. Sebutan-sebutan ini cenderung berhubungan terhadap apa material yang digunakan pada rumah tersebut. Seringkali bahkan hanya berkaitan dengan apa yang ingin diasosiasikan dengan rumah tersebut ketimbang bagaimana rumah tersebut bermakna.

Penggunaan nama material pada penamaan rumah yang serupa juga digunakan pada ‘rumah kaca’, namun dengan makna yang cukup berbeda. Rumah kaca memang terbuat dari kaca, namun kaca tersebut memiliki fungsi sebagai penangkap radiasi matahari yang dibutuhkan untuk budidaya tanaman yang berada di dalamnya selama sepanjang tahun. ‘Rumah keramik’ milik perajin keramik bermakna rumah sebagai galeri keramik karya sekaligus tempat belajar keramik bersama-sama. ‘Rumah tenun’ memiliki makna serupa dengan rumah keramik, yakni rumah penenun bertinggal dan membuat karya berupa tenunan untuk diperjualbelikan. Senada dengan nama-nama rumah adat, material pada penamaan rumah yang demikian memiliki makna lebih dari sekedar apa material yang digunakan dalam rumah, namun bagaimana rumah dengan material tersebut mempengaruhi fungsi dari rumah dan makna dari rumah tersebut bagi penghuninya maupun komunitas di sekitarnya.

Masyarakat Indonesia juga mengenal kata lain dalam menyebut tempat tinggal, yaitu ‘gubuk’. Berbeda dengan rumah, nasib ‘gubuk’ dalam memaknai ruang tinggal seakan dianaktirikan. Gubuk memiliki arti sebagai ruang tinggal sederhana yang umumnya dibuat dengan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitarnya. Namun dalam keseharian masyarakat, penggunaan kata gubuk seakan selalu diasosiasikan negatif. Gubuk identik dengan ‘gubuk derita’ ataupun ‘gubuk reyot’. Pencarian kata gubuk dalam situs pencari semacam Google menghasilkan tajuk-tajuk berita seperti ‘Korban Lapindo Dirikan Gubuk Derita di Atas Tanggul’ , ‘Pelajar SMP Dinodai Temannya di Sebuah Gubuk’ , ‘Petugas Bongkar Gubuk Liar Pinggir Krueng Aceh’ hingga ‘Nyabu di Gubuk, Dokter Spesialis THT Ditangkap Polisi ‘ . Dari tajuk-tajuk tersebut, gubuk menjadi lokasi kejadian kriminal serta tempat bertinggal di antara penderitaan hidup, hingga diungkapkan dalam lirik lagu dangdut karya Meggy Z berikut ini:

Di dalam gubuk bambu tempat tinggalku

Di sini kurenungi nasib diriku

Siang dan malam aku membanting tulang

Demi untuk hidup di masa depan
Aku yakin dan ku percaya

Nanti si gubuk bambu jadi istana…

‘Gubuk bambu’ dalam lagu Meggy Z adalah tempatnya merenungi nasib diri yang harus bekerja keras membanting tulang demi menyambung hidup. Hal yang menarik terdapat pada lirik terakhirnya yang meyakini bahwa kelak si ‘gubuk bambu’ sebagai ruang tinggalnya tersebut akan berubah menjadi istana dan tentu dengan demikian dipercayai dapat membuat Meggy Z lebih bahagia. Berkebalikan dengan istilah ‘rumahku istanaku’, barangkali memiliki sebuah ‘istana’ justru dapat membuat orang merasa lebih di ‘rumah’.

Salah satu istana yang terkenal adalah istana Versailles nan megah dan mewah yang didiami oleh Marie Antoinette yang bernasib malang. Dengan kebiasaannya untuk berpesta pora di istana tidak banyak yang tahu bahwa sesungguhnya Marie memiliki sebuah ‘gubuk’ yang dicintai dan ditinggalinya dari waktu ke waktu. Gubuk itu bernama Hameau de la Reine yang terletak di salah satu bagian halaman Istana Versailles yang sangat luas. Marie menyukai kesederhanaan kehidupan pedesaan dan peternakan yang mengelilingi gubuknya. Di sekitar gubuk itu terdapat tempat memelihara hewan-hewan, taman-taman yang indah, dan sungai yang mengalir dengan suasana yang menenangkan. Bagi Marie, gubuk ini adalah tempat peristirahatannya dari kehidupan istana yang melelahkan, dan justru menjadi semacam ‘resort’.

Makna gubuk sebagai resort sesungguhnya sesuai dengan konsep penginapan resort berbagai destinasi wisata di Indonesia yang banyak terdiri dari gubuk-gubuk dengan bahan alami seperti bambu dan anyaman rotan. Walaupun mungkin (gubuk) resort tersebut juga memiliki tidak memiliki listrik , asupan air yang terbatas, tanpa wifi dan terdiri dari bahan-bahan seadanya, (gubuk) resort tersebut sudah tentu tidak didiami dengan derita. Sebab kalau memang ketidaklengkapan material ini dianggap sebagai sebuah penderitaan artinya penghuni (gubuk) resort justru membayar mahal untuk mengalami penderitaan.Makna gubuk sebagai ruang bertinggal menjadi estetis dan romantis ketika kesederhanaan dan keterbatasan tersebut dialami dalam suatu konteks entah itu liburan maupun bulan madu, didiami secara temporer serta bersanding dengan destinasi wisata seperti pantai, gunung, sawah,pedesaan, dan lain sebagainya. Ketika gubuk tersebut didiami secara lebih permanen apalagi berada di tengah kampung kota yang kumuh maupun kolong jalan layang, ia menjadi derita.

Terlepas derita penghuni, gubuk adalah ruang bertinggal yang paling mencerminkan kondisi lingkungan dan identitas penghuninya. Gubuk umumnya dibangun langsung oleh penghuni dengan bahan-bahan yang ada di sekitarnya. Tak ada anyaman rotan maka akar pun jadi, malah kadang-kadang bisa juga terbuat dari potongan seng bekas, genteng bekas, terpal bekas, hingga lembaran plastik bekas yang disatukan untuk sekat ruangan. Tergantung apakah penghuninya adalah pemulung, perajin atau kuli bangunan, gubuk mereka akan mencerminkan bukan hanya apa materialnya, namun juga bagaimana material tersebut disatukan dan disesuaikan pada bagian-bagian gubuk berdasarkan kemampuan dan kegunaan material tersebut bagi pemahaman pemiliknya tentang kebutuhannya bertinggal.

Senada dengan makna negatif gubuk, penggunaan kata rumah dalam tajuk berita semacam ‘Koruptor di Depok sudah Dirumahkan’ dan ‘Akan Dirumahkan, Ribuan Guru Honorer di Mojokerto Resah’ mengandung makna sebagai pemutusan hubungan kerja dengan tidak hormat bahkan bersifat keputusan sepihak. Di’rumah’kan identik dengan nasib yang tidak menentu. Penggunaan istilah tersebut menguak makna negatif ‘rumah’ sebagai tempat penyingkiran dalam konteks tertentu, bukannya tempat yang memberikan kenyamanan terhadap penghuninya.

Berbicara tentang ‘rumah’ maka tentu juga tidak akan lepas dari kata perumahan, sebab di tengah keterbatasan lahan dewasa ini sebuah rumah selalu hadir berkelompok dengan ‘rumah’-‘rumah’ lainnya dan membentuk kelompok ‘rumah’. Kelompok ‘rumah’ juga hadir melalui rumah susun, yang berarti rumah yang disusun (ke atas). Penggunaan rumah susun khusus pada perumahan vertikal mengandung pertanyaan apakah dengan demikian perumahan biasa tidak tersusun? Mungkin lebih baik rumah susun diubah sebutannya menjadi rumah tumpuk untuk menghindari ambiguitas makna.

Perumahan identik pula dengan pengembang, yang mengembangkan tanah-tanah di berbagai sudut kota menjadi perumahan yang bergaya. Walaupun tidak semua, tak sedikit di antaranya yang membuat pe’rumah’an dengan konsep pe’murah’an, yaitudengan menekan sebesar mungkin biaya konstruksi yang dibutuhkan dan memaksimalkan tampilan yang dapat dihadirkan untuk menjamin penjualan yang laris. Maka cerita-cerita tentang keluhan dari pembeli terhadap pengembang sudah umum terdengar di berbagai penjuru kota. Umumnya setelah dihuni ternyata cat dinding rumah retak-retak, di dalam rumah terasa panas dan gelap, plafonnya gampang bocor akibat rembesan air dari kamar mandi di lantai atas, hingga lantai keramik yang amblas. Terlepas dari berbagai penyebab dan kejadian kahar yang mungkin turut mempengaruhi terjadinya kejadian tersebut, fenomena ini merupakan cermin pengembangan ‘rumah’ yang menekankan pada apa material yang membentuk rumah. Bagaimana biaya pengembangan rumah dapat ditekan dengan segala cara dibandingkan bagaimana ‘rumah’ dapat dikembangkan secara bermakna namun tetap hemat biaya.

Penjualan perumahan cluster tidak membuat minat orang akan ‘rumah tua’ surut. Rumah tua tentu tidak berisi orang tua seperti ‘rumah jompo’, namun rumah yang sudah memiliki usia cukup lama. Harga rumah tua terkadang dapat jauh lebih mahal dibandingkan bila membeli rumah cluster, terutama apabila rumah tua tersebut berada dalam kondisi baik dan terletak di lokasi strategis. Walaupun membutuhkan renovasi di sana-sini, terkadang rumah tua memiliki kualitas material yang baik seperti rumah tua dengan kusen kayu jati maupun keramik antik yang cukup tahan lama sehingga memiliki pesona tersendiri dan membuat pembeli melihat di balik apa material yang sudah lawas, namun bagaimana suasana keseluruhan yang diciptakan kumpulan material tersebut.

Hal lain yang menarik orang untuk membeli rumah tua adalah istilah ‘rumah tua hitung tanah’ atau ‘terima bongkaran rumah tua’. Rumah tua dibeli karena murah dan hanya dihitung harga tanahnya, mungkin karena kondisinya yang sudah bobrok lantaran lama tak dihuni. Walaupun demikian, ketika rumah tua tersebut akan digunakan dan diratakan, hasil bongkaran rumah tua itu masih juga laku keras di pasaran. Komponen-komponen rumah mulai dari tanah hasil urukan, batu-batu hasil bongkaran, reng bekas, kusen bekas hingga kloset bekas (apalagi dengan merek ternama) dapat dipreteli dan dijual di pinggiran-pinggiran jalan ibukota dengan pembeli yang terus mengalir. Benda-benda yang bekas ini justru ketika digunakanakan terlihat ‘heroik’ di majalah. Makin ‘rustic’ makin bergairah dan layak untuk diperbincangkan. Kalau tutup-tutup kloset bekas itu dikumpulkan lalu dijadikan fasad, apakah namanya jadi ‘rumah kloset’? Bagaimanapun, kalau kloset bekas sudah diletakkan di tempat baru, maka itu akan menjadi ‘kloset baru’ bagi pemiliknya tempatnya mencari inspirasi-inspirasi baru di pagi hari. Demikian ‘pula dengan ‘rumah tua’ ataupun ‘rumah lama’, ketika ditempati oleh pemilik baru, maka ia akan menjadi ‘rumah baru’. Apa dan bagaimana rumah itu, tentu mudah-mudahan akan terasa seperti ‘rumahku istanaku’ dan bukan gubuk bambu ala Meggy Z.

Yandi Andri Yatmo
teaches architecture at the University of Indonesia since 1997. He obtained his PhD degree from the School of Architecture at the University of Sheffield, where he previously studied for Postgraduate Diploma in Architecture and Master of Architecture. His professional experiences include working for Singapore Housing and Development
Board (HDB) and Encona Engineering. His works are primarily on design theories and their relevance to design practice, as well as environmental education.