Ruang-Ruang Pelarian

1122 Views |  2

oleh Yusni Aziz

 

Diam. Tersembunyi. Fasad-fasad itu tidak mengucap lantang apa yang pernah dan sedang terjadi didalam. Realita kebebasan berkota yang terpecah, terpotong kecil, menyusup ke dalam  ruang-ruang domestik. Rumah sebagai ruang pelarian.

Rumah, ketika ditelanjangi dari segala aksesori identitas, pada akhirnya tidak lebih dari sebuah kerangka yang secara fundamental memberikan batasan untuk melindungi dan memberikan privasi kepada sang penghuni. Menawarkan kemerdekaan, melonggarkan seorang individu dari segala tuntutan aksi yang terdapat di dalam ruang publik.

Benteng ©Yusni Aziz

Benteng ©Yusni Aziz

 

Khaneh [1], courtyard house tradisional Iran, dengan massanya yang masif dan tertutup menjembatani kebutuhan privasi yang tinggi dalam kehidupan berkomunitas. Bergerombol dengan yang lain membentuk sebuah Mahalleh [2], seseorang akan dihadapkan kepada sebuah labirin anonim sebagai strategi perlindungan disaat perang; serta menyimpan rapi kehidupan  kolektif yang juga turut menjamur di ruang-ruang tersembunyi [3] dan di dalam halaman rumah.

Tipologi introvert dari Khaneh ©Yusni Aziz

Tipologi introvert dari Khaneh ©Yusni Aziz

 

Teheran, sang ibukota, menjadi sebuah paradigma dimana kebutuhan akan privasi tetap menjadi prioritas di saat dampak globalisasi telah merasuki kehidupan masyarakat Iran. Bangunan-bangunan tipikal dengan jendela terbuka ke arah jalan menjadi sebuah paradoks ketika mereka selalu menutup dirinya dengan tirai, kaca reflektif atau berbagai obyek digunakan untuk menyembunyikan kehidupan di area interior. Tindakan yang dilandasi untuk mematuhi ajaran agama, untuk mematuhi pemerintah, atau untuk memberontak.

Benteng ©Yusni Aziz

Benteng ©Yusni Aziz

Rumah-rumah itu bereaksi terhadap kondisi yang terjadi di ruang publik yang semakin terbuka, arena penanaman ideologi  rezim otoriter Khameini. Seperti kewajiban untuk menggunakan jilbab, kontrol ketat terhadap aksi dan produksi seni [4]; dan segala propaganda pengusung nasionalisme dan keutamaan pemimpin agung yang menghiasi segala sudut kota. Mendorong beberapa lapisan warga melarikan diri dari kota, kedalam. Menjadi narapidana rumah-rumah mereka sendiri.

Menutup diri dari kota ©Yusni Aziz

Menutup diri dari kota ©Yusni Aziz

Rumah akhirnya menjadi ruang-ruang pemberontakan. Ia bermutasi menjadi galeri seni underground, arena pesta, arena berkumpul yang netral ataupun lokasi penembusan proteksi sensor pemerintah terhadap informasi. Rumah menjadi cerminan keinginan warga akan apa yang mereka inginkan untuk hadir di dalam kehidupan berkota. Rumah menjadi ruang-ruang pelarian.

Galeri seni underground ©Yusni Aziz

Galeri seni underground ©Yusni Aziz

 

—-

1. Kata Khaneh berasal dari dua kata: Kan, Xan, atau Gan; dan Serai. Kata pertama berarti “menggali, menciptakan gundukan”, menciptakan sebuah pelindung. Sementara kata kedua berarti “ruang yang dibatasi”. Menegaskan esensi mendasar dari rumah yang merupakan sebuah batasan untuk melindungi penghuni didalamnya.

2. Perkampungan tradisional Iran

3. Takyeh, ruang terbuka teratapi oleh sebuah kain yang tumbuh sporadik didalam Mahalleh, umumnya untuk acara keagamaan; Hammam, fasilitas mandi komunitas; Zulkhaneh, fasilitas olahraga tradisional yang tumbuh secara underground di dalam Mahalleh; menjadi ruang publik utama masyarakat Iran pre-modern yang minim dari segala tuntutan dan pengawasan penguasa.

4. Untuk melakukan pertunjukkan seni diruang publik, seseorang harus melalui persetujuan rumit yang berkemungkinan kecil membuahkan hasil positif. Disisi lain, segala karya seni yang tidak sesuai dengan ideologi negara atau berbentuk mengkritisi tidak dapat dipublikasikan secara legal dan terancam sanksi penjara.

 

 

Yusni Aziz
Alumnus dari double-degree bachelor program kerjasama antara ITS dan Saxion Hogeschool of Applied Sciences. Kemudian menyelesaikan riset di Berlage Institute pada tahun 2013. Saat ini sedang sibuk dengan riset independen dan mengasuh blog pribadi di www.yusniaziz.com