Ruang Publik: Degradasi, Redefinisi, dan Refleksi

1206 Views |  1

Dunia sudah gila.

Sekumpulan perlente berkemeja rapi duduk mengelilingi meja sebuah restoran ternama, menatap layar tablet, masing-masing dengan mulut menganga. Mereka baru saja menghabiskan makan siang, dan sedang menyantap dessert yang sedang disukai banyak orang: video porno. Lalu pelayan mengangkat piring kotor, tersenyum kecil sebelum berbalik menuju dapur. Seolah orang-orang berpendidikan ini hanya sedang menonton film kartun terbaru. Seolah degradasi moral hanya sesederhana kehilangan buku catatan. Terlepas dari isinya yang berharga, buku catatan bisa dibeli lagi.

Ketiadaan ruang terbuka publik bukan hanya persoalan terbatasnya dana dari yang berwenang atau minimnya lahan yang tersisa. Pun bukan cuma soal siapa yang nantinya datang, berdasarkan kultur apa ia akan didesain, dan bagaimana nanti ia diberi nama. Hal-hal tersebut di atas bisa dipikirkan, mengingat banyaknya manusia-manusia terdidik yang menghabiskan waktunya membaca, berdiskusi, membuat tesis soal itu.

Ketiadaan ruang terbuka publik, bisa jadi, adalah salah satu efek dari hilangnya integritas bangsa. Dan nilai-nilai dalam suatu bangsa, mau tidak mau, pertama kali akan dilihat dari bagaimana para pemimpinnya berlaga. Kita tidak akan berbicara tentang politik. Tetapi ruang-ruang publik dalam sebuah kota adalah wadah sebuah kompleksitas budaya dan beragam kepentingan di dalamnya. Maka kesetaraan yang seharusnya dijunjung tinggi akan hilang; terantuk hirarki kepentingan, privatisasi swasta, atau profanisasi ruang akibat dijadikan rumah oleh gelandangan. Sehingga ruang terbuka publik; berdasarkan definisi utopis saat ini tentang plaza bersih dengan burung-burung cantik yang menghidupkan suasana maupun taman-taman rindang yang menciptakan triangulasi; dianggap hilang. Tak ada.

Sektor swasta tak bisa selamanya disalahkan. Mereka menanggapi kebutuhan masyarakat akan ruang terbuka, lalu meraup keuntungan darinya. Cihampelas Walk di Bandung dan Central Park di Jakarta, misalnya. Ruang-ruang yang terbuka, rindang, dikelilingi tempat-tempat makan bertema “warung”, “teras”, “kios”, membuat pengunjung betah berlama-lama. Belum lagi instalasi-instalasi unik sebagai point of interest yang meramaikan suasana. Ruang-ruang ini riuh, hidup. Maka romantisme akan muncul, membuat pengunjung ingin datang kembali. Dan publik menjadi terbiasa oleh privatisasi ruang yang menjadi hak mereka: semua orang bebas melakukan apa saja. Setidaknya mereka yang berbaju bagus dan punya uang untuk berbelanja dan memesan satu meja.

Mungkin, dari sinilah pergeseran makna terjadi. Tempat-tempat itulah yang orang-orang kenal sebagai plaza, park, walk, apapun. Dan hal tersebut bukan masalah baru, melainkan sudah berlangsung lebih dari satu dekade.

Permasalahan selanjutnya adalah terciptanya ruang publik di dunia maya.

Di era dimana arus informasi bergerak cepat dan internet bisa diakses dari mana saja, dunia maya menjadi pelarian manusia-manusia yang lelah terjebak macet berjam-jam hanya untuk mengunjungi rumah saudara atau bercengkrama dengan teman lama. Sudah ada facebook. Menonton berita bersama keluarga selepas makan malam sudah bukan ritual sakral, sudah ada twitter yang menjanjikan berita paling gres dari sudut manapun di dunia. pergi ke perpustakaan untuk belajar atau mencari data sudah merupakan kegiatan yang langka, sudah ada google yang akan menjawab semua. Suatu hari kita tidak akan kaget ketika mendapati tubuh-tubuh kita hanya berdiam di satu kapsul berdiameter 60 cm, pikiran terhubung langsung dengan komputer, dan melalui imajinasi di dalam otak kitalah kita berinteraksi. Tak lama setelah itu, tubuh-tubuh kita akan mati karena kekurangan interaksi fisik, lalu mati. Dan manusia akan punah.

Dan tidak ada yang mustahil di dunia yang mendewakan kegilaan dan menghambakan diri pada dogma-dogma seumur jagung.

*

Ruang publik saat ini mungkin tidak harus berupa taman yang rindang atau plaza yang lapang. Tempat-tempat itu sekarang dijajah kaki lima maupun tunawisma, atau diprivatisasi kapitalis yang merasa (atau bisa jadi benar begitu adanya) sangat memperhatikan kebutuhan pengguna. Ruang publik yang sebenarnya saat ini bisa jadi hanya seluas 10 inci, dengan alamat berakhiran .com dan bisa didatangi kapanpun sesuka hati. Bebas melakukan apapun. It’s not “one step away” anymore, it’s only one click away, dan hanya moral kita yang bisa membatasi.

Mencapainya tak perlu naik angkot maut, tak perlu berjalan kaki di atas trotoar biru mencolok mata, dan tak perlu mengorbankan kewarasan serta harga diri karena selalu memaki yang berwenang. Dan kita membiarkan moral kita terancam. Walaupun hitam atau putih kata mereka hanya soal bagaimana kita memandang. Dan seingat saya kota-kota kita sudah penuh polusi udara.
Semua abu-abu.

(oleh Rofianisa Nurdin)

Rofianisa Nurdin
Menjadi sarjana Arsitektur ITB pada tahun 2012. Ketertarikannya kepada kota, manusia, dan budaya membawanya ke dalam ranah industri kreatif dengan semangat kolaborasi melalui Vidour yang digagas pada tahun 2011 dan CreativeMornings Jakarta yang digagas pada tahun 2014. Memori kolektifnya tersebar di kota-kota Asia Tenggara: Bandung, Ubud, Jakarta, George Town (Penang), dan Singapura. Saat ini menjadi Jakarta Chapter Ambassador di CreativeMornings, Community Manager di lingkaran.co, dan Program Manager di rabu(n) senja bersama tim a publication andramatin.