Reproduksi Empati, Kolaborasi dan Relevansi dalam Pendidikan Arsitektur di Indonesia Catatan dan Refleksi dari Seminar Internasional tentang Pendidikan Arsitektur di Asia “Re-Charting The Knowledge of Architecture”, UII Yogyakarta 2017

522 Views |  Like

 

Masihkah sistem pendidikan Arsitektur kita mampu melahirkan seorang arsitek yang empatik, kolaboratif, dan relevan? © Rancang Kota ITB 2016

Masihkah sistem pendidikan Arsitektur kita mampu melahirkan seorang arsitek yang empatik, kolaboratif, dan relevan? © Rancang Kota ITB 2016

 

Pada bulan November yang lalu saya mendapat kesempatan untuk mengikuti seminar internasional tentang pendidikan arsitektur di Asia yang bertempat di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Asia, dengan ragam budaya dan perkembangannya,dianggap sebagai sebuah entitas yang kompleks. Maka dari itu tema “Re-Charting The Knowledge of Architecture”diambil dengan tujuan untuk mengumpulkan berbagai visi, insight, ide dan teori untuk memetakan kembali sistem pengetahuan arsitektur dalam rangka memperbaiki pendidikan dan praktik arsitektur di Asia. Tujuan tersebut dicerminkan oleh lima sub-tema seminar ini, yaitu Humanity and its Challenges, Uncertainty of Urbanism and Territoriality, Multitude of Cultural Complexity, Digital Reality and Digital Technology, serta Environmentally Appropriate Technology.

Seminar dibuka oleh Prof. Junsuk Lee, AIA, KIA dari Myongji University dengan keynote speech mengenai “Quality Assurance in Architectural Education in Asia – On the Perspective of ‘Design’ Based Architectural Education and Its Holistic Assesment”. Dalam lekturnya beliau menyampaikan tentang pentingnya pendidikan arsitektur yang memadai juga relevan dengan makna arsitektur pada tiap peradaban masyarakat. Selain itu, juga tentang bagaimana bentuk evaluasi yang memadai untuk menilai keberhasilan pendidikan arsitektur.

Makna arsitektur dalam sejarah berkembang dari sesuatu yang pasti serta berhubungan dengan estetika menjadi sesuatu yang tidak pasti. Saat ini berbagai budaya dan nilai bersatu-padu, ditambah pula dengan munculnya berbagai isu yang kesemuanya ini menuntut arsitektur untuk dimaknai sebagai sesuatu yang lebih dan tidak sekadar memberikan nilai estetika saja. Lalu pertanyaannya, bagaimana cara membuat sistem evaluasi yang memadai untuk tuntutan yang begitu luas ini? Tentu tidak dapat dengan sekedar menilai keindahan gambar dan konsep desain.

Setelah mengelaborasi topik relevansi arsitektur dari pembicara umum lainnya, saya dapat sedikit menyimpulkan bahwa relevansi arsitektur dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat bergantung pada paradigma praktik arsitektur, kemampuan berkolaborasi, serta kelenturan ilmu arsitektur itu sendiri.

 

Dinamika Paradigma Praktik Arsitektur

Paradigma praktik arsitektur yang bergeser dari problem-based menjadi project-based mengakibatkan berkurangnya empati arsitek. Prof. Johannes Widodo dalam lekturnya menyampaikan bahwa seringkali praktik arsitektural dengan paradigma project-based menyebabkan berkurangnya empati dan kepekaan arsitek dalam mengidentifikasi, memahami dan menghargai aspek intagible dalam ruang terbangun. Sejalan dengan Prof. Johannes, Prof. Dr. Ibrahim menyampaikan bahwa ketidakpekaan arsitektur terhadap masyarakat juga terjadi di Turki. Disebutkan bahwa arsitek yang mengenyam pendidikan formal, secara umum, sebenarnya memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan arsitektur. Namun sayangnya, mereka kurang dapat berperan di masyarakat karena pemikirannya yang terpaku pada ‘standar arsitektur yang tinggi’, yang nampaknya kurang relevan dengan kondisi saat ini. Kurangnya empati dan ketidakpekaan, selain dapat mengorbankan kelompok masyarakat tertentu, juga dapat berakibat pada berkurangnya kualitas lingkungan binaan yang disebabkan oleh arsitektur yang menjadi lebih homogen.

Hilangnya kepekaan dan empati terhadap aspek intagible terjadi pula di Indonesia. Arsitektur yang berjalan semakin dekat menuju homogenitas menjadi tidak relevan dengan kompleksitas budaya Indonesia. Padahal, kompleksitas budaya Indonesia sendiri dalam kerangka ilmu arsitektur dapat ditelusuri melalui jejak lingkungan terbangun, yang mana dapatmenunjukkan pengaruh budaya pada fisik bangunan maupun lingkungan. Jejak yang dapat menceritakan muatan sosial (Ishak, Trisutomo; 2016), serta budaya dan filosofi hidup (Syam; 2016) dari orang-orang yang tinggal dan beraktivitas di dalamnya. Ragam sosial, budaya dan filosofi tersebut terbentuk dari berbagai peristiwa yang dapat ditelusuri dalam sejarah Indonesia. Berbagai upaya adaptasi dan asimilasi menciptakan berbagai lapisan waktu yang mendorong terbentuknya Genius Loci (Siregar; 2016) atau nyawa pada suatu lingkungan terbangun.

Paradigma project-based architecture yang berjalan beriringan dengan globalisasi, tak terkecuali di Indonesia, mendorong munculnya duplikasi secara sempit dalam hal penyediaan solusi maupun bentukan arsitektur. Arsitek masa kini lebih memilih untuk meneropong dan mereka-reka masa depan akibat munculnya berbagai permasalahan kompleks yang menyebabkan berbagai ketidakpastian. Belum pula ketika dibubuhi dengan perkembangan pesat teknologi, terutama di dunia keilmuan dan praktik arsitektur. Padahal dalam ketidakpastian dan perubahan yang pesat ini dibutuhkan juga upaya meneropong ke masa lalu, tidak hanya untuk menjaga relevansi warisan sejarah namun juga sebagai upaya refleksi. Keragaman budaya yang tercermin dalam sejarah arsitektur Indonesia tidak hanya dipelajari untuk diduplikasi secara visual, namun dapat menjadi inspirasi dalam merancang solusi baru yang berakar pada identitas sejarah (Wunas, 2016) baik untuk permasalahan sosial maupun lingkungan.

Bergesernya paradigma dalam berpraktik juga mengakibatkan berubahnya empati yang dirasakan oleh seorang arsitek serta desainer. © Rancang Kota ITB 2016

 

Kolaborasi dalam Pendidikan dan Praktik Arsitektur

Paradigma project-based yang disertai dengan universalisasi solusi juga makin mengurangi kepekaan arsitek untuk mengenali keberadaan kolaborasi dalam hidup sehari-hari. Ditambah lagi, paradigma project-based ini dipupuk lebih jauh oleh tuntutan waktu dan perkembangan teknologi yang mempermudah proses bekerja jarak jauh. Pada akhirnya, kesemuanya terlihat semakin mengurangi kemampuan arsitek untuk berkolaborasi dalam dunia kerja.

Dalam dunia pendidikan pun tak jauh berbeda. Paradigma ini turut berpengaruh dalam mengubah fleksibiltas dan keinginan dalam berkolaborasi. Kecepatan penyelesaian proyek yang menuntut ketepatan desain dan pengambilan keputusan menuntut dibutuhkannya fokus pada bidang–bidang yang tangible, atau yang terlihat dan dapat diukur. ‘Kolaborasi’ antara bidang tangible dan intagible di keilmuan arsitektur melalui cara berpikir yang holistik kemudian juga ikut berkurang.

Dr.-Ing.Ilya F.Maharika, IAI, dalam lekturnya juga menyampaikan betapa ‘lemahnya’ ilmu arsitektur jika tidak mampu ‘berkolaborasi’ dengan bidang keilmuan lain. Melalui riset sederhana, memanfaatkan hasil kurasi jurnal internasional dan menggunakan keyword ‘architecture’, beliau menemukan bahwa ilmu arsitektur sangat tidak berkembang dibandingkan bidang keilmuan yang lain. Menarik untuk dicatat, bahwa banyak bidang keilmuan lain yang meminjam istilah ‘arsitektur’ untuk mengembangkan keilmuan mereka. Mengutip Yoshio Taniguchi, “Architecture is basically a container of something. I hope they will enjoy not so much the teacup, but the tea.”. Sebagai wadah, arsitektur sangat tergantung pada isi. Jika dalam praktik arsitek kurang peka memahami isi, lalu apakah dapat mendesain wadah yang sesuai?

Kolaborasi adalah hal sederhana yang mengisi ruang–ruang. Dalam kehidupan sehari–hari akan kita temui kolaborasi antar penghuni permukiman, antara pelaku kegiatan informal dan penghuni permukiman, antara pemilik lapak di pasar dengan komunitas kreatif, serta antara turis dan penduduk lokal. Ragam penduduk, cara hidup, filosofi, dan budaya di Indonesia tidak hanya membutuhkan solusi arsitektural yang kolaboratif seperti metode perancangan partisipatif dan co-design; namun juga membutuhkan arsitek yang mampu (dan mau) berkolaborasi baik dengan komunitas maupun dengan akademisi keilmuan lainnya.

Kolaborasi antar bidang ilmu dapat melahirkan sesuatu yang baru dan inovatif, seperti gelaran seni iluminasi Vivid yang digelar di Sydney setiap tahun. Juga, kolaborasi dapat melahirkan solusi bagi banyak permasalahan global secara tepat guna dengan dasar kearifan lokal. © Laras Primasari

Kolaborasi antar bidang ilmu dapat melahirkan sesuatu yang baru dan inovatif, seperti gelaran seni iluminasi Vivid yang digelar di Sydney setiap tahun. Juga, kolaborasi dapat melahirkan solusi bagi banyak permasalahan global secara tepat guna dengan dasar kearifan lokal. © Laras Primasari

 

Dinamika Pendidikan Arsitektur di Asia dan Indonesia

Pertanyaan selanjutnya yang dicoba untuk dijawab dalam seminar ini adalah bagaimana pendidikan dan pengetahuan arsitektur di Asia dapat berkontribusi dalam membekali arsitek yang berempati, kolaboratif, dan relevan? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya merasa perlu untuk menjelaskan perkembangan pendidikan dan pengetahuan arsitektur pada skala global, Asia, dan secara spesifik di Indonesia.

Kebutuhan akan pendidikan arsitektur diawali dari kebutuhan dunia praktik akan arsitek yang kompeten pada periode arsitektur moderen. Sebelum menjadi bagian dari institusi formal, pendidikan arsitektur dilakukan secara tradisional dari guru kepada muridnya, melalui institusi pendidikan privat, melalui proses magang di konsultan arsitek dan/atau merupakan bagian dari keilmuan lain antara lain seni dan teknik (Cret, 1941). Lebih dari 75 tahun yang lalu, Ecole des Beaux di Prancis tercatat sebagai awal arsitektur menjadi bagian dari institusi formal yang berdiri sendiri. Pengaruhnya yang cukup besar pada perkembangan dan penyebaran arsitektur Gothic mendorong dibangunnya MIT di Amerika Serikat (1893) yang menggunakan kurikulum Ecole des Beaux.

Perkembangan pendidikan arsitektur secara formal melalui institusi di Asia berangkat dari pengaruh perkembangan pendidikan arsitektur di Eropa dan Amerika, baik melalui kerjasama ekonomi dengan negara-negara Eropa dan Amerika maupun kedekatan budaya dan geografis serta kolonialisasi. Jepang mengawali formalisasi pendidikan arsitektur pada periode restorasi Meiji diawali dengan Imperial College of Engineering yang didirikan tahun 1877. Kurikulum pendidikan arsitektur di Jepang merupakan perpaduan antara pengaruh pemikiran arsitektur eropa dengan nilai-nilai budaya lokal Jepang. Kurikulum ini kemudian diadopsi oleh Cina saat mengawali pendidikan formal arsitektur melalui pendirian National Southeastern University (sekarang Southeast University School of Architecture) pada tahun 1928. Sementara di Turki, pendidikan formal arsitektur dimulai pada tahun 1883 dengan berdirinya Nefise-i Þahane Mekteb-i Ali’si (sekarang Mimar Sinan Fine Arts University) yang dipengaruhi oleh Ecole des Beaux dan Mühendishane-i Berri-i Hümayun (sekarang Istanbul Technical University) yang mengajarkan pendidikan teknik untuk kebutuhan militer.

India, sebagai bagian dari koloni Inggris, mengawali pendidikan arsitektur formal pada tahun 1913, walaupun jauh sebelumnya pada tahun 1857 sudah ada pendidikan untuk drafter. Sir J.J School of Architecture berdiri pada tahun 1913, setelah sebelumnya menjadi bagian dari Sir J.J School of Art. Pendidikan arsitektur di India diawali dengan pengaruh dari kurikulum Ecole des Beaux yang menekankan pada desain, namun kemudian pengaruh dari MIT mendorong pendidikan yang lebih dominan pada kemampuan engineering. Indonesia mengawali penyelenggaraan pendidikan tinggi Arsitektur di Indonesia dengan dibukanya ‘Bouwkundige Afdeeling’ (Bagian Bangunan) pada Fakultet Teknik Universitas Indonesia di Bandung (ITB). Sejak tahun 1960-1965, lalu dibuka program studi arsitektur di berbagai kota lainnya di Indonesia.

Perkembangan pendidikan arsitektur pada masing-masing wilayah dan negara memberikan warna bagi pengetahuan arsitektur. Namun dari segi profesionalisme praktik arsitektur, ragam pendidikan akan mendorong bentuk-bentuk praktik yang beragam. Kemudahan teknologi dan globalisasi yang mengkaburkan jarak geografi menyebabkan banyak arsitek dapat lebih mudah untuk berpraktik di wilayah lain, sehingga standar praktik dan penilaian harus dikalibrasi. Pada tahun 1948 dibentuk  International Union of Architects (IUA) yang berupaya menciptakan arahan untuk pendidikan dan praktik arsitektur. Di Asia, berdiri Architect Regional Council Asia (ARCASIA) pada tahun 1967. Sementara di Indonesia berdiri Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) di tahun 1959 dan Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI).

Berdasarkan perkembangan pendidikan arsitektur secara global, di Asia dan di Indonesia dapat ditarik benang merah bahwa melalui pendidikan formal yang bertempat pada suatu institusi atau universitas diharapkan akan terjadi reproduksi arsitek yang kompeten. Kompetensi ditandai dengan kelulusan arsitek dan program pendidikan yang akan terus menerus dievaluasi oleh praktisi. Selain ‘memproduksi’ praktisi, aktivitas akademik pada institusi formal arsitektur juga akan menghasilkan berbagai riset yang dapat meningkatan proses belajar mengajar serta memperluas basis pengetahuan dari profesi arsitektur (Steven, 2014). Jika dilihat dari jumlah lulusan institusi pendidikan, maka fungsi produksi praktisi tentunya sudah tercapai. Namun yang menjadi pertanyaan tentunya kompetensi lulusan yang dapat dilihat dari kemampuan berpraktik arsitek serta perkembangan ilmu pengetahuan arsitektur.

Kompetensi ditandai dengan kelulusan arsitek dari "sekolah"nya dan program pendidikan yang akan terus menerus dievaluasi oleh praktisi. Namun apakah kompetensi lulusan sekolah Arsitektur juga dapat dilihat dari kemampuannya berpraktik arsitek? © Rancang Kota ITB 2016

Kompetensi ditandai dengan kelulusan arsitek dari “sekolah”nya dan program pendidikan yang akan terus menerus dievaluasi oleh praktisi. Namun apakah kompetensi lulusan sekolah Arsitektur juga dapat dilihat dari kemampuannya berpraktik arsitek? © Rancang Kota ITB 2016

 

Mendidik Arsitek Yang Berempati, Kolaboratif dan Relevan

Sebagai seminar yang bertemakan pendidikan arsitektur, saya menemukan tidak terlalu banyak tulisan yang membahas atau memaparkan mengenai detail pelaksanaan dan evaluasi atau sertifikasi pendidikan arsitekturIndonesia pada acara ini. Namun sesuai dengan tema “Re-Charting the Knowledge of Architecture”, cukup banyak tulisan yang dapat menginspirasi pendidikan arsitektur dan memperkaya basis pengetahuan arsitektur, walaupun tidak dapat mewakili pendidikan arsitektur Asia karena dominan kasus yang disuguhkan berada di Indonesia. Sehingga penulis merevisi pertanyaan di atas menjadi bagaimana pendidikan dan pengetahuan arsitektur di Indonesia dapat berkontribusi dalam membekali arsitek yang berempati, kolaboratif dan relevan?

Dari kelima sub-tema yang diberikan, Multitude of Cultural Complexity menyumbang jumlah tulisan terbanyak bila dibandingkan kelompok tema lainnya, diikuti dengan sub tema Uncertainty Of Urbanism And Territoriality. Sub Tema Digital Reality and Digital Technology dan sub tema Environmentally Appropriate Technology juga memiliki kontribusi dengan jumlah tulisan yang relevan dengan pendidikan arsitektural dan perluasan dan/atau penataan kembali pengetahuan arsitektur paling banyak. Namun pada sub-tema Humanity And Its Challenges masih sedikit tulisan yang masuk. Hal tersebut menunjukkan bahwa setidaknya perserta seminar telah memiliki kepekaan terhadap keragaman budaya di Indonesia, sudah cukup relevan dalam mengikuti perkembangan teknologi dan sudah mulai mencoba untuk mengkolaborasikan teknologi untuk kebutuhan mendesain dan melakukan riset pada berbagai kasus dengan konteks kebudayaan yang beragam dan kompleks. Namun nampaknya masih kurang mampu mengkerangkakan isu kemanusiaan dalam ranah ilmu arsitektur.

Kekurangmampuan pendidikan arsitektur dalam berempati dan berkolaborasi sudah cukup disadari. Hal ini dicoba diberikan solusi dalam bentuk pengajaran melalui co-design, participatory design dan real-problem based architecture design studio. Hal ini tercermin juga dengan pemilihan Storyboard as a Representation of Urban Architectural Setting sebagai jurnal terbaik. Selain itu juga ada upaya untuk menanamkan semangat berkolaborasi, khususnya dengan subjek perancangan. Kolaborasi dengan ilmu pengetahuan di luar arsitektur juga dapat diajarkan dengan belajar memanfaatkan teknologi untuk membantu mendesain. Contohnya dengan memanfaatkan algoritma untuk membantu eksplorasi desain, memanfaatkan teknologi realita virtual (VR) dan elemen komputasi lainnya, serta memperluas pengetahuan.

IUA melalui UNESCO-UIA Charter for Architectural Education menetapkan enam kelompok pengetahuan yang harus dikuasai oleh arsitek yaitu Cultural and Artistic Studies, Social Studies, Environmental Studies, Technical Studies, Design Studies, serta Professional Studies.  Keenam kelompok pengetahuan ini dapat dikatakan merangkum keragaman fokus pendidikan arsitektural di dunia dan di Asia, yang nampaknya menjadi dasar pemilihan kelompok sesi paralel Seminar. Pertanyaannya apakah keenam kelompok kompetensi ini sudah sesuai dengan konteks pendidikan arsitektur di Asia? Apakah bentuk evaluasi atau kalibrasi praktik dan pendidikan sudah dapat meningkatkan kualitas pendidikan arsitektur yang kemudian mendorong peningkatan kualitas arsitek yang dapat memenuhi tuntutan profesional serta tantangan sosial – budaya dunia arsitektur modern di Asia? Kedua pertanyaan ini, menurut saya belum dapat terjawab dan perlu untuk dijawab. Mungkin dalam seminar selanjutnya? Atau mungkin bisa kita coba untuk bersama–sama temukan jawabannya.

Ghita 1

Social Studies ditetapkan sebagai satu dari enam kelompok pengetahuan yang harus dikuasai oleh arsitek oleh UNESCO-UIA Charter for Architectural Education. Apakah sistem pendidikan formal di Asia dan Indonesia telah memasukkannya ke dalam kurikulum resmi di sekolah-sekolah Arsitektur yang ada? ©Rancang Kota ITB 2016

 

Lalu bagaimana saya, sebagai lulusan pendidikan arsitektur dan rancang kota, menanggapi hal tersebut? Pengalaman praktik di konsultan maupun freelance, serta kesempatan belajar di institusi pendidikan ilmu arsitektur menyadarkan saya betapa kakunya dan terbatasnya dua dunia tersebut. Faktor ekonomi sangat kuat pengaruhnya, sehingga relevansi tanpa disadari terbatas pada relevansi pada tren ekonomi atau hanya terbatas memenuhi keinginan klien. Pada akhirnya konsultan juga harus membayar pegawai dan biaya–biaya operasional dan tidak banyak klien yang bersedia (dan berani) mencoba mengikuti arahan arsitek untuk desain yang tidak hanya menguntungkan namun juga dapat berkontribusi positif secara sosial dan pada lingkungan. Sementara instusi pendidikan, yang ternyata jika dilihat dari sejarahnya, berkiblat pada dunia praktisi berjalan hampir beriringan, walaupun seringkali juga tertinggal karena keinginan untuk berhati–hati dalam berpikir, menganalisis dan memetakan ilmu. Namun jika dibandingkan dengan setidaknya 5-10 tahun yang lalu, kedua dunia ini perlahan mulai mengarahkan diri pada reproduksi karya arsitektural dan arsitektur yang berempati, kolaboratif dan relevan pada berbagai isu. Ada harapan.

Menurut pengalaman saya, harapan tersebut dibangun oleh para individu maupun komunitas arsitek yang gelisah dengan arah perkembangan arsitektur yang makin homogen, tidak berempati dan individual. ‘Pendidikan’ secara informal kemudian banyak dilakukan dalam bentuk diskusi, workshop dan kegiatan lainnya di luar institusi akademis maupun praktik. Gerilya ini nampaknya cukup efektif karena dapat melampaui batasan administrasi akademik, tuntutan ekonomi bahkan kerangka keilmuan. Diskusi dengan rekan yang memiliki latar belakang keilmuan dan profesi yang berbeda awalnya memang akan membuat kita overwhelmed dengan begitu banyak informasi dan pengetahuan. Namun di saat yang sama juga dapat membuka wawasan kita. Demikian juga dengan terjun langsung di tengah masyarakat dengan menjadi relawan, bergabung dalam kegiatan di tengah masyarakat di mana kita tinggal atau simply lebih membuka mata dalam perjalanan menuju tempat kuliah atau tempat kerja untuk mengamati aktivitas sehari–hari yang seringkali kita abaikan karena terburu–buru.

Merubah institusi membutuhkan waktu, proses dan upaya yang besar. Namun merubah cara pandang kita; mereproduksi empati, menginisasi kolaborasi dan memperluas wawasan agar lebih relevan. Hanya butuh niat dan sedikit upaya. Mari kita awali.

 

Binar Tyaghita
Binar Tyaghita adalah arsitek yang lebih suka menulis dan merekam daripada menggambar dan mendesain. Sangat tertarik dengan kehidupan yang ada di dalam ruang terbangun daripada ruang terbangunnya. Setelah sempat bekerja di konsultan arsitektur lansekap dan memperdalam ilmu perancangan kota, saat ini Ia bekerja sebagai peneliti di Yayasan Pilar Tunas Nusa dan relawan untuk proyek Co-Living@8IndonesianCities.