Realita Arsitektur Fiksi

633 Views |  2

 

Dalam tulisan singkat ini, saya akan membahas aspek realita yang ada pada arsitektur fiksi. Terbagi menjadi tiga bagian, saya akan mulai dengan mengajukan pertanyaan kritis mengenai realita, lalu berlanjut ke pembahasan mengenai arsitektur, dan diakhiri dengan elaborasi tentang arsitektur fiksi.

Beberapa pembahasan yang termuat merupakan sudut pandang yang saya miliki, dalam hal ini saya lebih berperan sebagai pemerhati amatir akan hubungan antara fiksi dan realita. Meski tidak dapat dipungkiri, sudut pandang tersebut sudah tertanam dan menjadi bagian dari diri saya ketika berperan sebagai seorang arsitek praktisi dan pengajar arsitektur.

Kita mulai dengan pembahasan pertama, apakah sesungguhnya realita itu?.

Sebagian mungkin akan menghubungkan kata realita dengan kondisi sekarang dan masa lalu yang sedang atau telah terjadi. Yang telah diterima oleh reseptor panca indera untuk diteruskan ke otak dan diproses sebagai informasi dan pemahaman.

Urutan proses itu melibatkan dua elemen yang sama penting. Objek atau kejadian yang berlangsung, dan pemahaman oleh subjek pengamat. Satu elemen tersebut tidak akan berarti tanpa bagian yang lain.

 

Ilustrasi akan perbedaan pemahaman.
Sumber: pinterest.com, 2016

 

Lalu kemudian muncul pertanyaan, dari kedua hal tersebut, manakah realita itu? Kejadian yang sedang berlangsung, atau pemahaman oleh subjek ?

Seperti ilustrasi di atas, pemahaman oleh subjek pengamat dapat sama sekali berbeda antara subjek satu dengan yang lain. Kedua orang itu memiliki pendapat berbeda akan angka yang tergeletak di lantai karena perbedaan sudut pandang. Faktanya, angka yang tergeletak hanya satu. Oleh karena, itu salah satu dari mereka pasti salah. Tapi, apa betul realita adalah sesuatu yang tunggal?

Kata ‘realita’ mengingatkan saya akan beberapa judul film yang mencampur adukan fiksi-imajinasi, dan realita, seperti Big Fish, A Monster Call, dan Birdman. Jalan cerita membuat bingung banyak penonton, karena tipisnya batasan (dan tidak jarang dicampur-adukkan) antara kejadian yang sesungguhnya dengan kejadian yang fiksional. Kontradiksi dan kekacauan tersebut semakin memperkuat persepsi saya akan realita yang sebenarnya.

Dalam A Monster Call, Conor berimajinasi tentang monster pohon raksasa yang membantunya menerima kenyataan bahwa ibunya sakit dan mungkin tidak lama lagi meninggal. Sangat kontradiktif, dimana seorang anak menciptakan sebuah tokoh imajiner untuk membantunya menerima realita. Menariknya, tidak hanya Conor, tetapi saya sebagai penonton juga berhasil disadarkan monster itu bahwa dunia ini tidak pernah sempurna. Bad things do happen sometimes.

 

1

Monster pohon dalam film A Monster call
Sumber: alisoneldred.com, 2016

 

Pertanyaan yang kemudian timbul, apakah sosok monster rekaan tersebut hanyalah fiksi yang bisa kita kesampingkan, atau bagian dari realita?

Hal tersebut dapat dikorelasikan dengan istilah pseudo-emotion dan pseudo-reailty. Sebuah emosi dan kenyataan semu. Seperti saat kita mendapat perasaan menegangkan ketika menonton film horror atau bermain video game yang penuh monster dan darah. Meskipun kejadian tersebut tidak secara langsung kita alami, namun ada informasi yang diterima oleh otak. Dan kejadian yang dialami otak kita adalah sebuah kenyataan, meski kita mendapatkannya dari sesuatu yang semu.

Pemahaman realita oleh sensor panca indera telah dibahas Socrates dan diteruskan muridnya, Plato. Menurut mereka, indera fisik yang kita miliki pada dasarnya menghalangi kita untuk memahami kebenaran realita yang sesungguhnya[1]. Dan realita akan lengkap ketika kita melibatkan apa yang disebut knowledge[2].

Sebagai contoh, jika terdapat dua orang yang berdikusi akan kata “jeruk”, bagaimana kita yakin bahwa mereka berdiskusi akan jeruk yang sama?

Dengan demikian, kita perlu mempertanyakan akan realita jeruk yang mereka diskusikan. The realm of form yang diyakini oleh Socrates dan Plato merupakan sebuah alam, dimana terdapat data akan pemahaman akan “ke-jeruk-an” sebuah jeruk. Ia dapat dilihat sebagai bank data imajiner yang dimiliki semua orang akan pemahaman objek dan kejadian. Sehingga jika kita melihat atau membayangkan sebuah jeruk, pada dasarnya kita hanya melakukannya pada perwakilan dari sebuah jeruk, bukan jeruk yang sebenarnya.

Plato menyampaikan bahwa kita hendaknya melihat tidak dengan panca indera, namun dengan knowledge. Hal tersebut membawa kita pada pemahaman bahwa realita, sesungguhnya adalah apa yang kita yakini, dengan objek, dan kejadian, yang secara fisik terjadi, berperan sebagai pemicunya.

 

Perwakllan sebuah jeruk Sumber: google image, 2016

Perwakilan sebuah jeruk
Sumber: google image, 2016

 

Lalu bagaimanakah dengan realita dalam arsitektur? Sebelum menjawab pertanyaan itu, sebaiknya kita bertanya lebih dahulu tentang apa itu arsitektur.

Banyak sekali pendapat berbeda akan kata arsitektur, di samping fakta bahwa kata arsitektur tercipta dari penggabungan dari dua kata dari bahasa Yunani, ρχι– “chief” dan τέκτων “builder”. Secara literal, keduanya dapat diterjemahkan sebagai “kepala tukang”.

Pembahasan arsitektur juga tidak bisa lepas dari konsep klasik ‘triad’ arsitektur yang dipaparkan oleh Marcus Vitruvius Pollio (81SM-15). Bahwa arsitektur terdiri dari venustas (keindahan), utilitas (kegunaan), dan firmitas (kekokohan). Tidak mengherankan jika kemudian Pevsner[3] (1942) menyatakan bahwa segala jenis naungan atau perlindungan yang memungkinkan manusia untuk beraktivitas di dalamnya adalah bangunan. Dan kata arsitektur ditasbihkan pada bangunan yang dibuat dengan intensi keindahan.

Jika kita mengambil kesimpulan sementara bahwa arsitektur adalah sebuah objek fisik berupa bangunan yang memiliki intensi keindahan, maka sesungguhnya hampir mustahil membuang objek terbangun dalam pembahasan arsitektur. Tapi benarkah demikian?

Ide bahwa arsitektur sebagai sebuah objek fisik tampaknya sangat bertolak belakang dengan apa yang dikemukakan oleh Peter Eisenman. Ia beranggapan bahwa perwujudan arsitektur sesungguhnya adalah ide. Ide dibalik rancangan suatu objek, sebuah abstraksi, tanpa wujud fisik. Sehingga objek fisik yang dapat kita amati sesungguhnya adalah sebuah media, sebuah wadah dimana ide tersebut tertuang.

Eisenman bahkan menyebut bahwa bangunan yang ia rancang sesungguhnya hanyalah model fisik dengan skala 1:1[4], tidak lebih ‘penting’ dari maket model dengan skala berapapun dalam perannya sebagai media ide. Bahwa arsitektur sesungguhnya adalah hal (ide) yang tertuang di kertas gambar (bukan gambar dan kertasnya) dan bukan pula benda yang terbangun di atas tanah[5]. Sehingga pertanyaannya bukanlah ‘apakah benda itu adalah sebuah arsitektur? Namun ‘bagaimanakah arsitektur benda itu?

 

Foto House II, Peter Eisenman. Sumber: www.architectural-review.com

Foto House II, Peter Eisenman.
Sumber: www.architectural-review.com

 

Dalam wawancara bersama Iman Ansari, Eisenman mengatakan salah satu majalah Prancis tanpa sengaja menuliskan “Model of House II” untuk foto bangunan House II miliknya. Hal itu tampaknya sangat menghibur Eisenman karena foto tersebut secara tidak langsung memaparkan ide Eisenman bahwa objek terbangun tidak lebih adalah sebuah maket model skala 1:1.

Arsitektur sebagai sebuah ide mungkin sebuah gagasan yang tidak mudah untuk diterima. Materialitas, dan proses membangun ide itu juga tidak dapat dipisahkan dari diskursus arsitektur. Namun kemudian sebuah pertanyaan muncul di benak saya, Apakah seorang arsitek akan hilang ke-arsitek-an-nya jika rancangannya tidak pernah dibangun?

Hal tersebut mengingatkan saya pada seorang seniman yang juga seorang arsitek bernama Giovanni Battista Piranesi, yang selama hidupnya hanya sempat memiliki satu bangunan yang terbangun. Begitu juga dengan salah satu arsitek eksperimental Lebbeus Woods, yang juga hanya memiliki satu karya terbangun, berupa karya instalasi yang menempel pada bangunan yang dirancang oleh Steven Holl.

Apakah Zaha Hadid bukan seorang arsitek sebelum Vitra Fire House terbangun? Apakah Archigram juga hanya sekelompok anak muda yang banyak memiliki waktu luang?

 

Karya Instalasi Lebbeus Woods “The Lights Pavillion”. Sumber: dezeen.com

Karya Instalasi Lebbeus Woods “The Lights Pavillion”.
Sumber: dezeen.com

 

Pemahaman Eisenman akan arsitektur nampaknya cukup sejalan dengan Bernard Tschumi. Menurutnya, arsitektur pada dasarnya adalah sebuah bentuk ilmu pengetahuan, dan bukan ilmu pengetahuan akan bentuk[6]. Pendapat Tschumi memperkuat pendapat Eisenman, bahwa arsitektur adalah hal yang abstrak, dan bukanlah hal yang fisikal, dan materialistik.

Andrea Palladio (1508-1580) menghabiskan sisa waktu hidupnya untuk menggambar ulang semua bangunan yang ia rancang selama hidupnya dan menuangkan pemahamannya tentang arsitektur dalam buku berjudul “I quattro libri dell’architettura”, atau The Four Books of Architecture. Palladio menyatakan bahwa ia ingin dikenang sebagai arsitek yang merancang bangunan-bangunan yang ada di dalam buku yang ia tulis, bukan sebagai arsitek yang merancang bangunan yang telah terbangun. Ia merasa bahwa gagasan yang ada di buku, jauh lebih murni dibandingkan bangunan yang terbangun. Hal tersebut menurut saya menunjukkan keyakinannya bahwa semakin abstrak media yang digunakan untuk menunjukkan ide arsitektur, semakin murni arsitektur tersebut[7].

Kita kembali ke pertanyaan semula, apakah arsitektur itu?

Dari pembahasan yang saya kemukakan, saya ingin memperkenalkan sudut pandang yang menunjukkan bahwa arsitektur adalah suatu hal yang abstrak, bukan fisikal dan materialistik. Hal tersebut penting untuk disadari sebelum kita membahas topik ketiga, arsitektur fiksi.

Arsitektur fiksi mungkin akan mudah dikorelasikan dengan rancangan arsitektur yang sifatnya eksperimental, spekulatif, dengan konteks sebagai sesuatu yang imajinatif, dengan seting waktu yang tidak mengekang. Kekuatan dari arsitektur tersebut kemudian terletak pada pemikiran dan proses eksperimen dari sang perancang, dan bisa saja tidak berorientasi kuat pada objek yang dihasilkan.

Sebuah arsitektur yang bermula dengan pertanyaan “Bagaimana jika?”. Pertanyaan tersebut jelas menandakan bahwa setting dan konteks yang menjadi dasar berpijak adalah sebuah proses imajinasi.

Jika kita amati lebih jauh, arsitektur pada dasarnya tidak pernah lepas dari hal yang bersifat spekulatif, secermat apapun prediksi dan kalkulasi sang perancang. Dengan demikian, arsitektur fiksi pada dasarnya memiliki esensi yang sama dengan arsitektur yang non-fiksi.

Firma dan studio arsitek semacam Archigram, Super Studio, dan Lebbeus Woods adalah sekian dari banyak pionir yang memulai pergerakan akan arsitektur eksperimental. Meski dalam sudut pandang saya, arsitektur eksperimental bukanlah pergerakan arsitektur yang mungkin bisa kita bandingkan dengan arsitektur klasik, modern, dan postmodern. Namun lebih kepada pergerakan untuk mengembalikan peran arsitektur sebagai wadah dari ide dan inovasi.

Hal tersebut didukung dengan pernyataan oleh Archigram. Mereka berkiprah di era pesatnya perkembangan teknologi dan peradaban manusia[8], yang sayangnya menurut mereka tidak diikuti oleh perkembangan keilmuan arsitektur. Archigram lalu memulai ‘kampanye’ dengan menuangkan ide-ide yang pada masa itu, dan mungkin sampai dengan sekarang, dianggap nyeleneh dalam dunia arsitektur.

 

Media kampanye Archigram yang berbentuk majalah. Sumber: arcspace.com

Media kampanye Archigram yang berbentuk majalah.
Sumber: arcspace.com

 

Salah satu karya Archigram yang fenomenal adalah Moving Cities yang dirancang Ron Herron di tahun 1964. Ron memaparkan ide tentang sebuah (mungkin lebih tepatnya, beberapa) kota yang dapat berpindah layaknya sebuah kendaraan yang sangat besar.

Dalam karya tersebut Ron mempertanyakan kondisi statis dari sebuah kota. Fleksibilitas lokasi dari sebuah kota yang dapat berpindah diyakini memiliki keunggulan dibanding sebuah kota yang statis. Sebagian mungkin akan berpendapat bahwa apa yang dilakukan oleh Ron adalah suatu hal yang sia-sia, karena toh sampai dengan saat ini karya tersebut belum terbangun, dan kemungkinan besar tidak akan terbangun. Pertanyaannya, apakah betul itu adalah sesuatu yang sia-sia? Mungkin itu sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab, satu hal yang pasti bahwa karya tersebut mampu menciptakan sebuah diskusi baru dalam dunia arsitektur.

 

Moving Cities, karya Ron Herron, Archigram, 1964 Sumber: archigram.net

Moving Cities, karya Ron Herron, Archigram, 1964
Sumber: archigram.net

 

Sebuah firma arsitektur Meksiko yang berbasis di Guadalajara, Estudio 3.14 merancang sebuah dinding raksasa berwarna merah muda keunguan yang memisahkan Amerika dengan Meksiko. Karya tersebut baru-baru ini hangat dibicarakan, karena diilhami dari pernyataan presiden Amerika terpilih, Donald Trump, yang ingin mendirikan dinding pemisah dua negara tersebut.

 

Dinding pemisah antara Amerika dan Meksiko, karya Estudio 3.14, 2016 Sumber: bussinessinsider.com

Dinding pemisah antara Amerika dan Meksiko, karya Estudio 3.14, 2016
Sumber: bussinessinsider.com

 

Meski sesungguhnya tidak terlalu spekulatif (dikarenakan sampai saat ini Donald Trump masih bersikukuh untuk mendirikan dinding tersebut, sehingga konteks dan setting-nya jelas), namun bersifat sangat eksperimental. Rancangan dan visualisasi Estudio 3.14 menjadi viral dan banyak didiskusikan. Apalagi mereka juga memperkirakan program apa saja yang ada di dalam struktur tersebut. Menariknya, juga muncul diskusi yang memperkirakan biaya yang mungkin akan dihabiskan apabila dinding tersbut terbangun, dan hal tersebut menjadi pertanyaan kritis para pembayar pajak di Amerika Serikat. Banyak pengamat dan diskusi yang menyebutkan bahwa mendirikan dinding tersebut adalah tindakan yang hampir mustahil, dengan segala pertimbangan, terutama pembiayaan, dan kemanfaatannya. Dengan demikian, apakah yang dilakukan oleh Estudio 3.14 adalah sia-sia?

Setidaknya, karya tersebut menciptakan diskusi baru yang telah saya sebutkan sebelumnya. Berbicara mengenai ke-‘sia-sia’-an arsitektur eksperimental, Lebbeus Woods dalam sebuah diskusi menyatakan bahwa, “dari segi ekonomi, waktu dan sumber daya, arsitektur eksperimental adalah hal yang mungkin terlihat tidak memiliki arah yang jelas dan mungkin sia-sia[9], namun dampak yang dihasilkan, dalam hal ini diskusi, dan timbulnya pemikiran-pemikiran dan kemungkinan-kemungkinan baru dalam bidang arsitektur maupun bidang lain adalah sesuatu hal yang sangat esensial dalam perkembangan keilmuan arsitektur.

Arsitektur fiksi pada dasarnya menuntut dan melatih sang perancang untuk berpikir kritis dalam segala hal, baik dalam hal menentukan konteks dan setting yang imajinatif maupun menyusun hipotesa dari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Selain itu, sang perancang juga dituntut untuk secara konsisten mempertahankan apa yang telah ditentukan menjadi parameter pada langkah sebelumnya. Pada dasarnya, arsitektur fiksi bukanlah pekerjaan mudah yang dengan mudah dimanipulasi, semua imajinasi dan spekulasi yang terjadi memiliki dasar yang kuat, sehingga rancangan tersebut menjadi runtut dan konsisten.

Untuk menutup tulisan ini, saya mengangkat kembali pembahasan-pembahasan sebelumnya dan mencoba untuk menarik benang merah hubungan antara ketiganya, pembahasan mengenai realita, serta hubungannya dengan arsitektur dan arsitektur fiksi.

Dari pembahasan pertama dapat kita simpulkan bahwa realita, pada dasarnya sangat bergantung dengan persepsi pengamat, dan objek fisik, ‘hanyalah’ pemicu yang menghasilkan informasi dan pemahaman. Dalam hal ini arsitektur fiksi memiliki peran yang penting, dimana kita perlu mempertanyakan, apakah media arsitektur fiksi yang kemungkinan besar adalah gambar bukanlah suatu arsitektur, jika pada kenyataannya gambar tersebut mampu menghasilkan informasi dan pemahaman terhadap pengamat. Jika kita kaitkan dengan arsitektur pada pembahasan kedua, dimana keterbangunan dalam arsitektur, adalah hal yang tidak esensial, maka peran arsitektur fiksi sudah seharusnya berada di garda depan dalam perkembangan keilmuan arsitektur. Sifat arsitektur fiksi yang mampu memancing kemungkinan timbulnya diskusi dan pengetahuan baru dapat kita gali, serta sifat arsitektur fiksi yang mengedepankan ide tanpa membutuhkan media fisik berupa obyek terbangun merupakan instrumen yang efisien dalam mendorong keilmuan arsitektur, terutama di masa sekarang untuk menghindari kemungkinan buruk yang mungkin terjadi dikarenakan posisi arsitektur yang cenderung hadir untuk melayani pasar.

Akhir kata, arsitektur fiksi memang memiliki konteks dan setting yang imajinatif, fiksional, dan mungkin dalam sudut pandang tertentu sia-sia, namun dampak yang di terima oleh pengamat adalah sebuah realita. Sebuah realita arsitektur fiksi.

 

Catatan:

[1]   Socrates dan Plato berkeyakinan bahwa kebenaran sesungguhnya berada pada alam Form, (The realm of Form) dimana alam tersebut adalah alam abstraksi, bukan alam fisikal yang kita lihat saat ini.

[2]   Saya yakin bahwa Knowledge yang dimaksud oleh Socrates dan Plato, lebih dekat ke arah kata ‘pemahaman’ ketimbang kata ‘pengetahuan’.

[3]   Sir Nikolaus Bernhard Leon Pevsner, seorang ahli sejarah arsitektur dan seni menjelaskan pemahaman akan arsitektur dalam buku yang berjudul ‘An Outline of European Architecture’, yang diterbitkan pada tahun 1942.

[4]   Skala 1:1, saya sengaja menggunakan kata ‘skala 1:1’ dan bukan kata ‘skala sebenarnya’ dikarenakan skala berapapun menurut pemahaman Eisenman adalah ‘sebenarnya’.

[5]   Wawancara Peter Eisenman dengan Iman Ansari yang dipublikasikan pertama kali pada Hamshahri Architecture di Iran pada tahun 2013.

[6]   Bernard Tschumi, Red is Not a Color, 2012

[7]   Pembahasan mengenai abstraksi arsitektur merupakan pembahasan lanjutan yang pernah saya paparkan dalam topik Dematerialization of Architecture, sebuah paparan singkat pada komunitas deMaya, Surabaya, pada tahun 2012 yang lalu.

[8]   Archigram didirikan pada tahun 1960an, sebuah era dimana teknologi pada masa tersebut mengalami perkembangan yang sangat pesat, pendaratan manusia ke Bulan yang pertama kali adalah salah satunya.

[9]   Pernyataan Lebbeus Woods dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan secara online.

Endy Yudho Prasetyo
Lulus dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember tahun 2007, Ia menjadi staff pengajar pada tahun berikutnya. Minat yang mendalam dalam arsitektur konseptual dan manifestasinya telah membawa ia memimpin studio arsitektur eksperimental dari 2014 yang menekankan pada pemikiran kritis pada arsitektur sebagai masalah konseptual. Dia menolak untuk percaya adanya batas antara konsep dan perwujudan dalam arsitektur. Saat ini ia memulai penelitian tentang pendekatan teoritis terhadap arsitektur sebagai masalah konseptual. Mendirikan ordes arsitektur adalah tindakan nyata untuk lebih jauh membaurkan batas antara akademis dan praktek dalam arsitektur.