‘Pulang’ Sejenak Di Frankfurt

1996 Views |  4

Oleh Fath Nadizti

 

Akhirnya Indonesia menjadi tamu kehormatan Frankfurt Book Fair 2015. Saya dan dua kawan Indonesia sengaja datang ke acara berskala internasional itu karena kerinduan akut akan buku-buku berbahasa ibu dan makanan kampung halaman kami. Bagi kami kedua hal tersebut tidak mudah didapatkan selama merantau di Eropa. Buku-buku itu hanya bisa kami dapat dengan menitip ke teman atau kerabat yang akan berkunjung. Sedangkan memasak masakan indonesia membutuhkan keahlian dan bahan-bahan khusus. Kami ingin ‘pulang’ sejenak di Frankfurt.

Frankfurt Messe ©Fath Nadizti

Frankfurt Messe ©Fath Nadizti

 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Frankfurt Book Fair 2015 diadakan di Frankfurt Messe. Setelah menunjukkan tiket masuk dan melalui antrian pemeriksaan tas, kami disambut oleh Agora. Sebuah lapangan tengah terbuka yang dikelilingi oleh lima bangunan dan berisi banyak tenda, instalasi seni, serta fasilitas umum.

Dari Agora kami menuju paviliun khusus untuk Indonesia yang berada di lantai satu bangunan terkecil yang bernama gedung Forum. Dengan setengah berlari, kami mengikuti petunjuk yang bertuliskan Guest of Honour Presentation: Indonesia.

 

Perpustakaan terbuka di Agora. ©Fath Nadizti

Perpustakaan terbuka di Agora. ©Fath Nadizti

 

Namun gelap tiba-tiba menyergap saat saya melangkahkan kaki masuk ke dalam paviliun kehormatan. Saya kemudian berhenti, memanggil kedua teman saya dengan setengah panik.

“Shaffira? Adrian?”

Tidak ada jawaban. Mata saya seketika beradaptasi untuk tetap bisa melihat. Iris segera melebarkan diameter pupil untuk mengumpulkan sisa-sisa cahaya yang ada di ruang itu. Perlahan tampak pantulan cahaya dari air mengelilingi saya dengan rapat, seperti berada di dalam laut. Ternyata pendar itu berasal dari balok-balok lampion berbahan kain bermotif khusus yang panjangnya hampir menyentuh lantai. Mereka disusun rapat dan digantung vertikal dari langit-langit yang tidak tampak. Dan teman-teman saya telah hilang, meninggalkan saya dengan lampion-lampion tersebut.

 

 

“Tenang saja ini hanya efek pencahayaan”, kata saya dalam hati. “Dan hal itu sifatnya manipulatif”, lanjut saya menenangkan diri. Saya pernah mendengar tentang cara kerja indra manusia yang saling melengkapi satu sama lain. Ketika mata tidak mendapatkan cukup cahaya, telinga akan menjadi lebih peka terhadap suara. Telinga memaksa saya untuk bergerak sedikit mendekati lampion laut, berusaha mendengarkan sayup-sayup suara yang berasal dari balik dinding pendar. Yang kemudian menjadi riuh rendah dan tanpa sadar saya sudah berada di dalam dinding pendar. Saya terkejut menyadari bahwa ia ternyata terbentuk dari beberapa lapis lampion yang berjajar secara acak.

Saya lalu tiba di ruangan yang lebih besar dan terang. Penuh dengan riuh rendah suara berbahasa Jerman, Indonesia, Inggris yang bertumpuk. “Baiklah”, gumam saya. “Pertama-tama saya harus tahu saya sedang berada dimana.”

Katalog acara yang saya dapat di pintu masuk menjelaskan bahwa, ruang paviliun dibagi menjadi enam segmen atau ‘pulau’. Ada Island of Images, Island of Scenes, Island of Spice, Island of Illumination, Island of Tales, Island of Inquiry, dan Island of Words. Sesuai dengan tema besar acara: “17.000 Islands of Imagination”. Namun saya hanya bisa menebak apa nama ‘pulau’ tempat saya berdiri sekarang, karena katalog acara tidak menampilkan denah ruang.

“Tampaknya sekarang saya berada diantara Island of Inquiry dan Island of Words”, pikir saya setelah membaca deskripsi masing-masing ‘pulau’ pada katalog. Di sisi kiri, terdapat koleksi literatur kuno yang masing-masing dipamerkan dalam kotak kaca. Sebuah lampu sorot menerangi masing-masing kotak kaca yang ditata mengelilingi ruangan. Sedangkan di sisi kanan, dinding pendar membiarkan lampu-lampu horizontal bercahaya putih menunjukkan vocal point dalam ruangan, yaitu koleksi literatur Indonesia yang dikurasi di atas etalase-etalase asimetris berbahan kayu. Beberapa diantara koleksi dari kedua ‘pulau’ tersebut antara lain adalah aksara sansekerta yang ditulis di atas lembaran kayu, sebuah buku terbitan Afterhours edisi kolektor berjudul ‘Walter Spies: A Life In Art’ yang pernah memenangkan Premier Print Award Top Honour dari Printing Industry of America tahun 2012, dan buku-buku tentang arsitektur, sejarah, politik, bahkan tren hijab yang telah dialih bahasakan menjadi Inggris dan Jerman.

 

 

Di Island of Words, perhatian pengunjung tersita. Mereka bergerak searah sepanjang etalase, namun lambat karena memperhatikan halaman depan buku-buku dengan seksama. Saya harus ikut berdesakan dalam arus lambat tersebut untuk melihat kumpulan buku sambil mencoba mencari kedua kawan yang masih hilang. Lampu sorot dengan tegas memberi cahaya lembut ke permukaan koleksi literatur yang kemudian memantul menuju mata. Memberi banyak informasi berupa warna kepada retina yang kemudian dikirim ke otak. Sehingga perhatian saya terhadap wajah-wajah pengunjungpun hanya sedikit.

Arus lambat mengantarkan saya pada sebuah dinding pendar bercelah yang menawarkan sebuah kesempatan untuk mencoba melanjutkan pencarian di ‘pulau’ sebelah. Kali ini tidak sulit. Ia hanya terdiri dari satu lapis lampion bercahaya biru terang, hingga langit-langit ruang paviliunpun ikut tampak.

 

Celah dinding pendar. ©Fath Nadizti

Celah dinding pendar. ©Fath Nadizti

 

Saya langsung bisa menyimpulkan bahwa ‘pulau’ berikutnya adalah Island of Spice begitu melihat etalase-etalase berbentuk perahu yang membawa puluhan tabung reaksi berbagai ukuran. Spektrum warna rempah-rempah di dalam tabung-tabung kaca tersebut tidak hanya mengaktifkan saraf motorik anak-anak yang berada di ruangan, tapi juga rasa ingin tahu orang dewasa yang kebanyakan bukan berasal dari Indonesia. Kali ini tidak ada arus lambat, melainkan tumpukan percakapan berbahasa asing yang bisa saya dengar potongannya. Seperti kebingungan beberapa orang Eropa terhadap fungsi daun pandan, dan cara membedakan jahe dengan kunyit.

Suara wanita berbahasa Jawa yang sangat familiar kemudian mendominasi dari balik dinding pendar di seberang saya.

“Awas banyu panas…”, ujar wanita tersebut lantang. Yang kemudian disusul oleh suara barito seorang laki-laki, chef Vindex, sambil mendorong sebuah troli besar.

“Sudah Bu Sisca, biar kami saja. Permisi, excuse me…

Keberadaan chef Vindex atau orang-orang lain yang cukup terkenal di Indonesia bukan hal aneh di acara ini. “Tapi Bu Sisca…”, saya mengulang dalam hati sambil menelusuri jadwal acara di halaman 24 dan 25 pada katalog, “Tanggal delapan belas jam satu siang”, gumam saya. “Ini dia!”

The Art of Banana Leaves Food Wrapping

Speaker: Sisca Soewitomo

Venue: Island of Spice, Indonesia Pavilion

Language: German, English, Indonesian

Sisca Soewitomo, koki sekaligus pembawa acara Aroma yang ditayangkan di Indosiar tahun 90-an, muncul dari balik dinding pendar. Dengan sigap saya langsung menduduki bangku kayu terdekat dari troli yang telah diatur menjadi meja saji. Harapan saya hanya satu, dapat mencicipi makanan Indonesia yang dimasak langsung oleh sang koki legendaris.

 

Sisca Soewitomo memperagakan cara melipat daun pisang. ©Fath Nadizti

Sisca Soewitomo memperagakan cara melipat daun pisang. ©Fath Nadizti

 

Seorang translator bahasa memulai acara origami daun pisang tepat jam satu. Dinding pendar mengajak sebuah lampu sorot menerangi pembicara, memaksa penonton yang berdesakan untuk diam dan memberikan perhatiannya kepada sang koki. Kemudian sebuah musik mengalun, melatari gerakan tangan Bu Sisca. Saya tertegun. Saya tahu betul ini adalah latar suara tayangan Aroma.

“Ya pemirsa, siang ini akan ada dua makanan khas Indonesia yang akan kita coba bersama, yaitu Tum dan Nasi Pecel…”

Bu Sisca menjelaskan sambil menunjuk berbagai bahan di atas meja saji dengan telapak tangan kanan yang terbuka.

“Tum adalah jajanan manis yang sangat mudah dibuat. Hanya tepung beras, daun pandan, gula merah, sedikit garam, dan potongan buah pisang…”

Cahaya dan suara menari bersama meja saji dan sang koki, bergerak menuju studio televisi, dan kemudian berubah menjadi gambar bergerak di balik layar kaca.

“Kamu kok belum mandi?”, tanya ibu saya.

“Tunggu, kenapa ada ibu saya di Frankfurt? Ini tidak mungkin”, pikir saya sambil tetap menonton tayangan Aroma.

“Ayo mandi, setelah ini serial kartun, kan? Nanti makin malas…”

Sepertinya saya mengalami disorientasi ruang dan waktu. Bagaimana bisa saya berada di rumah dan paviliun kehormatan pada saat yang sama?

Saya sudah tidak mendengarkan bu Sisca karena rupanya saya sudah tidak berada di Island of Spice. Saya berada di ruang keluarga, terduduk memeluk lutut di lantai keramik yang dingin, menonton Aroma dan dimarahi ibu karena belum mandi.

Tiba-tiba bu Sisca keluar dari televisi, menawari saya sebuah Tum yang dibungkus daun pisang. Saya ambil benda kecil berbalut daun pisang itu sambil mengucapkan terima kasih. Kemudian membuka lembar demi lembar daun pisang yang lembut dengan hati-hati agar karamel cairnya tidak tumpah.

“Setelah makan langsung mandi ya…”

Kata ibu persis setelah saya menggigit Tum yang potongan buah pisangnya langsung muncul ketika adonan tepung beras dan gulanya lumer di lidah. Manis sekali. Tanpa harus terbang belasan jam, saya sudah berada di rumah. Di tujuh belas tahun lalu, saat tayangan Aroma di televisi dibiarkan begitu saja di sebuah Sabtu oleh ayah, kala ibu menyiapkan sarapan. Sedangkan saya yang baru bangun tidur menatap kosong bu Sisca di dalam layar televisi. Apa yang bisa lebih menyenangkan dari ini? Saya tidak hanya ‘pulang’ ke rumah, tapi juga ke masa kecil. Kembali ke masa yang mengijinkan saya untuk hanya pusing tentang tempat bermain terdekat yang bisa ditempuh sepeda. Bukan lima belas jam menggunakan pesawat.

 

Kue Tum. ©Fath Nadizti

Kue Tum. ©Fath Nadizti

 

“Ini lezat sekali! Bagaimana bisa teksturnya seperti ini? Kamu tahu?” seorang wanita paruh baya berbahasa Inggris tiba-tiba memaksa saya kembali ke Frankfurt.

“Iya memang lezat…” jawab saya sambil mengembalikan kesadaran, “Teksturnya bisa selembut ini karena dikukus. Metode itu bisa mematangkan makanan tanpa mengurangi kadar air. Dan menggunakan daun pisang sebagai pembungkus juga berpengaruh terhadap rasa.” Saya meneruskan seadanya.

“Begitu ya, saya baru tahu. Menarik sekali!” katanya sambil sesekali melihat sang koki yang sekarang sedang sibuk memperagakan cara membuat piring dari daun pisang, “Apa bahan-bahan Tum ini ada di salah satu tabung-tabung kaca itu?”

“Tentu saja!” jawab saya sambil tersenyum melihat antusiasme diwajahnya.

“Wow! Saya pikir kalian hanya punya main courses seperti Nasi Goreng dan Rendang. Dan daun pisang ini benar-benar teknologi yang menarik! Ternyata kombinasi bahan dan teknik yang kalian lakukan bisa menghasilkan beragam kuliner!”

Dan ternyata tidak hanya ia yang terpukau. Suara-suara berbahasa Jerman dan Inggris bertumpuk di belakang saya juga sedang membicarakan Tum dan kelezatannya. Terheran-heran dengan imajinasi yang digunakan orang Indonesia dalam memasak.

Kurasi ruang dan kegiatan didalam paviliun kehormatan tidak hanya untuk pamer buku dan demo masak. Tujuan Indonesia sebagai tamu kehormatan di pesta literatur tahunan ini adalah memperkenalkan Indonesia kontemporer untuk membuat dialog baru dengan dunia internasional. Dialog baru seperti bisnis kuliner Indonesia yang sempat disinggung bu Sisca merupakan salah satunya. Namun seperti dilansir oleh TEMPO, yang lebih signifikan adalah transaksi jual-beli hak cipta dan translasi literatur Indonesia dengan penerbit asing sekelas Springer, asal Jerman, dan Zed Books, asal Inggris, yang juga terjadi. Komite Nasional Indonesia untuk Frankfrut Book Fair 2015 patut berpuas diri atas tercapainya hal tersebut.

Saya kembali melihat peragaan origami daun pisang yang rupanya hampir selesai. Beberapa asisten sang koki membagi-bagikan nasi pecel yang ditata di atas piring daun. Para pengunjung, termasuk wanita paruh baya disamping saya langsung berebut, penasaran dengan teknologi pangan berupa piring yang terbuat dari origami daun pisang. Sedangkan saya tetap duduk sambil melihat Tum yang telah menemani saya ‘pulang’ sejenak.

Namun dialog baru berupa pengalaman ‘pulang’ sepertinya tidak dialami semua orang. Kolaborasi lampion laut, dinding pendar, lampu sorot, musik latar, dan kehadiran sang koki tidak membuat rasa Tum menjadi sangat lezat ataupun origami daun pisang menjadi hebat. Mereka membuka dialog dengan memori masa kacil saya di sebuah Sabtu pagi yang berjarak belasan ribu kilometer tujuh belas tahun ke belakang.

Saya jadi teringat pertanyaan Bernard Tschumi tentang persepsi ruang yang berbeda-beda pada tiap individu. Apakah hal tersebut terjadi karena ruang dapat menciptakan dunia yang berbeda-beda akibat dari memori pribadi masa lalu? Sehingga orang-orang Eropa di sekitar saya yang tidak memiliki memori tersebut mengalami hal yang berbeda? Seperti wanita paruh baya disamping saya antusias karena pengetahuan baru tentang kuliner Indonesia, sedangkan saya antusias karena pengalaman ‘pulang’ dalam sekejap.

Tum sudah habis, padahal rindu belum lepas. Tayangan Aroma telah usai. Latar musik telah berhenti. Dinding pendar mengambil alih ruang, mengembalikan Island of Spices menjadi nyata. Ibu pun ikut berhenti menyuruh saya mandi pagi. Saya telah kembali ke Frankfurt Messe, menjadi tujuh belas tahun lebih tua dan belasan ribu kilometer lebih jauh.

Sebuah artikel berjudul ‘Mendadak Frankfurt’ di TEMPO bercerita bahwa materi di dalam acara ini biasa-biasa saja bagi orang Indonesia, dan saya setuju. Karena pengalaman ‘pulang’ ke masa lalu melalui kombinasi cahaya, suara, dan rasa lah yang menjadikan Frankfurt Book Fair 2015 ini luar biasa. Membuat saya merasa patut untuk ikut berpuas diri bersama komite acara dengan tercapainya tujuan saya untuk ‘pulang’ sejenak di Frankfurt.

“Hei!”

Ternyata suara itu berasal dari salah satu teman, Shaffira, yang hilang sejak tadi. Saya bahkan lupa kalau sedang mencari mereka.

“Hei! Darimana saja? Aku mencarimu sejak tadi.”

Saya bertanya sambil menghampirinya.

“Dari ‘pulang’…”

Katanya sambil tersenyum. Saya ikut tersenyum dan merasa tidak perlu untuk bertanya lebih jauh.

“Ayo ke ‘pulau’ sebelah, siapa tahu teman kita ada disana.”

Ajak saya sambil beranjak dari bangku kayu kemudian membuang bungkus Tum ke tempat sampah. Kembali ke realita dan, semoga, pulang ke rumah.

Fath Nadizti
Alumnus program double-degree Arsitektur ITS Surabaya dan Urban Design Saxion Hogeschool Belanda tahun 2013. Kemudian melanjutkan program magister Urban Studies di University College London karena penasaran dengan sistem kehidupan berkota. Saat ini aktif berkomunitas dan berarsitektur di Bandung.