Pulang Kota

932 Views |  Like

Oleh Rofianisa Nurdin

 

Mencari Pulang (Foto: Lukman Hakim)

Mencari Pulang (Foto: Lukman Hakim)

Kota adalah simpul. Kota adalah tempat kepentingan berkumpul. Kota adalah stasiun: tempat orang-orang datang, orang-orang pergi. Orang-orang yang (bersikukuh) tinggal dan orang-orang yang tak (pernah) kembali.

Bagi sebagian orang, kota itu sesederhana tempat berpulang:

Rumah.

Di salah satu pulau terluar Indonesia, sebuah rumah berdiri di perbatasan dua negara. Penghuninya menerima tamu di Indonesia, dan pergi ke dapur untuk menyeduh kopi di Malaysia. Fakta ini kerap menjadi lelucon ringan masyarakat di sana: bahwa sekedar melangkah ke ruangan lain di dalam rumah, mereka harus berpindah negara(1).

Lain halnya dengan yang terjadi di kota besar. Ada hal yang sebenarnya janggal namun sudah menjadi pemandangan yang lumrah: orang-orang tak lagi menerima tamu di beranda rumah. Mereka menetapkan janji bersilaturahmi melalui media sosial, lalu pada waktu yang telah ditentukan bergegas dengan moda transportasi yang sesuai dengan kemampuan (dan kelas) masing-masing, menempuh jarak yang terbias waktu tempuh yang tak terduga, menyebut kata “macet” sebagai pengganti ucapan salam ketika telah bertatap muka, dan memilih kafe ataupun resto yang paling fotogenik untuk akhirnya mereka abadikan gambarnya demi menjadi bagian masyarakat dunia maya (mencatat sejarah, katanya. Menampilkan citra tertentu, biasanya). Sekedar bertatap muka untuk berbincang ringan mereka habiskan sejumlah uang, selewat waktu, dan segelintir kesabaran yang kian terkikis di perjalanan tiap harinya.

Dalam waktu dan biaya yang sama, seorang pengelana sudah bisa berpindah kota. Tapi tentu saja konteksnya berbeda. Pengelana itu barangkali sedang mencari rumah dalam pemaknaan yang ia imani, sementara orang-orang di kafe tadi justru (meski, mungkin, tanpa disadari) sedang memecah fungsi rumah, menjadikannya fragmen-fragmen ruang yang terpisah jarak dan pencapaian.

Menjadikannya horcrux(2).

Horcrux adalah objek berkekuatan sihir tempat fragmen jiwa seorang penyihir disimpan dan dirahasiakan. Mereka yang mati namun memiliki sebagian jiwa di dalam horcrux akan dapat hidup kembali. Semakin banyak horcrux mereka ciptakan, semakin banyak jiwa mereka terfragmentasi, semakin dekat mereka dengan keabadian; meskipun memiliki resiko hilangnya sifat-sifat manusiawi dan kejanggalan pada rupa fisik.

Jika sebuah rumah memiliki jiwa, maka tindakan memecah fungsi rumah tadi sama halnya dengan menciptakan horcrux: upaya merekayasa ruang-ruang sosial pada bangunan publik komersial; menjual skala yang intim, dekorasi yang cozy, “kenyamanan seakan di rumah sendiri”; menawarkannya kepada mereka yang terbutakan keabadian uang dan tersihir konsumerisme; kitsch yang membuai dalam dunia “seolah-olah”. Rumah yang sebenarnya lalu menjadi sepenggal kata ambigu, menjadi sebuah ruang sekedar.

Kosong, cacat, berdebu. Tanpa jiwa.

Alkisah segerombol pendatang memutuskan hijrah ke kota. Selama aktivitas ekonomi masih berjalan dan wahana perputaran uang masih dikemudikan tangan-tangan tak kasat mata, mereka akan selalu ada. Memenuhi ruang-ruang kota yang sudah sesak: kamar-kamar kos di lipatan-lipatan strategis; rumah-rumah makan yang kurang higienis; sesekali (atau berulang kali, tergantung pendapatan dan ego mana yang dimenangkan: hedonis atau utilitarian) memanjakan diri di sarana hiburan dan pusat perbelanjaan (mal, kafe, bar, klub, pusat kecantikan; ̶ sebut saja, semua ada). Gejala kaum menengah yang menjadi fenomena populer, belakangan.

Bertumpu pada kaki-kaki mereka yang sudah bisa berdiri sendiri, di hadapan mereka dunia terbuka lebar. Tersihir lampu-lampu kota, berlembar-lembar peluh yang mereka hasilkan selama sebulan, habis sekejap seketika. Demi merasa pulang, merasa di rumah.

Mereka adalah penikmat horcrux yang paling setia.

Penghuni sekotak ruang tidur yang ruang-ruang sosialnya tersebar di mana-mana. Membaca dan mengerjakan tugas di kedai kopi ber-wi-fi, bercengkrama sepulang kerja di lounge bersama teman lama, mencicipi kuliner dunia dalam satu meja di foodcourt tersohor di sejagat kota. Mereka mendamba rumah, dan obrolan hangat, dan masakan Bunda; berharap ruang-ruang berinterior temaram dalam berbagai tema dapat menggantikannya. Bisakah?

 

Apakah Rumah?

“Walls with windows and doors form the house,
but the empty space within it
is the essence of the home.”
— Lao Tse

Jika rice dalam bahasa Inggris dapat didefinisikan sebagai padi, beras, juga nasi; maka rumah dalam bahasa Indonesia pun memiliki definisi ganda dalam bahasa Inggris sebagai house dan home, meski kedua kata tersebut punya makna yang berbeda. Perbedaan makna dalam satu kata ini, barangkali, yang membuat kita terkadang lupa bahwa rumah bukan sekedar tempat bernaung. Lalu apakah rumah?

Horcrux (Foto: Lukman Hakim)

Horcrux (Foto: Lukman Hakim)

Bagi sebagian yang beruntung, rumah memang tak sekedar tempat bernaung. Ia representasi kesuksesan penghuninya. Tercermin dari pilar-pilar maha, pagar-pagar berukir bersalut tembaga, beton berlapis peluh seratus buruh, ruang-ruang bersalut statuario dan bebatuan alam dari negeri di ujung dunia. Rumah bagi mereka adalah simbol. Sebuah kebanggaan. Sebuah pernyataan. Etalase.

Bagi yang kurang beruntung, rumah tak lebih dari secuil spasi beratap bayang-bayang malam. Tempat yang hanya cukup untuk meringkuk mencari mimpi dalam bising kaki yang berlalu-lalang. Rumah yang akan hilang ketika pagi datang. Ketika toko-toko kembali buka dan segala jenis sampah yang berserakan di pelatarannya disapu; termasuk mereka.

Bagi segelintir pengenyam pendidikan arsitektur, rumah ibarat komoditas: tak pernah habis beratus-ratus kali dimaknai, diteliti, didefinisi lalu diredefinisi kembali, dirancang dan dihancurkan, diolah menjadi barang dagangan demi sesuap nasi dan setenggak kopi untuk bertahan setidaknya hingga satu malam lagi.Di Indonesia, common sense arsitektur adalah rumah. Praktisi dan akademisi yang ingin mencari perhatian publik, menggunakan rumah sebagai kata kunci.

Bagi sebagian orang, rumah itu sekompleks sebuah kota. Tempat mereka memaknai “pulang”.

Sudut (Foto: Lukman Hakim)

Sudut (Foto: Lukman Hakim)

Pulang (ke) Kota?

Abad 21. Pelaku urbanisasi telah beberapa dekade menetap hingga beranak-pinak. Mudik kini tak hanya diasosiasikan dengan “pulang ke kampung”,karena tak sedikit yang merayakan hari raya maupun berkumpul dalam hajatan keluarga besar di kota (dan bukannya “kampung”) halaman. Ke tempat yang tertua dan yang dituakan yang masih tersisa, tinggal.

Kamar-kamar hotel full-booked. Restoran sudah tak bisa menerima reservasi. Tempat rekreasi penuh. Mal gegap dan riuh. Selebrasi pulang kota tak cukup hanya dengan mencicipi masakan oma dan bermain di halaman belakang rumah bersama sanak-saudara; petugas katering telah menyiapkan segala hidangannya dan halaman belakang rumah habis dibangun kamar-kamar untuk disewa (lagipula baik anak-anak maupun orang dewasa telah sibuk dengan benda elektronik di tangannya). Pulang kota adalah momen ketika horcrux-horcrux yang tersebar di penjuru kota laku tersambangi.

Nostalgia tentang “kota halaman” yang dikunjungi setahun sekali kini berisi tentang restoran yang tahun lalu mereka kunjungi, film box office yang mereka tonton, pertujukan yang tak luput mereka nikmati (karena media beserta para selebritas di dalamnya akan membicarakannya terus-menerus, dan mereka yang kehabisan tiket akan merasa menjadi manusia urban yang tak sempurna). Hingga anak-anak mereka kembali ke sekolah dan menceritakan pengalaman berlibur mereka. Tentang gemericik air di resto sunda (dan bukannya di sungai kecil belakang rumah nenek), kisah superhero yang mereka tonton di bioskop (dan bukannya nyanyian tentang anak gembala yang mengurusi kambing-kambing milik paman), serta betapa gemerlapnya dekorasi pohon natal di mal yang baru dibuka (karena gemerlap malam bertabur bintang kini bukan sesuatu yang lumrah ditemukan di kota).

Lalu mereka berkoar-koar tentang romantisme pulang ke kota asal. “This feels like home,” seseorang berusia seperempat abad bergumam melalui jempolnya, menuliskan tentang betapa aroma kedai kopi favoritnya sejak SMA masih belum berubah. Mengesampingkan fakta bahwa usaha franchise internasional itu tentu punya standar penyajian yang tak setiap bulan berubah.

Pun di antara mereka, ada yang tak hadir. Mungkin tak menemukan jalan pulang, atau memang sengaja terlupa. Bagi mereka, pulang ke kota hanya menyajikan penat; tak perlu lagi diingat.

Kota adalah simpul. Kota adalah tempat kepentingan berkumpul. Sejak dulu, definisinya selalu begitu.

Kota adalah stasiun: tempat orang-orang datang, orang-orang pergi. Orang-orang yang (bersikukuh) tinggal (meski huniannya sudah tak layak lagi), dan orang-orang yang (bersumpah) tak (akan pernah) kembali.

Bagi sebagian orang, pulang ke kota adalah sebuah trauma. Seberapapun nyaman naungan yang mereka hadirkan, kota tak lagi sesederhana tempat berpulang:

Sensasi rumah dalam kenangan telah hilang.

Memori (Foto: Lukman Hakim)

Memori (Foto: Lukman Hakim)

Catatan:

1) Rumah Malindo, Pulau Sebatik; perbatasan Kalimantan Utara (Indonesia) dengan Sabah (Malaysia).
2) Istilah horcrux dipopulerkan pada novel fantasi berseri Harry Potter karangan J.K. Rowling.

Rofianisa Nurdin
Menjadi sarjana Arsitektur ITB pada tahun 2012. Ketertarikannya kepada kota, manusia, dan budaya membawanya ke dalam ranah industri kreatif dengan semangat kolaborasi melalui Vidour yang digagas pada tahun 2011 dan CreativeMornings Jakarta yang digagas pada tahun 2014. Memori kolektifnya tersebar di kota-kota Asia Tenggara: Bandung, Ubud, Jakarta, George Town (Penang), dan Singapura. Saat ini menjadi Jakarta Chapter Ambassador di CreativeMornings, Community Manager di lingkaran.co, dan Program Manager di rabu(n) senja bersama tim a publication andramatin.