Preservasi Vol.2: Aksi

917 Views |  Like

“Preservasionis” adalah seseorang pragmatis yang sadar akan tugas “waktu” untuk memakan umur sebuah bangunan atau kebudayaan, sementara “konservasionis” adalah seorang romantis yang ingin menghadirkan sisa masa lalu dalam kemasan yang baru. Dua-duanya harus sadar dengan apa yang dilakukan serta konsekuensinya terhadap kota, arsitektur, serta penghuninya.

Setelah “Abstraksi” menawarkan konsep, nilai, atau pemahaman tentang “Preservasi”, kini “Aksi” akan membuka pencarian, aktualisasi, dan implementasi dari nilai-nilai tersebut melalui tujuh buah kontribusi. “Aksi” akan dibuka oleh Kenta Kishi yang akan berbicara mengenai “preservasi” sebagai hak dan representasi identitas mayoritas pada wajah kota lewat The Rightfulness of Preservation. Kemudian hal-hal teknis mengenai aktor, biaya dan fungsi terkait sebuah warisan arsitektur kolonial, khususnya benteng, akan dibahas dalam A historic legacy, former Forts in Indonesia today” oleh Cor Passchier. Restorasi (konservasi) bangunan dan kawasan kolonial  yang dapat membentuk identitas sebuah kota akan dibahas oleh Johannes Widodo lewat Conservation in Singapore. Adapun solusi alternatif melalu strategi urban akupuntur untuk mengaktivasi kawasan Kota Tua yang telah mati, diusulkan oleh Diana Ang dan Daliana Suryawinata lewat Event Space as a Solution for Kota Tua Jakarta. M. Ichsan Harja Nugraha akan mengilustrasikan beberapa ide intervensi Budi Lim dalam upaya mengaktivasi Kota Tua. Yusni Aziz kemudian berusaha menggali realita arsitek konservatoris di Indonesia dalam artikelnya Mencari Arsitek Konservatoris. “Aksi” akan ditutup oleh sebuah pencarian dalam usaha memreservasi arsitektur tradisional dalam Yori Antar: Perjuangan untuk Nusantara.

Pada akhirnya, seperti seleksi alam, yang bertahan dan terus dimaknai akan tinggal, yang lain akan menjadi reruntuhan bahkan terkubur dalam-dalam. Kita sendiri yang akan memaknai preservasi. Dan pada gilirannya, apa yang seseorang preservasi akan memaknai dirinya sendiri, begitupula apa yang dipreservasi di kota akan memaknai penduduknya.

“If you don’t know where you’ve come from, you don’t know where you are.” – Burke, James

admin
Ruang adalah sebuah majalah online bertema arsitektur, kota, dan lingkungan binaan, beserta segala permasalahannya. Kami tertarik dengan cara pandang yang beragam dalam melihat sebuah tema; karenanya, kami mengambil sebuah posisi yang objektif dengan memberikan kesempatan kepada setiap pandangan untuk menyuarakan argumennya. Tidak ada benar dan salah dalam berpendapat, yang ada hanya argumen yang lebih berdasar. Kami percaya bahwa konsensus bukanlah sebuah tujuan. Karenanya kami berupaya agar setiap edisi diwarnai oleh beragam kontributor: praktisi, akademisi, pengamat, penikmat, pengguna, patron maupun kritikus dari berbagai disiplin ilmu.

Ruang tidak mencari solusi terhadap sebuah permasalahan yang diangkat dalam setiap tema. Bagi kami, untuk saat ini merupa pertanyaan yang baik dan tepat lebih diperlukan daripada terburu-buru mengambil solusi. Maka, setiap edisi akan dibuka oleh sebuah pertanyaan berupa call for paper yang akan melahirkan sebuah edisi. Dan, edisi tersebut menjadi pengantar bagi sebuah temuan awal dari tema yang ditampilkan. Namun edisi tersebut belum akan ditutup, dan akan terus dibuka untuk mencari cara pandang lain mengenai permasalahan dalam tema tersebut.

Tags

#Aksi