Preservasi (atau Konservasi?)

2521 Views |  Like

Volume 1: Abstraksi

Dalam konteks arsitektur dan kota, istilah “preservasi” dan “konservasi” memang sering digunakan terbolak-balik. Walau begitu, jika ditilik dengan lebih hati-hati, kedua kata tersebut menceritakan dua hal yang berbeda. Secara singkat dan permukaan, preservasi berhubungan dengan otentisitas, sehingga sesuatu sebaiknya dibiarkan sebagaimana mestinya dan tidak disentuh. Sementara konservasi memfokuskan kepada sebuah jiwa tempat, sehingga, untuk memperkuatnya, restorasi bahkan pembuatan ulang sebuah artefak dimungkinkan. “Preservasionis” adalah seseorang pragmatis yang sadar akan tugas “waktu” untuk memakan umur sebuah bangunan atau kebudayaan, sementara “konservasionis” adalah seorang romantis yang ingin menghadirkan sisa masa lalu dalam kemasan yang baru. Dua-duanya sah, asal sadar akan apa yang dilakukannya serta konsekuensinya.

Kami berbahagia atas respon yang antusias dari para kontributor  terhadap edisi “Preservasi”. Kedua  konsep, “Preservasi” dan “Konservasi”, dibahas secara jelas oleh artikel-artikel ini. Bagaimanapun adalah ambisi Ruang untuk mengerti sebaik-baiknya mengenai “Preservasi” (dan konservasi) serta tetap menjaga kenyamanan pembaca. Karena jumlahnya, kami memutuskan untuk menghadirkan edisi ini dalam dua volume: “Abstraksi” dan “Aksi”. Pembagian yang cukup mudah dicerna. Dalam “Abstraksi”, enam artikel akan mendiskusikan realita dan fenomena yang terjadi, kemudian menawarkan sebuah konsep, nilai, atau pemahaman tentang “Preservasi”.

“Abstraksi” akan dibuka oleh sebuah artikel oleh Muh. Darman berjudul Mengikutsertakan Rakyat, yang akan berbicara soal “gotong royong” sebagai sebuah semangat yang mengakar dalam konteks lokal (Indonesia). Disambung oleh ilustrasi apik oleh Sri Suryani mengenai “kelokalan”. Berbicara kelokalan dan keglobalan akan diabstraksikan oleh Ivan Nasution dalam artikel berjudul Dongeng Preservasi. Global menjadi sebuah “konteks” dalam operasi OMA (Office of Metropolitan Architecture), untuk itu dipertanyakan apakah usaha preservasi itu dalam kaitannya dengan konteks dalam What is preservation: Dialogue with David Gianotten dan Michael Kokora. Realrich berbicara mengenai konteks dalam sudut pandang kebutuhan dan waktu yang akan mempengaruhi bentukan arsitektur dalam artikel Adaptasi Konteks. Kemudian ditutup oleh lapisan memori kota di suatu masa yang akan menjadi basis untuk melanjutkan keberlangsungan kota dalam Kota-Kota yang Hidup dari Reruntuhan Masa Lalu oleh Rofianisa.

Pada akhirnya, seperti seleksi alam, yang bertahan dan terus dimaknai akan tinggal, yang lain akan menjadi reruntuhan bahkan terkubur dalam-dalam. Kita sendiri yang akan memaknai preservasi.

“If you don’t know where you’ve come from, you don’t know where you are.” – Burke, James

Ruang 8 Preservasi, Volume 1: Abstraksi dapat diunduh di sini

admin
Ruang adalah sebuah majalah online bertema arsitektur, kota, dan lingkungan binaan, beserta segala permasalahannya. Kami tertarik dengan cara pandang yang beragam dalam melihat sebuah tema; karenanya, kami mengambil sebuah posisi yang objektif dengan memberikan kesempatan kepada setiap pandangan untuk menyuarakan argumennya. Tidak ada benar dan salah dalam berpendapat, yang ada hanya argumen yang lebih berdasar. Kami percaya bahwa konsensus bukanlah sebuah tujuan. Karenanya kami berupaya agar setiap edisi diwarnai oleh beragam kontributor: praktisi, akademisi, pengamat, penikmat, pengguna, patron maupun kritikus dari berbagai disiplin ilmu.

Ruang tidak mencari solusi terhadap sebuah permasalahan yang diangkat dalam setiap tema. Bagi kami, untuk saat ini merupa pertanyaan yang baik dan tepat lebih diperlukan daripada terburu-buru mengambil solusi. Maka, setiap edisi akan dibuka oleh sebuah pertanyaan berupa call for paper yang akan melahirkan sebuah edisi. Dan, edisi tersebut menjadi pengantar bagi sebuah temuan awal dari tema yang ditampilkan. Namun edisi tersebut belum akan ditutup, dan akan terus dibuka untuk mencari cara pandang lain mengenai permasalahan dalam tema tersebut.