Praktek Berarsitektur Sebuah Krisis Jati Diri

2218 Views |  8

Saya melihat layar ponsel sambil setengah berlari. Aplikasi citymapper yang selalu saya percaya sebagai penunjuk arah di kota London tampaknya kali ini salah. Destinasi saya adalah sebuah gereja, tapi saya malah berakhir disebuah bangunan kecil dengan jendela-jendela besar berkaca transparan. Saya menengadah, memandang rintik hujan di luar dari sebuah menara bergaya victorian. Yang meyakinkan saya, ini adalah gereja yang saya cari. Saya lalu masuk ke ruangan kaca yang sudah ramai orang.

“Apa bisa kita membuat sebuah kawasan beridentitas dengan menyediakan ruang publik, akses, dan infrastruktur?”

John, seorang warga setempat, menanyakannya selang beberapa menit setelah saya duduk bergabung di acara itu. Sore itu, ruang ibadah gereja disulap sementara menjadi ruang berkumpul warga. Akhirnya, untuk pertama kalinya saya menghadiri sebuah community meeting di London.

 

Temu warga pertama di bulan Januari 2015. ©Fath Nadizti

Temu warga pertama di bulan Januari 2015. ©Fath Nadizti

 

Community meeting, atau temu warga adalah salah satu metode yang dilakukan oleh pemerintah kota London untuk melibatkan warganya dalam pengembangan kota. Rapat kali itu dihadiri oleh warga dari lokasi pembangunan, dan pemerintah dari level borough[1] hingga kota.

Acara ini merupakan kesempatan untuk mendiskusikan dan merubah rencana pembangunan. Dalam rapat tersebut, para peserta duduk melingkar. Menyisakan ruang yang cukup besar di tengah untuk membuka semua dokumen yang mengatur pengembangan kawasan Old Oak Common dan Park Royal.

 

Lokasi kawasan Old Oak Common dan Park Royal di London ditunjukkan oleh lingkaran merah. ©Fath Nadizti

Lokasi kawasan Old Oak Common dan Park Royal di London ditunjukkan oleh lingkaran merah. ©Fath Nadizti

 

Kawasan Old Oak Common dan Park Royal terletak di London barat. Dengan luasnya sekitar 155 hektar, area ini dianggap mampu menyediakan ruang bagi pertumbuhan populasi kota London yang diprediksi akan mencapai 10 juta penduduk di 2030. Selain itu, kawasan ini termasuk strategis dimana Ia terhubung dengan pusat kota London dan bandara Heathrow melalui jaringan kereta di atas dan bawah tanah.

 

Batas kawasan Old Oak Common dan Park Royal. ©Fath Nadizti

Batas kawasan Old Oak Common dan Park Royal. ©Fath Nadizti

 

Boris Johnson, walikota London, melihat dua hal tersebut sebagai peluang. Di dalam dokumen Opportunity Area Planning Framework, atau OAPF, untuk kawasan Old Oak Common dan Park Royal, sebuah stasiun baru akan dibangun. Stasiun ini akan mengakomodasi kereta super cepat yang memperpendek waktu tempuh antara London, Manchester, Birmingham, dan bandara Heathrow. Dengan begitu, kawasan ini akan menjadi sebuah ‘super-hub’. Pembangunan stasiun juga nantinya akan menarik pembangunan berbagai gedung tinggi untuk hunian, komersial, dan perkantoran di sekitarnya.

Dokumen OAPF kawasan Old Oak Common dan Park Royal mengatur pembangunan secara fisik dan non-fisik. Hal tersebut dilakukan sesuai arahan prinsip perencanaan Lifetime Neighborhood[2] yang menempatkan warga sebagai pusat dari pembangunan. Kawasan ini diharapkan dapat menjadi lingkungan buatan yang inklusif, mudah dijangkau, ramah lingkungan; dan yang paling krusial, memiliki identitas.

Di dalam esai berjudul “Local Distinctiveness”, Gillian Darley mengatakan bahwa memiliki identitas berarti meninggalkan memori. Bagi sebuah tempat yang sudah memiliki durasi keberadaan, memori akan dengan sendirinya ada karena akumulasi waktu. Seperti Buckingham Palace atau London Eye yang menjadi identitas kota London. Kedua ikon tersebut memliki durasi keberadaan yang cukup lama untuk menjadi memori yang ditinggalkan di kepala warga London. Begitu juga dengan Old Oak Common bagi penghuni area tersebut.

Dalam usaha memahami identitas, saya akhirnya mencoba menjadi penonton kegiatan sehari-hari warga di bakal lokasi pembangunan. Saya menyusuri jalan-jalan yang sepi dari hiruk pikuk kota London. Melihat seorang ibu yang mengantarkan anaknya berjalan ke luar rumah untuk bersekolah. Mendengarkan perbincangan John dengan teman-temannya yang setengah berteriak karena bising kereta yang lewat . Kemudian berbelok menuruni tangga yang membawa saya ke kanal.

Beberapa orang berlari sambil mengunakan pemutar musik, melewati saya yang mulai mati rasa karena angin musim dingin. Keseharian yang terakumulasi hingga puluhan tahun menjadi memori John dan warga lainnya, dan melahirkan ikatan yang kuat dan personal dengan Old Oak Common.

 

 

Saya menjadi lebih paham tentang apa yang sebenarnya dipertanyakan John. Bagi mereka, pengembangan ini bukan soal patah hati karena kehilangan romantisme masa lalu. Mereka mendukung visi pemerintah untuk menciptakan ‘super-hub’ global, namun tidak ingin identitas lokalnya tergerus pada saat yang sama. Gambar skematik dan kalimat panduan desain yang mereka lihat sore itu cenderung mengagungkan visi ‘super-hub’, dan identitas lokal seakan hadir hanya sebagai janji yang diumbar untuk memperoleh persetujuan warga.

Salah satunya adalah ruang terbuka yang digambarkan dengan ramah, yang akan menjadi tempat warga makan siang dan berinteraksi dengan penjual sandwich dan kopi. Orang saling berteriak bukan untuk menandingi suara kereta, tapi karena hangatnya kegiatan yang “akan” terjadi di sana. Representasi tersebut berusaha memproyeksi memori romantis dengan latar belakang kawasan yang baru. Tapi apakah identitas Old Oak Common di masa depan hanya akan diwujudkan seperti itu?

Rebecca, salah satu warga, kemudian merespon, “Bagaimana bisa interaksi manusia diprediksi? Apakah dengan meletakkan pohon, rumput, dan bangku taman orang-orang akan beinteraksi dan kemudian kawasan ini menjadi kawasan yang sukses? Yang memiliki identitas?”

 

Salah satu visualisasi proyeksi kawasan Old Oak Common dan Park Royal. ©Fath Nadizti

Salah satu visualisasi proyeksi kawasan Old Oak Common dan Park Royal. ©Fath Nadizti

 

Temu warga sore itu berakhir tanpa kesimpulan berarti dan menempatkan pemerintah sebagai perusak hubungan dengan segala rencana masa depannya. Pertanyaan Rebecca juga seakan menekankan bahwa arsitek menjadi tangan kanan pemerintah dengan segala usahanya untuk meromantisasi rencana pembangunan, melalui arsitektur dan representasinya.

Di Jakarta pun tidak jauh berbeda. Di era Sukarno, arsitektur digunakan sebagai tanda sebuah bangsa yang merdeka. Kemudian di era Suharto, arsitektur mulai digunakan sebagai alat untuk meningkatan pertumbuhan ekonomi. Neoliberalisme dan globalisasi menjadi pemicu investasi asing yang mengalir deras ke Indonesia, lebih tepatnya Jakarta. Tanah kota Jakarta menjadi seloyang kue yang dipotong-potong dan diobral untuk kepentingan ekonomi. Ditaburi gedung-gedung tinggi berarsitektur barat serta fasilitas lengkap. Potongan-potongan tersebut didesain hampir mirip antara satu dengan yang lain. Membuat kota Jakarta semakin diterima secara global dan, pada saat yang sama, menjauhi identitas lokal seperti kampung dan budaya betawi.

Kevin Archer dalam buku “The Basic: The City” melihat fenomena globalisasi lingkungan buatan tersebut sebagai cara untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi para investor untuk mengawasi siklus investasi dalam jangka waku tertentu. Membuat Ibukota menjadi tempat untuk mengakumulasi kapital atau ‘machine growth’ dan kawasan-kawasan mandiri tersebut sebagai ‘hub’ atau titik temu siklus investasi.

Dengan sudut pandang tersebut, London pun menjadi ‘machine growth’. Pemerintah dan warga adalah komponen mesin yang berotasi kearah berbeda sehingga rentan gesekan. Arsitektur yang digunakan untuk membentuk identitas lokal ‘super-hub’ pun belum tentu bisa menepati janjinya. Kawasan Old Oak Common terancam menjadi menjadi alat pertumbuhan ekonomi belaka. Dengan itu, praktek berarsitektur cenderung sejalan dengan pemerintah dengan support berupa visualisasi rencana kawasan yang hiperbolis.

Menyadari realita ini, saya mulai skeptis dengan proses partisipasi publik di London. Namun didorong rasa penasaran yang sama besarnya, saya tetap mengunjungi sesi public drop-in yang diadakan beberapa minggu setelah rapat sore itu.

 

Warga mengunjungi sesi Public Drop-In disela-sela rutinitas. ©Fath Nadizti

Warga mengunjungi sesi Public Drop-In disela-sela rutinitas. ©Fath Nadizti

 

Sesi public drop-in diadakan di sebuah lobi hotel yang terletak di sebelah stasiun North Acton. Dari pagi hingga sore, warga dapat mengunjungi dan terlibat dalam proses pengembangan kawasan melalui dialog langsung dengan para arsitek. Dokumen-dokumen pembangunan tidak lagi bisu, karena di acara tersebut para arsitek berjaga di sekitar papan-papan yang berisi detil rancangan kawasan. Siap menghadapi segala pertanyaan, saran, dan kritik. Menariknya, dialog yang terjadi terasa lebih santai dibandingkan temu warga yang saya hadiri. Warga datang dan pergi sesuka hati. Melihat papan dan bertanya langsung pada perancang. Berbincang sambil menikmati minuman dan makanan ringan yang tersedia di sudut ruangan.

Beberapa warga kemudian menuliskan kritik dan saran di sebuah formulir sebagai masukan untuk rancangan berikutnya. Hari itu, arsitek tidak tampak sebagai tangan kanan pemerintah yang menutup mata dan telinga ke calon pengguna desainnya. Mereka berotasi searah dengan warga. Menjadi pendengar yang juga dapat memperjuangkan suara mereka.

Namun pertanyaan Rebecca masih menggantung. Dan menghadiri sesi itu justru melahirkan pertanyaan baru. Dimana posisi arsitek sebenarnya dalam sebuah kota? Kemana arah rotasi arsitek di dalam ‘machine growth’?

Setelah jam makan siang, lobi hotel terasa agak lengang. Saya mencoba mengambil kesempatan untuk berdiskusi dengan si ‘tangan kanan pemerintah’. Arsitek yang saya temui bernama Peter. Peter sadar tentang posisinya yang dekat dengan pemerintah. “Namun,” ujar Peter. “Itu terjadi jika kita melihat arsitek hanya sebagai profesi.”

Dari sudut pandang arsitektur sebagai sebuah keilmuan, arsitek juga dapat berperan sebagai penerjemah dua arah antara pemerintah dan warga. Visi pemerintah divisualisasikan oleh arsitek agar lebih mudah dipahami warga dan membuka dialog. Dan sebaliknya, opini warga yang didapat selama proses partisipasi publik diolah untuk pengembangan rancangan kawasan.

Utopia. Menurut saya jawaban Peter seperti sebuah utopia. Karena menjadi penengah semacam itu adalah pekerjaan yang sulit. Peter harus memahami kedua pihak dengan sangat baik untuk kemudian menemukan ekuilibriumnya. Ditambah lagi representasi visual yang ada rentan menimbulkan gesekan antara pemerintah dan warga, daripada memperjelas dan menyatukan visi kedua belah pihak.

Saya akhirnya mengutarakan pendapat skeptis tentang pembentukan identitas. Representasi kawasan Old Oak Common dan Park Royal, baik pada skala makro maupun mikro, tidak memperlihatkan identitas lokal yang selalu disebut dalam dokumen perencanaan. Standarisasi desain dan manajemen pengembangan kawasan oleh pemerintah membuat ruang menjadi homogen dan kehilangan karakternya. Persis seperti modernisasi yang terjadi di Jakarta. Praktik kedua hal tersebut dapat dilihat di ruang-ruang komersial sebuah kawasan. Contohnya kawasan Stratford di London timur yang menggunakan international chain stores seperti Starbucks, McDonalds, dan lain-lain untuk mempercepat pengembangan. Perbedaan area tersebut di London dan Jakarta menjadi hampir tidak ada, selain gaya interior atau denah lantai. Keduanya memiliki identitas komersial yang sama dari toko-toko tersebut.

Lalu identitas apa yang sebenarnya dibuat oleh Peter dan timnya? Dan jika homogenisasi terjadi, bukankah arsitek menjadi perusak identitas sebuah kawasan, bahkan kota?

Peter tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa desain pengembangan Old Oak Common dan Park Royal berpotensi membuat area tersebut kehilangan identitas lokalnya, dan menjadikannya kawasan yang generik. Ilustrasi yang mereka buat pun hanya imajinasi yang belum tentu terjadi. Karena jika pertokoan pada ilustrasi itu diisi oleh Starbucks, bukan kedai kopi lokal seperti yang diimpikan, maka skenario pembentukan identitas lokal tidak akan terjadi. Identitas lokal memang hanya janji belaka, seperti kekhawatiran para warga. Niat baik Peter untuk mengurangi gesekan antara dua komponen ‘machine growth’ menjadi gagal.

 

Peter (kiri) saat menjelaskan rencana pengembangan kawasan. ©Fath Nadizti

Peter (kiri) saat menjelaskan rencana pengembangan kawasan. ©Fath Nadizti

 

***

Rekayasa identitas ruang tidak hanya membuka dialog antara pemerintah dan warga, tapi juga mempertanyakan posisi arsitek. Dimana arsitek harus menempatkan diri dalam ‘machine growth’ jika arsitek bukan salah satu dari komponen mesin maupun pelumasnya?

Pertanyaan ini menambah daftar panjang kompleksitas profesi arsitek seperti yang dibahas Jeremy Till di bukunya, “Architecture Depends”. Jawaban dari posisi arsitek di sebuah kota akan tergantung pada konteks dan kompleksitas; dan tingginya kompleksitas di sebuah kota membuat praktek berarsitektur menjadi sebuah kekacauan. Namun bagi Jeremy, “Mess is the law (of architecture) and be proud of it”. Kompleksitas praktik berarsitektur merupakan sebuah kesempatan bagi arsitek untuk menyusup ke berbagai lapisan problematika kota dan berperan sebagai apa saja. Mulai dari koalisi pemerintah, translator dua pihak yang berdialog, hingga pengumbar janji belaka.

Dilema jati diri Peter sebagai seorang arsitek memang belum terjawab. Ada tuntutan dari tiap peran yang dia jalani. Peter sebagai pegawai pemerintah kota London, sebagai ahli dalam bidang arsitektur, atau sampai yang paling sederhana, sebagai kepala keluarga yang mencari nafkah. Mungkin arsitek tidak harus mendefinisikan dirinya, pun memilih posisi tertentu dan arah rotasi dalam sebuah kota sebagai ‘machine growth’. Tapi yang jelas, arsitek lebih dari sekedar profesi penyambung hidup. Karena setiap garis yang digambar akan merubah hidup orang banyak, bahkan ketika garis itu hanya sebuah janji.

 

Keterangan:

[1] Setingkat kecamatan

[2] Lifetime Neighborhood adalah prinsip-prinsip pengembangan kota/kawasan di Inggris Raya yang menekankan keterlibatan warga dalam pengembangan kota/kawasan utuk mencapai ‘well-beingness’ dan lingkungan yang berkelanjutan.

 

Fath Nadizti
Alumnus program double-degree Arsitektur ITS Surabaya dan Urban Design Saxion Hogeschool Belanda tahun 2013. Kemudian melanjutkan program magister Urban Studies di University College London karena penasaran dengan sistem kehidupan berkota. Saat ini aktif berkomunitas dan berarsitektur di Bandung.