Persepsi Ruang Publik dan Kriminalitas

3129 Views |  1

Ruang publik dapat didefinisikan sebagai ruang terbuka yang bebas diakses, dimana setiap individu maupun kelompok dapat melakukan berbagai aktivitas (Carr, 1992). Ruang publik yang baik berfungsi sebagai pusat, dimana berbagai kegiatan sosial, ekonomi, serta pertukaran budaya terjadi (PPS, 2000). Sebuah ruang publik dapat dikatakan sukses bilamana ruang fisik dan lingkungannya saling mendukung keberagaman fungsi dan aktivitas sehari-hari.

Sebuah kota tentunya memiliki lingkungan yang heterogen bahkan kontras. Di satu sisi, keberagaman aktivitas dan interaksi sosial pada ruang publik merupakan faktor pembentuk kota yang atraktif. Di sisi lain, keberagaman seringkali diasosiasikan dengan kriminalitas. Dualisme yang terjadi, seperti publik atau privat, aman atau bahaya, kaya atau miskin, menimbulkan isu mengenai ruang publik yang digunakan bersama dengan orang asing.

Kontroversi mengenai hubungan antara kriminalitas dan desain ruang mulai tumbuh. Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat mencapai tingkat kriminalitas yang lebih rendah dengan rancang kota yang berkelanjutan. Terdapat dua kubu teori yang saling bertolakbelakang untuk memecahkan hal ini, yang dikenal dengan encounter dan enclosure model.

gambar atas: Pemisahan tiap-tiap fungsi lahan (single-use), menyebabkan kawasan yang disintegrasi dan tergantung pada kendaraan (Duany et al, 2000)

gambar atas: Pemisahan tiap-tiap fungsi lahan (single-use), menyebabkan kawasan yang disintegrasi dan tergantung pada kendaraan (Duany et al, 2000)

Encounter model menganjurkan ruang terbuka dan bebas diakses oleh penduduk setempat dan orang asing. Di sini, orang asing dipandang sebagai subyek pendukung keamanan (sebagai elemen postitif) yang turut mengawasi ruang. Jane Jacobs (1961) mengobservasi bahwa pola jalan tradisional dengan fungsi ganda (mixed-use) lebih baik dibandingkan pemisahan land-use untuk fungsi tertentu (single-use) seperti pemusatan wilayah perumahan, pemusatan wilayah kesehatan, retail dan sebagainya. Ia memaparkan kondisi ideal sebuah desain ruang publik dalam kaitannya dengan keamanan, antara lain adanya batas yang jelas antara area publik dan privat, serta adanya pengawasan/kewaspadaan alami (eyes on the street). Ia juga menambahkan dua kondisi ideal, yaitu adanya kombinasi usia dan golongan sosial dan penggunaan ruang publik yang kontinu setiap saat, yang pada kenyataannya sulit dicapai. Model ini menjelaskan bahwa ruang terbuka bebas lebih aman karena berfungsi sebagai tempat interaksi sosial sehingga secara tidak langsung juga meningkatkan kewaspadaan dan aktivitas di ruang publik.

Enclosure model menganjurkan ruang tertutup dan lingkungan yang tidak bebas akses (terbatas). Di sini, orang asing dipandang sebagai ancaman/bahaya. Model ini dipelopori oleh Oscar Newman (1972) dalam konsep defensible place, dengan empat elemen design utama, yaitu territoriality, surveillance, building image, dan juxtaposition of residential with other facilities. Model ini menjelaskan bahwa lingkungan dengan akses tertutup (memisahkan orang asing) dapat menurunkan niat/kesempatan untuk melakukan tindakan criminal secara tidak langsung.

“Every spatial process that generates our built environment is also a social process, and every spatial pattern of crime is also a social pattern of crime.” (Hillier, 2004).

Di Eropa, seiring melonjaknya jumlah pemakaian kendaraan bermotor, ruang publik masih memegang peranan penting dalam kehidupan sosial. Lain halnya di Amerika Serikat, ruang publik tumbuh sebagai area abu-abu yang penuh tanda tanya. kehidupan di Asia Tenggara didominasi oleh jalur kendaraan bermotor seperti di Amerika Serikat.

Ketidaknyamanan akan ruang publik dapat dikaitkan dengan kriminalitas. Ketidaknyamanan tersebut menyebabkan pola kehidupan tertentu yang terjadi pada masyarakat golongan menengah, dimana mereka hidup dalam gated-community, dalam rumah ber-AC, mengendarai kendaraan pribadi ber-AC menuju kantor ber-AC dan pusat perbelanjaan ber-AC. Selain disebabkan oleh kondisi iklim, pola kehidupan seperti ini menyebabkan minimnya tingkat sosiabilitas antara manusia dari golongan yang berbeda.

Pada negara berkembang, pengurangan tingkat kriminalitas akan menjadi lebih sulit sehubungan dengan kontrasnya kondisi sosial dan ekonomi. Teori defensible space yang diusung oleh Oscar Newman dapat dirasa efektif oleh segelintir golongan. Jakarta adalah contoh kota dengan kesenjangan yang cukup tinggi. Ketakutan akan kriminalitas membuat masyarakat golongan menengah memilih untuk hidup dalam gated-community dimana rasa aman ditawarkan. Tidak hanya gated community, semenjak maraknya aksi kerusuhan dan terorisme, penutupan jalan dengan portal di perumahan umum kian banyak ditemui. Begitu pula dengan shopping mall yang tengah menjelma menjadi ruang publik sehubungan dengan minimnya jumlah ruang publik yang ada. Demi meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengunjung, solusi peningkatan keamanan dilakukan tidak dengan pendekatan perencanaan kota, melainkan solusi lokal/setempat. Penjagaan diperketat dengan penambahan jumlah petugas keamanan, CCTV, hingga detektor metal.

Sketsa Prinsip Defensible Space (Newman, 1973))

Sketsa Prinsip Defensible Space (Newman, 1973))

Konflik kembali terjadi antara ruang publik dan ‘zona aman’. Ruang terbuka yang baik haruslah dapat diakses secara universal, mendorong interaksi dan mewakili perbedaan. Seiring dengan pembatasan yang dilakukan, ‘ke-publik-an’ yang merupakan salah satu faktor terbentuknya vitalitas kota terancam. Tanpa disadari, respons keamanan ini membentuk segala homogenitas dan keteraturan, padahal inti dari sebuah kota terletak pada keberagaman dan perbedaan.

”Complexity of the relationships between fear of crime in the city and the social identities of age, race and gender has shown that the fear of crime has serious effects on social interaction, use of space and quality of life.” (Pain, 2001)

Keefektifan pembatasan/penutupan ruang publik ini memang perlu dipertanyakan. Penggunaan pembatas fisik seperti portal atau bollards dan CCTV memang dapat memberikan rasa aman bagi sejumlah pihak, dimana manusia berpikir bahwa keamanan dirasa lebih efektif ketika pergerakan manusia terhenti. Namun sebaliknya dapat menimbulkan rasa tidak aman, dan di sisi lain memperkecil ruang publik kota. Pembatas fisik dan CCTV awalnya dimaksudkan untuk meningkatakan kewaspadaan akan bahaya/terorisme, namun sebenarnya benda-benda tersebut tidak dapat berbuat apa-apa ketika bahaya benar-benar datang. Sangat disayangkan maksud sebenarnya dari penutupan ruang publik tidak dialamatkan dengan benar, disalahartikan, mispersepsi.

Security and Safety are two different things (Marcuse, 2006). Security (kemanan) merupakan persepsi akan perlindungan dari bahaya, sedangkan safety (keselamatan) merupakan perlindungan secara riil dari bahaya. Oleh karena itu, solusi mengenai keselamatan harus lebih difokuskan. Hal ini kembali membawa kita kepada teori Jane Jacobs yang menawarkan solusi keterbukaan ruang publik, dimana orang asing berperan sebagai ‘pengawas’.

Encounter dan enclosure model merupakan dua solusi rancang kota yang dapat diadaptasi sesuai dengan kondisi tertentu. Dengan desain ruang publik yang tepat, bahaya dapat diantisipasi dengan lebih efektif. Ruang publik seharusnya dirancang dalam konteks kota secara holistik, bukan secara individual. Dalam hal ini, ruang publik harus memiliki organisasi ruang yang baik, sehingga dapat menurunkan tingkat kriminalitas.

 

***

Pustaka
Carmona, M., et al (2003) Public Places – Urban Spaces; The Dimensions of Urban Design, Oxford: Architectural Press.
Carr, S., et al. (1992). Public Space. Cambridge: Cambridge University Press.
Colquhoun, I. (2004). Design Out Crime: Creating Safe and Sustainable Communities. Oxford: Architectural Press.
Cozens, P. and Love, T. (2009). Manipulating Permeability as a Process for Controlling Crime: Balancing Security and Sustainability in Local Context. Built Environment, 35 (3) pp. 346-365.
Dick, H.W. and Rimmer, P.J., (1998). Beyond The Third World City: The New Urban Geography of South-East Asia. Urban Studies, 35 (12) pp. 2303-2321.
Duany, A., et al (2000). Suburban Nation: The Rise of Sprawl and the Decline of American Dream. New York: North Point Press.
Hillier. B. (2004). Can Streets be Made Safe? Urban Design International, 9 (1) pp. 31-45.
Jacobs. J. (1993). The Death and Life of Great American City. New York: Random House, Inc.
Marcuse, P. (2006). Security or Safety in Cities? The Threat of Terrorism after 9/11. International Journal of Urban and Regional Research, 30 (4) pp. 919-929.
Nemeth, J. & Hollander, J. (2010). Security Zones and New York City’s Shrinking Public Space. International Journal of Urban Design, 13 (3) 317-328.
Newman, O. (1972). Defensible Space. London: Architectural Press.
Pain, R. (2001). Gender, Race, Age, and Fear in the City. Urban Studies, 38 (38) pp. 899-913


Myra Sapphira Tyagita
Setelah menempuh pendidikan di Arsitektur ITB dan bekerja di
konsultan arsitektur di Jakarta dan Singapura, ia kini telah menyelesaikan pendidikan MA Urban Design di University of
Westminster, London.