Perjalanan Membuka Mata

2597 Views |  Like

“Saya tiba di NewYork dengan kapal laut sebagai seorang remaja, imigran dan seperti orang orang yang lain, saya tekesan dengan patung liberti dan horizon gedung gedung kota manhattan. Saya tidak pernah melupakan kesan tersebut. Dan proyek ini adalah mengenai kesan saya yang tidak pernah saya lupakan.” Itulah paragraph yang dibuat Daniel Liebeskind dalam narasi pembuka skema Word Trade Center yang dia menangkan dalam kompetisi Internasional yang diikuti oleh 5200 orang.

42 Skema WTC dari Daniel Liebeskind – source: http://www.september11news.com/1_Libeskind_LMDC_3.jpg

Dalam perjalanan hidupnya, seorang arsitek belajar untuk merasakan, mengatur, ataupun mencipta ruang dimana kemampuan arsitekturalnya akan semakin terasah seiring berjalannya waktu. Desainer arsitektur atau architectural designer, merupakan padanan / istilah yang tepat untuk seseorang yang tidak mempunyai sertifikat sebagai seorang arsitek. Kita tidak akan membahas mengenai legaliltas seorang arsitek, namun lebih ke latar belakang factual seorang arsitek. Kita berhipotesis bahwa ada satu benang merah yang dialami oleh para arsitek. Benang merah yang bisa membuat kita belajar. Tulisan ini menjadi dasar untuk thesis selanjutnya, sebagai batu pondasi kalau ia bisa dianalogikan dalam satu bangunan.

Model proses pembentukan dan pembelajaran arsitek yang cukup terkenal diambil dari 7 arsitek yang mempelopori gerakan deconstructivist architecture, dimulai dari sebuah pameran di museum of modern art yang dikuratori oleh Philip Johnson.

Frank O. Gehry, peraih Pritzker Prize (penghargaan arsitektur tingkat dunia) di tahun 1989, lahir di Kanada kemudian berangkat untuk bersekolah arsitektur di University of Southern California, School of Architecture dan meneruskan ke Harvard Graduate, School of Design. Lain dengan Frank O. Gehry, Zaha Hadid, seorang arsitek wanita ternama lahir di Badhdad, belajar di bawah bimbingan Rem Koolhaas di sekolah arsitektur ternama di UK, Architectural Association (AA) School of Architecture, London dan kemudian berkerja di OMA (kantor Rem Koolhaas) selama beberapa tahun sebelum ia menjadi partner dan membuka kantor sendiri.

Salah satu figur lain dari 7 arsitek tersebut adalah Rem Koolhaas, lahir di Roterdam di tahun 1944, belajar di Architectural Association (AA) School of Architecture sebelum mendirikan biro konsultan OMA (Office for Metropolitan Architecture) bersama Elia, Zoe Zenghelis dan Madelon Vriersendrop. Arsitek lainnya yakni Bernard Tschumi, lahir di Lausanne Switzerland, belajar arsitektur di Paris dan ETH Zurich, dimana ia memenangkan kompetisi Parc de la villete di tahun 1982.

Para arsitek tersebut memiliki satu pola yang sama. Pola hidup nomaden, berpindah–pindah untuk belajar, kemudian terkulminasi dalam satu titik di hidupnya. Mereka lahir di suatu tempat untuk kemudian belajar atau berkerja di tempat yang memiliki budaya yang berbeda, termasuk dua arsitek lainnya, yakni Wolfgang Prix, yang mendirikan Coop Himmeblau bersama Helmut Swiczinsky and Michael Holzer, dan juga Peter Eisenman sebagai salah satu dari 7 arsitek tersebut. Meskipun ada arsitek–arsitek jenius yang memang bisa menetap di satu tempat dan kemudian mendalami budaya, material lokal, dan pengetahuan membangun yang kemudian disintesiskan menjadi karya terbangun yang orisinal, akan tetapi perjalanan nomaden memberikan satu dampak signifikan bagi pengembangan karir arsitek. Pengembangan karir tersebut bisa dilakukan dengan berjalan–jalan, bersekolah, ataupun berkerja pada biro konsultan arsitektur luar negeri, sebuah perjalanan nomaden untuk membuka mata.

Architectural association pada latar belakang dengan paviliun salah satu karya mahasiswanya. source: http://www.dezeen.com/2008/07/15/swoosh-pavilion-at-the-architectural-association/

Patut dicatatbahwa krisis ekonomi terjadi pada tahun 1987 dan 1988 yang kemudian berulang setiap sepuluh tahun. Krisis di tahun 1987 ini berkaitan dengan gerakan Dekonstruksi yang digaungkan pada akhir tahun 1980. Saat itu, ada sebuah celah kesempatan setelah krisis ekonomi. Ketika ekonomi sudah mulai pulih, kesempatan–kesempatan bisnis datang dan peluang untuk arsitek berkarya menjadi lebih besar.

Hal ini juga berlaku setelah krisis 1997–1998, dimana setelah perekonomian pulih, banyak biro–biro baru yang kemudian memiliki portfolio yang unik dan baru yang dilengkapi dengan brand marketing yang mampu menyerap perhatian pasar, seperti kemunculan biro-biro konsultan arsitketur BIG (Swedia), Lava (Australia & Jerman), dan REX (New York). Di Indonesia, juga terdapat biro konsultan seperti Urbane Indonesia, yang karyanya progresif, dalam waktu kurang dari lima tahun mampu menyabet peringkat 10 besar BCI Asia dan memenangkan beberapa kompetisi nasional.

Uniknya orang–orang di belakang BIG, Lava, REX, atau Urbane Indonesia mengalami sebuah perjalanan dalam hidupnya yang kurang lebih sama dengan 7 arsitek desconstructivist, yakni kesempatan untuk belajar , bekerja, dan berjalan-jalan di sebuah tempat yang berbeda budaya dengan tempat kelahirannya dan mengalami hidup nomaden.

Satu arsitek yang patut dicatat karena tidak memiliki latar belakang formal pendidikan arsitektur adalah Tadao Ando, peraih Pritzker Prize tahun 1995. Jauh sebelum menjadi arsitek, ia adalah petinju. Ia menghabiskan waktu-waktunya untuk mempelajari arsitektur barat dengan berjalan–jalan berkeliling dunia, menjadi nomaden dalam rentang umurnya 24 sampai dengan 28 tahun. Dalam kemiskinan ,ia bepergian ke Moskow, Finlandia, Spanyol, Italia, Marseilles, Madagascar, India, Paris, dan Vienna; dimana ia melihat karya arsitek ternama, Alvar Alto dan Michaelangelo sebagai sumber inspirasi. Ia kemudian memberanikan diri membuka praktek yang berkonsentrasi dalam perancangan rumah kecil dan sederhana. Di usia 35, Tadao Ando kemudian mendapatkan penghargaan tahunan dari Institut arsitek di jepang, sebuah penghargaan yang diberikan pertama kalinya untuk proyek rumah berskala kecil sebesar 65m persegi. Pengalaman belajar menikmati arsitektur dari tempat-tempat di luar Jepang dalam rentang waktu 4 tahun memberikan pengaruh yang besar dalam kesuksesan Tadao Ando. Proyeknya berkembang dari rumah kecil menuju bangunan publik seperti museum atau bangunan komersial, tidak hanya di Jepang, namun tersebar di Texas, Perancis sampai Abu Dhabi.

Salah satu karya tadao Ando, Church of light

Kalau kitalihat dari lokasi geografis bahwa Indonesia adalah negara khatulistiwa dengan 2 musim yang suhu udaranya cenderung konstan sepanjang tahun, Indonesia merupakan sebuah negara yang sangat beruntung dengan posisinya di equator dan memiliki tanah yang subur dengan kekayaan hutan tropis yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Hal Ini sungguh berbeda dengan kota yang memiliki sekolah arsitektur, Architectural Association (AA), sebuah sekolah avant–garde penghasil arsitek kelas dunia, London dimana cuaca yang ada tidak bersahabat dengan terpaan angin kencang sehingga pada musim dingin kita selalu merasakan wind chilled effect, dan sinar matahari hanya datang untuk menerpa suhu diatas 20 derajat tidak lebih dari empat bulan dalam satu tahun. Ada satu benang merah dari bagaimana letak geografis dan kondisi iklim satu negara bisa memberikan sebuah masa adaptasi yang luar biasa, sense of survival.

Hidup di luar negeri menjanjikan pola hidup yang baru, lepas dari kultur bangsa kita sebagai bangsa Indonesia. Pola hidup tersebut mengasah pola berpikir untuk bisa beradaptasi yang kemudian memberikan satu titik positif luar biasa dalam pengembangan diri pribadi. Selain itu, dalam pencampuran budaya di tempat yang baru , para arsitek sering mendapatkan jaringan pertemanan yang kemudian terhubung dengan bisnis . Bjarke Angels, seorang arsitek asal Denmark dan pendiri biro arsitektur BIG, pernah berkerja di biro konsultan Belanda MVRDV. Zaha Hadid, yang kini menjadi arsitek ternama sebelumnya pernah berkerja di biro konsultan OMA.

Di organisasi profesi, Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI), proses untuk mendapatkan sertifikasi arsitek dibedakan menjadi 3 tahap: Pratama dengan 3 tahun pengalaman, Madya dengan lima tahun pengalaman, dan Utama dengan 12 tahun pengalaman. Pengalaman tersebut menunjukkan kematangan arsitek. Seorang arsitek mengalami program sarjana, bachelor arsitektur di Indonesia 4 tahun ataupun di luar negeri selama 3 tahun, dimana rata–rata akan lulus di usia 23 sampai 25 tahun. Setelah seorang arsitek itu lulus ia membuka mata dan memulai perjalanannya. Baik atau buruk hidup di luar negeri, menjanjikan satu fase dalam hidup yang signifikan dalam perkembangan karir seorang arsitek. Belajar untuk memulai perjalanan membuka mata.

Bibliography

OMA official Website, www.oma.eu

Jodiiou Philip, New Forms, 1990 3.http://architecture.about.com/library/bl-libeskind-statement.htm

Realrich Sjarief
Arsitek, sekaligus suami dari dokter gigi Laurensia Yudith adalah Principal Architect di > O + Workshop dan RAW architecture Pernah berkerja untuk Lord Norman Foster di London. Karyanya untuk Charles dan Irene, Bare Minimalist mendapatkan finalis IAI Award Jakarta 2012. Selain itu di-samping berpraktek sebagai arsitek, ia aktif sebagai dosen mengajar di Universitas Pelita Harapan.