Komunitas berawal dari mengidentifikasi “eksklusi” (siapa yang berada di luar) dan “inklusi” (siapa yang termasuk di dalam). Komunitas berakar dari kata commune (bahasa Prancis) atau communis (bahasa Latin), yang artinya berkumpulnya orang-orang yang memiliki nilai-nilai dan cara hidup yang sama. Komunitas akan tumbuh jika ada kesadaran akan “kami” dan “mereka”. Kesadaran ini lama kelamaan akan membentuk “mayoritas” dan “minoritas” – orang-orang yang memiliki kesamaan dan orang-orang yang terpinggirkan.

Dalam konteks perkotaan, peminggiran ini dijumpai pada dikotomi “penduduk” dan “pendatang”. Walaupun kota awalnya dibentuk oleh sekumpulan pendatang. Pendatang yang tinggal lebih lama akan membangun asosiasi terhadap kota dan mengklaim sebagai “penduduk”. Mereka akan meminggirkan para pendatang lain, terutama mereka yang benar-benar asing atau dengan status sosial dan ekonomi yang dianggap lebih rendah.

Kota dan mayoritas akan menekan identitas minoritas melalui “alienasi (pengasingan)”. Sebagai contoh, para pekerja domestik asal Indonesia dan Filipina yang hidup di tengah-tengah hingar-bingar metropolis Hong Kong. Mereka hidup dalam keadaan tidak stabil. Kota yang padat dan sesak memaksa mereka tinggal bersama majikannya, sehingga tidak memiliki ruang privat dan ruang gerak yang terbatas. Keterbatasan waktu luang membuat mereka tidak dapat berpartisipasi dengan kehidupan sehari-hari di ruang kota.

Hilangnya identitas karena peminggiran secara ekonomi, sosial, ataupun kultural; membuat minoritas melakukan perlawanan. Mereka mendefinisikan kembali identitasnya di ruang publik; membangun hubungan dan jejaring atas kesamaan etnis, nilai-nilai, dan aspirasi. Jejaring ini membesar dan membutuhkan sebuah teritori. Ruang-ruang publik diapropriasi. Sekitar 300.000 lebih pekerja domestik berkumpul setiap hari Minggu di ruang-ruang publik (salah duanya Plaza HSBC dan Victoria Park). Pada awalnya mereka mendapat penolakan karena dianggap mengganggu kemanan dan kenyamanan. Namun, lama-kelamaan aktivitas tersebut diterima bahkan diakomodasi dengan penambahan berbagai fasilitas publik, aparat, dan regulasi untuk menjaga keamanan dan kenyamanan.

Event yang berulang membentuk sebuah kebiasaan. Minggu pagi di Victoria Park[1]  menjadi tradisi mingguan bagi para pekerja domestik asal Indonesia untuk berekspresi. Ekspresi ini muncul dalam berbagai bentuk, salah satunya busana. Hari itu menjadi sebuah pentas peragaan busana tanpa kurator. Tiap-tiap individu mengekspresikan keunikannya. Grup pengajian muslimah dengan pakaian tertutup, dandanan ala 80-an yang menyerupai instruktur senam, wanita-wanita yang berlagak pria, dan setelan imut-imut ala pelajar Jepang. Identitas muncul dan partisipasi dengan kehidupan kota terbina. Dengan kehadiran yang lain di ruang publik, performa-performa ini menjadi sebuah tindakan politis dan ruang-ruang ini disebut “ruang-ruang penampakan”[2] .

Tindakan-tindakan di ruang penampakan ini melekatkan simbol pada Minggu pagi di Victoria Park. Victoria Park menjadi lokus perlawanan terhadap ketidakadilan. Para pekerja domestik menyuarakan pendapat mereka di ruang publik: protes terhadap peraturan ketenagakerjaan yang merugikan, meminta keadilan atas pelecehan fisik atau seksual yang dialami rekan sesama pekerja domestik, hingga terakhir soal pandangan terhadap pemilu presiden baru-baru ini. Victoria Park menjadi sebuah simbol perlawanan, kebebasan berpendapat, dan demokrasi.

Pengaruh simbolisme ini menyebar ke penduduk lokal yang juga menjadikan Victoria Park sebagai sebuah instrumen. Protes besar terhadap pemusatan pemerintahan di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) oleh penduduk Hong Kong yang pro-demokrasi (dikenal dengan Occupy Central) bermula dari Victoria Park. Secara praktis Victoria Park memiliki area yang luas dan dekat dengan pusat kota sehingga menjadi tempat ideal. Namun, tak hanya para pemrotes pro-demokrasi, para pemrotes pro-RRT yang juga penduduk Hong Kong juga memulai aksi penolakan terhadap Occupy Central dari Victoria Park. Simbol ini tidak lantas dimiliki oleh sebagian kelompok, namun, menjadi titik awal pendefinisian ulang sebuah inklusi dan eksklusi.

Proses ini berulang secara terus menerus, sehingga dapat dikatakan bahwa komunitas bukanlah sesuatu yang kaku. Ia adalah sesuatu yang temporer dan dinamis. Identitas sebuah komunitas akan terus dipertanyakan dan didefinisikan kembali dengan proses inklusi dan eksklusi. Bahkan ia dapat mempengaruhi keadaan sekitarnya. Hal ini menjadikan komunitas sebagai sesuatu yang oportunistik, politis, dan penuh perlawanan.

*

[1] Minggu Pagi di Victoria Park (2010) juga sebuah judul film layar lebar yang disutradarai dan dibintangi oleh Lola Amaria.
Cerita film ini berpusat kepada kehidupan para pekerja domestik di Hong Kong yang penuh pergulatan terhadap ketidakadilan, pelecehan fisik dan seksual, peminggiran oleh mayoritas, minimnya ruang privat, atau terikat utang dengan rentenir.
[2] Konsep “politik” dijabarkan oleh Arendt sebagai aksi dan interaksi antar manusia. Politik menurut Arendt erat dengan aksi dihadapan orang lain. Ini erat kaitannya dengan konsep “ruang-ruang penampakan” (spaces of appearance) yang dibahas dalam buku karya Hannah Arendt yang berjudul The Human Condition (1958) dan Crises of the Republic (1972).

Ivan Nasution
Ivan Nasution lulus dari Arsitektur ITB pada tahun 2006, lalu bekerja di Park+Associates Architect, Singapura. Di tahun 2011, ia menyelesaikan pendidikan penelitian pascasarjana di Berlage Institute Rotterdam. Saat ini menjadi peneliti di Centre for Sustainable Asian Cities, National University Singapore. Di sela waktu luangnya, ia aktif menjadi fasilitator bagi Participate in Design, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang desain, perencanaan, dan pendidikan.

Leave A Comment

Your email address will not be published.