Mengikutsertakan Rakyat

1486 Views |  Like
Pandai Besi, Kandangan, Jawa Tengah. (FOTO: Muh Darman)

Pandai Besi, Kandangan, Jawa Tengah. (FOTO: Muh Darman)

Dalam perjalanan mencari bahan liputan untuk FreeMagz ruang17, saya diingatkan kembali pada suatu kunjungan ke Desa Kandangan, Jawa Tengah. Walaupun kunjungan itu relatif sebentar, ada satu hal yang menarik perhatian saya ketika itu: “Menurut saya, jalan di desa tak perlu diaspal. Saya ingin jalan di desa yang sudah terlanjur diaspal seperti jalan di depan rumah saya ini, kembali seperti jalan dengan perkerasan batu yang ditata rapih.” Begitulah kurang lebih pemikiran Singgih S. Kartono, desainer radio Magno yang kini punya beberapa proyek lingkungan di sekitar workshopnya.

Jalan desa yang dimaksud Singgih saya jumpai ketika berkunjung kembali ke Kandangan, kali ini cukup lama; dua malam tiga hari. Dengan tujuan menulis sebuah liputan FreeMagz ruang17 yang ternyata kemudian kandas di tengah jalan karena permasalahan dana. Namun, beberapa data yang sudah diambil rasanya masih berguna jika saya tulis kembali di sini, dan beginilah jadinya setelah saya susun kembali:

Hari pertama di Desa Kandangan, Singgih mengajak bersepeda bambu ke desa-desa di sekitar workshopnya. Kami melewati jalan desa dengan rumah-rumah yang nampak ramai dengan aktivitas warga. Ketika kami lewati, mereka kami sempatkan untuk saling sapa, dengan sedikit bertanya-tanya pada sepeda bambu yang kami pakai; stukturnya kuat, hanya beberapa kali ketika melintasi jalan yang tak mulus, kelenturan bambu jadi terasa.

Singgih S Kartono dengan sepeda bambunya. (FOTO: Muh Darman)

Singgih S Kartono dengan sepeda bambunya. (FOTO: Muh Darman)

Singgih membuat sepeda bambu dengan model yang tak begitu unik, menurut saya; model sepeda bambu yang kami pakai tak ada bedanya dengan desain sepeda yang banyak di pasaran. “Ini memang baru prototipe, baru uji coba struktur, belum desain,” Singgih menjelaskan dengan santai. Sepeda bambu ini kemudian terus ia kembangkan menjadi beberapa prototipe, yang kemudian dipakainya blusukan ke lingkungan sekitar workshopnya. Dalam perkembangannya, Singgih menginisiasi Spedagi*, kegiatan bersepeda yang kemudian berkembang sebagai CSR (Corporate Social Responsibility) Magno ke lingkungan Desa Kandangan dan sekitarnya.

Meninggalkan workshop kami sampai di hutan bambu yang rimbun, hujau, suara daun-daun yang datang dari tiupan angin semakin membuat suasana hutan ini terasa istimewa.

Saya persingkat saja cerita ini, dan langsung pada bagian jalan desa yang dimaksud.

Pertama, “Ilmu Desa, Ilmu Kota.” Terang Singgih, sambil mulai ngobrol dengan warga yang dijumpai, “Jalan aspal ini ilmu orang mana?” tanya Singgih.

Warga yang lebih tua menjawab “ilmu orang kota”,

“Uangnya, uang orang mana?”

“Orang Desa.”

“Nah, kalau jalan ini rusak. Yang punya ilmu siapa? Yang keluar biaya siapa?”

Kemudian ia mulai menyampaikan pemikirannya:

“Jalan desa yang di aspal bisa membuat pengendara melaju cepat, padahal di desa tidak dibutuhkan aktivitas yang cepat. Akibatnya bisa timbul kecelakaan di jalan.  Lalu kalau hujan, di jalan aspal air tak meresap, tapi mengalir ke tepi jalan, berarti tambah uang lagi buat saluran. Kalau jalan perkerasan batu, air hujan meresap ke sela batu-batu.”

Ia lanjut menerangkan,

“Dan kalau dirasakan pengaruh suhu panas, antara jalan aspal dan jalan perkerasan batu, ketika siang hari cederung jalan aspal membuat lingkungan jadi panas.”

Saya berpikir mungkin ini perlu pengkajian lebih lanjut. Yang terakhir, dan inilah yang ingin saya ulas kali ini, yaitu pembangunan jalan aspal cenderung dikerjakan dengan tidak melibatkan warga, artinya nilai ‘gotong royong’ perlahan-lahan bisa hilang. Dampaknya, rasa memiliki dan merawat jalan tersebut menjadi berkurang.

Tapi, sebenarnya apakah gotong royong itu?

Saya mulai mencari-cari informasi dan menemukan, bahwa; Menurut Koentjaraningrat, kalau apa yang dimaksud dengan “gotong royong” adalah sistem kerja bakti, maka mungkin malahan bisa menunjang pembangunan. Hanya saja sistem itu tak sesuai lagi dengan etik saat ini. Hal itu karena membangun berdasarkan gotong royong (kerja bakti) sebenarnya membangun dengan mengeksploitasi tenaga murah rakyat. Lain halnya kalau rakyat mengerjakan suatu proyek berdasarkan gotong royong dengan rasa rela, karena yakin bahwa proyek itu bermanfaat bagi mereka, barulah mereka akan melakukan kerja bakti dengan sungguh-sungguh, dan bukan kerja rodi.

Saya ingat suatu kali pernah mengikuti workshop Merajut Bambu Seribu Candi, sebuah acara yang didukung oleh beberapa arsitek ternama Indonesia. Waktu itu, di antara sejumlah arsitek, ada sejumlah mahasiswa ikut ambil bagian; memotong bambu, menganyam bambu, dan perkejaan-pekerjaan lain yang singkat kata membuat orang bilang “di kampus nggak ada yang beginian.”

Pertanyaannya, apakah mereka melakukan itu dengan kesadaran? Saya tidak tahu, yang saya tahu mereka adalah volunteer yang tak dibayar yang berkata “ini gotong royong.”

Kita juga bisa belajar dari warga Dusun Ngibikan, Jogjakarta. Di mana proses pembangunan kembali rumah-rumah pasca gempa Jogja mereka kerjakan dengan ber-“gotong royong” dalam pengertian sebenarnya. Bahkan, menurut arsitek Eko Prawoto, beberapa peneliti Jepang datang ke Ngibikan untuk belajar tentang nilai-nilai kebersamaan yang mulai hilang di negara mereka; nilai-nilai gotong royong.

Pada akhirnya yang dapat kita ambil dari gotong-royong adalah semangatnya, semangat rakyat mengerjakan suatu proyek berdasarkan gotong royong dengan rasa rela, karena yakin bahwa proyek itu bermanfaat bagi mereka.

Kembali ke jalan desa, di mana kami bersepeda menuju workshop, Singgih berkata bahwa Pemerintah cenderung melihat bahwa perkerasan jalan batu itu adalah satu tahap menuju pengasplaan jalan. Padahal, menurut Singgih; jalan perkerasan batu di desa itu sudah selesai sampai di situ.

Apakah program revitalisasi jalan desa yang direncanakan Singgih S Kartono itu bisa berjalan baik? Entahlah, yang saya tahu ia menginginkan semangat partisipasi rakyat (baca: gotong-royong) kembali pada tempat semestinya, di mana rakyat mengerjakan suatu proyek gotong royong dengan rasa rela karena yakin bahwa proyek itu bermanfaat bagi mereka. Sehingga dengan begitu rakyat akan menjaga dan memelihara apa yang telah mereka kerjakan sebagai rasa tanggung jawab.

Permasalahannya mungkin karena pemerintah seringkali menyamakan antara ‘pembangunan’ dan ‘modernisasi’. Jalan desa yang sudah diberi perkerasan batu (mungkin) dinilai masih tradisional dan perlu dimoderenisasi, yang dalam prosesnya dimasukan dalam proyek ‘pembangunan’. Inilah yang tidak selalu benar, bila diberikan pilihan, warga desa lebih menyukai bahan-bahan yang akrab dengan mereka, seperti batu di kali, tanah di kebun, juga mungkin bambu yang dapat dijadikan sepeda.

“Ya, mesti mulai berlomba mengedukasi warga!” kata Singgih sembari mengkayuh sepedanya.

Tentang mengikutsertakan rakyat dalam pembangunan, seperti gotong-royong, sejarah mencatat bahwa pada tahun-tahun awal kemerdekaan, sesuai surat keputusan presiden Soekarno No. 157/57, kementerian PETERA (Pe-ngerahan Te-naga Ra-kyat) mulai menggerakkan tenaga rakyat dalam pembangunan. Meski keputusan itu juga dinilai negatif, seperti menggerakkan tenaga rakyat dengan perintah, dengan paksa.

Menanggapi hal negatif tersebut, Soekarno menjelaskan bahwa faktor manusia sudah dikerahkan di beberapa negara. Tatkala Soekarno berkunjung ke RRT (Republik Rakyat Tiongkok – penamaan Republik Rakyat Cina sebelum tahun 1967), ia melihat pembangunan di RRT berjalan dengan hebatnya, oleh karena tenaga rakyat dipergunakan. Dan ia melihat tenaga rakyat dipergunakan tidak dengan perintah, tidak dengan paksaan. Tetapi secara kesadaran, secara cinta kepada tanah air.

Mungkin yang lebih tepat menjelaskan adalah ceritanya tentang Rusia, dimana pada waktu revolusi, dan sebelum revolusi, terdapat dua pendirian. Satu pendirian berkata, bahwa rakyat harus diorganisir, harus diberi penerangan, harus diberi penjelasan. Jikalau rakyat sudah mendapat penerangan, penjelasan kesadaran, dan sudah diorganisir, maka rakyat akan bergerak. Pendirian lain berpendapat tidak perlu itu diorganisir, tidak perlu diberi penjelasan. Karena masyarakat mengetahui, seluruh rakyat berdiri dan bergerak sendiri secara spontan.

Pendirian yang terakhir itu adalah pendirian salah seorang pemimpin wanita, yang bernama Rosa Luxemburg, dengan teorinya yang bernama spontaniteitsheorie. Menurutnya, rakyat tidak perlu diorganisir. Dibiarkan ditindas oleh kapitalis, biar hidup sengsara, dan nanti rakyat secara spontan tentu bangkit, tentu bergerak, tentu menumbangkan kapitalisme. Begitulah teori spontaniteitsheorie.

Pendirian lain adalah Lenin. Lenin berkata bahwa rakyat tidak spontan. Rakyat selama sejarah manusia yang sudah beribu-ribu tahun ini, sebenarnya tidak ada yang spontan. Rakyat harus selalu diberi penerangan oleh pemimpin, dijelaskan, diajak, disemangatkan, bahkan kalau perlu dibakar, diorganisir, barulah rakyat itu akan berjuang, untuk menumbangkan sesuatu tata yang tak mereka senangi.

Dua teori itu, berdebat satu sama lain, dan akhirnya spontaniteitsheorie oleh Rosa Luxemburg yang kalah.

Mengenai PETERA Soekarno berkata dengan tegas dalam malam ulang tahun 30 tahun berdirinya PNI; “siapa yang berdiri di atas azas massa-actie revolutioner, dia baru mengerti akan perlunya Kementerian Petera ini, orang yang tidak mengerti akan perlunya kementerian Petera, orang itu bukan orang yang massa-revolutioner!

HARI kedua di Desa Kandangan,

Awalnya kami bersepeda berdua menuju kolam ikan lele yang dibudidayakan oleh salah seorang warga desa, namun Singgih mendapat kabar Ayahnya sakit, ia kemudian pamit pulang lebih dulu untuk mengantar ayahnya ke rumah sakit. Sebelum pamit, ia mengenalkan saya pada Fery, pemuda desa yang kini mencoba membudidayakan ikan lele setelah sebelumnya lebih banyak menghabiskan waktu membuat batu bata.

Pilihan Fery beralih bidang usaha ini punya cerita yang menarik, setelah memperlihatkan kolam ikan lele di samping rumahnya, ia lantas mengajak melihat tempat pembuatan batu bata yang dulu ia kerjakan.

Sepeda saya titip di rumahnya, kami lalu jalan kaki melewati jalanan desa dan mendapatkan tumpukkan material kerikil di tepi jalan perkerasan batu yang siap dijadikan bahan lapisan aspal jalan. Cukup miris, kami lalu berjalan menuju perkebunan, dan tak berselang lama tiba di tempat yang dimaksudnya.

“Tanah-tanah ini dulu ya tinggi, sekarang sudah rendah, diambil buat dijadikan bata.” Kata Fery menjelaskan sambil mengajak melihat lapisan tanah yang tersisa.

Ia telah mengambil lapisan tanah subur yang baik untuk tanaman. Dalam ilmu tanah, lapisan tanah bagian atas (top soil) tersebut mempunyai peranan sangat penting bagi pertanian, di lapisan tersebut terkonsentrasi kegiatan-kegiatan mikro organisme yang secara alami mendekomposisi serasah pada permukaan tanah yang pada akhirnya akan meningkatkan kesuburan tanah.

Jika lapisan tanah atas itu dikupas terus menerus untuk batu bata, maka tanah yang subur akan habis. Padahal, untuk mengembalikan kesuburan tanah secara alami tentunya membutuhkan waktu dan tak bisa secara instan dengan penambahan pupuk-pupuk pabrikan.

Fery menjelaskan bahwa bata-bata yang siap dibakar dikerjakan selama tiga bulan. Ketika saya tanya berapa bata yang dihasilkan dalam sehari? Ia menjawab 300 bata. Ketika saya tanya berapa harga satu bata? Ia menjawab Rp 500. Dalam hitungan saya, penghasilan yang didapat dari membuat batu bata berkisar 4,5 Jt per bulan. Tanpa ada resiko gagal dibanding jika mereka berkebun atau bertanian.

Fery tidak sendiri, ia mengatakan bahwa warga yang pembuat batu bata di daerah ini bisa lebih dari 20. Melihat kenyataan lingkungan ini, Singgih berusaha mengedukasi Fery untuk meninggalkan aktifitas membuat bata yang perlahan merugikan lingkungan. Ia kemudian mengajak Fery beralih ke budidaya ikan Lele. Dibantu tenaga ahli yang bertindak sebagai pendamping, Fery kemudian mencoba beralih, dan juga belajar lagi; dari seorang pembuat batu bata menjadi seorang yang membudibayakan ikan lele.

Partisipasi warga secara individu, seperti Fery, ini bisa didasarkan pada suatu keputusan mereka sendiri sebagai individu. Keputusan Fery untuk meninggalkan aktivitas pembuatan batu bata dan beralih ke pembudidayaan ikan lele, mungkin juga bisa karena edukasi dari Singgih, tapi faktor yang paling besar adalah kembali ke kesadaran individu atas keyakinan yang mendalam bahwa partisipasinya itu sungguh bermanfaat, pertama untuk dirinya sendiri, dan kemudian untuk lingkungan. Dan hal itu dicapai dengan suatu proses yang intensif dan lama.

Akhirnya, ada dua cara yang bisa dilakukan dalam mengikutsertakan rakyat dalam pembangunan, pertama dengan cara bersama kelompok (baca; gotong royong) dan kedua dengan cara individu, seperti Fery. Dan baik yang pertama maupun yang kedua, membutuhkan mereka yang sadar dan cinta pada tanah air. Untuk mendukung program ini ini tentu saja dibutuhkan jalinan kerjasama antara LSM, Pemerintah, dan tentu saja Universitas.

Dan memang akan sukarlah melaksanakan pembangunan jika rakyat tidak diikutsertakan pula!

*Pada bulan maret 2014, rencananya akan diadakan International Conference of Design for Sustainablity di Kandangan, Indonesia. Sebuah acara kolaborasi Spedagi Indonesia dengan ICDS Japan. Beberapa program revitalisasi seperti perkerasan jalan desa, juga program ‘from brick to fish’, dan program revitalisasi lainnya akan dibahas dalam acara yang bertema it’s time back to village tersebut.

Muh Darman
Seorang blogger, beberapa liputannya tentang arsitektur dipublikasikan melalui blog ruang17 - (www.ruang17.com) sebuah blog arsitektur yang dibuatnya sejak tahun 2010. Tak hanya mengisi dengan liputannya sendiri, blog ruang17 juga menerima
kontributor dari rekan-rekan yang membagikan informasi secara gratis untuk peningkatan mutu bacaan dan informasi arsitektur di Indonesia.