Menggugah Fenomena Perkembangan (?) Memaknai ‘Rumah’ Saat Ini: Sebuah Celoteh dari Tepian

1017 Views |  Like

Oleh Priscilla Epifania

 

Membicarakan rumah memang bukan sesuatu yang singkat bukan?

Kompleks, karena mengenai peradaban dan manusia itu sendiri.

Jadi saya ga malu-malu judulnya panjang….

 

Gelitik Awal

Tulisan ini merupakan napak tilas perenungan kembali atas sinisme saya terhadap fenomena perbedaan makna membangun dan tinggal/berhabitat manusia yang tinggal di kota besar dan yang tidak tinggal di kota besar (mungkin tidak semua/tidak bermaksud men-generalisasi.)

Pun lalu tulisan ini tergelitik oleh bait pertama dari call for paper Ruang episode ini, sebuah kutipan oleh Reyner Banham & Francois Dallegret yang mengatakan “A home is not a house.” Di mana dalam bahasa Inggris memang dibedakan “house” dan “home,” kalau dalam bahasa Indonesia dapat disebut sebagai “rumah” dan “omah.”

Kini saya justru melihat fenomena yang merupakan ironi dari pernyataan tersebut.

Dulu kita sadari maknanya betul, kini kita lebih sadari lagi, dan melihat antitesis dari makna pernyataan tadi di sekeliling kita. Sehingga saya tidak akan menulis mengenai evolusi desain sebuah rumah, namun ingin mengkritisi apa yang terjadi di sekitar kita dan rumah-rumah yang menbentuk pemukiman kota, dan mungkin menyegarkan lagi makna rumah bagi setiap dari kita.

 

Rumah Kapitalis vs Rumah Dulu dan Suatu “Sarang” yang Masih Ada

Apa yang kita lihat dari tindakan “merumah” atau “keberhunian” kita saat ini?

Dari pengamatan beberapa waktu terakhir, rumah telah menjadi sekadar properti belaka, dimana nilai ekonomi menjadi lebih berarti daripada makna psikologis ataupun filosofis yang konservatif (?) – cultural value digantikan oleh economic-capitalism value (oh, inilah “budaya” barunya.)

(Yaa memang setiap orang yang menghuni rumahnya akan memberi sentuhan pribadi, itu pasti, laiknya gaya berpakaian, saya berbicara eksterioritas, eksibisi individu, eksistensi… saya melihatnya sebagai “identitas.”)

Hal ini berbeda jika dibanding rumah rakyat jaman dulu, atau rumah rakyat tradisional, di mana semuanya serba seragam, entah rumah tradisional dari Asia, Eropa, Afrika dan lain-lain. Mereka (jaman dulu) umumnya tampil seragam, rapi berbaris sesuai aturan “pada umumnya.” Sentuhan kepemilikan yang khas mungkin diletakkan di bagian dalam rumah. Sebuah interioritas?

Coba lihat kini, semua berusaha menampilkan “label” identitas kepemilikannya di luar. Sebuah eksterioritas? Eksistensitas?

Catatan: tentunya relevansi asumsi saya mungkin tak relevan untuk hunian jenis apartemen, dimana interioritas adalah konsepnya.

Mungkin kita juga sudah banyak mendengar ataupun terlibat langsung dengan fenomena ini. (Saya menyebutnya sebagai ekses global kapitalisme “mindset.”)

Seperti juga halnya klien yang ingin didesainkan rumah dengan gaya fasade masa kini (contemporary style on trend), lalu minta memaksimalkan pembangunan di lahannya –tentunya tanpa mengindahkan lingkungan apalagi resapan air. Menjadikan eksploitasi permukaan daratan oleh keberhabitan manusia yang kian memadati bumi –nyaris serakah, dengan ruang-ruang yang general atau kepamoran estetika teknologi cipta bangun; adalah juga merupakan eksploitasi arsitektur pada tahap tertentu yang kian marak dan percaya diri; terlihat seperti sebuah pola penjajahan muka bumi berkedok arsitektur dan hunian.

Lebih jauh, mungkin saya ingin berasumsi justru untuk kalangan sosial ekonomi atas lah di mana mereka sungguh-sungguh memberlakukan suatu aksi menginginkan  sebuah “rumah” (diluar fungsi sosial budaya ekonomi.) Mereka berpikir jangka panjang untuk tinggal di rumah “utama” (seandainya mereka memiliki lebih dari sebuah rumah, namun pastinya ada “Rumah Utama” yang diberi sentuhan personal, diberi makna, dilabeli individunya.)

Satu preposisi gegabah lainnya adalah golongan manusia berusia di atas 45 tahun yang sudah stabil sosial ekonominya, kelihatannya punya kecenderungan untuk menetap (dalam maksud menentukan “omah” masa tuanya –walau tetap melakukan bisnis jual beli properti-rumah.)

Di sini, saya teringat…. Suatu kenangan akan sebuah “sarang”* yang saya rasakan dua tahun lalu.

Rumah dalam kerumahan yang sangat rumah-omah. Sebuah “omah” yang lebih mendalam, hingga nyaris primitif (bukan fisiknya) bak sebuah “sarang” berhabitat di mana setiap sudutnya serasa berjejak nyawa-identitas si empunya rumah.

(*) Tulisan “Eko Prawoto & Arsitektur Sarang” pada 2011)

 

Menyimpulkan Gugahan Pemaknaan Rumah

Sebagai sebuah usaha membuat kesimpulan, saya menarik “batas naif” antara masa kini (kiwari) dan masa lampau.

Jika kini,

“Rumah Kapitalis” di mana nilai ekonomis jauh lebih penting (dengan argumentasi “untuk bertahan hidup”) dan dilihat sebagai aset-ekonomi-wajib-milik (bak perlombaan atas suatu sertifikat hak milik.) Mungkin juga sebenarnya kita sudah sampai di titik nyaris paham, sehingga tak banyak yang bisa disebut-simpuklan lagi di sini.

Menoleh ke dulu,

Rumah adalah semacam “micro cosmos” dari sebuah keluarga, dari komunitas sel, tempat berkumpul, pusat ruang sosial dari keluarga, akar jiwa ruang sosial  keluarga – “semua” pasti pulang ke rumah induk (yang tidak akan diperbolehkan dijual oleh leluhur; yang ada malahan dipelihara turun temurun oleh tiap generasi keturunan –berlaku bagi budaya yang masih memegang tradisi.) Dan yang lebih lampau lagi, juga bagian dari kehidupan yang harus senantiasa harmonis dan memikirkan keseimbangan-keselarasan dengan bumi dan lingkungan habitat manusianya.

Lantas manakah yang lebih bernilai?

Manakah yang penting?

Adakah makna masih dinikmati?

Siapa-di mana-mengapa-seperti apakah?

Biar pertanyaan ini menjadi suatu siklus, mungkin memang makna harus bergeser, supaya perspektif hidup lebih variatif.

 

Pada Akhir Tulisan…

Tentunya sebagai salah satu kebutuhan primer manusia, tokh pada akhirnya setiap manusia akan menciptakan, menetapkan dimana “omah”nya, atau their real “home”, something that we can say “this is our home” atau ada juga yang menyebutnya “the final house.” Dari riset kecil saya berupa wawancara dan pengamatan terhadap beberapa kasus (orang dan kcenderungan kepemilikan properti hunian) “omah” masih menjadi hasrat impian, baik bagi yang mampu mewujud-milikkan dengan mudah ataupun yang membiarkannya terbawa masa untuk nilai-kebutuhan ekonomis dan tertunda hingga di akhir masa pertengahan hidupnya.

Dimana rumah bukan hanya sekedar kata benda tetapi sebuah identitas dan bagian dari habitat hidup, ruang sosial kultural kehidupan keseharian kita selama hidup di dunia, kembali ke makna “home” itu lagi. Pelabuhan habitat terakhir, sebuah sarang jua –jika sempat.

Priscilla Epifania
Sarjana arsitektur di Universitas Tarumanagara, Jakarta (1996) dan
magister di bidang urban tourism di University of Westminster,
London (2010). Selain perintis di Next [In] Architecture dan aktif
mengajar di almamater sejak lulus, kini terpelosok di kepengurusan
IAI Jakarta di periode 2012-2015. Juga sebagai anggota modern Asian
Architecture Network (mAAN) , IAU Komisi 41 Working group on
Astronomy and World Heritage