Membangun Bersama Masyarakat: Sebuah Cerita dari Kaum Pinggiran

3197 Views |  3

Seseorang akan berkata ‘A’ sementara yang lain ‘B’ untuk satu hal yang sama. Permasalahannya bukan salah atau benar. Namun, melihat dari berbagai sudut pandang dan pemikiran. Itulah keunikan dinamika sebuah komunitas.

 

DSC_0316

Batam, dulu  dan kini, entah bagaimana nanti…

Matahari seakan tidak memberi ampun pada geliat kehidupan di Kota Batam. Teriknya terasa membakar kulit. Betapa beruntungnya menemukan sebuah laguna penampungan air hujan di tengah-tengah kota Batam; seperti melihat sebuah danau kecil diantara bukit-bukit gersang.

Walau terletak di sebuah pulau kecil, banyak hal yang dapat dipelajari dari kota ini. Sudut-sudut kotanya tidak pernah habis untuk dijelajahi. Batam, sebuah kota administratif setingkat Kabupaten, memiliki sejarah perkembangan kehidupan kota yang cukup menarik. Sejarah kejayaan masa lampau tidak banyak berbicara tentang pulau ini – hanya ada sekelumit kisah kerjaan Tumasek, perebutan wilayah antara Belanda dan Inggris, juga tempat asal tokoh nasional Laksamana Hang Nadim yang namanya diabadikan menjadi nama Bandar Udara Internasional di Batam.

Dahulu, pulau ini hanyalah sebuah tanah kering berwarna merah tanpa tanda-tanda manusia mampu bertahan hidup. Namun, karena lokasinya yang strategis (berdekatan dengan Singapura dan Malaysia), kota ini berkembang pesat menjadi sebuah kota perdagangan. Batam diharapkan menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara untuk menyaingi Singapura, karenanya kota ini memiliki perencanaan yang matang. Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, daerah pertokoan sedikit demi sedikit mulai berkembang. Kini, Batam dibanjiri investor, perusahaan asing serta imigran yang mencari peruntungan. Daerah yang dulunya tanpa nyawa sekarang menjadi sebuah kota yang ramai dan sedang berkembang pesat.

Di tengah-tengah geliat ini, muncul berbagai permasalahan seperti kebutuhan pangan yang meningkat, tuntutan ekonomi yang semakin sulit, dan kebutuhan akan perumahan. Awalnya, pemerintah mengalami kesulitan untuk membendung pertumbuhan rumah liar di sepanjang daerah strategis tadi. Sebagaimana permasalahan di kota-kota lainnya, keberadaan rumah liar membuat wajah kota tidak sedap dipandang mata. Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah kota bersama-sama dengan pihak berwajib membuat kebijakan untuk merelokasi rumah-rumah liar tadi dengan kompensasi sebuah tanah kaveling di lahan baru.

Namun, penyediaan tanah kaveling siap bangun juga menimbulkan permasalahan baru. Letaknya tidak strategis, belum tersedianya infrastruktur listrik dan air bersih, juga mental masyarakat yang tidak taat pada aturan membuat perkembangannya berjalan lambat. Bahkan, beberapa warga mencari keuntungan dengan menjual lahan kaveling yang diterimanya dengan cuma-cuma dan kembali bertempat tinggal di perumahan liar.

Andaikata penduduk tinggal di kaveling ini, mereka juga harus menghadapi tantangan ketersediaan air bersih dan listrik. Hasilnya banyak ditemui rumah-rumah dengan penataan wilayah yang tidak beraturan, akses jalan yang buruk, dan tidak memiliki saluran irigasi. Hal ini menyerupai susunan perumahan liar yang lahannya telah dilegalkan oleh pemerintah.

 

Menjadi tukang bangunan sehari sebagai pengalaman yang tak terlupakan

Batam tidak patut ditangisi atau ditinggalkan berdiam diri untuk menghadapi segala permasalahan yang ada. Tidak menyerah karena kondisi yang ada merupakan suatu kunci untuk hidup lebih baik. Geliat pagi begitu terasa saat kami (para relawan) masuk ke kaveling kumuh di daerah pinggiran kota Batam. Pemandangan ini tidak biasa ditemui, apalagi bagi relawan asal Singapura yang turut membantu dalam pembangunan partisipatif di lokasi tersebut. Berasal dari negara maju, tidak membuat mereka sungkan untuk berkotor-kotor untuk  memasuki kaveling yang tidak berbentuk tadi.

Seorang ibu tua, terlihat menitikan air mata menyambut kehadiran kami. Suaminya telah tiada bertahun-tahun lamanya, anak perempuannya meninggal beberapa bulan yang lalu. Hanya tinggal dirinya dan anak laki-lakinya yang bekerja serabutan untuk menghidupi keluarga. Sang ibu juga berusaha mencari penghidupan dengan bekerja sebagai buruh cuci. Jangankan untuk membenahi rumahnya, untuk makan sehari-hari pun mereka kesulitan. Pilu hati kami mendengarnya. Tanpa sungkan, bersama dengan warga sekitar, kami membantu pembangunan rumahnya. Tak peduli tua-muda, pria-wanita, semua terlihat senang membantu sang pemilik rumah. Pekerjaan memotong besi, membuat adukan mortar, menggali tanah, dan memasang batako yang biasa dilakukan oleh tukang bangunan, menjadi pekerjaan pokok saat membantu keluarga penerima bantuan. Pekerjaan ini sangat menyenangkan, di sela-sela menyelesaikan target pekerjaan hari itu, kadangkala kami malah bermain-main dengan cipratan mortar. Tidak ada yang mengeluh dalam bekerja keras, hanya ada tawa, senyum, dan canda saat bekerja. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan.

Ini adalah proses pembentukan komunitas yang dibangun dengan landasan kepercayaan dan pengabdian kepada masyarakat. Kultur masyarakat urban Batam yang dikombinasikan dengan kehidupan kampung membentuk sebuah tatanan baru. Berpikir dan bertindak sebagai masyarakat kota dengan jiwa dan semangat kebersamaan yang terikat kuat.

Sebuah komunitas terbentuk dengan berbagai dinamika dan kompleksitas permasalahan yang dihadapinya. Bukan sebuah komunitas hi-tech, cyber, terpelajar, ataupun memiliki kesamaan hobi sering nongkrong di mall/cafe, kesamaan visi, atau hal hebat yang lainnya. Meski bukan sebuah komunitas modern, mereka tetap akan berteriak dengan lantang di ruang publik apabila ada yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Mereka adalah orang-orang yang sederhana, namun berdedikasi untuk mengorganisir dan menggerakan kegiatan pembangunan rumah. Mereka memiliki harapan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat untuk hidup dengan layak. Rumah adalah tempat di mana segalanya berawal. Mulai dari tempat berlindung hingga tempat tumbuh kembangnya anak, pengajaran pendidikan keluarga. Sebuah kebutuhan primer untuk keluarga agar hidup layak.

Komunitas adalah tempat belajar

Selain pembangunan rumah, hal yang tak kalah pentingnya adalah pemberdayaan komunitas. Bukan hanya memberikan bantuan secara cuma-cuma, tapi bagaimana membuat komunitas tersebut bisa berdikari dan mampu menghidupi diri mereka sendiri. Belajar bersama-sama adalah kuncinya. Perlu saling tukar pengalaman antar-individu untuk membuka wawasan. Komunitas bukanlah objek, tetapi kumpulan subjek. Masyarakat terpinggir adalah individu yang patut didengar dan didukung untuk menggali dan memecahkan permasalahan mereka sendiri. Kami (para relawan) hanyalah orang luar yang memfasilitasi. Mereka adalah pemilik lingkungan setempat yang mengetahui semua seluk beluknya, maka dari itu buatlah mereka mencintai lingkungan mereka sendiri.

Di hari itu, kami (para relawan dan masyarakat)  sama-sama belajar mengenai perilaku hidup bersih dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada guru, tidak ada murid. Tidak ada yang lebih tahu antara fasilitator ataupun masyarakat. Di hari itu juga,  kami menemukan tujuan bersama untuk menggali permasalahan kebersihan di daerah tersebut dan menyelesaikannya bersama-sama. Awalnya, tidak ada yang menganggap serius tujuan awal itu. Namun, setelah berdialog dengan dipandu salah satu tokoh lokal, keadaan mencair.  Walaupun tidak semua anggota masyarakat hanyut dalam diskusi, namun, kemauan dan keterlibatan semua orang membuat proses belajar ini tidak membosankan. Lama kelamaan, mereka menyadari keadaan lingkungan yang buruk; banyak warga yang masih buang sampah sembarangan.  Hal ini dikarenakan tidak adanya fasilitas pembuangan sampah yang layak dan sebuah sistem terpadu untuk menyelesaikannya. Pada akhirnya, masyarakat berkomitmen untuk menjalankan solusi temuan mereka.

Kami benar-benar takjub dengan terciptanya sebuah diskusi antar-warga dalam sebuah komunitas. Mereka mau bekerja demi kebaikan bersama dan memperbaiki lingkungannya. Arsitek, urban desainer, atau bidang ilmu lainnya yang kompeten, masihlah kurang tanpa semangat dari komunitas itu sendiri. Tidak ada lagi egoisme sang arsitek dalam membangun, sebaliknya kepentingan bersama layak untuk didahulukan daripada kepuasan pribadi. Namun, jangan sekali-sekali menggurui mereka, biarkan mereka berkembang dengan sendirinya.

Pada akhirnya, tujuan kita semua sama… untuk melihat senyum di wajah mereka

Mulai dari pembangunan rumah bersama-sama dengan sukarela hingga komunitas sebagai tempat belajar, bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat, terutama anak-anak sebagai penerus generasi bangsa ini. Perlunya rumah sebagai tempat tinggal yang layak, tempat belajar yang nyaman, serta tempat tujuan untuk ayah pulang bekerja dan anak yang kembali dari sekolah. Rumah adalah sebuah tempat yang dimiliki oleh sebuah keluarga. Komunitas akan terbentuk dari kumpulan rumah-rumah yang mempunyai satu visi untuk kebaikan lingkungan mereka. Dalam kesederhanaan, tanpa hingar bingar modernitas berlebihan, dalam tawa dan canda, tapi dapat hidup dengan layak dan bersahaja.

Mereka akan terus berkembang,

Hidup,

Dan melakukan perubahan untuk menuju keadaan yang lebih baik.

IMG_0027

 

Amita Sari
Setelah lulus dari Universitas Udayana, Bali tahun 2012, sempat bekerja di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif selama 1,5 tahun. Ketertarikan pada arsitektur-komunitas dimulai saat mengikuti program Jakarta Vertical Kampung oleh SHAU dan Erasmus Huis. Dari situlah mulai mengikuti panggilan hati untuk bekerja bersama masyarakat akhirnya memilih untuk bekerja di NGO Habitat for Humanity Indonesia-Cabang Batam. Menyukai dinamika arsitektur-komunitas, bagaimana merancang dan membangun bersama-sama dengan masyarakat.