Kota Taman

179 Views |  1

“Konon, seringkali ada wanita yang menjelma pohon di sepanjang Loftus Road, sebuah jalan yang di kanan-kirinya dipenuhi baris pepohonan seperti hutan buatan, jalan itu terus memanjang ke arah barat, menuju matahari terbenam. Pohon-pohon itulah, entah siapa yang memulainya, kemudian dicurigai dan diyakini sebagai jelmaan manusia.”

***

Potongan cerita pendek berjudul ‘Sebatang Pohon di Loftus Road‘ karya Sungging Raga akan menyisakan mata basah terutama bagi mereka yang terlalu sentimentil. Benarkah ada perempuan yang menjadi pohon karena janji dengan seorang pria tidak terbukti? Saya sempat berpikir, kenapa pohon? Kenapa bukan batu seperti kutukan Ibu Si Malin Kundang?

Melihat kondisi hutan di Indonesia yang rusak akibat penebangan hutan atau kebakaran serta sulitnya memenuhi kebutuhan ruang terbuka hijau di kota-kota besar, saya menyetujui mitos ala London itu. Bisa kau bayangkan, jika semakin banyak laki-laki yang tidak tepat janji, betapa hijaunya kota itu. Tunggu, saya tidak boleh menggunakan jenis kelamin tertentu dan melabelinya sebagai penipu atau bukan. Bagaimana jika, pengingkar janji – termasuk dan berjenis kelamin apapun dikutuk berubah menjadi pohon? Jika jumlah penipu terus meningkat, saya kira, bumi akan kembali hijau. Saya bukannya menyumpahi setiap orang berubah menjadi penipu supaya jumlah pohon bertambah, namun hal “gila” harus dilakukan untuk menyelamatkan kota-kota di negeri ini.

***

Adalah Ebenezer Howard, perancang kota taman asal Inggris, yang telah memikirkan konsep sebuah kota mandiri seluas 405 hektare yang mampu menampung 32.000 jiwa penghuni pada 1902. Hunian akan mengelilingi lapangan besar berupa taman yang terpusat. Area pertokoan diletakkan di tepi dalam kota, mengelilingi taman tadi, sedangkan pasar dan industri diletakkan di bagian lingkaran paling luar. Setelah area itu, kota dikelilingi oleh hamparan tanah pertanian seluas 2.023 hektare.

Garden City karya Ebenezer Howard. Sumber: http://urbanplanning.library.cornell.edu/

Garden City karya Ebenezer Howard.
Sumber: http://urbanplanning.library.cornell.edu/

Taman publik yang berada di pusat kota itu tentulah bisa disambangi oleh siapa pun. Di satu sudutnya terdapat taman bunga yang sedang dipandangi oleh lansia yang duduk di kursi roda, ditemani oleh anaknya yang masih mengenakan pakaian kerja. Lalu terdengar tawa anak-anak yang kesenangan bermain ayunan atau papan luncur. Para ibu menemani anak-anaknya, bersenda gurau dengan sesamanya sambil menikmati kue yang mereka buat tadi siang. Cuitan burung gereja di dahan pohon kersen semakin menambah keramaian di taman itu. Lebah dan kupu-kupu berlomba mengisap bunga pohon tabebuya, sementara laba-laba asyik menganyam sarang di antara dedaunan semak, juga para semut yang sibuk mengangkut remah kue yang terjatuh di tanah.

Taman itu memiliki beberapa kolam untuk menampung air hujan yang turun pada musimnya. Di dalam kolam-kolam itu terdapat ikan air tawar dan di permukaan airnya tumbuh beberapa kelompok bunga teratai berwarna ungu yang memanjakan mata. Capung berwarna terbang bebas mendekati air kolam, terdiam beberapa detik lalu pergi. Di tepian salah satu kolam kecil, para remaja duduk-duduk membaca buku atau membuka laptop. Sore itu, mereka berdiskusi tentang ‘masyarakat ekologis’. Di sebuah halaman buku, terbaca ciri-ciri masyarakat ekologis. Salah satunya adalah menciptakan pendidikan lingkungan untuk anak-anak. Remaja-remaja tadi tampak asyik menulis ringkasan dan menggambar beberapa sketsa untuk menunjukkan kegiatan yang telah dilakukan oleh keluarga masing-masing: memilah, mendaur ulang, atau mengolah sampah menjadi kompos.

"Kehidupan Hening", karya Diptya Anggita.

“Kehidupan Hening”, karya Diptya Anggita.

Di sudut lain terdapat ruang terbuka berlantai konblok sebagai tempat pedagang kaki lima berjualan. Dengan gerobak berbahan bambu dan kayu, para penjual menjajakan es krim atau makanan ringan. Beberapa pasangan muda duduk di bangku taman yang diteduhi pohon Ketapang Kencana sambil menikmati roti sarikaya atau es krim vanila. Di setiap 50 meter diletakkan tempat sampah 3R: Reuse, Reduce and Recycle. Semua orang sudah kode warna pada masing-masing tempat dan kemana harus membuang sampah yang ada di tangannya.

Ketika mata beralih ke arah rumah-rumah, kau bisa melihat petak yang tidak penuh dengan bangunan. Koefisien dasar bangunan hanya berkisar 30 persen dari keseluruhan lahan. Rumah-rumah berpagar tanaman di bagian depan dan memiliki pohon tanjung yang menaungi jalan lingkungan. Mereka meneduhkan orang yang berjalan di siang hari. Sedangkan pada lahan di bagian belakang ditanami dengan pohon buah mangga, rambutan, atau belimbing. Pun tanaman sayuran seperti tomat, cabai, kacang panjang tampak ranum, siap dipanen dan dimasak untuk makan malam. Rumah-rumah membangun resapan air hujan di dalam tanah dan bak penampung air hujan yang diletakkan di dekat teras belakang. Wadah-wadah tadi menampung air cadangan untuk menyiram tanaman atau mencuci alat dapur. Walikota kota tersebut juga menyediakan panel surya yang diletakkan di beberapa titik pada atap untuk warganya sebagai upaya pemanfaatan energi terbarukan. Warga dapat membeli panel-panel tersebut dengan harga terjangkau atau mencicilnya. Cadangan listrik dari panel tersebut akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sehingga warga tidak perlu membayar tagihan yang terlampau mahal setiap bulannya.

Bangunan umum seperti sekolah diletakkan tidak jauh dari permukiman. Taman Kanak-kanak atau Sekolah Dasar dapat dicapai dengan berjalan kaki melalui sebuah jalur. Sementara itu, sekolah tingkatan lebih tinggi dapat dicapai dengan sepeda atau bus sekolah. Di suatu pagi, para anak berkelompok dan berjalan menuju sekolahnya. Sambil bersenda gurau mereka melangkah dengan pasti tanpa khawatir akan terserempet kendaraan bermotor. di kota taman itu dibatasi oleh jalur hijau dengan pohon semak dan peneduh. Ketika menyeberang, terdapat jalur penyeberangan khusus anak-anak dan para pengasuh yang mengantar mereka ke sekolah.

Para pedagang melakukan jual-beli di perbatasan kota. Di situ, orang dari berbagai tujuan datang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bus pengantar dari rumah-rumah berhenti di terminal. Kemudian, para penumpang berjalan di jalur pejalan kaki yang mengantar mereka ke bangunan pasar atau pertokoan. Sayur-mayur dan daging dipanen dari pertanian lokal dan kota lainnya. Tidak jauh dari sana, tampak bangunan-bangunan kantor dan sebuah pusat perbelanjaan yang menjadi pendukung ekonomi kota. Bangunan-bangunan setinggi 10 lantai itu tampak ramah dengan kaca yang bercorak dipadukan dengan bingkai beton agar burung-burung tidak terkecoh dan menabraknya. Ketika menengok ke dalam bangunan, kau akan menemukan meja-meja kerja yang bersih karena sejumlah laporan tidak lagi dicetak di atas kertas. Pendingin ruangan diatur pada suhu 25 derajat Celcius saja. Lampu-lampu hanya dinyalakan jika perlu. Ruang-ruang kerja menjadi lingkungan yang menyehatkan karena cahaya matahari dipersilakan masuk, namun dalam batasan tertentu melalui sirip-sirip di dinding bangunan.

Di bagian atas bangunan terdapat roof garden yang dipakai sebagai ruang terbuka hijau. Di pekarangan atap ini terdapat pula panel-panel surya yang menghasilkan energi cadangan bagi kantor tersebut. Parkir didominasi oleh sepeda dan minim roda empat. Kota ini juga dilalui oleh kereta bawah tanah yang berhenti di perbatasan kota. Kereta ini mengangkut seperempat jumlah warga untuk bekerja di kota lain, juga para pendatang yang bekerja di kota ini. Stasiun kereta terhubung dengan terminal bus yang mengangkut para penumpang ke rumah atau perkantoran.

Sepeda menjadi aset penting yang dimiliki oleh setiap warga. Kau akan dihormati jika memiliki sepeda; bukan karena mobil murah atau mewah! Jalur sepeda yang diiringi oleh jalur hijau membuat pesepeda tidak kepanasan, walau kota ini beriklim tropis lembap. Jalur–jalur itu memiliki dan dicat kuning dengan simbol sepeda yang membuat kendaraan roda empat enggan parkir di atasnya. Ingat, jalur sepeda juga dihormati sama seperti jalur pejalan kaki. Jalur pejalan kaki yang menjadi jalur utama anak-anak pergi ke sekolah memiliki lebar 4 meter. Disediakan pula jalur tuna netra dan kursi roda untuk orang tua atau kelompok difabel. Setiap pagi, kau bisa melihat pemandangan dimana para tuna netra berjalan beriringan dengan anak-anak yang sedang bersenda gurau atau pemuda-pemudi yang berjalan cepat takut tertinggal bus.

Industri sedang dan ringan pendukung Kota Taman diletakkan di pinggiran kota. Zona ini tidak berbatasan langsung dengan permukiman, melainkan dengan hutan kota. Di dalam kawasan industri terdapat berbagai fasilitas seperti hunian untuk pekerja, perkantoran, dan ruang terbuka. Industri pun menerapkan tema hijau, sehingga tidak berlimbah yang membahayakan, juga tidak merusak lingkungan sekitarnya. Tempat pembuangan akhir sampah kota terletak tidak jauh dari zona perindustrian itu. Sampah-sampah diolah dengan menggunakan alat penghancur berteknologi tinggi. Panas yang dikeluarkan dialirkan menjadi tenaga listrik; ampas sampah dibuat sebagai campuran bahan untuk jalan. Pengolahan ini menjadi mudah karena tiap warga sudah memilah sampah rumah tangga antara organik dan non-organik.

Sebuah kota tentu harus mampu bertahan dalam hal pangan, sehingga jalur pertanian akan terhampar mengelilingi kota. Permukiman untuk pengelola sawah, kebun, dan ternak diletakkan di dalam kawasan pertanian itu. Teori Gideon Golany bahwa kota hanya menampung perdagangan, bisnis, dan jasa seakan usang. “Saya tidak mau warga mati kelaparan karena lahan persawahan habis diganti oleh pusat perbelanjaan atau perkantoran! Pertanian harus tetap ada dan hidup berdampingan dengan kehidupan moderen kota,” kata Walikota. Memang, hasil tidak terlampau besar, namun cukup untuk memenuhi hidup 32.000 jiwa penduduk kota itu. Kelengkapan hasil pertanian lainnya diperoleh dari kota lain. Kerjasama para walikota menjadi salah satu kesuksesan kota taman. Mereka tidak berpikir bahwa, ’kota saya yang paling baik’ atau ‘kota kamu yang mendapat untung, kota saya tidak’, namun bagaimana cara menyatukan keberadaan mereka sehingga kota-kota tetap memiliki dasar penghijauan dan ketahanan pangan.

"Among", karya Diptya Anggita

“Among”, karya Diptya Anggita

Setelah Kota Taman itu berhasil, berbagai kota-kota lain di dunia kemudian menyadari kekurangan masing-masing dan mengubah cara hidup warga dan tatanan kota. Mereka memiliki target untuk mengurangi pemakaian kendaraan pribadi, meningkatkan jumlah transportasi massal serta pemakaiannya, meningkatkan luas ruang-ruang terbuka publik, dan mendukung wisata dalam kota. Wisata seperti ini akan mengurangi keinginan warga kota untuk terbang dengan pesawat, yang menggunakan energi tak terbarukan, ke kota-kota atau negara-negara lain demi untuk melihat air terjun, misalnya. Para pemimpin dunia saling berjabat tangan dan sepakat untuk mengurangi limbah dan sampah. Hutan dihijaukan kembali; perbaikan tanah bekas tambang atau kebun sawit dilakukan secara intensif. Jual-beli karbon tidak berlaku, sebab masing-masing negara sudah bertanggungjawab menjaga hutannya.

‘Gerakan bumi hijau’ akan diinisiasi dan digalakkan hingga pada taraf hukum. Setiap murid yang terlambat masuk sekolah harus membawa sebuah tanaman untuk ditanam di sekolah. Atau, di ekstrim lain, seorang narapidana diharuskan bercocok tanam dan merawat taman di kawasan lembaga permasyarakatan. Koruptor akan dihukum sekaligus membayar denda untuk menanami hutan kota.

Pada suatu masa, manusia menjadi pengasuh alam. Binatang dan pepohonan menjadi teman dalam hidupnya. Anak-anak hidup bahagia di antara pepohonan dan ruang terbuka sehingga tidak perlu takut kehabisan air bersih.  Kemudian tidak perlu ada lagi tangis para perempuan untuk merimbunkan London (atau Jakarta). Kota-kota taman itu telah menjadi juru selamat bagi bumi dari kehancuran.

***

 

Margaret Arni
Margaret Arni Bayu Murti menyelesaikan jenjang S1 di Jurusan Arsitektur Universitas Pancasila pada tahun 2003. Lalu menyelesaikan jenjang S2 di Program Pascasarjana Kajian Pengembangan Perkotaan Universitas Indonesia pada tahun 2006. Saat ini, penulis menjadi dosen tidak tetap di jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Pancasila peminatan perancangan kawasan dan terlibat dalam jasa konsultan bagi pemerintah daerah di Indonesia.