Kota-Kota yang Hidup dari Reruntuhan Masa Lalu

1540 Views |  Like

Kita bisa hidup bergelimang nostalgia, mengeksploitasinya demi sejumlah angka, mendandani bangunan-bangunan tua meski sudah saatnya mereka melebur bersama waktu.

Karena pada kenyataannya: nostalgia is good for business. Setidaknya begitu kira-kira yang disampaikan di harian online Business Circle Malaysia, menyoroti bisnis pariwisata bangunan warisan budaya (heritage) di kota tua Ipoh, negara bagian Perak, Malaysia, yang tiba-tiba “meledak”, hingga seakan membangunkan kota tambang timah tua itu dari tidur panjangnya. Beberapa resto, kafe, bar, dan guesthouse dengan desain yang hip dan unik mulai bermunculan dari sudut-sudut bangunan tua yang hampir terlupakan. Mengingat kota Ipoh dilalui oleh mereka yang berkendara menuju Penang dari Kuala Lumpur (dan sebaliknya), dan Ipoh sebelumnya sudah memiliki tempat di hati orang Malaysia sebagai “ibu” dari kuliner-kuliner khas Malaysia, tidak butuh waktu lama untuk para turis mulai berdatangan.

Ketertarikan akan pariwisata bangunan cagar budaya di Malaysia sepertinya diawali dari terpilihnya George Town, Penang dan Melaka di Malaysia pada Juli 2008 sebagai situs Warisan Dunia UNESCO (UNESCO World Heritage). Melaka bersolek habis-habisan pada setiap inci muka kotanya untuk memanjakan mata para turis yang membludak datang, sedangkan George Town riuh dengan berbagai aktivitas dan instalasi street art-nya.

Sze Ying Goh, penggerak urban-initiative berbasis kolaborasi bernama #bettercities di Malaysia berkata, “Melaka sudah mirip theme park. George Town sebentar lagi, barangkali. Tapi Ipoh bisa jadi sesuatu yang menarik. Mereka tak mendandani bangunan-bangunan tuanya habis-habisan, dan merawatnya seperti porselen, melainkan membiarkannya menua secara alami, membiarkannya begitu saja, tapi di sisi lain mengaktivasi kegiatan di sekitar bangunan tersebut, membuat kotanya hidup kembali.”

Ipoh, Malaysia: Sekeping Harapan dari Kedai Kopi yang Melegenda

Ipoh dahulu kala adalah kota kecil yang makmur berkat tambang timah. Ia menarik pendatang, spekulator dan investor, menjadikan mereka orang-orang kaya yang menghabiskan sebagian uangnya untuk bangunan-bangunan mewah. Ketika harga timah merosot pada tahun 1980-an, Ipoh ikut terpuruk. Kota yang dahulu cantik dengan bangunan-bangunan bergaya kolonial Inggris, perlahan-lahan ditinggalkan dan melapuk.

Ratusan bangunan neo-klasik yang tidak berubah semenjak berdiri tersebut, kini menjadi sebuah aset yang berharga tinggi. Satu kesempatan lagi bagi Malaysia untuk meredefinisi cara mempreservasi dan menggunakan kembali bangunan warisan budaya. Barangkali itu yang membuat seorang arsitek lanskap dari Ipoh, Seksan Ng, berinisiatif bersama teman masa kecilnya untuk berkontribusi kepada kampung halaman mereka.

Mereka urun dana untuk membeli sebuah bangunan tiga lantai yang hampir dihancurkan dan dijadikan bangunan tinggi oleh sebuah pengembang. Bangunan ini dulunya adalah hostel bagi para pemain Chinese opera dengan kedai kopi legendaris bernama Kong Heng di lantai dasarnya, yang di masa lalu merupakan tempat favorit mereka (juga kebanyakan orang-orang di kota) untuk sarapan dan sekedar bertegur sapa. Memori kolektif yang dimiliki bangunan ini terlalu banyak, terlalu besar, untuk bisa mereka relakan rata dengan tanah.

Seksan merestorasi bangunan Kong Heng dengan mempertahankan kopitiam (kedai kopi) dan hawker (pujasera) di lantai dasarnya, lalu menambahkan fungsi boutique guesthouse di bagian belakang dan lantai atas bangunan. Guesthouse yang dinamakan Sekeping Kong Heng akhirnya beroperasi pada tahun 2012, menjadi pioner yang mengawali kebangkitan kota tua Ipoh dari tidur panjangnya.

Menurut Seksan, peremajaan kota memang seharusnya dilakukan oleh mereka yang hidup di dalamnya. Ia berharap Sekeping Kong Heng dapat menjadi katalis yang menghidupkan Ipoh kembali. Menarik orang-orang yang pernah mencicipi masa kejayaan Ipoh tiga dekade lampau, atau yang memiliki secuplik masa kecil di sana, untuk kembali pulang.

Sekeping Kong Heng di Ipoh adalah contoh kecil bagaimana inisiatif preservasi muncul dari orang-orang yang pernah intim berinteraksi dengan bangunan dan kotanya. Nostalgia menjadi sebuah pemicu intervensi positif oleh kelompok kecil dengan visi yang sama. Memberi efek domino yang patut tercatat dalam sejarah. Kini bisnis properti di Ipoh mulai menggeliat.

Melaka, Malaysia: Jonker Street… Milik Warga atau Pedagang?

Begitu besar pengaruh uang dalam kehidupan berkota dan bernegara, sehingga apa yang terjadi di dalamnya dapat menjadi senjata politik berbagai kalangan. Kota tua Melaka tak hanya menarik turis, dan pebisnis untuk memutar uang dan mencari keuntungan di dalamnya. Ia juga menjadi alat yang ampuh untuk memperebutkan kekuasaan. Begitulah yang terjadi di kawasan wisata warisan budaya Jonker Street, tahun lalu.

Pasar malam yang berlokasi di sepanjang Jalan Hang Jebat tersebut adalah surga bagi para turis yang mencari suvenir dan barang antik di pusat kota historis Melaka. Sejak Mei 2000, sepanjang jalan akan tertutup bagi kendaraan untuk diubah menjadi “pedestrian mall” setiap pukul 6 sore hingga 12 malam di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan sektor pariwisata dan menggandakan angka kunjungan turis ke Melaka menjadi tiga juta jiwa per tahun, menurut rencana pemerintah setempat. Upaya tersebut juga dilakukan dengan alasan keselamatan bagi para turis yang berjalan-jalan di sekitar bangunan tua yang rapuh.  Sekaligus untuk memelihara struktur bangunan yang sudah berdiri hampir dua abad.

Kebijakan tersebut berakhir tahun lalu. Para pemilik bangunan di sepanjang Jonker Street, yang sebagian besar masih tinggal dan hidup di dalamnya, tidak merasa betah tinggal di sana. Meski biaya sewa lantai dasar bangunan mereka yang cukup tinggi menjadikan mereka jutawan dadakan, transformasi wajah jalan mengakibatkan mereka harus mengorbankan hal-hal lain: kedamaian sebuah lingkungan tempat tinggal yang sesungguhnya. Setiap akhir pekan mereka harus memarkir kendaraan mereka jauh dari rumah dan berjalan kaki menerobos kerumunan turis yang sesak memadati jalan. Untuk akhirnya dapat mencapai sudut terjauh rumah mereka, menghindari bising yang masuk melalui celah jendela.

Pihak oposisi Malaysia memperjuangkan hal tersebut sejak tahun 2008 untuk mengembalikan Jonker Street kepada hakikat sesungguhnya sebuah lingkungan tempat tinggal, hingga akhirnya disetujui setelah pemilu ke-13 dilangsungkan. Setelah tanggal 24 Juni 2013 silam, warga Jalan Hang Jebat dan sekitarnya kini dapat mengakses halaman depan rumah mereka 365 hari dalam setahun. Sementara ratusan pedagang yang berbisnis di sepanjang Jonker Street masih bisa menjalankan usahanya. Meski kali ini harus berbagi ruang gerak dengan jalur pejalan kaki di satu sisi dan kendaraan yang berlalu lalang di sisi lain.

Hingga saat ini, perbedaan pendapat mengenai keberadaan Jonker Street sebagai pedestrian mall masih menjadi sumber ketegangan dua kepentingan politik di Melaka. Istilah “memori kolektif” serta “sense-of-place” dengan interpretasi berbeda di masing-masing kubu menjadi senjata. Bryan Che, dosen arsitektur di Taylor’s University, Malaysia, memiliki pendapat lain,

“Saya rasa bukan hal yang bijak untuk menutup pasar Jonker Street, karena dari pasar tersebutlah Melaka memiliki daya tarik untuk turis sehingga kota tua tersebut hidup kembali. What for we need more parking space and car access area? The market makes the place: bright, safe, lively and attractive as a town and cultural spot.”

 Siem Reap, Kamboja: Kota yang Muncul dari Reruntuhan

Keberadaan turis pun memiliki efek samping yang mengancam karakter kota. Mereka datang dalam jumlah besar. Orang-orang berbeda datang dan pergi terus-menerus. Meninggalkan jejak di tempat mereka berpijak. “Makna” dari sebuah tempat yang tadinya hanya dialami oleh sejumlah masyarakat lokal, kini harus berbagi tempat dengan orang-orang asing yang hanya singgah untuk sekian hari.

Siem Reap tadinya hanyalah kumpulan petak-petak desa yang berjajar di sepanjang sungai bernama sama. Masyarakatnya hidup dari bekerja sebagai nelayan ataupun petani, dengan danau Tonle Sap sebagai sumber kehidupan utama. Seratus tahun kemudian, daerah ini adalah sebuah kota wisata yang menjadi major tourist hub di Asia Tenggara.

Enam kilometer di utara kota Siem Reap terdapat reruntuhan kuil peninggalan abad ke-15, yang ditemukan kembali oleh sekelompok penjelajah dari Perancis di abad ke-19. Dalam jangka waktu hanya tiga bulan setelahnya, 200 turis pertama berhasil mencapai situs tersebut. Arus pengunjung yang datang semakin meningkat terutama dari Eropa. Akuisisi Perancis atas sebagian wilayah barat Kamboja secara tidak langsung menjadi penyebabnya. Semenjak saat itu, Siem Reap menjadi gerbang masuk menuju kawasan kuil yang dikenal sebagai Angkor Wat. Menjadi tempat makan, berkumpul, dan menginap bagi setiap pelancong yang datang. Perlahan, ia bertransformasi menjadi sebuah kota.

Pembangunan di kota ini berakar dari kebutuhan pariwisata. Hotel dan resto terbaik dibangun di sepanjang sungai yang membelah kota, lokasi paling prima di Siem Reap yang juga dekat dengan Angkor Wat. Sebuah pasar dibangun di sekitar Old Market, dinamakan Angkor Night Market, demi memuaskan kebutuhan turis akan kehidupan khas barat. Kafe, bar, dan kehidupan malam berdifusi dengan karakter pasar khas timur yang merakyat. Elemen kota berinteraksi dengan canggung, karena kota ini diisi oleh dua lapisan masyarakat dengan kebutuhan yang berbeda (jika bukan bertolak belakang).

Tak hanya fisik kota yang bertransformasi, karakter kehidupan masyarakat di Siem Reap pun berubah. Kota ini bukan hanya menjadi magnet bagi jutaan turis, tetapi juga merupakan tempat mengadu nasib bagi masyarakat Kamboja untuk penghidupan yang lebih baik. Banyak yang meninggalkan pekerjaan warisan orang tua sebagai petani maupun nelayan, karena turis memberi mereka lebih banyak uang daripada ikan-ikan di danau. Maka di tiap sudut kota, berbagai aktivitas ekonomi mikro terjadi. Mereka merubung setiap turis yang lewat, menjajakan apapun yang ada di tangan mereka. Dari kartu pos hingga patung Buddha, tumpangan tuk-tuk hingga penginapan bintang lima.

Pertanyaannya, jika suatu hari turis-turis ini pergi menuju tujuan wisata yang lebih baru, lebih unik, dan lebih menjanjikan keindahan fana; kota ini akan jadi apa?

*

Dari kota-kota tersebut kita bisa belajar: bahwa perubahan dalam skala kota bisa saja dimulai dari sebuah gerakan kecil, yang berlangsung terus-menerus dalam jangka waktu yang signifikan. Turisme pada awalnya bisa saja menghidupkan kembali kota yang mati suri, bahkan membangun sebuah kota dari yang tadinya hanya desa disekitar reruntuhan.

Maka kita bisa hidup bergelimang nostalgia. Memilah mana yang indah untuk dipelihara, dibuat lestari selama mungkin, sebisa mungkin abadi. Mempreservasi memori dengan menjaga benda-benda dan apa-apa yang kasat mata. Penanda bahwa suatu kejadian, masa, dan zaman pernah ada, lalu meraup sebesar-besarnya keuntungan dari sana. Tapi akan bertahan berapa lama lagi sampai lapisan generasi di bawah kita akhirnya lupa akan alasan apa yang membuat sebuah artefak, bangunan, bahkan kota, perlu dipertahankan sebagaimana ia dibangun dahulu?

Jika bangunan tua yang ada hanya menjadi alat untuk mendulang emas tanpa mempreservasi makna dan mengajarkannya pada anak-cucu kita,

Perlahan ia akan (kembali) mati,

Tanpa cerita.

***

–          Hamidah Atan: Turning Jonker Street into a Pedestrian Mall. New Strait Times, MY, 25 Maret 2000.

–          Jason Gerarld: Controversial Jonker Walk to Stay. New Strait Times, MY, 28 Juni 2013.

–          http://www.archdaily.com/348907/sekeping-kong-heng-seksan-design/

–          http://www.businesscircle.com.my/nostalgia-good-business/

–          http://eatlah.blogspot.com/2010/09/kedai-kopi-kong-heng-jalan-bandar-timah.html

–          http://www.themalaymailonline.com/travel/article/getting-away…without-leaving-town

Rofianisa Nurdin
Menjadi sarjana Arsitektur ITB pada tahun 2012. Ketertarikannya kepada kota, manusia, dan budaya membawanya ke dalam ranah industri kreatif dengan semangat kolaborasi melalui Vidour yang digagas pada tahun 2011 dan CreativeMornings Jakarta yang digagas pada tahun 2014. Memori kolektifnya tersebar di kota-kota Asia Tenggara: Bandung, Ubud, Jakarta, George Town (Penang), dan Singapura. Saat ini menjadi Jakarta Chapter Ambassador di CreativeMornings, Community Manager di lingkaran.co, dan Program Manager di rabu(n) senja bersama tim a publication andramatin.