Kota Dan Narasi Yang Majemuk

2152 Views |  8

Ara Guler

©Ara Guler

 

Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah anekdot stereotip yang sudah sering didengar oleh warga Surabaya:

Untuk Anda yang belum tahu, konon, ada dua hal yang paling menggiurkan bagi seorang Madura yang memiliki jiwa pedagang, yaitu: besi bekas dan tanah mangkrak di pinggir jalan.

Mendapatkan besi bekas tentu lebih gampang daripada mendapatkan tanah yang strategis. Lalu bagaimana cara orang Madura mendapatkan tanah tersebut?

Pertama-tama, ia akan menaruh sebuah meja di atas tanah tersebut. Testing the water. Bila dalam tiga hari tidak ada yang menggubris, ia akan mulai menaruh barang lain yang lebih besar, seperti misalnya sebuah gerobak. Jika dalam seminggu gerobaknya masih utuh dan tidak terganggu. Ia akan segera kulakan bahan-bahan dan mulai berjualan.

Awalnya ia akan pulang pergi. Tapi lambat laun, gerobak tersebut mulai beratap tenda terpal. Minimal agar para pembeli tak kepanasan atau kehujanan. Tak lama, muncul lincak atau bale-bale untuk bersantai. Kemudian, mulai hadir tembok semi permanen dari anyaman bambu dengan atap seng. Karena terlalu panas, atap seng tersebut diganti dengan genteng terakota.

Setelah setahun berlalu dan tidak muncul klaim apa pun dari tanah yang ia tempati. Seorang Madura akan mulai gelisah dan kesepian. Ia pun mulai memanggil sanak saudara untuk mengisi tanah kosong di kiri dan kanannya. Sebuah komunitas sederhana pun mulai terbentuk.

Pada sebuah titik, ketika komunitas yang ada sudah semakin kompleks. Mereka membutuhkan sebuah langgar. Masjid sederhana untuk beribadah. Karena toh sholat berjamaah itu dua puluh tujuh kali lebih baik daripada sholat sendirian.

Ketika sebuah masjid berdiri, sebuah pemukiman organik komunitas Madura menjadi paripurna. Sulit untuk menggusur sebuah pemukiman yang memiliki masjid, sekalipun itu berada di tanah ilegal. Karena, bagi Gusti Allah, semua tanah di bumi ini legal hukumnya. Dan barangsiapa yang mencoba-coba menggusur rumah Allah yang sudah berdiri, maka ia harus berhadapan dengan sekelompok Madura yang rela mati syahid.

Dan itu adalah opsi yang paling mengerikan.

 

+++

 

Bagi Henri Lefebvre, sosiolog Marxis asal Perancis, apa yang dilakukan oleh sekelompok orang Madura tersebut adalah sebuah praktik spasial. Praktik sosial yang melibatkan relasi dengan ruang. Sama seperti para pedagang kecil yang mengokupasi jalur pedestrian atau sekelompok transmigran yang mendirikan pemukiman di sempadan sungai. Mereka, para wong cilik ini, memahami setiap jengkal ruang sebagai sebuah kesempatan untuk bertahan hidup. Tak peduli apakah itu adalah ruang-ruang yang tersisa dari sebuah kota.

Lefebvre percaya bahwa representasi ruang sebuah kota dikendalikan oleh gagasan arsitek, urban planner, atau pemerintah yang memegang kontrol atas konsepsi dan prouksi tata ruang sebuah kota. Di atas sebuah peta, mereka, para pemegang otoritas ini, mulai menarik garis dan memetakan apa yang baik dan tidak baik bagi sebuah kota. Batas-batas dibuat antara pemukiman, ruang produksi dan ruang konsumsi. Dan kemudian ruas-ruas jalan ditarik untuk menghubungkan ketiganya.

Ketika representasi spasial ini hanya melibatkan sekelompok pemegang kontrol, maka yang terjadi pada akhirnya adalah praktik spasialiasi dominan. Sebuah narasi yang dipaksakan demi kenyamanan bersama yang bersifat homogen dan monolitik. Dus, atas dasar standar tersebut, nilai-nilai hidup dipaksakan. Sama halnya ketika Presiden Jokowi mampir ke Jambi untuk memberikan tanah dan pemukiman permanen, tanpa perlu memahami bahwa Suku Anak Dalam berpola hidup nomadik.

Pemerintah dan urban planner seringkali memahami kota sebagai sebuah narasi tunggal versi mereka. Sehingga apa yang dilakukan oleh pedagang kecil dan sekelompok transmigran tersebut dianggap subversif. Melenceng dari apa yang dibayangkan dari sebuah perencanaan.

Padahal, sebagai sebuah entitas yang tumbuh organik, kota justru dibentuk oleh fragmen-fragmen kecil yang kemudian menjadi identitas kolektif. Sehingga wajar bila kemudian muncul narasi-narasi subversif yang mengimbangi perencanaan tunggal yang dibuat oleh pemilik kontrol ruang. Sebagaimana teks, akan selalu ada pemaknaan yang berbeda dari pembaca.

Narasi-narasi kecil yang menuntut pemahaman dan pemaknaan baru akan kontestasi ruang kota tersebut juga muncul pada lirik-lirik lagu Silampukau, sebuah grup musik asal Surabaya:

 

Kami rindu lapangan yang hijau.

Harus sewa dengan harga tak terjangkau.

Tanah lapang kami berganti gedung.

Mereka ambil untung, kami yang buntung.

 

Kami hanya main bola,

tak pernah ganggu gedungmu.

Kami hanya main bola,

persetan dengan gedungmu.

 

(Bola Raya, album Dosa, Kota, & Kenangan)

 

+++

 

Bagi sebagian orang, kota adalah sebuah karya fiksi. Seperti karya-karya eksponen gerakan Archigram pada tahun 1960an yang memperlihatan bahwa kota memiliki daya spontan dan tidak terduga. Kota tidak lagi dibaca sebagai serentetan aturan dan birokrasi. Melainkan letupan-letupan kreatif yang bersifat futuristik. Ada optimisme dan kenakalan di sana.

Satu dekade kemudian, Italo Calvino, seorang pengarang Italia, menerbitkan sebuah novelet berjudul Invisible Cities. Dalam karya tersebut, ia membentuk narasi tentang lima puluh lima kota melalui imajinasi dan kenangan dari seorang pengelana. Bagi Calvino, kota tak ubahnya seperti mimpi “yang terbuat dari jalinan keinginan dan ketakutan” masyarakat yang hidup di dalamnya. Kota, bagi Calvino, adalah sebentuk memori kolektif yang hidup.

Orhan Pamuk, dalam memoarnya yang terkenal Istanbul: Memories and the City, juga menuliskan hal yang kurang lebih sama. Bagi Pamuk, Istanbul dibentuk oleh dua hal. Pertama, ingatan kolektif tentang jatuhnya Ottoman, dan yang kedua, imajinasi para petualang dan pelancong Eropa abad pertengahan yang pernah mengunjungi Istanbul seperti Gérard de Nerval, Théophile Gautier, dan Gustave Flaubert. Ketiganya -dikutuk oleh Pamuk, karena- menulis Istanbul melalui kacamata eksotisisme orientalis. Warisan tersebut membentuk persepsi masyarakat Eropa atas Istanbul untuk jangka waktu yang lama.

Dampak dari kedua hal tersebut dapat dirasakan Pamuk hingga hari ini. Istanbul seakan membeku dalam waktu. Gamang dalam posisi yang mengambang. Tidak bisa mengejar kemajuan Eropa, namun berusaha lepas dari akar ketimuran Asia.

Rasa gamang itu disebut Pamuk sebagai hüzün. Sebuah melankoli, suasana murung, yang menjangkiti keseharian masyarakat Istanbul. Seperti halnya selat Bosporus yang selalu dirundung kabut tebal. Suram dan ngelangut. Perasaan yang sama juga hadir melalui karya Ara Güler, fotografer jalanan yang karyanya banyak dipakai sebagai ilustrasi bagi memoar Pamuk.

Sebagai sebuah karya fiksi, kota dibangun oleh persepsi warganya. Namun secara resiprokal, diam-diam kota juga membentuk pengalaman keseharian yang tidak dapat dihindari oleh masyarakat yang tinggal di dalamnya. We shape our buldings city, and afterwards our buildings city shape us. Begitu kalau saya boleh memelintir ucapan Winston Churchill.

Pada sebuah kota kecil yang dikuasai kartel narkoba seperti Juárez, Meksiko, kekerasan menjadi realitas keseharian yang diinternalisasi oleh seluruh warga kota. Sehingga suara tembakan dan kematian menjadi banal dan wajar. Sedangkan kepribadian warga Jakarta menjadi begitu sabar karena dibentuk oleh hari-hari penuh antrian, kemacetan, dan penggusuran.

Dalam kasus lain, penataan sebuah kota memiliki kemampuan untuk merekayasa perilaku sosial sebuah masyarakat. Kota yang memiliki banyak mall dan gempuran citra billboard yang menghadang pandangan, warganya mudah sekali untuk menjadi konsumtif. Setiap akhir pekan, pusat-pusat perbelanjaan tersebut akan dipenuhi kelas pekerja yang membutuhkan leisure, yang menurut Lefebvre sebagai “radical break” dari kepenatan sehari-hari sebagai warga kota.

Keputusan warga untuk menghabiskan waktu di mall sebetulnya adalah investasi yang sudah bisa diramalkan oleh para pemodal. Dengan mendorong otoritas perancang ruang kota untuk membangun lebih banyak pusat perbelanjaan dibanding ruang publik yang bersifat rekreatif, maka warga sebetulnya tidak punya pilihan lain untuk melakukan leisure.

Pemerintah São Paulo sadar betul akan hal tersebut, sehingga menerbitkan pelarangan terhadap iklan luar ruang di kotanya dan menggalakkan ruang (dan kegiatan) publik sebanyak-banyaknya. Gunanya, sebagai sebuah alat yang efektif untuk membangun suasana demokrasi dan keterlibatan warga terhadap kotanya. Dukungan serta keterlibatan warga ini merupakan ramuan mujarab untuk mewujudkan lingkungan yang ramah dan berkelanjutan.

Sebaliknya, suasana demokratis akan sulit diwujudkan pada kota yang pelit ruang publik. Anda bisa bayangkan, apa jadinya Arab Spring tanpa Tahrir Square atau gelombang demokrasi di Cina pada tahun 1989 tanpa hadirnya lapangan Tiananmen?

Atau barangkali, jika memang para pemilik kontrol ruang tidak juga memberikan ruang hidup yang layak bagi warganya, itu tanda bagi wong cilik untuk segera kembali turun ke jalan dan -sekali lagi- menduduki gedung dewan.

Ayos Purwoaji
Ayos Purwoaji adalah seorang penggemar wacana dan arsip arsitektur. Sehari-hari menjalankan peran sebagai dosen ilmu budaya di sebuah universitas swasta di Surabaya.