Volume 1: Intervensi

1199 Views |  1

Setiap individu terlahir dalam sebuah kehidupan kolektif yang dikenal dengan nama “komunitas.” Secara eksplisit maupun implisit; ilmu, budaya, dan cara hidup sebuah komunitas akan tercetak dalam diri individu.

Dalam upaya para kontributor menjawab call-for-paper Ruang edisi 9 bertema “komunitas,” kami mendapat sebuah gambaran pemaknaan saat ini tentang istilah tersebut; yang kerap disandang, disematkan, bahkan barangkali diklaim oleh mereka yang punya misi meredefinisi kungkungan perencanaan dan otoritas formal dengan berupaya melakukan segala sesuatu dari lingkaran terkecil di sekitar mereka. Serangkaian gerilya. Sebagian dari mereka memaknai komunitas sebagai potensi; objek. Bagi yang lain, komunitas adalah jiwa; penggerak subjek.

Kontributor untuk Ruang edisi 9 ini datang dari beragam konteks. Hal ini diharapkan akan memperluas pemahaman terhadap “komunitas” dari ranah arsitektur yang berusaha tidak terbatas pada satu ruang berpikir dan profesi tertentu. Penggunaan bahasa Inggris dalam beberapa artikel dari kontributor asing pun juga bagian dari membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas. Semoga diversitas bahasa dalam satu wadah ini tidak membuat kami kehilangan konsistensi tema dalam kandungan informasi yang kami sampaikan.

Kami berhasil mengumpulkan 17 artikel yang terbagi ke dalam dua volume berdasarkan kategori: “Intervensi” dan “Refleksi.” Kategori “Intervensi” diperuntukkan bagi artikel yang membuka pencarian, aktualisasi, dan implementasi yang mengamini nilai-nilai yang diimani. Kemudian, artikel-artikel dalam kategori “Refleksi” hadir sebagai sekumpulan konsepsi yang mengevaluasi hal-hal yang telah terjadi.

Tujuh pemasukan dalam kategori “Intervensi” datang dari para pelaku komunitas di berbagai konteks ruang dan pemahaman. #donotsettle membuka rangkaian wacana dengan pengalaman mereka mengokupasi ruang publik di ketinggian garis langit kota Shanghai dalam artikel “Architects Don’t Sit, Architects Walk.” Kemudian Rian Afriadi menawarkan perspektifnya terhadap komunitas pecinta Jepang dari balik lensa kameranya dalam esai foto bertajuk “Ruang untuk Menjadi Orang Lain.” Sementara Alex Lee, seorang pegerilya urban yang berasal dari Perak, Malaysia, bercerita tentang gerakannya mengintervensi sistem bus di Ipoh yang berjudul “Ipoh Bus Project: Placemaking Through the Transit Community as A Grassroot Effort.” Selanjutnya, sebuah wawancara dengan Jorge Anzorena oleh Maria Dewi akan memaparkan tentang seluk-beluk organisasi Slum Dweller International. Sementara Putu Ayu Amita Sari membagi pengalamannya  di LSM Habitat for Humanity Indonesia cabang Batam dalam artikel “Membangun Bersama Masyarakat: Sebuah Cerita dari Kaum Pinggiran.” Muh. Darman dari Ruang17 kemudian bercerita tentang Spedagi dan kisah di baliknya yang berjudul “Village is A Future Community: Sebuah Catatan Berdasarkan Presentasi Singgih S Kartono.” Hingga akhirnya, “Bincang Siang Bersama Marco Kusumawijaya: Komunitas sebagai Alternatif Masa Depan” oleh Rofianisa Nurdin dan M. Yusni Aziz menutup rangkaian wacana volume “Intervensi” yang dapat memberi gambaran untuk volume selanjutnya, yaitu “Refleksi.”

Dalam euforia memaknai kebebasan bicara dan berwacana secara lantang di ruang publik, fenomena di atas sedikit banyak memberi andil dalam melahirkan beragam subkultur yang memperkaya kehidupan di ruang kota. Meski pada akhirnya, bagaimana kita memaknai kehadiran mereka, akan kembali lagi kepada keberpihakan kita kepada nilai-nilai  yang mereka bawa.

Selamat memilih sudut pandang, selamat menikmati Ruang!

 

admin
Ruang adalah sebuah majalah online bertema arsitektur, kota, dan lingkungan binaan, beserta segala permasalahannya. Kami tertarik dengan cara pandang yang beragam dalam melihat sebuah tema; karenanya, kami mengambil sebuah posisi yang objektif dengan memberikan kesempatan kepada setiap pandangan untuk menyuarakan argumennya. Tidak ada benar dan salah dalam berpendapat, yang ada hanya argumen yang lebih berdasar. Kami percaya bahwa konsensus bukanlah sebuah tujuan. Karenanya kami berupaya agar setiap edisi diwarnai oleh beragam kontributor: praktisi, akademisi, pengamat, penikmat, pengguna, patron maupun kritikus dari berbagai disiplin ilmu.

Ruang tidak mencari solusi terhadap sebuah permasalahan yang diangkat dalam setiap tema. Bagi kami, untuk saat ini merupa pertanyaan yang baik dan tepat lebih diperlukan daripada terburu-buru mengambil solusi. Maka, setiap edisi akan dibuka oleh sebuah pertanyaan berupa call for paper yang akan melahirkan sebuah edisi. Dan, edisi tersebut menjadi pengantar bagi sebuah temuan awal dari tema yang ditampilkan. Namun edisi tersebut belum akan ditutup, dan akan terus dibuka untuk mencari cara pandang lain mengenai permasalahan dalam tema tersebut.