Komunitas Online di Era Media Sosial dan Perannya dalam Menciptakan Ruang Publik

4151 Views |  Like
Sebuah ruang publik di Brisbane, Australia. (Foto: Sigit Kusumawijaya)

Sebuah ruang publik di Brisbane, Australia. (Foto: Sigit Kusumawijaya)

Ruang publik adalah sebuah ekosistem yang dapat memberi ruang tumbuh bagi peradaban manusia. Ruang ini menjadi modal sosial dan ekonomi bagi masyarakat untuk tumbuh dan berkembang secara sehat dan produktif.

Menurut Jurgen Habermas, ruang publik memiliki peran yang berarti dalam proses berdemokrasi. Ruang publik merupakan wadah diskursus masyarakat, tempat warga negara dapat menyatakan opini, kepentingan, dan kebutuhan mereka secara diskursif. Sifatnya harus bebas, terbuka, transparan, dan tidak ada intervensi pemerintah di dalamnya; dengan kata lain otonom. Ruang publik harus mudah diakses oleh semua orang. Melalui ruang publik ini masyarakat atau warga dapat menghimpun solidaritas dan kekuatan untuk melawan mesin-mesin pasar atau kapitalisme dan mesin-mesin politik.

 

RUANG KREATIF PUBLIK

Intervensi ruang publik oleh Cepot dan kawan-kawan, Jakarta. (Foto: Sigit Kusumawijaya)

Intervensi ruang publik oleh Cepot dan kawan-kawan, Jakarta. (Foto: Sigit Kusumawijaya)

Ruang publik kreatif dapat bekerja dengan baik jika dapat mengakomodasi ekspresi komunitas-komunitas. Ada sebelas prinsip untuk menciptakan sebuah ruang komunitas (ruang bersama) yang baik yang dirangkum oleh Project for Public Space (PPS). Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini ruang publik akan bertransformasi menjadi sebuah ruang bersama yang kaya dan hidup, tempat taman, plaza, lapangan terbuka, jalan kendaraan, area pejalan kaki, atau segudang ruang outdoor dan indoor lainnya yang memiliki kesamaan kegunaan publik. Prinsip-prinsip tersebut yaitu:

  1. Komunitas atau masyarakat lokal adalah ahli
  2. Menciptakan tempat, bukan merancangnya
  3. Mencari mitra untuk bekerja sama
  4. Melakukan pengamatan secara mendalam
  5. Mempunyai sebuah visi jangka pendek, menengah, dan panjang
  6. Mulai dengan hal-hal yang mudah, cepat, dan murah
  7. Triangulate: menyediakan peluang bagi orang yang sama-sama asing untuk melakukan kontak dan berbicara dengan memberi stimulus eksternal, misalnya, penempatan bangku taman, tempat sampah, dan telepon umum yang berdekatan
  8. Mulai dengan skala kecil komunitas/warga secara bersama untuk memelihara perbaikan “tempat”
  9. Bentuk yang mendukung fungsi ruang publik tersebut
  10. Uang bukan masalah
  11. Kelestarian ruang publik karena tidak pernah berujung

 

KOMUNITAS ONLINE DI ERA MEDIA SOSIAL

Sejalan dengan perkembangan jaman, ruang publik telah meluas melampaui ranah fisik dan geografis yang dapat dinikmati secara langsung. Informasi dan teknologi komunikasi telah berkembang pesat di kota-kota besar di Indonesia dalam dua dekade terakhir. Saat ini, dengan kecanggihan teknologi, ruang publik juga hidup di dunia maya. Hal ini membuat perubahan dalam berkegiatan sosial-budaya ekonomi, sosial, dan kelembagaan terutama di perkotaan. Terciptakah bentuk konektivitas baru antar manusia yang tidak lagi terbatas oleh kehadiran fisik dan letak geografis. Muncullah fenomena komunitas yang semakin umum dikenal sebagai komunitas jejaring.

Fenomena adiksi penggunaan gadget dan media sosial di kota-kota besar di Indonesia. (Foto: internet)

Fenomena adiksi penggunaan gadget dan media sosial di kota-kota besar di Indonesia. (Foto: internet)

Kemudahan mengunduh aplikasi di internet mempermudah penggunanya untuk membentuk komunitas online berdasarkan kesamaan kepentingan dan ketertarikan. Komunitas online adalah kumpulan orang (masyarakat) yang melakukan kegiatan dalam bentuk pertukaran informasi dan pengetahuan dengan bantuan Information and Communications Technology (ICT). Komunitas online dapat dibentuk dengan hanya beberapa orang atau anggota yang terbatas. Beberapa contoh komunitas online misalnya komunitas alumni atau hobi. Komunitas ini menjadi contoh bahwa konektivitas tidak terbatas oleh pertemuan secara fisik, bisa juga melalui dunia maya. Ini adalah fenomena menarik untuk dikaji karena jenisnya beragam, walaupun pada kenyataannya, kegiatan ini masih memerlukan pertemuan fisik secara real time dan ruang. Keberadaan komunitas online ada yang bertahan lama atau hanya sementara. Minat yang mendorong pembentukan komunitas online adalah representasi dari aktualisasi diri manusia yang tidak cukup dengan memenuhi kebutuhan primer dan sekunder di dunia nyata (Maslow dalam Williams, 1995). Kecenderungan terhadap penggunaan facebook, twitter, path, mailing list, whatsapp, dan lainnya memperlihatkan bahwa anggota kelompok online tidak tunggal, namun bisa terdiri dari berbagai macam latar belakang.

Beberapa komunitas online yang akan dibahas selanjutnya adalah komunitas-komunitas yang menggunakan teknologi media sosial untuk berkomunikasi dan berinteraksi, kemudian melakukan pertemuan secara langsung untuk menciptakan ruang publik kreatif yang baru \untuk menciptakan kota yang lebih nyaman dan layak huni.

 

Indonesia Berkebun

Indonesia Berkebun adalah komunitas yang bergerak melalui jejaring sosial (baik itu twitter, facebook, blog) untuk menyebarkan semangat positif agar lebih peduli terhadap lingkungan dan perkotaan dengan program urban farming. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan lahan tidur di kawasan perkotaan yang diubah fungsi menjadi lahan pertanian/perkebunan produktif dengan peran serta masyarakat sekitar. Semangat ini berawal dari media sosial twitter @Idberkebun yang disambut baik oleh para netizen yang menginginkan kota yang lebih sehat, lebih hijau, dan lebih membawa manfaat. Dengan semangat untuk berbagi, para “sahabat berkebun” menjadi buzzers dan influencers, baik di twitter maupun jejaring sosial lainnya. Sehingga saat ini Indonesia Berkebun sudah berkembang di lebih dari 31 kota & 9 kampus di Indonesia, tergabung  dalam jejaring Indonesia Berkebun yang memiliki visi dan tujuan yang sama.

Penyebaran beberapa jejaring komunitas Indonesia Berkebun di seluruh Indonesia. (Grafis: Sigit Kusumawijaya)

Penyebaran beberapa jejaring komunitas Indonesia Berkebun di seluruh Indonesia. (Grafis: Sigit Kusumawijaya)

Selain kegiatan-kegiatan berkebun di lapangan, dalam mengedukasi, Indonesia Berkebun mengembangkan kelas @akademiberkebun untuk belajar berkebun dan bisnis tentang agrikultur yang diberikan kepada publik secara cuma-cuma. Kelas ini biasa dilakukan secara offline di beberapa tempat yang membutuhkan edukasi, seperti kelompok masyarakat, perusahaan maupun sekolah-sekolah TK ataupun SD.

Indonesia Berkebun sudah banyak mendapatkan apresiasi, baik dari media ataupun penghargaan berskala nasional hingga internasional, seperti Google Asia Pacific Awards 2011 (kategori: “Web Heroes”), Nutrifood Inspiring Movement 2014, ataupun shortlisted di Ashoka Changemakers 2013.

Indonesia Berkebun bercita-cita untuk menularkan semangat urban farming ini kepada warga lainnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan perkotaan. Agar kota menjadi lebih hijau, bersih, sehat nyaman dan mempunyai nilai dan kualitas yang tinggi untuk ditinggali oleh generasi penerus, dan memiliki kemandirian pangan.

 

Keuken Bandung

Keuken adalah festival makanan sehari yang membahas isu pemanfaatan ruang publik kota melalui kebijaksanaan budaya yang terinspirasi dari jalanan. Keuken adalah gabungan dari beberapa komunitas yang mencintai kuliner lokal dan sebuah upaya untuk memecahkan kemonotonan kehidupan perkotaan dengan cara mereklamasi ruang publik. Komunitas ini mempertanyakan kembali peran kota dan kejujuran kota di dalam kehidupan sehari-hari. Keuken juga berusaha mengungkapkan kesenjangan yang hilang di antara dua hal menarik antara kenikmatan nafsu makan sehari-hari dan kebutuhan ruangnya pada waktu yang sama.

Keramaian acara Keuken Bandung. (Foto: internet)

Keramaian acara Keuken Bandung. (Foto: internet)

Keuken merayakan perebutan ruang kota dengan kemeriahan kebutuhan dasar manusia, yaitu makan. Keuken berusaha mengumpulkan kaum muda kota dengan memangaatkan potensi laten dari budaya jongkok dalam masyarakat Indonesia dikombinasikan dengan atraksi makanan jalanan. Keuken mempertemukan masyarakat lokal dan komunitas kreatif untuk berkomunikasi dan bertukar pikiran. Setidaknya untuk satu hari, kota dengan warga dan masyarakatnya dapat mempertontonkan bakat dan potensinya masing-masing. Lebih dekat untuk berbicara dan melakukan sesuatu yang memungkinkan untuk kota.

 

KEMUDAHAN PENYEBARAN KOMUNITAS ONLINE DI INDONESIA

Belajar dari kasus komunitas-komunitas online di atas, dapat dilihat bahwa gerakan atau aksi komunitas dapat dimobilisasi dengan jaringan yang besar. Kemajuan informasi dan teknologi komunikasi di era ini telah memfasilitasi berbagai gerakan sosial. Beberapa ‘Buzz’ gerakan sosial memiliki jangkauan yang luas, namun langsung dan personal.

Menurut Pontoh (2012), seorang pakar media sosial, Indonesia adalah satu-satunya “negara maritim kepulauan terbesar di dunia”. Ini menentukan perilaku sosial masyarakatnya yang unik yang berbeda dari seluruh dunia. Masyarakat Indonesia memiliki perilaku orang maritim yang sangat ramah dan terbiasa saling membantu orang di sekitarnya serta berkolaborasi dalam keragaman yang damai. Itulah sebabnya masyarakat Indonesia cenderung senang untuk berkumpul. Ini dapat dilihat melalui warisan kearifan lokal seperti pada arisan, pengajian, atau sekedar nongkrong di warung kopi. Seperti halnya keramahan dan sambutan selamat datang untuk tamu yang tercermin melalui pembagian dapur yang kering dan dapur yang basah pada rumah-rumah masyarakatnya. Dengan alasan tersebut, masyarakat Indonesia cenderung sangat mudah untuk dikumpulkan atau diminta bantuan jika ada sesuatu yang menarik, yang lain pun ikut bergabung, dengan kata lain sering disebut ‘latah’. Fenomena ini juga yang timbul di era media sosial sekarang ini, yang membuat pembentukan  komunitas online dan mengumpulkan anggotanya untuk bertemu secara fisik sangatlah mudah di Indonesia. Hal ini juga menunjukkan bahwa aktivitas komunitas online telah membawa konektivitas baru manusia.

 

 PENCIPTAAN RUANG PUBLIK BARU OLEH KOMUNITAS ONLINE

Komunitas-komunitas online kreatif seperti di atas, selain menciptakan ruang publik di dunia maya juga menciptakan ruang-ruang bersama secara fisik di ranah publik sesuai dengan tujuan dan visi mereka masing-masing. Melalui dunia maya seperti media sosial, anggota komunitas saling berinteraksi dan berkomunikasi yang membentuk dialog dan diskursus hingga akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan aktivitas atau gerakannya secara offline. Dengan pertemuan secara offline tersebut, ruang bersama di ranah publik tercipta. Indonesia Berkebun dan Keuken Bandung mengampanyekan visi masing-masing melalui media sosial. Dan setelah diputuskan oleh penggiat ataupun hasil diskusi dengan anggota-anggota komunitasnya, mereka berkumpul dan melakukan kegiatannya masing-masing. Indonesia Berkebun dengan 40 jejaring-nya di seluruh Indonesia memanfaatkan lahan di area perkotaan untuk dijadikan lahan pertanian kota sebagai sebuah ruang publik bersama yang baru untuk dimanfaatkan warga sekitarnya. Keuken Bandung memakai area jalanan ataupun taman untuk dimanfaatkan para anggota komunitasnya maupun warga kota Bandung secara keseluruhan sebagai ruang publik bersama dengan merayakannya dengan cara membuat festival kuliner dan acara-acara menarik lainnya.

Ruang publik alternatif berupa kebun komunitas yang tercipta oleh komunitas Indonesia Berkebun. (Foto: Indonesia Berkebun)

Ruang publik alternatif berupa kebun komunitas yang tercipta oleh komunitas Indonesia Berkebun. (Foto: Indonesia Berkebun)

Ruang-ruang publik baru tercipta oleh komunitas-komunitas online tersebut yang masing-masing mempunyai tujuan dan visi yang positif. Mereka menggunakan kekuatan komunitas dengan perencanaan bottom-up yang akan terus tumbuh, setelah perencanaan dengan metode top-down terus-menurus ‘gagal’ untuk memberikan kebutuhan ruang publik. Namun secara intuitif, seharusnya gerakan akar rumput ini tetaplah bersifat informal. Komunitas-komunitas ini harus tetap berbentuk komunitas dengan aksi mereka yang walaupun bersifat informal namun harus dapat mempengaruhi kebijakan dan legalitas yang sifatnya formal. Karakter ini harus tetap dipertahankan sebagai sebuah sistem bipolar dan oposisi: komunitas dan pemilik modal dengan pemerintah. Dengan dualisme ini, kedua entitas akan terus tumbuh dan saling mengevaluasi kota dan kebijakannya; sebagai sebuah putaran apropriasi, evaluasi dan perancangan kota kembali yang menerus.

KESIMPULAN

Sejalan dengan perkembangan jaman, ruang publik pun telah meluas melampaui ranah fisik dan geografis yang dapat dinikmati secara langsung, namun ruang publik juga terdapat di dunia maya dengan kecanggihan teknologi. Masyarakat Indonesia cenderung senang untuk berkumpul, ini dapat dilihat melalui warisan kearifan lokal seperti di dalam arisan, pengajian, atau sekedar nongkrong di warung kopi. Fenomena ini juga yang timbul di dalam era media sosial sekarang ini, di mana membentuk komunitas online dan kemudian mengumpulkan anggotanya untuk kopi darat atau bertemu secara fisik sangatlah mudah di Indonesia. Dengan pertemuan secara offline tersebutlah akhirnya ruang bersama di ranah publik tercipta. Mereka menggunakan kekuatan komunitas dengan perencanaan memakai metode bottom-up yang akan terus tumbuh, setelah perencanaan dengan metode top-down terus-menurus ‘gagal’ untuk memberikan kebutuhan ruang publik.

 DAFTAR PUSTAKA

 BASUKI, Yudi., PRADONO, AKBAR, Roos.,  and MIHARJA, Miming. (2012). Online Community: Human Connectivity in a Virtual Space and its Implications to Human Movement. Bandung. Proceeding of Arte-Polis 4 International Conference.

HARDIMAN, Fresco Budi. (2009). Demokrasi Deliberatif. Yogyakarta. Penerbit Kanisius.

HUTAPEA, Hodlan. (2012). Mengembalikan Fungsi Ruang Publik. Harian Analisa. http://www.analisadaily.com. Accessed on 5 December 2012.

INDONESIA BERKEBUN, (2011). Indonesia Berkebun Concept. Jakarta

JULIANERY, BE. (2007). Kembalikan Ruang Publik. Klik Nusa. http://kliknusa.blogspot.com. Accessed on 1 December 2012.

KURNIAWAN, Ivan. (2012). Open Source City: Towards Collective Place Making. Bandung. Proceeding of Arte-Polis 4 International Conference.

KUSUMAWIJAYA, Sigit. (2012). Urban Farming as an Act for Community Empowerment. Bandung. Proceeding of Arte-Polis 4 International Conference.

PONTOH, Shafiq. (2012). How Conversation Become a Movement. Jakarta. Provetic.

PROJECT FOR PUBLIC SPACE (PPS). Eleven Principles for Creating Great Community Places http://www.pps.org. Accessed on 1 December 2012.

TANUWIDJAJA, Gunawan. Menciptakan Ruang Kreatif Publik di Surabaya. http://diy.c2o-library.net. Accessed 5 December 2012.

WILLIAMS, RN and Slife BD. (1995). What’s behind the research: Discovering hidden assumptions in the behavioral sciences, Sage Publikations, Inc, Printed in the United Stated of America.

 

Sigit Kusumawijaya
Arsitek yang juga seorang urban designer ini adalah seorang creative adeventurer. Lahir di Jakarta pada 14 November 1981, Sigit Kusumawijaya telah menyelesaikan beberapa proyek desain, tulisan dan penelitian yang lingkupnya sangat beragam dan luas dari arsitektur, perencanaan kota & lingkungan, desain grafis, sinematografi hingga proyek musik serta menginisiasi berbagai gerakan sosial masyarakat.
Lulusan Delft University of Technology (TU Delft), Belanda, untuk jurusan Urbanism dengan gelar Master of Science dan Sarjana Teknik Arsitektur dari Universitas Indonesia untuk jurusan Arsitektur ini, dengan keterampilan interpersonal yang dimilikinya, Sigit berhasil memperoleh beberapa penghargaan dan juga publikasi serta menjadi pembicara di beberapa seminar atau konferensi yang ia ikuti dari skala nasional hingga internasional. Salah satu penghargaan individu yang ia dapatkan yaitu menjadi finalis Satu Indonesia Award 2011: "Indonesia inspiratif Youth", yang diprakarsai oleh Astra Indonesia.
Dengan pengalamannya, ia pernah bekerja di beberapa perusahaan baik di dalam maupun luar negeri seperti di kantor arsitek internasional Ken Yeang, Malaysia; project architect di Andra Matin Architects, Jakarta; urban designer di Mei Architecten & Stedenbouwers BV, Belanda; dan senior architect & urban designer di PT MRT Jakarta. Saat ini Sigit adalah Principal Architect di perusahaan konsultan yang ia dirikan dengan nama sigit.kusumawijaya | architect & urbandesigner (www.sigitkusumawijaya.com).
Dengan rekan-rekannya ia mendirikan komunitas Belajar Desain, sebuah komunitas desainer terbuka untuk desainer muda, seniman, arsitek dan praktisi desain lainnya, juga menginisiasi Indonesia Berkebun, sebuah komunitas pertanian perkotaan yang menyebarkan semangat positif untuk warga kota agar lebih peduli terhadap lingkungan, yang pernah mendapatkan penghargaan Goggle Awards 2011: “Web-Heroes” oleh Google Asia Pacific dan finalis untuk Ashoka Changemakers 2013 "Nutrients for All". Sigit saat ini juga menjadi Executive Steering Committee (SC) untuk Atap Jakarta - House Vision Indonesia, sebuah organisasi yang melakukan aktivitas difokuskan pada "hunian masa depan" di Jakarta.