Kantong Komunitas: Isolasi atau Solusi

1166 Views |  Like

(Oleh Ivan Kurniawan Nasution dan Anessa Hasibuan)

“… residential areas with restricted access in which normally public spaces are privatized. They are security developments with designated perimeters, usually walls or fences, and controlled entrances that are intended to prevent penetration by nonresidents… and they are found from the inner cities to the exurbs and from the richest neighbourhoods to the poorest” 
(Blakely, 1997a, p2).

1. Kantong komunitas dan lahirnya Manusia kapsul

Kantong Komunitas
Lalu apakah itu kantong komunitas? Apa itu kantong dan apa itu komunitas?

Agglomerasi penduduk di sebuah kawasan perumahan membentuk, terlepas dari ada atau tidaknya interaksi, sebuah komunitas. Komunitas dibalik pagar setinggi 2-3 m, lengkap dengan pecahan beling atau kawat berduri, mereka seolah menutup diri, atau lebih tepat melarikan diri, dari lingkungan sekitar dan membuat kantong-kantong ‘aman’ ditengah-tengah struktur perkotaan.

Lalu apa penyebab (kita) mereka melarikan diri dari lingkungan sekitar, dari kota? Atau mengapa (kita) mereka dikantong-kantongkan?

Ledakan ekonomi pada awal tahun 1970, akibat suksesnya rezim Soeharto memupuk kapitalisme membuat sebagian lapisan masyarakat menikmati kemakmuran yang melimpah. Lahirlah strata sosial baru bernama Orang Kaya Baru (OKB) yang pula melahirkan tipologi rumah gedong yang untuk pertama kalinya rumah digunakan untuk merepresentasikan status sosial.

Berita-berita kriminalitas yang ditayangkan oleh media, yang kurang objektif, bahkan tak jarang dipolitisasi, atas nama rating, membombardir masyarakat kita dan membuat sebuah atmosfir ketakutan yang luar biasa. Sebuah hyperrealitas, realita yang digambarkan secara berlebihan, lahir dan menggantikan realita yang sebenarnya. Kita semakin menjaga jarak dengan orang lain, kita semakin menutup diri, kita semakin kehilangan rasa simpati, kita semakin hilang harapan dengan masyarakat (society), dan yang ada hanyalah diri sendiri.

Manusia kapsul
Dalam kantong komunitas, kita dapat mengontrol tamu yang boleh masuk dan tidak, kita dapat dengan tenang membiarkan anak bersepeda tanpa ditemani, kita bisa menjauh dari suasana hiruk pikuk kota yang penuh polusi, kemiskinan dan kemacetan serta infra-realitas lainnya, kita bisa berjalan menikmati indahnya alam buatan di dalam kompleks, dan kita bisa menikmati fasilitas olahraga dan rekreasi kapan saja. Semua terjadi dalam sebuah benteng pertahanan yang kokoh.

Kita manusia kapsul, yang hidup dalam kantong komunitas. Dengan pola hidup yang ter-kapsularisasi. Dengan kehidupan komuter yang monoton. Bepergian dari satu kapsul ke kapsul lain. Dari rumah kita di lingkungan kantong komunitas, dilengkapi dengan kamera cctv dan alarm serta pengkondisian udara, yang otonom dari lingkungan sekitar; ke dalam mobil SUV dengan penghawaan buatan dan terkunci rapat, menuju satu shopping mall ke shopping mall yang lain, dari kafe, hingga ke diskotik yang terputus dari dunia luar, ruangan kantor (lagi-lagi) dengan penghawaan buatan dan kluster kubikal.

Ruang kota hanyalah koridor infrastruktur, hanya pipa-pipa saluran, hanya tempat transit yang cukup dilalui saja. Kehidupan kota hanya dipenuhi mobil-mobil berpolusi, kemacetan, serta kemiskinan dan kriminalitas yang juga merupakan ancaman bagi manusia kapsul.

Gerbang Blok

Gerbang Blok

2. Katalog Arsitektur tematik Indonesia

Ledakan ekonomi tahun 1970an dan Orang Kaya Baru (OKB) meninggalkan artefak berupa tipologi rumah gedong yang secara esensial berusaha mengekspresikan kekayaan dan status sosial mereka melalui desain rumah yang monumental dan eklektik. Elemen-elemen desain dari arsitektur Yunani, Romawi dibongkar secara paksa dan disusun kembali dengan komposisi baru tanpa memperhatikan keteraturan (order), hirarki dan proporsi. Semua dipadu-padankan secara eklektik. Sejarah tereduksi menjadi sebuah langgam.

Eklektik-isme ini bukan hanya terjadi pada ‘langgam’ arsitektur asing saja. Namun dipraktekan pula oleh rezim Soeharto, pada masa itu terjadi kerinduan yang luar biasa terhadap arsitektur tradisional kita, arsitektur nusantara, dibuatlah sebuah kebijakan bahwa kantor-kantor pemerintahan daerah perlu merepresentasikan daerah asal. Penggunaan elemen atap rumah tradisional pada kantor-kantor pemerintahan didaerah, yang merupakan interpretasi tradisional yang nostalgik.

Secara cepat, hype eklektik menyebar, penggunaan elemen arsitektur asing menjadi sebuah pernyataan dan penetapan sebuah kelas sosial baru, layaknya bourguise Eropa. Orang berlomba membangun rumah sebesar-besar nya dengan elemen arsitektur Eropa semegah-megahnya, demi status sosial. Hingga pada sekitar 1990an, ketika gated community mulai berkembang pesat di Indonesia, hype ini ditangkap oleh pengembang properti untuk diproduksi secara massal. Hype ini pun beralih dari lapisan masyarakat kelas atas kepada lapisan masyarakat menengah.

Seketika bermunculan perumahan bergaya Romawi, Yunani, atau Mediteranean. Jakarta menjadi katalog arsitektur yang mengarsipkan berbagai ‘langgam’ arsitektur dunia. Seolah kita tidak perlu keliling dunia untuk melihat arsitektur. Cukup berkunjung ke salah satu kantong komunitas di Jakarta, dan kita bisa melihat berbagai macam order : doric, ionic, corinthian dan lainnya. Pengembang properti pun berusaha lebih ekstrim untuk menghidupkan suasana tematik menjadi lebih kental: menggunakan potongan jalan, street furniture tertentu hingga icon suatu negara atau kawasan pun dicaplok untuk menyempurnakan. Kita tidak perlu berjalan di gurun Mesir untuk melihat sphinx dan pyramid; kita tidak perlu ke Belanda untuk melihat kincir angin berputar; kita dapat berfoto dengan menara Eiffel tanpa harus terbang ke Paris; hingga kita tidak perlu kembali ke masa prehistory untuk melihat dinosaurus.

Hiper-realitas menjadi realitas; tersusun dari hal nyata yang dilebih-lebihkan.
Apa yang terjadi dengan Arsitektur Indonesia? Apakah ini yang akhirnya akan kita sebut sebagai Arsitektur Indonesia?

3. Pengembang Properti: apakah mengembangkan?

Pengembang properti dalam hal ini adalah perusahaan swasta yang memiliki usaha di bidang properti. Lalu, jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, properti memilki arti harta berupa tanah dan bangunan serta sarana dan prasarana yang merupakan bagian yang tak terpisah dari tanah dan/ atau bangunan yang dimaksudkan; tanah milik dan bangunan. Melalui penjabaran di atas, didapat pengertian secara tersirat arti dari pengembang properti itu sendiri. Pengembang properti tidak harus merupakan pihak swasta. Pemerintah pun dapat menyelanggarakan peranannya dalam bidang properti melalui suatu badan usaha milik negara.

Pengembang properti sangat besar peranannya dalam perkembangan suatu kota atau daerah bahkan mungkin untuk suatu negara. Pengembang properti dapat meningkatkan kualitas suatu area atau kota dengan membangun sebuah sarana dan prasarana seperti perumahan, pusat perbelanjaan, gedung perkantoran sewa atau bahkan sebuah taman hiburan seperti yang berlokasi di Ancol, Jakarta Utara. Secara khusus kita dapat melihat perkembangan kawasan Tangerang, Banten. Dalam beberapa tahun belakangan ini, muncul beberapa komplek perumahan dengan keunggulan masing-masing, baik dalam hal fasilitas maupun gaya arsitektur.

Konsep ‘spirit of place’ hilang, berubah menjadi ‘re-creation of place’. Bahkan ‘place’ menjadi sesuatu yang tak bermakna

Konsep ‘spirit of place’ hilang, berubah menjadi ‘re-creation of place’. Bahkan ‘place’ menjadi sesuatu yang tak bermakna

Kota-kota satelit atau perumahan di luar Jakarta menjadi pilihan favorit bagi keluarga nuklir kontemporer, karena tawaran fasilitas, kenyamanan atau keasrian lingkungan ‘baru’ ini dan harga yang cukup terjangkau bagi kaum kelas menengah ke atas untuk memperoleh luasan tanah yang tidak mungkin mereka dapatkan di pusat kota dengan harga yang sama. Meningkatnya permintaan terhadap perumahan di daerah pinggiran Jakarta ini, membuat sejumlah kalangan pengembang properti berlomba-lomba untuk menciptakan lingkungan binaan baru dengan terus berusaha membuat pembaharuan (baca: berusaha untuk berbeda). Hal ini juga didukung oleh pemerintah melalui pembangunan sejumlah jalan tol dengan akses langsung menuju daerah-daerah ini.

Melihat fenomena perkembangan di atas, kita dapat merasakan adanya keuntungan-keuntungan bagi warga negara yang mempunyai daya beli tempat tinggal di daerah-daerah tersebut. Tetapi jika kita lihat lebih lanjut, berkembangnya sejumlah kota-kota satelit dan juga perumahan yang sedemikian cepat, tidak dibarengi dengan perkembangan jalan yang ada. Alhasil, pada jam-jam tertentu seperti jam keberangkatan ke kantor dan pulang kantor, sejumlah pintu-pintu tol padat dengan antrian. Demikian juga di dalam jalan tol itu sendiri, tidak dapat dijamin akan lebih lancar dari jalan biasa.

Lalu, bagaimana dengan jalan umum yang tidak termasuk di dalam pengembangan baru tersebut namun menjadi akses menuju daerah pengembangan ini? Ya, dibiarkan saja seperti apa adanya yang walaupun menjadi rusak karena lalu lalangnya truk pengangkut bahan-bahan bangunan untuk melaksanakan pembangunan baru tersebut. Hal ini begitu saja menjadi urusan pemerintah, karena tidak termasuk di dalam daerah perencanaan atau ketertarikan para pengembang properti ini.
Bagaimana dengan regulasi mengenai pembangunan seperti ini?

Apakah ada bentuk-bentuk kerja sama pemerintah dengan para pihak swasta? Adakah alat-alat kontrol berupa undang-undang yang mengatur hal-hal yang saling terkait itu?

4. Epilog: Solusi atau Isolasi

Apakah pengembang properti telah melakukan tugas-nya untuk mengembangkan sebuah kawasan, atau malah menggerogoti struktur kota kita dengan menggerogoti infrastruktur publik tanpa memberikan kontribusi apa-apa kepada kota? Dengan peran pengembang properti yang memiliki andil yang cukup signifikan dalam membentuk kehidupan bermasyarakat kita, apakah mereka telah melakukan tugasnya dengan baik dengan membangun kantong-kantong tersebut.

Di luar pagar gated community adalah dunia lain, sama sekali asing, yang berbahaya bagi manusia kapsul. Sebuah dunia yang keras dan membutuhkan ketangguhan. Sebuah dunia yang akan memakan kita, manusia kapsul, jika kita tidak hati-hati. Sebuah kumpulan infra-realitas, kemiskinan, ketidakteraturan, kriminalitas, kerusuhan, kemacetan dan segala keburukan lainnya. Adalah sebuah ide brilian untuk membuat kantong -kantong tadi, adalah sebuah solusi menarik untuk tinggal di dalam kluster. Apakah betul?

 Bagi manusia kapsul, keluar dari kapsul adalah sebuah tabu, sebuah ancaman, sebuah ketidakstabilan.


Bagi manusia kapsul, keluar dari kapsul adalah sebuah tabu, sebuah ancaman, sebuah ketidakstabilan.

Apakah semua masalah akan terselesaikan dengan mengungsinya kita ke dalam gated community? Apakah kriminalitas akan menurun dengan membuat pagar tinggi serta pintu gerbang dan kamera CCTV serta alarm system? Apakah kemiskinan akan berkurang dengan kita menolaknya sebagai pemandangan di depan rumah kita?

Apakah malah kita, manusia kapsul, seperti masuk penjara dengan terisolasi di dalam kluster hanya mengandalkan jalan masuk singular yang dijaga ketat. Kita mengisolasi diri dari dunia luar, dari masyarakat (society), dari kehidupan kota. Kalau begitu masihkah perlu hubungan sosial dan kolektifitas? Masihkah perlu masyarakat itu sendiri (society)?

Kita mengubur dalam-dalam sebuah kualitas yang dinamakan, jika masih ada, masyarakat (society). Sebuah kolektifitas, sebuah kebersamaan. Tradisi masyarakat kita yang sudah out-dated, tidak relevan lagi dan mungkin tidak kita perlukan sebagai manusia kapsul.

Kita lebih memilih untuk berlindung dibalik kantong-kantong kita, pagar tinggi kita, kamera cctv kita serta sistem keamanan lain. Kita di era baru, di era reformasi, di era informasi, di era individual, di era kapsularisasi, di era globalisasi. Sebagai manusia kapsul, masihkah kita butuh masyarakat (society)?

Sebuah ruang abu-abu antara 
isolasi atau (dan) solusi.

Ivan Nasution
Ivan Nasution lulus dari Arsitektur ITB pada tahun 2006, lalu bekerja di Park+Associates Architect, Singapura. Di tahun 2011, ia menyelesaikan pendidikan penelitian pascasarjana di Berlage Institute Rotterdam. Saat ini menjadi peneliti di Centre for Sustainable Asian Cities, National University Singapore. Di sela waktu luangnya, ia aktif menjadi fasilitator bagi Participate in Design, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang desain, perencanaan, dan pendidikan.