363 Views |  Like

Call for Paper #5: Arsitektur (ID)

Dalam esai mengenai sejarah arsitektur Indonesia, Iwan Sudrajat berpendapat bahwa pencarian akan identitas arsitektur Indonesia telah dimulai semenjak berdirinya institusi arsitektur pertama pada 1950-an. Kala itu V.R van Romondt mendefinisikan ‘arsitektur Indonesia’ sebagai penggenapan gagasan fungsionalisme, rasionalisme, dan kesederhanaan dari desain modern, namun terinspirasi oleh prinsip arsitektur tradisional. Namun, ide ‘Demokrasi Terpimpin’ Soekarno berkata lain, arsitektur monumental dan modern adalah sebuah alat “pembangunan bangsa” (nation building). Dilema berikutnya terjadi ketika lonjakan ekonomi pada era Orde Baru melahirkan para “orang kaya baru” (OKB) beserta arsitektur eklektis dengan tempelan Romawi, Yunani dan Spanyol. Adapun era itu juga membawa serta romantisme arsitektur tradisional dengan penempelan ornamen tradisional pada tipologi bangunan pemerintahan. Hal ini disanggah oleh generasi AMI 1990an yang berkonfrontasi dengan postmodernisme dimana para arsitek berlomba-lomba mendesain bangunan inovatif dan unik.

Namun, dimanakah posisi arsitektur dan arsitek itu di masyarakat?  Apa peranannya dalam masyarakat saat ini? Bagaimana ia memposisikan dirinya ditengah-tengah banyaknya aktor pembentuk kota? Benarkah arsitektur hanya dimiliki oleh kaum elitis dan eksklusif?

Mari berbicara tentang Arsitektur!

Call for papers ruang #5: Arsitektur, telah siap!

Silahkan unduh pdf-nya di sini.