Gotong Royong dan Ruang Publik

2945 Views |  Like
Kerja bakti yang merupakan salah satu bentuk gotong royong di dalam konteks urban.

Kerja bakti yang merupakan salah satu bentuk gotong royong di dalam konteks urban.

“Gotong Royong” adalah sepasang kata yang menggambarkan bagaimana kuatnya ikatan sosial dalam masyarakat Indonesia. Ir. Soekarno telah mempromosikan kata tersebut sebagai Ekasila, yang merupakan hasil perasan akhir dari Pancasila sejak awal kemerdekaan bangsa. Dalam buku Falsafah Indonesia (1967) karya M. Nasroen, tokoh filsuf Indonesia, turut dijelaskan bahwa gotong royong adalah salah satu filosofi dasar dari karakter bangsa Indonesia.

Berdasarkan arti harfiah, Gotong berarti “melaksanakan pekerjaan bersama-sama”, dan Royong berarti “membagi hasil”. Secara abstrak, gotong royong itu sendiri adalah budaya bekerja kolektif yang lebih bersifat kemanusiaan demi meraih kepentingan bersama. Pondasi dasar dari gotong royong dibentuk dari dua prinsip utama: pertukaran dan persamaan (Slamet, 1963). Pertukaran yang terjadi atas dasar kemanusiaan dan persamaan yang terbentuk karena rasa senasib sepenanggungan didalam sebuah komunitas.

Pada konteks tradisional, budaya ini tersirat dalam tradisi pertanian Indonesia, seperti mencangkul, panen, menumbuk padi yang dilakukan bersama-sama. Didalam konteks kota, gotong royong hadir dalam wujud keguyuban skala RT/RW dalam kegiatan kerja bakti, datangnya bantuan disaat ada anggota masyarakat yang mengadakan pesta pernikahan/upacara pemakaman, dsb. Berdasarkan konteks sosial psikologis, gotong royong dapat terbentuk ketika tercipta solidaritas yang kuat dalam sebuah permukiman, sehingga timbul rasa saling memiliki, keinginan saling membantu, dan kesadaran untuk menghadapi permasalahan secara bersama-sama (Hofsteede, 1971). Dari konteks terakhir dapat disimpulkan bahwa kualitas sosial sebuah areal permukiman bertanggung jawab terhadap tumbuhnya budaya ini didalam masyarakat, dimana kualitas sosial tentunya bergantung kepada kualitas.

Lalu, bagaimana realita gotong royong dalam masyarakat metropolis Indonesia saat ini?

Dewasa ini, gaya hidup masyarakat modern metropolis semakin terjebak dengan kepentingan materi dan gaya hidup individualis. Arsitektur yang menjual unsur kapsularisasi dan konsumerisme terjual laris manis bak kacang goreng, seperti apartemen atau gated-community housing. Kepedulian terhadap komunitas semakin berkurang, semangat kebersamaan dan pentingnya sebuah solidaritas semakin menghilang. Eksistensi budaya gotong royong semakin tersapu derasnya oleh budaya modern yang datang dari dunia barat.

Padahal gotong royonglah yang meringankan beban seseorang ketika memiliki masalah, yang mendasari terjadinya perjuangan dan revolusi atas dasar persaudaraan, yang menjadi pedoman bangsa bahwa harga kemanusiaan jauh lebih penting daripada kepentingan materi. Tidak perlukah lagi kita akan budaya gotong royong? Haruskah anak cucu kita nanti akan hidup tanpa mengenal apa itu gotong royong?

Mungkin, masih ada harapan untuk mempertahankan gotong royong dalam dinamika ruang publik kota. Mungkin, kita bisa berharap kepada mall dan taman kota yang telah lama menggeser posisi ruang publik tradisional dalam kampung sebagai ruang publik favorit warga kota. Mungkin, ruang publik modern tersebut dapat menciptakan solidaritas dalam komunitas sebagai pondasi utama gotong royong.

Namun, apakah kemungkinan itu benar adanya? Diantara ruang publik modern dan tradisional tersebut, manakah yang dapat melestarikan budaya gotong royong? Apakah terdapat kaitan antara individualisme, gotong royong dan ruang-ruang publik tersebut?

Untuk menjawab barisan pertanyaan diatas sebaiknya kita awali dengan memahami elemen-elemen yang mempengaruhi terbentuknya interaksi dan ikatan antar individu dalam sebuah ruang publik. Disiplin ilmu environmental psychology menjabarkan bahwa terdapat beberapa aspek dasar yang terkait dengan masalah tersebut:

1. Attentional Overload
Lingkungan adalah sumber informasi sensorik yang memberikan stimulasi psikis kepada manusia, namun dengan kapasitas yang terbatas, sehingga ketika dihadapkan dengan jumlah stimulasi yang cukup banyak atau “stimulus overload”, manusia cenderung menghiraukan dan hanya fokus pada yang menurut dia penting pada saat itu. (Bell et al. 1996; Veitch and Arkkelin 1995).

Dalam lingkungan fisik, situasi tersebut dapat muncul ketika seorang individu berada ditempat yang sangat ramai, atau daerah yang tidak familiar. Veitch dan Arkkelin (1995) juga menjelaskan bahwa perilaku yang tercipta dapat berupa kesalahan dalam menyimpulkan kondisi, turunnya toleransi, naiknya tingkat frustasi dan menghiraukan orang lain yang mungkin sedang membutuhkan bantuan. Disisi lain, lingkungan yang monoton (kurang memberikan stimulasi) dapat memberikan kebosanan dan turunnya kualitas perilaku. (Bell et al, 1996)

Contoh dari stimulasi lingkungan dalam mall yang hadir dalam bentuk desain interior, signs, advertisement, dan juga kehadiran orang asing dalam jumlah besar.

Contoh dari stimulasi lingkungan dalam mall yang hadir dalam bentuk desain interior, signs, advertisement, dan juga kehadiran orang asing dalam jumlah besar.

2. Control
John H. Harvey (1981) menjelaskan bahwa setiap individu ingin memiliki kekuasaan untuk mengontrol lingkungannya dalam maksud memonitor, atau mewujudkan visi tentang apa yang dia inginkan terhadap lingkungannya. Jika seorang individu tidak bisa mendapatkan kekuasaan tersebut maka dia akan cenderung menarik diri dari lingkungan dan bersikap acuh tak acuh. Sebaliknya, semakin besar kontrol yang didapatkan, semakin mudah adaptasi yang dilakukan dan semakin tinggi sense of belonging yang akan tumbuh. Disisi lain, lingkungan juga memberikan batasan dan menunjukkan besarnya kekuasaan seorang individu untuk mengontrol lingkungannya (Gifford 2002; Veitch and Arkkelin 1995).

3. The Environmental Stressors
Elemen-elemen didalam lingkungan dipercaya dapat menimbulkan stress pada individu jika elemen tersebut telah melampaui batas optimal yang telah didapat (Veitch and Arkkelin 1995). Polusi, suhu ekstrim, lalu lintas, kebisingan dan keramaian adalah environmental stressors yang cukup tipikal yang jika datang secara konstan akan dapat menimbulkan stres (Bell et al, 1996). Jika stres tetap berlanjut, maka akan dapat menyebabkan turunnya ketahanan terhadap stres dan berkurangnya interaksi terhadap orang lain. (Veitch and Arkkelin, 1995). Semakin kecil environmental stressors didalam lingkungan, maka kemungkinan terjadinya interaksi akan menjadi lebih tinggi.

4. Adaptation
Adaptasi dilakukan ketika terjadi hubungan yang tidak harmonis antara manusia dengan lingkungan. Adaptasi merupakan proses modifikasi kehadiran stimulus yang berkelanjutan. Semakin sering stimulus (yang dapat berupa orang lain, bangunan, dsb) hadir maka akan terjadi pembiasaan secara fisik yang disebut habituasi, dan secara psikis yang disebut adaptasi (Avin, 1999).

Aspek-aspek yang telah dijabarkan akan menjadi tolak ukur analisa ruang publik dan mempertanyakan kembali kemungkinan tumbuhnya gotong royong pada area tersebut. Mall, taman kota dan gang kampung akan dibandingkan untuk menjawab siapakah yang paling juara dalam menumbuhkan gotong royong dalam masyarakat.

Contoh dari stimulasi lingkungan dalam mall yang hadir dalam bentuk desain interior, signs, advertisement, dan juga kehadiran orang asing dalam jumlah besar.

Contoh dari stimulasi lingkungan dalam mall yang hadir dalam bentuk desain interior, signs, advertisement, dan juga kehadiran orang asing dalam jumlah besar (Sumber: http://wired-destinations.com/hotels/Malaysia/Penang/Penang_travel_guide_shopping.htm )

MALL

Pertumbuhan mall yang menjamur disetiap sudut metropolis adalah sebuah jawaban dari pemerintah lokal dan sektor privat terhadap kebutuhan ruang publik warga kota. Mereka berhasil menjadikan mall sebagai ruang publik utama warga kota, yang berarti mengarahkan kultur sosialisasi warga menjadi lebih konsumtif, dan menawarkan kenyataan bahwa pergaulan metropolis hanyalah bagi mereka yang mampu membayar. Realita yang semakin mempertajam perbedaan strata sosial dalam masyarakat, mengajak setiap individu berlomba-lomba mengejar uang diatas segalanya, karena semakin banyak uang yang anda miliki, semakin anda mudah diterima didalam pergaulan.

Disisi lain, interior mall seakan menjadi sebuah arena kontes kecantikan dengan gerai/stand yang menghadirkan stimulasi-stimulasi visual yang atraktif. Didukung oleh kehadiran orang asing dalam jumlah besar, variasi kegiatan, dsb, mall selalu menyediakan stimulus dalam jumlah luar biasa bagi setiap individu. Tidak heran, jika didalam mall seseorang akan bersikap acuh terhadap orang lain dan fokus dengan tujuan awalnya, baik itu berbelanja ataupun nongkrong di kafe. Privacy ketika seseorang berada didalam mall juga semakin tertekan yang membuat setiap orang mengalami perasaan kesesakan (crowding) sehingga individu cenderung lebih protektif terhadap dirinya dan menarik diri dari orang asing.

Dari aspek Control, Mall yang jelas milik pihak swasta, tidak akan pernah menjadi milik bersama. Control terhadap mall mustahil untuk didapatkan, sehingga sense of belonging tidak akan pernah terbentuk. Adaptation dapat terbentuk jika seorang pengunjung sering datang ke sebuah mall, namun bentuknya hanya bersifat keruangan (misalnya hafal lokasi toko/kafe favorit) karena sang pengunjung tidak memiliki itikad untuk beradaptasi secara sosial dengan orang-orang lain di dalam mall, terkecuali teman jalan mereka pada saat itu.

Penjabaran diatas semakin menegaskan bahwa solidaritas adalah hal yang mustahil tercipta didalam mall dengan karakter interaksi sosialnya yang instan, tidak konsisten, dan tidak mengikat, dambaan pendukung individualisme. Alih-alih mendukung semangat gotong royong yang didasari oleh kemanusiaan dan persamaan didalam masyarakat, mall malah menggelorakan semangat hidup materialistik dan memperlebar jurang perbedaan sosial didalam masyarakat. Jelas, mall semakin menjauhkan bangsa Indonesia dari akar budayanya sendiri. Kemudian, apakah kita harus diam saja melihat realita ini?

TAMAN KOTA

Taman Buah Undaan, Surabaya, yang merupakan salah satu dari rangkaian pembangunan taman tematik Surabaya.

Taman Buah Undaan, Surabaya, yang merupakan salah satu dari rangkaian pembangunan taman tematik Surabaya.

Daya tarik taman kota sebagai solusi ruang hijau dan ruang publik warga semakin menguat saja akhir-akhir ini, seperti realita pemerintah kota Surabaya yang membangun 13 taman kota dalam kurun waktu 2008-2009 saja. Namun tidak seperti mall, taman kota lebih bersifat netral dimana segala kalangan bisa datang kapan saja tanpa harus melakukan tindakan konsumtif. Namun ketika ruang publik tersebut sudah netral, apakah lantas dapat merangsang pembentukan gotong royong dalam masyarakat?

Terdapat kemiripan dengan kasus mall, taman kota memberikan kecenderungan Attentional Overload melalui banyaknya orang asing yang berkumpul, variasi aktivitas yang dilaksanakan dan lainnya, yang membuat individu hanya terfokus pada dirinya atau orang yang dia kenal saja. Hal ini juga terkait dengan privacy, dimana terlalu banyak orang membuat individu semakin protektif dan kesempatan untuk membuka interaksi semakin mengecil.

Selain itu, tidak adanya konsistensi dalam interaksi sosial antara pengguna satu dan yang lain menyebabkan kualitas hubungan antar pengguna menjadi dangkal. Dari segi Control, terdapat sedikit keleluasaan untuk penggunanya melalui aspirasi yang dapat disalurkan ke pemerintah atau pengelola taman. Walaupun tidak terlalu besar, karena skalanya yang kota, namun pada akhirnya sense of belonging dapat tumbuh diantara pengguna.

Taman kota dapat memberikan harapan dari adanya konsistensi. Sebagai contoh, taman kota dapat menumbuhkan solidaritas bagi penghuni tetapnya, seperti komunitas skateboarding, atau bikers yang datang dan menggunakan tempat tersebut secara rutin. Intensitas pertemuan, persamaan kegiatan yang dilakukan dapat membantu mempertahankan semangat gotong royong dalam lingkungan internal komunitas. Lantas, bagaimana dengan pengguna lain yang tidak tergabung didalam komunitas tersebut?

KAMPUNG

Ruang publik didalam kampung memberikan stimulus yang lebih “ringan” jika dibandingkan dengan mall atau taman kota dikarenakan fungsi bangunannya yang cenderung homogen. Berbeda juga dengan mall atau taman kota yang hanya kita datangi ketika kita memiliki kepentingan, kampung adalah tempat seorang individu berpulang setiap harinya. Intensitas pertemuan dengan stimulus yang berkelanjutan ini akan mempercepat proses adaptasi individu terhadap lingkungan sekitarnya, dimana hal ini juga didukung dengan kondisi gang sempit yang ‘memaksa’ seseorang untuk bersosialisasi.

Lebar gang yang sempit turut menciptakan level environmental stressors minim, sebagai contoh mobil akan kesulitan masuk kedalam dan sepeda motor akan memperlambat laju kendaraanya sehingga menciptakan polusi udara dan suara yang minim. Selain itu, jalan kampung yang sepi dari lalu lintas kendaraan akan terasa lebih aman dan friendly bagi penggunanya untuk melakukan interaksi sosial.

Di dalam kampung, privacy yang terlalu besar yang menciptakan gaya hidup individualis tidak dimungkinkan karena struktur permukiman yang padat. Disisi lain, perasaan crowding karena terlalu banyak orang asing telah diminimalisir dengan adaptasi secara sosial dengan tetangga. Tingkat privacy tertekan secara fisik sehingga setiap individu disadarkan bahwa mereka sedang hidup bermasyarakat dan harus peduli dengan satu sama lain.

Kondisi jalan yang sepi dari kendaraan merangsang terjadinya interaksi didalam kampung.

Kondisi jalan yang sepi dari kendaraan merangsang terjadinya interaksi di dalam kampung.

Control seorang penghuni pada kampung diwujudkan dalam rapat RT/RW atau diskusi-diskusi informal dengan tetangga sekitar. Kekuasaan penghuni kampung ini memberikan pemahaman bahwa kampung adalah milik mereka, bukan pemerintah, bukan swasta, yang harus mereka jaga keamanannya, keguyubannya dan keasriannya bersama.

Struktur fisik lingkungan yang mempercepat proses adaptasi, environmental stressors yang minim, tingkat privacy yang sesuai, serta adanya control untuk setiap penghuni pada akhirnya menumbuhkan ikatan sosial yang kuat, dan sense of belonging secara natural. Kedua elemen itu yang kemudian menjadi air dan pupuk untuk menumbuhkan solidaritas dan budaya gotong royong diantara warga kampung. Hal ini menjadi salah satu aspek penjelas kenapa kampung, tidak pernah terlepas dari semangat gotong royong.

Andaikan kampung-kampung kita bersih, asri dan nyaman seperti ini. Siapa yang tidak bangga?

Andaikan kampung-kampung kita bersih, asri dan nyaman seperti ini. Siapa yang tidak bangga?

Andaikan saja ruang-ruang publik tradisional didalam kampung diberikan perhatian lebih oleh para arsitek untuk mempugar diri dari serangan individualisme. Andaikan saja arsitek Indonesia dapat mencoba meresapi intisari yang terdapat didalam arsitektur kampung dan menerapkannya didalam desain permukiman modern demi membantu melestarikan budaya bangsa. Andaikan saja arsitek Indonesia segera menyadari bahwa ruang publik tidak hanya kebutuhan sosial, tetapi juga identitas dan budaya.

Tapi, saya hanya berandai-andai. maukah kita mewujudkannya? Apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita akan mempertahankan karakter kota kita, atau menyerahkan diri untuk menjadi kota yang generik tuntutan kapitalisme dan globalisasi? Mari merenung, dan mari berikan solusi terbaik untuk bangsa….

Bibliografi:

Helmi, A.F. Beberapa Teori Psikologi Lingkungan. Buletin Psikologi UGM VII (2). 1999

Newman, Peter, Suriptono. Small Scale Community based Domestic Wastewater Technology: An Indonesian Case Study. Murdoch University, Perth. 1999

Sunaryo, Rony Gunawan, dkk. Posisi Ruang Publik dalam Transformasi Konsepsi Urbanitas Kota Indonesia. Universitas Kristen Petra

Sangar, Aghostin Venetin. Human Behavior in Public Spaces. 2007.

Yusni Aziz
Alumnus dari double-degree bachelor program kerjasama antara ITS dan Saxion Hogeschool of Applied Sciences. Kemudian menyelesaikan riset di Berlage Institute pada tahun 2013. Saat ini sedang sibuk dengan riset independen dan mengasuh blog pribadi di www.yusniaziz.com