Genius Loci, Jiwa tempat

1078 Views |  Like

Saya menghabiskan masa kecil saya di sebuah kota kecil di Indonesia. Disana saya tinggal di suatu kompleks perumahan bersama dengan keluarga saya. Banyak tempat-tempat yang memberikan pengalaman ruang yang tidak terlupakan untuk saya. Di ingatan saya, terlihat jelas tempat-tempat saya bermain dulu bersama dengan teman-teman, tempat-tempat yang saya lewati jika ingin jalan-jalan bersama mama ke pasar, tempat-tempat yang masih tersimpan rapi pada memori visual masa kecil saya.

Sekitar beberapa tahun yang lalu, akhirnya saya kembali ke kota masa kecil saya. Maklum, telah lama saya meninggalkan kota tersebut. Begitu banyak perubahan yang terjadi pada kota tersebut. Yang dulunya lapangan bola, kini menjadi sebuah tempat niaga. Yang dulunya adalah tempat parkir sepeda kini menjadi taman. Meskipun secara fisik telah berubah, namun ketika saya berdiri disana, masih teringat jelas bentuk-bentuk fungsi yang lama. Saya masih ingat, “wah dulu ini tempat pakir sepeda saya. Kalau mau masuk area ini, saya harus muter ke sana dulu”. Saya masih ingat juga bentuk dan letak lapangan bola, meskipun kini semua telah  berubah total. Ada pengalaman ruang yang masih terpatri di dalam pikiran dan hati saya yang tidak akan hilang ditelan masa. Tempat-tempat masa kecil saya seolah memberikan dan memancarkan sebuah jiwa yang membuat saya akan selalu mengenangnya dan selalu merasa menjadi bagian dari tempat tersebut. Jiwa itu saya sebut Genius Loci, sebuah jiwa tempat.

Genius Loci, dari bahasa Romawi, bisa diartikan sebagai ”spirit of place”. Genius Loci merujuk pada aspek-aspek yang unik, memorable, dan mempunyai nilai dari suatu tempat. Genius Loci tidak terbatas pada aspek-aspek fisik (arsitektur, jalan, sungai, patung), tetapi juga meliputi aspek budaya (seperti kepercayaan, sejarah tempat, paradigman seni) dan aspek sosial (seperti hubungan intramanusia : persahabatan, kehidupan masyarakat, dan sebagainya).

Pernahkah anda pergi ke suatu tempat, lalu anda merasakan, “wah, tempat ini mengingatkan saya ketika saya masih tinggal di kota xxx”? Bukan hanya karena bentuk fisik / arsitektur yang menguak memori itu, tetapi karena keramahan orang disana, suasana kehidupan disana, nilai budaya disana dan lain sebagainya lah yang me-rewind memori tersebut.  Atau pernahkah anda ke sesuatu tempat, yang sampai dengan saat ini anda akan selalu ingat tempat itu, seolah tak ada tempat lain di dunia ini yang mempunyai nilai-nilai seperti tempat itu? Itulah jiwa sebuah tempat, spirit of place.

Genius Loci, Jiwa tempat

Dalam buku “Genius Loci – Towards a phenomenology of architecture”, Christian Norberg-Schuluz membagi struktur tempat (structure of place) menjadi dua, yaitu Landscape dan Settlement, dengan elemen pembentuk terdiri atas space dan character. Space merujuk pada segala bentuk tiga dimensional yang membentuk ruang dan Character merujuk pada atmosfer sebagai elemen komprehensif pada pembentukan ruang.  Pada Landscape, kita dapat melihat elemen space seperti pepohonan, bukit, bebatuan; membentuk struktur tempat (landscape) secara tiga dimensional, dan secara karakteristik, kondisi alam seperti iklim dan angin membantu proses pembentukan ruang landscape itu sendiri. Pada Settlement, elemen space yang membentuk ruang adalah dinding-dinding, rumah, jalan, pohon; yang berkolaborasi dengan character dari lingkungan itu sendiri. Landscape dan Settlement merupakan elemen yang saling menopang satu sama lain  pada pembentukan ruang. Mulanya Settlement berdiri pada landscape yang dikondisikan, dan nantinya landscape “dikondisikan” sebagai bagian dari settlement.

Perpaduan landscape dan settlement yang harmonis menghasilkan space dan character yang kuat dari sebuah tempat (genius loci). Kekuatan harmonisasi elemen -elemen tersebutlah yang menciptakan seorang manusia dapat merekam sebuah  pengalaman ruang dengan baik di memori otaknya.

Elemen space dan character harus dapat dihadirkan dalam komposisi yang elok guna menghasilkan sebuah karya arsitektur yang mengeluarkan spirit of place dari aspek fungsional, estetika dan kultural. Ketika arsitektur dibangun melalui pemahaman space dan character yang baik, arsitektur dapat berpartisipasi dan berkontribusi secara kreatif terhadap peradaban dan sejarah.

(Giri Narasoma Suhardi)

Giri Narasoma
Alumni arsitektur ITB angkatan 2002 yang mengenyam pendidikan magister di London, UK. Sebelumnya, sempat bekerja di salah satu biro konsultan arsitektur di Jakarta dan salah satu Bank Swasta Nasional.