Edisi #12: Edukasi

1347 Views |  1

 

Ternyata sulit untuk menulis sebuah edisi tentang ‘pendidikan arsitektur’; ada tiga alasan besar. Pertama, kata ‘pendidikan’ sendiri sudah mengundang sebuah polemik. ‘Didik’ bermuatan tindakan meniru dan melatih untuk menghasilkan kesamaan model, melibatkan pewarisan ilmu lintas generasi melalui sebuah pranata sosial. Artinya pendidikan pun mencakup interaksi yang terjadi di masyarakat luas. Tetapi, ketika membicarakan pendidikan, kita cenderung membicarakan ‘pendidikan formal’ yang dilakukan di sekolah-sekolah atau institusi-institusi. Di luar itu, bentuk-bentuk selain pendidikan formal yang kita tahu harus memakai sebuah frase untuk menggenapkan, seperti ‘pendidikan di luar sekolah’, ‘pendidikan alternatif’, ‘pendidikan informal’, dan berbagai bentuk lainnya. Kedua, karena ke-eksklusif-annya tadi, pendidikan menjadi sebuah entitas di luar kita semua. Menara gading. Kita harus memanjatnya untuk menjadi terdidik. Merefleksikan temuan dan pendapat tentang pendidikan berisiko untuk dilihat sebagai kritik. Sensitif. Seperti mempertanyakan proses keniscayaan yang sudah semestinya dilalui. Ketiga, karena itu, posisi yang tepat untuk merefleksikan pendidikan menjadi sulit, siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh. Kami bertanya-tanya, apakah harus menjadi pendidik dulu untuk dapat merefleksikan pendidikan dengan lebih mumpuni dan menyeluruh? Bagaimanapun, setelah tertunda beberapa bulan, kami, dan para kontributor, memberanikan diri untuk memulai edisi ini.

Pendidikan bukanlah sesuatu yang saklek dan linear, dan ini ditunjukkan oleh kesebelas kontribusi di edisi ini. Diana Ang mengilustrasikannya dengan baik lewat karya visual yang dipakai sebagai sampul dalam edisi ini, menurutnya, pendidikan memiliki  karakter yang melingkar dan spiral, dan menembus berbagai lapisan, baik individu, lingkungan, kota dan alam. Kontribusi-kontribusi ini berusaha menembus berbagai lapisan tadi. Yusni Aziz lalu membuka dengan refleksinya tentang ‘pendidikan formal arsitektur’; Ia mempertanyakan budaya dialog yang lama diaplikasikan di dalam dunia pendidikan. Binar Tyaghita lalu menjabarkan pergeseran paradigma praktik arsitektur yang menjadi project-based sebagai alasan kurangnya penciptaan arsitek yang empatik, kolaboratif, dan relevan, serta kontribusi dunia pendidikan arsitektur di dalamnya.  Klara Puspa membawa hal ini lebih jauh dengan mengangkat relasi akan kebebasan, kreativitas dan etika dalam pendidikan untuk menjawab tantangan era infonaut. Lalu dilanjutkan dengan artikel Ashok Das yang mengajak pendidik untuk memikirkan kembali pentingnya peran sejarah, teori, kritik dalam pendidikan perencana kota.

Selanjutnya, kami mengajak pembaca yang juga warga kota untuk melangkah melampaui bentuk-bentuk pendidikan yang kita ketahui. Kenta Kishi akan mengajak kita untuk belajar dari kehidupan kampung yang mudah beradaptasi, temporer, dan melenting menuju kesetimbangan sebagai siasat untuk bertahan hidup di kota yang penuh dan sesak. Lalu, Tan Beng Kiang menunjukkan bagaimana pendidikan formal berinteraksi dengan kota dengan mengilustrasikan peran dan kontribusi institusi akademik, khususnya studio perancangan arsitektur dalam membantu mencari solusi dari permasalahan sosial dan spasial di Smile Village, Kamboja. Fauzan Al Ayyuby kemudian membawa pembaca ke Makassar untuk menyaksikan kapasitas halaman rumah sebagai ruang belajar bagi semua, lewat beberapa strategi yang telah dilakukan Tanahindie. Dan dilanjutkan oleh duet Martin Katoppo dan Tony Sofian yang membahas mengenai pendidikan arsitektur yang membebaskan dan memanusiakan. Setelah itu, Anas Hidayat dan Realrich Sjarief akan mengadvokasikan pentingnya pendidikan karakter dalam pendidikan arsitektur yang spesifik dan berfokus ke mahasiswa, juga bagaimana menghayati arsitektur dengan lebih dalam.

Dua kontribusi terakhir menjadi sebuah catatan pinggir tentang isi pendidikan arsitektur. Fath Nadizti menceritakan penelusurannya terhadap pemahaman konsep firmitas, utilitas, dan venustas Vitruvius. Sedangkan, kontribusi Ivan Kurniawan Nasution dan Indrawan Prabaharyaka menutup dengan beragumen bahwa dalam keseharian arsitek(tur) tidak melulu berhadapan dengan firmitas, utilitas, dan venustas, tapi juga ada ‘rutinitas’ yang dinarasikan melalui tiga persona yang melakukan sesuatu yang arsitektural.

Kesebelas artikel dan satu karya visual ini telah menyentuh ketiga alasan yang dibahas di awal tadi, soal makna dan isi, bentuk, dan peranan serta aktor. Kami berharap serangkaian artikel tersebut akan membawa kita semua untuk merefleksikan dan meredefinisi pandangan kita akan “pendidikan arsitektur” dengan lebih bijak, lewat setiap konteks dan refleksi yang disuguhkan oleh setiap kontributor.

Selamat menyelami berbagai sudut pandang, selamat menikmati Ruang!

C

©Diana Ang

admin
Ruang adalah sebuah majalah online bertema arsitektur, kota, dan lingkungan binaan, beserta segala permasalahannya. Kami tertarik dengan cara pandang yang beragam dalam melihat sebuah tema; karenanya, kami mengambil sebuah posisi yang objektif dengan memberikan kesempatan kepada setiap pandangan untuk menyuarakan argumennya. Tidak ada benar dan salah dalam berpendapat, yang ada hanya argumen yang lebih berdasar. Kami percaya bahwa konsensus bukanlah sebuah tujuan. Karenanya kami berupaya agar setiap edisi diwarnai oleh beragam kontributor: praktisi, akademisi, pengamat, penikmat, pengguna, patron maupun kritikus dari berbagai disiplin ilmu.

Ruang tidak mencari solusi terhadap sebuah permasalahan yang diangkat dalam setiap tema. Bagi kami, untuk saat ini merupa pertanyaan yang baik dan tepat lebih diperlukan daripada terburu-buru mengambil solusi. Maka, setiap edisi akan dibuka oleh sebuah pertanyaan berupa call for paper yang akan melahirkan sebuah edisi. Dan, edisi tersebut menjadi pengantar bagi sebuah temuan awal dari tema yang ditampilkan. Namun edisi tersebut belum akan ditutup, dan akan terus dibuka untuk mencari cara pandang lain mengenai permasalahan dalam tema tersebut.