Distopia Hunian Kekinian

696 Views |  Like

Kita dan Ruang

ruang1

Pengalaman ruang di hutan buatan (Sumber: Netflix, kompilasi penulis)

Salah satu episode serial Big Bang Theory yang berjudul The Big Bear Precipitation, membuat saya berpikir bahwa cara kita menempati ruang dan tempat sudah banyak berubah karena perkembangan media dan teknologi informasi. Dalam episode tersebut, Sheldon, si karakter utama, memilih untuk merasakan pengalaman ruang hutan melalui gawai Oculus Rift (gawai virtual reality). Ia bergerak seolah dirinya berada di hutan. Ia juga berusaha menggapai kupu-kupu disekitarnya. Padahal itu semua hanya efek visual dan audio dari sekumpulan data tentang sebuah hutan.

Perkembangan teknologi informasi dan media telah mengubah persepsi dan cara kita berinteraksi terhadap ruang. Ruang realitas sudah dapat direplika dalam bentuk ruang virtual yang dibangun dari sekumpulan data. Seperti seperti hutan virtual di episode Big Bang Theory yang merupakan replikasi dari hutan di ruang nyata entah belahan dunia yang mana. Hasil replika tersebut pun mudah diakses, sehingga terkadang pengalaman ruang lebih penting dari kenyataan tentang ruang itu sendiri. Adanya ruang virtual menjadikan pengalaman ruang realitas berkurang signifikasinya. Banyak di antara kita memilih untuk mendapat teman baru melalui jejaring media sosial ketimbang mengenal secara langsung tetangga di sekitar rumah. Bahkan, The Pew Internet and American Life Project menunjukkan bahwa penggunaan media sosial seperti Facebook sejak tahun 1985 hingga 2004 mengakibatkan penurunan jumlah teman dekat yaitu dari tiga orang menjadi dua orang. Terlebih lagi, media sosial mengakibatkan turunnya index pengetahuan seseorang akan komunitas di sekitar tempat tinggalnya.

Lebih lanjut, fenomena perubahan interaksi dan persepsi kita terhadap ruang menyebabkan dislokasi antara ruang privat dan publik [1]. Seseorang di kendaraan umum (ruang publik) bisa dengan mudahnya mengganti moda ruang menjadi privat hanya dengan mengenakan earphone. Mendengarkan lagu pilihan sambil menatap layar ponsel yang familiar membuat ia merasakan pengalaman ruang privat tanpa pengaruh publik.

Sebaliknya, ruang privat pun terekspansi oleh ruang publik. Mudahnya akses publik terhadap ruang virtual privat, baik melalui internet ataupun media elektronik, membuat kita tidak benar-benar berada di ruang privat[2]. Misalnya ketika kita melakukan tele-conference via Skype untuk berdiskusi soal pekerjaan di ruang kamar di malam hari. Ketika kita beristirahat di rumah, tekologi masih menjangkau kita dan menariknya ke ruang publik bersama dengan kolega yang lainnya. Ruang privat-publik, ruang eksterior-interior, ruang realitas-virtual; teknologi seperti menghapus batas antara ruang-ruang tersebut. Lebih jauh lagi, teknologi mengubah perilaku kita dalam menempati dan mempersepsikan ruang.

Sehingga, barangkali, tidak ada ruang yang benar-benar publik dan tidak ada ruang yang benar-benar privat.

 

Jadi ruang apa yang sebenarnya kita huni saat ini?

 

Menghuni Data

Perkembangan teknologi khususnya di bidang telekomunikasi kerap menjadi bagian dari keseharian kita. Ponsel, koneksi internet, dan aplikasi memberikan makna yang lebih dari sekadar penghubung. Mereka yang tersusun atas material nyata dan data membentuk ruang lain di luar ruang realitas yang kita tempati, lingkungan virtual.

Ada sebuah argumen yang menarik bahwa perangkat elektronik kecil saat ini dinilai sebagai sebuah rumah atau hunian[3]. Benda-benda tersebut memiliki aspek domestik karena wujudnya yang bisa dipersonalisasi dengan cara diinjeksi kepribadian. Kita menginjeksi benda-benda tersebut sesuai dengan kepribadian kita. Kita mengatur bagaimana tampilannya, penyusunan data di dalamnya, dan bagaimana benda-benda tersebut tampak di mata kita atau orang lain. Barangkali sama seperti mendekor sebuah ruang hanya saja dengan pendekatan yang berbeda, yaitu utilisasi data.

Tanpa sadar tampilan antarmuka dan juga laman sosial media nampak seperti sebuah fasad. Sebuah elemen arsitektural yang kita bagi kepada publik. Kita mendekorasinya, membuatnya tematik, semua disesuaikan dengan cita rasa estetika empunya. Laman dibuat sedemikian rupa merefleksikan siapa pemiliknya.

Ruang virtual, yang sejatinya hanyalah kumpulan data menjadi tempat yang sangat nyaman untuk dihuni. Fokus kita dalam menghuni ruang menjadi terpecah ke dalam ruang virtual dan ruang realitas, sehinga terkadang tidak jelas lagi mana yang nyata dan mana yang maya. Ada beberapa contoh fenomena menarik terkait migrasi kita ke ruang virtual. Contoh yang pertama adalah adanya orang-orang yang di dalam ruang virtual banyak dan sering berbicara, serta mengeluarkan opini padahal di ruang realitas mereka begitu pemalu. Atau juga fenomena perbedaan tingkat keintiman di mana orang-orang yang gemar mengunggah foto bersama tidak selalu mengindikasikan kedekatan di ruang realitas, ruang sebenarnya. Lebih lucu lagi ketika kita mengamati fenomena pertengkaran di media sosial yang banyak terjadi belakangan ini. Pertengkaraan tersebut hanya berisikan celaan dalam diksi, tanpa sensasi penginderaan layaknya ruang realitas dan juga tidak menghasilkan apa-apa. Sangat berbeda bila dibandingkan dengan pertengkaran atau usaha menyelesaikan pertengkarang yang terjadi di ruang realitas.

Faktanya, sangat disayangkan bahwa kita semakin larut dalam ruang virtual. Kita senantiasa menghabiskan separuh bahkan lebih dari 24 jam kita untuk berselancar di ruang virtual. Entah itu menjelajahi media sosial atau informasi lainnya yang ditawarkan di ruang tersebut. Kita terus menerus menghujani lini masa di media sosial dengan informasi lokasi keberadaan, pakaian yang tengah digunakan, atau aktifitas yang sedang digunakan sambil belum tentu benar-benar menikmati pengalaman ruang di ruang realitas. Kita melupakan kualitas warna, tekstur material, dan sensasi penginderaan lainnya yang menarik dari sekitar kita, lingkungan realitas. Kita sibuk melakukan swafoto untuk menunjukkan bahwa kita sedang menghabiskan waktu dengan teman lama tanpa benar-benar saling bertukar cerita, bergurau, dan merasakan kebersamaan yang ada.

Sehingga, di ruang manakah sebenarnya kita berada?

 

Igauan

Barangkali secara perlahan kita bermigrasi ke ruang virtual yang tersusun atas sekumpulan data. Kita berinteraksi melalui data, dan juga beraktifitas menggunakan data. Pikiran dan jiwa kita sejauh ketikan jari mampu mengakses berbagai informasi dari berbagai belahan dunia tanpa harus badan kita bersusah payah bergerak. Kita menjadi penghuni data.

Hal ini membuat saya berpikir tentang distopia dari teknologi, internet, dan rekan-rekannya. Apakah nanti peran ruang realitas mampu tergantikan dengan dengan ruang virtual yang tersusun atas data? Apakah nanti kecanggihan representasi data mampu benar-benar menggantikan semua pengalaman penginderaan dari pengalaman first hand?

Ketika “Model K” Adder diciptakan sebagai purwarupa komputer yang pertama kali, tidak terbayangkan perpindahan data bisa menjadi secepat dan sepraktis sekarang. Tanpa kabel. Barangkali seiring dengan terjadinya perkembangan teknologi, representasi sempurna akan sebuah data pun bisa semakin mumpuni. Bisa jadi tidak hanya representasi audio dan visual saja yang bisa disajikan.

Dan ketika keterikatan kita terhadap ruang virtual tersebut semakin dalam, apa yang akan terjadi dengan kita dan ruang fisik? Apakah manusia tidak akan bertegur sapa lagi dan semakin sibuk dengan laman media sosialnya? Apakah diskusi keluarga akan terjalan melalui grup sebuah aplikasi? Apakah nilai seorang teman terlihat dari seberapa banyak kita mengunggah foto bersama di sebuah media sosial? Apakah bagus tidaknya sebuah ruang ditentukan oleh seberapa banyak likes atas foto-fotonya di media sosial?

[1] Matsuda, K. 2010. Domesti/City: The Dislocated Home in Augmented Space. Thesis (M.Arch.).

[2] Spigel. 2005. Designing the Smart House: Posthuman Domesticity and Conspicuous Production. European Journal of Cultural Studies, 8(4).

[3] Caldwell, N. 2000. Virtual Domesticity: Renewing the Notion of Cybernetic Living and Working Environments. Journal of Media and Culture,3(6).

 

Tania Chumaira
Nama saya Tania Miranti Chumaira. Saat ini saya adalah peneliti dengan afiliasi Universitas Indonesia. Saya memiliki antusiasme terhadap ruang, kebertubuhan, serta bagaimana era digital membuat keduanya berubah. Hal tersebut terlihat dari proyek sarjana dan magister saya yang erat kaitannya dengan persepsi, ruang gerak tubuh, dan penginderaan mata.

Di samping itu, saya pun selalu tertarik akan fabrikasi entah itu dengan cara analog maupun digital. Hal tersebut yang memotivasi saya untuk studi di The Bartlett School of Architecture, dengan mengambil jurusan Design for Performance and Interaction. Fabrikasi selalu membantu saya untuk menguji hipotesa saya terhadap ruang dan manusia melalui model studi 1:1.

Saya selalu percaya bahwa ruang ada proyeksi dari manusia. Sehingga segala perubahan lingkung bangun yang ada berasal dari perilaku kita sendiri. Keingintahuan saya terhadap hal-hal tersebut membuat saya terus mengembangkan riset kecil saya terkait perubahan perilaku manusia dalam menempati ruang di era digital.