Di Balik Pintu Surga Persia

3386 Views |  2
Dua-wanita-menyusuri-sepinya-sore-di-bazar-Isfahan-©Yusni-Aziz

Dua wanita menyusuri sepinya sore di bazar Isfahan ©Yusni-Aziz

 

Subuh sesampai di depan hotel, saya bergegas menuju medan Imam. Matahari masih enggan membagi seluruh sinarnya. Meski biasnya saja cukup membangunkan kawanan gagak yang ramai menyambut kami di langit pagi itu.

Letih sisa perjalanan dari Teheran tidak saya hiraukan lagi. Dengan ransel menggantung di pundak, langkah berlari kencang menuju monumen yang selama ini hanya saya kagumi lewat buku. Saya tidak ingin melewatkan menit saat kubah biru toskanya berubah keemasan oleh sinar matahari pagi. Saya tidak sabar untuk bertemu masjid Shah.

Kubah masjid Shah di kala fajar ©Yusni Aziz

Kubah masjid Shah di kala fajar ©Yusni Aziz

Tentu saja penjaga pintu masih tertidur. Saya hanya disambut oleh iwan[1] raksasanya yang sangat ayu, bersama pintu gerbang kayu yang tenggelam di lautan keramik biru di sekujur dindingnya. Bibir seketika merekahkan senyum lebar. Kecantikannya langsung menghangatkan hati saya.

Hotel mungil kami di Isfahan hanya sekitar satu menit berjalan dari medan Imam, plasa di pusat kota Isfahan yang berdiri sejak abad ke-17. Pembimbing kami memilih tempat itu karena obyek riset kami banyak terletak di sekitarnya. Alhasil dengan mudah, saya kembali berkunjung di siang harinya.

Saya sendiri memilih fokus riset tentang masjid sebagai salah satu tipologi bangunan lokal Iran. Sebagai arsitek dari negara muslim terbesar di dunia, tentu masjid bukanlah bangunan asing. Namun melakukannya di Iran, salah satu dari empat republik Islam dunia, menjadi sangat menantang.

Esok pagi, saya ingin menengok untuk ketiga kalinya. Kedatangan kemarin siang belum membuahkan data yang saya harapkan. Kesalnya, saya harus mengalah kepada perayaan Ashura dari pemerintah. Masjid ditutup untuk umum. Reporter dan kamera televisi tersebar di segala penjuru, siap merekam. Bis parkir berbaris di sisi selatan maidan. “Mereka membawa ratusan orang dari luar kota”, sahut Golnar Abbasi, kawan Iran saya.

Ia lalu menambahkan, “Umumnya, banyak orang kota tidak mau hadir di perayaan Ashura, karena itu pemerintah membawa orang-orang dari kota kecil dengan bis. Namun tidak hanya terbatas di acara ini saja. Kebanyakan acara keagamaan pemerintah menjadi seperti ini.”

Sederetan pertanyaan langsung timbul dalam  benak saya.

Namun yang pasti, hari itu saya harus puas dengan memandangi gagahnya iwan masjid Shah dari jauh. Saya hanya bisa membayangkan kembali. Pelataran masjid yang banjir dengan keramik dan marmer biru di lantai, dinding, dan langit-langit lengkungnya. Taman cantik dengan pohon meranggas di dua sisi masjid. Kubah utama dengan patri pola floral yang indah, yang menggemakan suara saya ke seluruh penjuru masjid. Jika diijinkan, saya ingin tidur semalam di masjid Shah. Ia adalah rumah umat yang sangat mewah.

Masjid Shah terlihat gagah bersanding dengan medan Imam ©Yusni Aziz

Masjid Shah terlihat gagah bersanding dengan medan Imam ©Yusni Aziz

Namun, bayangan itu tetap tak dapat menghapus pertanyaan besar dalam pikiran saya. Mengapa masyarakat Iran membangun masjid secantik dan semegah ini? Haruskah? Apakah ada keterkaitannya dengan kepentingan penguasa jaman dulu, seperti yang saya saksikan di perayaan Ashura itu?

Saya mencoba awali dari kata masjid itu sendiri.

Masjid berasal dari kata Sajada, yang berarti “untuk bersujud”. Kata ini bisa juga berarti ruang seseorang untuk bersujud atau beribadah. Sajada juga digunakan sebagai nama alas yang digunakan untuk shalat, yang membatasi area “masjid” dimanapun seseorang ingin beribadah. Di dalam Al-Quran sendiri, ternyata tidak ada ayat yang secara khusus menuliskan karakteristik arsitektural dari bangunan masjid.

Kebutuhan pendirian masjid muncul di era nabi Muhammad SAW untuk mempersatukan umat. Ia mengawali dengan pembangunan masjid Quba, yang disusul oleh masjid Nabawi atau Masjid Nabi. Masjid terakhir menjadi embrio dari semua bangunan masjid di dunia.

Bentuknya sangat sederhana. Dinding lumpur mengelilingi sebuah ruang terbuka sebesar 50 x 50 m, dengan pilar dari batang kelapa yang menopang atap di sisi kiblat dan sisi utara. Ia memiliki tiga pintu di sisi utara, barat dan timur. Nabi dan keluarga juga tinggal didalam masjid ini. Ruang-ruang tinggal mereka menempel di sisi timur masjid.

Karen Armstrong dalam Islam: A Short History menyampaikan bahwa bentuk bangunan yang simpel ini menyimbolkan inti kesederhanaan ajaran Islam. Tidak seperti gereja Kristiani yang mengkhususkan bangunannya untuk beribadah, masjid tidak melarang hadirnya aktivitas kemasyarakatan di dalamnya. Masjid Nabi saat itu menjadi rumah pemimpin dan pusat pemerintahan umat Islam. Ruang terbukanya menjadi area untuk beribadah, perundingan militer hingga tempat tinggal sementara para pengungsi.

Lalu, mengapa desain masjid Iran menjadi sangat berbeda dengan masjid Nabi ?

Arsitektur merupakan sebuah produk budaya. Seperti bentuk kebudayaan apapun saat dikenalkan di lokasi yang asing, Ia akan melebur bersama nilai, tradisi dan estetika lokal untuk membuatnya menjadi lebih ramah dan bisa diterima oleh lingkungan.

Begitu pula dengan masjid. Sejak embrionya tertanam di tanah Persia pada era masuknya Islam di abad ke-7, ia mulai berkembang dengan menyerap gaya arsitektur lokal. Masjid Tarik Khane, masjid tertua peninggalan dinasti Abbasid, menyimpan jejak transisi tersebut. Seperti masjid Nabi, Tarik Khane memiliki konstruksi atap yang ditopang barisan kolom, atau hypostyle, dan tanah lapang di tengah bangunannya. Yang membedakan adalah mulai hadirnya kubah, atau gonbad dalam bahasa Persia, dan iwan yang merupakan ciri khas arsitektur pra-Islam Persia.

Hal ini tidak lepas dari pengaruh penguasa. Seiring meluasnya ajaran Islam di Iran, peranan politis masjid menjadi semakin penting. Agama menjadi tiga komponen simbol kekuasaan kerajaan Islam Persia, disamping perdagangan dan Shah. Semua menjadi jelas ketika saya menyaksikannya di medan Imam. Plaza cantik yang dikelilingi deretan toko setinggi dua lantai ini menggandeng tiga simbol itu di tiga sisinya.

Semua diawali pada abad ke-16, saat Shah Abbas ingin menjadikan Isfahan ibukota baru Persia yang kala itu terpecah-pecah. Ia mengusulkan restrukturisasi besar-besaran kota Isfahan, salah satunya dengan membangun medan Imam. Saat itu, medan menjadi tempat bertemunya Shah dengan rakyatnya. Karena guna dan letaknya yang strategis, ia juga menjadi panggung yang tepat untuk menunjukkan bulatnya kekuasaan sang Shah. Medan Imam akhirnya menjadi rantai yang mengikat ketiga simbol tersebut. Mulai dari bazar sebagai simbol perdagangan di utara, Istana Ali Qapu sebagai simbol Shah di barat, dan masjid Shah sebagai simbol agama di selatan.

Koleksi denah masjid dengan skala yang sama yang terbahas dalam artikel. Atas: Masjid Nabi (ki), Masjid Tarik Khane (ka) Tengah: Tiga fase evolusi masjid Jame’ Isfahan Bawah: Masjid Shah (ki), masjid bazar Teheran (teng), masjid Sepahsalar (ka) ©Yusni Aziz

Koleksi denah masjid dengan skala yang sama yang terbahas dalam artikel. Atas: Masjid Nabi (ki), Masjid Tarik Khane (ka) Tengah: Tiga fase evolusi masjid Jame’ Isfahan Bawah: Masjid Shah (ki), masjid bazar Teheran (teng), masjid Sepahsalar (ka) ©Yusni Aziz

Masjid juga diupayakan menjadi bagian dari kerajaan. Ia diikat oleh elemen yang selama ini hanya dikenakan dalam proyek komisi kerajaan, seperti kubah. Pada era pra-Islam, kemegahan kubah hadir untuk menyimbolkan kejayaan sang raja. Ia menjadi kepala dari bangunan makam keluarga raja atau kuil Zoroastrian. Tradisi ini kemudian berlanjut di era Islam. Kubah disatukan dengan badan masjid, meski sejarawan belum menemukan waktu pasti kapan pertama kali ini terjadi. Di dalamnya turut terlukis dekorasi yang menunjukkan keindahan dunia langit, pengingat betapa kecilnya rakyat di hadapan Allah dan kosmos ciptaan-Nya.

Di masjid Shah, kubah duduk dengan sangat megah. Konon kilau birunya dapat dilihat dari jauh oleh pedagang yang sedang melewati jalur Sutra. Kemegahan ini juga menjadi simbol kekuasaan sang Shah lewat cipta karya berskala akbar. Setelah selesai dibangun, masjid Shah akhirnya menjadi masjid terbesar di kota Isfahan, hingga sekarang. Skala ini juga menjadi magnet yang menarik jamaah shalat Jumat dari masjid yang lama ke masjid Shah.

Iwan di tengah lapangan masjid Shah yang megah dan lengang ©Yusni-Aziz

Iwan di tengah lapangan masjid Shah yang megah dan lengang ©Yusni-Aziz

Iwan juga menjadi elemen pengikat masjid. Di era pra-Islam, Iwan mewadahi kegiatan pertemuan di istana raja, rumah bangsawan, atau bangunan religius. Ia kemudian bermutasi menjadi gerbang monumental yang memberi karakter kuat pada masjid Persia. Di dalam halaman masjid, Iwan berdiri di empat penjuru, menghadap pusat halaman yang diberi kolam wudhu. Komposisi sempurna yang melambangkan axis mundi, titik yang menghubungkan antara dunia fana dan nirvana.

Dalam riwayat Isfahan, masjid Shah ternyata tidak menjadi satu-satunya pusat demonstrasi kekuasaan. Masjid Jame’ Isfahan, yang menjadi lokasi shalat Jumat sebelumnya juga bernasib serupa. Bedanya, di sini aksi tidak dimonopoli oleh sang Shah. Penguasa lokal, baik individu maupun kolektif, yang berlomba untuk meninggalkan jejak politisnya melalui renovasi masjid.

Mereka selalu memberikan sesuatu yang berbeda, jika perlu, lebih baik dibanding renovasi sebelumnya. Setiap penguasa tentu tidak ingin kalah, bahkan ada yang menjadikannya lokasi pertarungan. Seperti Taj al-Mulk yang memandatkan konstruksi kubah di sisi utara demi menandingi rivalnya, Nizam al-Mulk, yang membangun kubah lain di sisi selatan.

Alhasil, masjid ini menjadi sangat kaya. Desain empat Iwan-nya berbeda antara satu dengan yang lain. Lebar pilar bervariasi dari dua jengkal telapak tangan hingga dua rentang tangan pria Iran dewasa. Langitnya pendek hingga sangat tinggi, tampil polos hingga penuh dekorasi. Setiap lurus dan lengkung garis ruangnya seakan bercerita pada saya akan selera penguasa dan gaya arsitektur Persia di masa tertentu. Ia menyimpan rapi jejak-jejak sejarah arsitektur Persia.

Kontras desain dua iwan masjid Jame Isfahan memberi karakter kuat pada ruang ©Yusni Aziz

Kontras desain dua iwan masjid Jame Isfahan memberi karakter kuat pada ruang ©Yusni Aziz

Pilar-pilar gemuk masjid Jame Isfahan menopang atap di area shalat untuk musim dingin ©Yusni-Aziz

Pilar-pilar gemuk masjid Jame Isfahan menopang atap di area shalat untuk musim dingin ©Yusni-Aziz

Sekembalinya ke Teheran, saya segera mencari perbandingan. Saya menyambangi masjid kecil di bazar Tehran, yang dibangun oleh komunitas setempat pada abad ke-17. Seperti umumnya masjid Iran, masjid ini menyerap elemen-elemen yang dikenalkan penguasa. Yang membedakan, Ia jauh dari kemegahan atau kesempurnaan. Masjid melebur dengan lingkungan setempat.

Skalanya membaur, tidak lebih besar atau lebih tinggi dari bangunan sekitarnya. Bahkan dari koridor bazar, ia hanya dibedakan oleh Iwan setinggi tiga meter. Jika saya sibuk belanja mungkin tidak akan tahu bahwa dibaliknya terdapat sebuah masjid. Tidak ada empat-pintu Iwan, hanya tiga pintu dengan reka bentuk tak seirama. Tidak ada dekorasi berlebih seperti masjid-masjid penguasa. Ia sangat rendah hati dan sederhana. Ia menjadi bagian dari komunitas.

Semua orang berhak bertamu ke masjid tersebut. Ia menyajikan ruang publik untuk semua. Serta kamar mandi dan tempat sembahyang bagi para pedagang, yang bekerja di ruang-ruang kecil di sepanjang sudut bazar. Seperti masjid Nabi, ia menjadi rumah umat yang sangat sederhana.

Berbeda sekali dengan kunjungan saya ke masjid Sepahsalar, yang terletak di sebelah gedung parlemen Teheran. Saya sangat ingin mengunjunginya sejak awal perjalanan. Masjid dari abad ke-19 ini mulai menunjukkan pengaruh arsitektur Eropa dalam denahnya yang memiliki bentuk salib atau desain taman gaya eropa di tengah lapangannya. Ya, desain masjid terus berevolusi.

Sayangnya, grup riset kami dilarang masuk dengan alasan bukan warga asli Iran. Meski sudah berdebat panjang lebar, bahwa kami hanya ingin melihat dan tidak akan mengambil foto. Namun penjaga masjid tetap teguh bahwa masjid ini milik negara yang harus dilindungi dari pencuri kearifan arsitektur Iran. Masjid yang menjadi rumah umat tiba-tiba menjadi tertutup dan ekslusif.

Lapangan masjid Teheran yang selalu ramai dimanfaatkan pedagang ©Yusni Aziz

Lapangan masjid Teheran yang selalu ramai dimanfaatkan pedagang ©Yusni Aziz

Hal ini juga terjadi di Universitas Teheran. Lapangannya menjadi lokasi utama shalat Jumat sejak Revolusi Islam 1979. Untuk memasukinya, setiap orang harus melewati pemeriksaan tentara, pintu metal detektor dan pemeriksaan kartu identitas universitas. Pengunjung tidak diperbolehkan masuk, kecuali rela mengurus administrasi berbelit dengan pihak universitas. Arena shalat menjadi penuh ketegangan. Kenapa seseorang harus digeledah untuk menyembah-Nya ?

Saya akhirnya bertanya kembali ke Golnar, rekan Iran saya. Jika masjid dikontrol pemerintah sejauh ini, bagaimana reaksi anak muda di Iran. Dengan gamblang, Ia mengatakan, “Saya tidak pergi ke masjid sama sekali, seperti teman-teman saya yang lain. Saya tahu beberapa teman yang berangkat, tetapi mayoritas dari mereka tidak. Saya ingat kepergian ke masjid dalam 10 tahun terakhir adalah untuk pemakaman, menjemput nenek yang selesai sembahyang, menggunakan kamar mandinya, atau berkunjung karena mereka adalah monumen nasional!”

“Kebanyakan masyarakat kelas menengah tidak religus. Saya percaya ini datang dari ketidaksukaan mereka terhadap batasan ketat pemerintah yang diaplikasikan dibawah nama Islam.”

“Hingga muncul pemikiran, yang tentu tidak sepenuhnya benar, bahwa menjadi religius diasumsikan sebagai tendensi politik. Saya tekankan lagi, tidak sepenuhnya benar! Saya tahu kawan yang sangat religius yang tidak suka juga dengan pemerintah.”

Masjid adalah rumah umat. Dia lahir karena kebutuhan untuk mempersatukan umat. Namun masjid di Iran, yang begitu cantik dan megah, tidak dapat mempersatukan umat. Memang indahnya tidak lepas dari peran penguasa terdahulu. Tetapi di era penguasa masa kini, semua seakan sia-sia jika Ia malah dijauhi umatnya.

Masjid Sepahsalar terlihat dari sisi jalan yang ramai ©Yusni Aziz

Masjid Sepahsalar terlihat dari sisi jalan yang ramai ©Yusni Aziz

Saya tidak ingin menyudutkan satu aliran agama tertentu. Tetapi melalui arsitektur, saya hanya mempertanyakan apa agama harus menjadi alat monopoli penguasa. Jika akhirnya perbuatan tersebut malah semakin menimbun dalam-dalam esensi dari agama.

Perdebatan mengenai apakah masjid harus megah atau tidak, berkubah atau tidak, berminaret atau tidak, saja seperti benang kusut yang belum bisa terurai. Padahal ‘masjid’ sesederhana meletakkan alas di tanah kosong untuk bersujud menyembah-Nya. Gerak kecil dan tutur kata lembut pasti tak luput dari sang Maha Bijaksana. Saya sendiri ingin mencintai-Nya dengan sederhana.

[1]. ruang dengan langit-langit melengkung yang satu sisinya menghadap area terbuka

 

Yusni Aziz
Alumnus dari double-degree bachelor program kerjasama antara ITS dan Saxion Hogeschool of Applied Sciences. Kemudian menyelesaikan riset di Berlage Institute pada tahun 2013. Saat ini sedang sibuk dengan riset independen dan mengasuh blog pribadi di www.yusniaziz.com