Bincang Sore

1180 Views |  Like

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bincang (berbincang) adalah bercakap-cakap membicarakan sesuatu. Dalam suatu perbincangan, ada interaksi dan komunikasi dari satu pihak ke pihak lain, yang dapat menjadi jembatan pertukaran informasi dan ilmu pengetahuan. Seorang manusia dapat tumbuh dan belajar melalui proses perbincangan. Perbincangan dengan orang lain membuka cakrawala dan memperluas khasanah wawasan dengan sudut pandang yang berbeda.

Proses berbincangan ini sudah pasti membutuhkan sebuah ruang, baik ruang fisik maupun ruang maya. Seseorang membutuhkan sebuah tempat (space) yang dibentuk dalam proses berkomunikasi dengan orang lain. Ruang tersebut bisa kita disebut ruang personal, sebuah area dengan batas imajiner yang mengelilingi seseorang. Dalam melakukan proses komunikasi, seseorang menciptakan sendiri ruang personalnya tergantung pada kondisi yang terjadi (dengan siapa dia berbicara, bagaimana situasi lingkungan bisa mendukungnya dan faktor budaya).

Edward Hall, dalam bukunya The Silent Language, membagi jarak ruang personal menjadi empat jenis. Jenis pertama adalah jarak intim, dengan jarak komunikasi berkisar 0-0,5 meter. Ruang intim ini sering kita lihat ketika kita menggandeng orang kita sayangi, berbisik sayang kepada suami/istri. Kita menciptakan ruang personal kita sangat dekat bahkan menyatu dengan orang lain. Jenis kedua adalah jarak personal, dengan jarak 0,5 – 1,2 meter. Ruang ini terlihat pada percakapan dua sahabat yang saling berjabat tangan dan berbincang-bincang. Jenis ketiga adalah jarak sosial dengan range 1,2 – 3,6 meter. Jarak sosial ini terlihat ketika kita mengadakan meeting dalam suatu ruangan kecil atau sedang berdiskusi pada sebuah meja bundar. Dan Jenis yang terakhir dari klasifikasi ruang personal ala Edward Hall adalah Jarak Publik yang memiliki radius ruang personal di atas 3,6 meter. Jenis ini bisa kita lihat pada seminar-seminar, dimana seseorang berbicara dengan para audience.

Dalam dunia arsitektur, ruang personal mempunyai nilai yang khas dan menjadi pedoman bagi arsitek dalam menentukan tatanan ruang dan jarak interpersonal agar nantinya desain yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan ruang para pemakai ruang.

Melalui ruang bincang, kami ingin mengajak masyarakat ITB untuk mengisi dan berbagi ruang-ruang yang kosong pada ranah arsitektur dan desain. Kami ingin melakukan proses komunikasi dengan bagian masyarakat ITB untuk berbagi pengalaman dan rasa, mengenai dunia arsitektur dan desain. Arsitektur atau desain bukan sebuah ilmu yang pasti. Arsitektur dan Desain berbicara mengenai pengalaman, pengetahuan dan sebuah rasa. Meskipun rasionalitas harus dapat bertanggungjawab pada sebuah karya, namun rasa dan emosi sangat kental memberikan bentuk dan pengalaman pada sebuah ruang.

Bincang Sore

Bertempat di sebuah warung kopi modern di daerah Bintaro, saya seringkali berbincang-bincang dengan Myra Sapphira Tyagita, seorang alumnus arsitektur ITB yang pernah merasakan bekerja sebagai arsitek di negeri orang lain. Jarak yang terjadi pada percakapan kami, jika mengutip konsep Edward Hall, adalah jarak intim dan personal. Kedekatan ini terjadi karena kami memang merupakan pasangan hidup sehingga tidak ada rasa canggung yang bisa menghasilkan jarak renggang antar kita.

Sebagai seorang arsitek, Myra memandang arsitektur merupakan proses pembentukan ruang-ruang dalam memenuhi sebuah kebutuhan tertentu, dimana ruang didefinisikan sebagai sesuatu yang dibatasi oleh bidang-bidang, baik bidang nyata maupun bidang maya. Ruang memiliki definisi yang luas, tidak terkait hanya pada sesuatu yang kasat mata. Oleh karena itu, arsitektur pun memiliki pemaknaan yang luas terhadap pembentukan ruang itu sendiri.

Membandingkan dengan pengalamannya bekerja di negeri orang lain, Myra memiliki pandangan bahwa arsitektur di Indonesia banyak terpengaruhi oleh dampak komersialisasi. Gejala arsitektur mall merupakan salah satu dampak dari komersialisasi. Anak-anak muda dirangsang bukan untuk mengisi ruang-ruang publik hijau, namun lebih diajak untuk mengisi ranah komsumtif pada ruang mall. Ruang-ruang yang tercipta pada arsitektur di Indonesia seringkali menempatkan nilai ekonomis sebagai prioritas utama. Selain itu, Myra memandang bahwa arsitektur di Indonesia selalu dipaksakan untuk tampil “wow”, meskipun sebenarnya bukan hanya gubahan bentuk “wow” yang dicari dari sebuah arsitektur, melainkan simbolisasi makna-makna dari arsitektur itu sendiri dalam membawa nilai budaya lokal.

Meskipun begitu, diakui bahwa banyak karya arsitektur Indonesia lain yang tetap menampilkan sisi nilai lokalitas dan rancangan yang bersahabat (baik dari sisi ekonomis maupun lingkungan).

Sembari bercanda dan habisnya minuman kita, maka selesai pulalah pembicaraan kami mengenai ruang dan arsitektur di Indonesia.

Giri Narasoma
Alumni arsitektur ITB angkatan 2002 yang mengenyam pendidikan magister di London, UK. Sebelumnya, sempat bekerja di salah satu biro konsultan arsitektur di Jakarta dan salah satu Bank Swasta Nasional.