Berry Natalegawa, Arsitek dan Penggerak Life’s Walk

1690 Views |  Like

Suatu sore di sebuah kedai kopi di London, saya bertemu dan berbincang dengan Berry Natalegawa. Beliau merupakan seorang warga negara Indonesia yang tinggal dan berprofesi sebagai arsitek dan building design consultant di London, UK. Selain kecintaannya terhadap arsitektur, beliau juga merupakan orang yang sangat peka dan murah empati terhadap lingkungan sekitarnya. Pada tahun 2010, beliau menginisasi program life’s walk dan berjalan kaki dari London menuju Edinburgh (700 km) guna mengumpulkan bantuan untuk menolong anak-anak terlantar di seluruh dunia. Tidak hanya di UK, beliau pernah melakukan aksi serupa mengumpulkan bantuan di Indonesia dengan berjalan kaki dari Jakarta ke Depok melewati beberapa lokasi bantuan (97 km). Beliau yakin setiap usaha kecil yang dilakukan untuk menolong sesama akan sangat berarti dan dapat berpengaruh besar kelak. Terakhir, Life’s walk dari Edgware ke Sandhurst (67 km) dilakukan untuk bantuan Merapi dan Tsunami di kepulauan Mentawai.

Perbincangan hangat ini membicarakan mengenai kesibukan beliau sehari-hari, aktifitas sebagai pengajar karate, terkadang perbincangannya membahas masalah bangsa diselingi candaan ringan, dan tak lupa membicarakan mengenai arsitektur. Beliau bercerita mengenai perjalanan hidupnya menjadi arsitek dan pengalamannya berarsitektur di UK.

Selama Bapak berprofesi sebagai arsitek dan konsultan desain gedung di London, karya-karya arsitektur apa saja yang telah Bapak hasilkan? Bisakah bapak menceritakan perjalanan Bapak dari high school hingga berprofesi menjadi arsitek?

Sebagai arsitek dan consultant gedung, saya telah bekerja untuk beberapa consultant arsitektur dan menghasilkan beberapa mixed-use development untuk flat, apartemen, pertokoan, perkantoran. Di samping proyek komersial seperti ini, saya pun bergerak di residential project di berbagai daerah di London.

Keinginan menjadi arsitek itu tumbuh cukup awal. Di tahun 70-an, saya seringkali melihat paman saya, seorang insinyur. Saya melihat meja gambar dan gambar-gambar kontruksi. Itu membuat saya cukup tertarik. Tapi lebih dari itu, saya sendiri suka meggambar. Ayah saya, R.S.Natalegawa (almarhum), selalu bersedia memberikan kertas kepada saya dimana saja. Ketika dia melihat saya sedang duduk sebentar; dia akan mengambilkan kertas dan pensil untuk ditaruh di tempat saya. Saya selalu menggambar. Momen itu akan selalu saya ingat.

Kami sekeluarga sendiri sudah lama tinggal di Inggris. Setelah lulus dari high school, di Concord College, Shropshire Midlands, saya mendapatkan kesempatan untuk meneruskan ke universitas. Di high school, saya sudah mendapatkan beberapa kualifikasi (O & A level), dimana salah satunya adalah technical drawing and art, dua topik yang saya sangat sukai. Saya membuat aplikasi kuliah ke AA (Architectural Association, School of Architecture) dan Bartlett UCL (University College London). Saya diterima di keduanya. Pada akhirnya saya memilih AA karena belum ada yang berhasil masuk ke AA dari high school saya, Concord.

Di AA sendiri, saya rasa itu penuh dengan pengalaman yang mengesankan. Tidak gampang. Penuh dengan kesulitan. Karena AA itu sangat bertolak belakang dengan architecture school kebanyakan di UK. AA boleh dibilang sebagai salah satu sekolah arsitektur terbaik di UK. Selama di AA, saya juga bekerja-bekerja paruh waktu di beberapa tempat , ketika summer contohnya. Di AA, kita tidak dianggap sebagai student, tapi dianggap sebagai fellow architect. AA itu Asosiasi Arsitektur, tempat dimana berkumpulnya para associate di sini. Kompetisi terjadi tidak hanya antar pelajar, tetapi juga antar dosen. Selembar tisu yang disertai penjelasan yang baik pun bisa digunakan untuk presentasi.

Berry Natalegawa

Disana, mereka tidak pernah mau membicarakan bangunan. Mereka tidak menggunakan kata “building”. Kita belajar arsitektur, tetapi kita tidak membangun bangunan. Lebih dari itu, Kita bicara proses. Proses itu yang penting. Arsitektur bukan hanya satu end-product dari sebuah bangunan. Satu bangunan ketika selesai dibangun itu bukan berarti selesai, tapi awal daripada ide arsitektur tersebut. Interaksi antara manusia dengan ruang terjadi dan berkembang. You’ll learn by doing it. Tak semua bangunan itu arsitektur. Sebuah bangunan dibangun sama siapapun, belum tentu menjadi arsitektur. Arsitektur harus touch your heart. Arsitektur itu menyentuh. Menggugah,membawa dan berbicara. Membangun ruang tanpa membangun, memberi arah tanpa menunjuk,menyatukan dengan membedakan. AA memberikan banyak pembelajaran buat saya. Saya tidak merasa menyesal mengambil AA. Di AA, saya mengambil full design school. Lepas dari AA, saya bekerja di beberapa konsultan di London.

Apa suka dan duka berprofesi arsitek di luar negeri? Apakah Bapak pernah mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan karena posisi Bapak sebagai minoritas?

Kita lihat secara general dulu. Suka menjadi arsitek ya, kita punya kebebasan dalam merancang. Ketika arsitek melihat rancangannya menjadi sesuatu yang nyata, itu menjadi sesuatu kelebihan yang dimiliki arsitek. Ada kepuasan disitu. Salah satu kelebihan berprofesi arsitek di sini yaitu setiap sesuatu memiliki peraturan dan informasi yang jelas. Ini tidak berlaku hanya di arsitektur, tapi di semua bidang. Undang-undang dan segala regulasi mengenai building design sangat jelas dan clear. Ini memang dihadirkan untuk kebaikan pengguna bangunan itu sendiri. Selain itu, suka menjadi arsitek di luar negeri, mungkin lebih dekat dengan arsitektur global.

Untuk duka, saya pernah mengalami satu kejadian di kantor saya sampai akhirnya saya mengundurkan diri. Ini tidak menyangkut eksistensi saya karena saya merupakan etnis tertentu, tapi lebih karena office politics. Ini bisa terjadi dimana saja. Jadi kejadiannya, ada satu orang yang bisa dibilang menyabotase hasil kerja saya. Sering gambar-gambar saya dirubah tanpa sepengetahuan saya sehingga membuat pihak yang membaca hasil kerja saya menjadi meragukan kinerja saya. Hal ini terjadi berulang kali dan akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari situ. Tapi secara umum, masyarakat disini sangat fair terhadap kemampuan seseorang.

Kita jangan sampai berfikir kita minoritas dan merasa rendah diri sendiri. Kita harus yakin kita mempunyai kelebihan sebagai orang timur. Saya rasa kelebihan kita sebagai orang timur, kita memiliki sifat gotong royong, kekeluargaan dan sopan santun yang baik. Seringkali saya mendapat nilai lebih dan unik dari klien karena sikap sopan yang saya miliki.

Selain itu, ya duka menjadi arsitek di luar negeri, namanya juga jauh dari tanah air, selalu saja merasa ada kekurangan. Kita merasa tidak berada di sekitar teman-teman kita sendiri. Kita harus menguatkan diri kita sendiri untuk mampu bertahan.

Bagaimana apresiasi masyarakat terhadap arsitektur di UK?

Apresiasi masyarakat terhadap arsitektur di sini baik sekali. Di sini ada yang namanya CABE (the Commission for Architecture and the Built Environment) yang bergerak sebagai advisory board untuk pemerintah dalam urusan building, urban spaces, urban planning, sub-urb dan lain-lain. Mereka yang melihat satu kelayakan bangunan dan itu berlaku untuk seluruh bangunan di UK. Itu muncul semenjak tahun 1999 menggantikan board bernama RFAC (The Royal Fine Art Commission) yang telah berdiri sejak tahun 1924. RFAC juga menentukan rancangan yg layak. Publik pun sangat apresiatif dengan desain, terbukti dengan emergence dari urban design sebagai satu design skill yg melibatkan sosial, political economic juga historical konteks.

Disini nilai environment sangat diperhatikan oleh pemerintah. Misalkan kita hendak mendesain sesuatu, spesifikasi dan value dari sebuah material sudah ada dan tertera di bawah Approve Documents dan Building Code. Jika saya menggunakan sebuah material A, maka sudah ada data dan spesifikasi yang jelas mengenai value material tersebut, seperti thermal value-nya, fire safety, structural safety, conservation on fuel and power, dan lain-lain. Ini semua yang berhubungan dengan building control. Semuanya disediakan oleh pemerintah dan kita mutlak merancang dengan batas-batas ini. Mereka selalu meng-update data-data tersebut setiap tahunnya. Mereka sangat memperhatikan isu environment.

Kita sendiri sebagai arsitek, harus memiliki keterdekatan dan koneksi dengan komunitas dan lingkungan. Ketika kita mau membuat sebuah arsitektur murah, kita harus mendefinisikan murahnya apa. Mungkin ketika memilih material, kita memiliki material yang murah. Tapi kita harus lihat effect-nya terhadap lingkungan dan keberlangsungan hidup arsitektur dan penggunanya sendiri. Arsitek harus berfikir beyond that. Murah untuk seseorang tapi bisa menjadi mahal untuk community (lingkungan). Disini pemerintah melakukan kalkulasi untuk arsitektur, sehingga memudahkan kita merespon isu lingkungan. Contohnya, jika kita mendesain pintu yang bisa dibuka, kita tidak boleh sembarang mendesain pintu tersebut. Begitu pintu dibuka, ada thermal issue. Arsitek harus mampu melihat itu secara berkesinambungan. Bangunan-bangunan, baik lama (eksisting) maupun yang baru, harus memiliki serfitikat mengenai dampak lingkungan, yang nantinya akan dievaluasi oleh advisory board.

Dari segi edukasi, bagaimana sistem edukasi arsitektur di luar negeri?

Secara general, edukasi di luar itu lebih terbuka. Disini murid itu diajak untuk berbagi pendapat dan ini terjadi sejak dini, dimana setiap pendapat itu didengarkan sedemikian. Pendeknya, lebih jarang hafalan. Lebih diajak untuk team work, terbuka dan analitis terhadap semua isu. Karena itu, kita itu tidak hanya mengerjakan tugas, tapi betul-betul bisa mengungkapkan pendapat dan ide kita. Ini sangat memberikan bentuk edukasi yang berbeda. Tapi disamping itu kekurangan pun tentu nya ada, seperti kelebihan yg mungkin kita temui di Indonesia. Seimbang saya harap dan saling mengisi.

Berry Natalegawa

Saya punya pengalaman ketika masih jadi student dan diminta membuat rancangan untuk sebuah gymnasium. Kata guru saya, silakan pulang dan besok kembali dengan peralatan olahraga. Besoknya, datanglah murid-murid dengan peralatan olah raga. Kita diminta merancang peralatan olah raga untuk memulai satu discourse, satu pembicaraan yang unik. Beberapa murid harus perform dengan hasil desain peralatan olah raga-nya. Syukurlah saya terpilih diantara 4 dari 26. Peralatan tadi nantinya akan dimanifestasikan menjadi building. Satu tantangan. Jadi, lebih banyak bicara proses disini. Tidak hanya berbentuk brief yang menampilkan bentuk bangunan, spesifikasiknya, ukurannya.

Saran dari Pak Berry untuk arsitek Indonesia bisa bersaing di pasar global?

Pertama, Kita harus percaya diri. Kita tidak boleh merasa kurang atau tidak bisa. Kita harus yakin tapi bukan artinya merasa bisa dan tahu semua.Kita harus seperti cangkir yang siap menerima masukan, informasi dan pengetahuan. Kita harus fleksibel terhadap apa yang masuk. Kita harus menerima dan bisa beradaptasi terhadap perubahan. Apa yang bisa diambil untuk dipelajari. Sekarang zaman internet. Think global! Kita harus bisa mengambil referensi dari luar dan mempelajari apa yang terjadi di luar sana. Mengikuti perkembangan dengan seksama dan turut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan budaya international yang melibatkan arsitek dan perancang seni lainnya. Festival of Architecture in London sebagai contoh. Alur design group turut memeriahkan acara ini dengan kerjasama yang baik dengan KBRI London. Saya sempat berdiskusi dan bertukar pikiran dengan mereka (Alur design group). Sangat menarik.

Kedua, kita harus mampu melihat diri kita. Kita jangan melihat diri kita dari kacamata kita sendiri, tapi melihat bagaimana orang lain melihat diri kita. Kita harus berbenah dan terus memperkaya diri kita dengan pengetahuan. Kita harus menunjukkan ke orang lain bahwa kita bisa. Satu lagi, kita harus melihat secara global bahwa banyak yang tertarik dengan value dan budaya timur. Kita harus mampu mengekspos nilai-nilai keunikan kita. We have to use our strengths!

(Giri Narasoma Suhardi)

Giri Narasoma
Alumni arsitektur ITB angkatan 2002 yang mengenyam pendidikan magister di London, UK. Sebelumnya, sempat bekerja di salah satu biro konsultan arsitektur di Jakarta dan salah satu Bank Swasta Nasional.