Avianti Armand: Antara Fiksi, Kritik dan Arsitektur

2781 Views |  1

 

Cincin perak polosnya sesekali berkilau memantulkan lampu kafe. Dan hanya itu perhiasan yang ia pakai untuk menemani tank top abu dan rok hitam semata kakinya. Leher dan dua telinganya bersih dari segala macam aksesori. Gelang hitam di tangan kanannya lebih mirip ikat rambut daripada logam mulia.

Untuk wawancara RUANG, ia datang dengan sederhana. Sore itu, kami yang berencana akan mengorek latar belakangnya, malah banyak membicarakan perihal fiksi dalam praktik arsitektur Indonesia. Sembari menyeruput kopi hitam, ia mulai membagi kegelisahannya. Narasi fiksi sudah semakin sering disalahgunakan untuk mengangkat prestise proyek arsitektur, ujarnya. Padahal arsitektur harusnya bisa lebih membumi untuk menyelesaikan hal-hal mendasar.

Ia sendiri sangat mencintai narasi fiksi. Di sela kesibukannya praktik sebagai arsitek dan kurator, ia juga rutin meluangkan waktu untuk menuangkan imajinasinya. Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian miliknya memenangkan Cerpen Terbaik Kompas tahun 2009. Dua tahun kemudian, Perempuan yang Dihapus Namanya meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa. Di bidang arsitektur, Rumah Kampung karyanya bersama sang suami, Terry Armand, memenangkan penghargaan IAI tahun 2008.

Avianti Armand, yang biasa dipanggil Vivi, akhirnya menjadi sosok yang diperhitungkan di bidang arsitektur dan sastra. Sebelumnya hanya ada Romo Mangun yang juga terkenal lewat novel-novelnya. Di Kopi Manyar, kami menemui Avianti sebagai narasumber utama edisi Fiksi. Setelah obrolan singkat untuk membuka pertemuan, wawancara kami mulai.

 

Untitled-1

Avianti Armand. ©Ruang

 

 

Rofianisa (R): Bagaimana perjalanan Mbak Vivi sebagai lulusan arsitektur yang juga berpraktik sebagai arsitek, akhirnya dikenal melalui tulisan?

Avianti (A): Saya selalu tahu bahwa saya bisa menulis. Cuma kepercayaan diri itu muncul belum lama. Saya tidak merasa menemukan suara pada saat menjadi seorang arsitek; mungkin memang harusnya saya tidak menjadi arsitek. Karena terlalu banyak yang saya kritik saat berpraktik, saya jadi sering merasa bersalah. Kemudian sekitar tahun 2007, saya mulai aktif menulis.

Sebenarnya, saya sudah cukup lama menulis artikel-artikel bertemakan arsitektur. Tetapi lebih seperti in-house, misalnya untuk karya Andra Matin yang dimuat di Laras atau membantu merangkum kuliahnya Mas Aang (panggilan kecil Andra Matin.red). Tapi, yang benar-benar menulis serius, ya tahun 2007 itu, dan itu mulai menulis fiksi.

Yusni (Y): Tapi sebagai penulis fiksi yang juga arsitek, apakah Mbak Vivi ada usaha untuk mengkaitkan keduanya?

A: Sebetulnya, mereka adalah dua hal yang berbeda. Namun, saya menemukan kesamaan antara sastra dan arsitektur. Mereka sama-sama punya struktur, dan mempunyai dua muka. Satu muka untuk komunikasi, lainnya untuk ekspresi.

Prosesnya juga tidak terlalu beda. Tulisan juga membutuhkan sesuatu yang visual. Pada saat menulis, penulis perlu menceritakan detail-detail yang meyakinkan untuk membangun sebuah cerita. Dan akan menjadi sangat kuat kalau dia mempunyai imajinasi visual. Seperti, misalnya, jika ingin menceritakan seorang tokoh yang muncul, karakter orang tersebut bisa dibangun dengan menggambarkan hal-hal visual. Sepatunya mengkilat, bajunya disetrika rapi, hingga celananya yang bergaris. Detail visual seperti itu akan memperkuat sebuah cerita, dan dalam arsitektur hal-hal seperti itu juga akan memberi dampak yang sama.

Y: Kalau begitu, apakah menuangkan imajinasi visual dalam sketsa membantu Mbak Vivi dalam menulis?

A: Hmm, beberapa kasus memang saya gambar, sih.

Seperti puisi di Perempuan Yang Dihapus Namanya. Ada satu puisi yang kalimat pertamanya lahir dari sebuah sketsa. Jadi gambar itu betul-betul saya terjemahkan ke kata-kata. “Malam adalah sebuah kubus. Di dasarnya, seorang perempuan….” Karena waktu itu saya tidak sengaja menggambar sebuah kotak.

Y: Apakah kemudian menulis mempengaruhi Mbak Vivi dalam berarsitektur?

A: Hmm, mungkin ya. Yang jelas, dalam presentasi jadi lebih meyakinkan (tertawa).

Pada saat kita menulis kan ada struktur yang jelas. Dengan begitu, saat presentasi kita bisa melihat yang mana yang akan kita highlight, mana yang akan menjadi argumen penguat. Tapi dalam desain sendiri, I don’t know.

R: Sekarang Mbak kan sudah punya empat karya. Apakah mereka adalah media untuk mengkomunikasikan pesan tertentu? Seperti semacam kritik atau pembelaan terhadap sesuatu?

A: Hmm… buku mana dulu? Kalau buku terakhir sebenarnya cuma kumpulan puisi, yang sifatnya impulsif. Maksudnya tidak dihasilkan dalam rentang waktu tertentu, tapi panjang sekali dan sifatnya insidentil. Itu tidak ada tujuan khususnya.

R: Bagaimana dengan “Arsitektur yang Lain”?

A: Oke. Kalau itu iya.

Sebenarnya saya selalu melihat, jika kita bicara masyarakat arsitektur, seolah ada dua jalur paralel yang tidak saling ketemu. Satu adalah jalur akademisi, satu lagi jalur praktik. Yang lain jalan sendiri, yang satunya sok asyik sendiri. Padahal, di luar negeri, yang dirangkul dalam arsitektur sudah luas sekali. Bahkan, sejarah dan teori sudah menjadi sesuatu yang sehari-hari.

Orang awam juga dibekali hal-hal arsitektural. Jadi, masyarakat bisa mengakses isu-isu tersebut dengan mudah. Saya ingat di tahun 1999, saat AMI mau pameran di Belanda. Yang menyelenggarakan adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang khusus membahas isu perkotaan. Nah, waktu saya datang ke kantornya, ada bapak tua yang sedang bertanya mengenai rencana pembangunan jalur kereta baru. Jadi, arsitektur yang berupa bangunan, atau lingkup kota sudah menjadi diskusi sehari-hari orang awam. Semua orang adalah ahli, dan memang betul kita semua ahli! Tiap hari kita bersentuhan dengan ruang, kok.

Cuma, di sini (Indonesia.red), sama sekali tidak ketemu. Praktisi arsitektur punya bahasa sendiri saat bicara, juga para akademisi. Saat saya menulis untuk U Magazine, saya sadar siapa pembaca saya, yaitu orang awam. Tapi, apakah mungkin untuk bicara konsep-konsep ruang pada mereka? Bisa, loh.

Misalnya, dapur. Bagaimana kita berbicara tidak hanya sebatas tata letak, ataupenggunaan material, tetapi juga sejarahnya. Atau tentang jendela. Jendela ini apa? Kenapa di rumah limasan nggak ada jendela? Kenapa arsitektur modern punya jendela?

Hal-hal itu kan dibicarakan para akademisi, tapi harusnya juga dibicarakan awam dan praktisi. Jadi, saat itu, saya justru melihat adanya peluang untuk kita bisa menarik arsitektur menjadi sesuatu yang wajar dibicarakan siapapun juga. Tanpa itu, arsitektur kita nggak akan ke mana-mana, kecuali sebatas eksplorasi bentuk. Atau sesuatu yang akhirnya dibangun berbekal fiksi dan uang klien. Ya kan? Cuma dibangun dari itu. Gila. Arsitektur itu profesi yang asyik banget, kan? (tertawa)

 

Untitled

Tiga buku karya Avianti Armand.
Sumber: Goodreads.com & Dailysylvia.com

 

R: Di Amerika, artikel arsitektur bahkan sudah masuk ke koran seperti New York Times. Kenapa dalam konteks Indonesia, kita masih seberjarak itu?

A: Sebetulnya ini PR banyak orang. Banyak institusi. Bukan cuma arsitek atau akademisinya. PR asosiasi profesi juga, IAI. Kalau kita melihat IAI, seolah yang di depan itu arsitek-arsitek yang memang memiliki klien besar. Yang dimunculkan arsitek yang itu-itu lagi. Apakah arsitek yang berkiprah di konservasi juga akan dikedepankan? Atau yang berkiprah di komunitas? Jangan-jangan malah tidak diakui?

Tapi, itu satu hal ya, hal lain mengenai media. Media arsitektur kita memang, sejauh ini, yang laku dijual adalah yang bersifat dekoratif. Kegiatan ASF (Architecture Sans Frontieres) di kampung Tongkol apa kemudian masuk majalah Laras? Tidak ada kan di majalah Dewi? Ya tentu tidak.

Kalau dilihat memo tahunan-IAI tahun kemarin itu sebetulnya sudah langkah yang bagus. Kegiatan konservasi sudah mulai dikedepankan, begitu juga yang bernuansa komunitas. Tapi, itu juga masih butuh langkah panjang lagi supaya dapat menjadi bahasan umum.

Dan sebenarnya, kita juga kekurangan kritikus. Indonesia tidak punya orang yang memang serius menulis kritik. Sementara arsitektur itu bisa maju apabila ada segitiga antara praktik, pendidikan, dan kritik. Yang satu lebih aplikatif, yang satu mendorong penyiapan aktornya, dan yang lain lebih evaluatif. Saat ini, kaki ketiganya belum ada. Dua yang lain juga masih terpisah. Segitiga ini berfungsi sebagai corong representasi untuk masalah-masalah yang riil.

Y: Apakah Arsitektur Yang Lain juga berusaha memberikan kritik melalui fiksi?

A: I hope so. Tapi, itu seharusnya bukan saya yang menilai, kan? Tapi orang lain. Kalaupun sekarang belum bisa melakukan tugasnya sebagai kritik, mudah-mudahan menginspirasi orang lain untuk mulai melakukan kritik.

Y: Kalau selama ini menggunakan narasi, kemudian dalam Buku Tentang Ruang metodenya berbeda: puisi. Orang lain mungkin sulit mengaitkan dirinya dengan karya tersebut. Selain budaya membaca puisi kita masih kurang, juga ruang untuk interpretasinya bisa sangat luas. Kenapa Mbak Vivi memilih bentuk itu?

A: Hmm… Sebenarnya itu sederhana banget. Untuk judul Buku Tentang Ruang itu sebetulnya salah satu judul puisi, yang kemudian saya pakai sebagai judul buku. Kenapa juga saya mau menggunakan itu sebagai judul buku? Karena catchy, gitu. Jadi, yaa… (tertawa)… alasannya nggak muluk-muluk, kok.

Tapi setiap puisi itu menyusun dunianya sendiri. Dia punya ruang interpretasinya sendiri. Jadi, kalau di buku ini saya menjejerkan puisi saya, saya sebetulnya mengajak pembaca masuk ke ruang interpretasi dan dunia mereka.

Y: Di buku yang sama, ada dua tokoh yang disebutkan secara eksplisit. Wong Kar Wai dan Junya Ishigami. Kenapa mereka?

A: Selain senang baca, saya juga suka nonton film. Dan film yang engga pernah gagal menurut saya itu karya Wong Kar Wai. Dia hampir tidak pernah menceritakan sesuatu secara gamblang, tapi menggunakan simbol-simbol. Misalnya, untuk menceritakan orang sedang kangen, ia menggambarkannya dengan langit senja yang berwarna oranye.

Sebagai perbandingan, lihat saja sinetron Indonesia. Penggambarannya benar-benar literal gitu. Misalnya, mau menggambarkan anaknya kecelakaan. Bapaknya telepon ibunya, “Bu, anak kita kecelakaan!” Terus ibunya merespon, “Apa!? Anak kita kecelakaan!?” Terus bapaknya jawab lagi, “Iya, anak kita kecelakaan!” Mampus! (semua tertawa)

Gitu, kan? Kalo di Wong Kar Wai cuma orang angkat telepon, lalu dia dengarkan. Terus teleponnya ditaruh. Shoot mukanya sebentar, trus kameranya tembus jendela, tunjukkan pemandangan di luar. Kaya’ gitu, loh! Jadi, sebenarnya tidak perlu literal. Menurut saya, hal itu tidak pernah gagal untuk mengoyak-ngoyak perasaan… (semua tertawa)

Nah, Junya Ishigami menurut saya adalah arsitek dengan level kepekaan yang sama. Kalau kita bicara modernisme kan mengusung “form follows function” yang semuanya diselesaikan secara rasional.

Seperti, misalnya, KAIT (Kanagawa Institute of Technology Workshop). Menurut saya, itu luar biasa, semua aspek fungsionalnya diselesaikan dengan baik dan dengan cara yang sangat sensitif. Dia bisa saja menaruh kolomnya mengikuti sebuah grid. Tapi, malah diatur secara acak dengan ukuran yang sekecil mungkin, dan banyak. Akhirnya itu memberi kita pengalaman yang baru. Karena ruang itu bukan “apa yang direncanakan” tapi “apa yang dialami”. Setiap kali kita bergerak, kita nggak pernah ketemu kualitas ruang yang sama. Tapi, kita juga tahu bahwa ada rasionalitas di balik semua ini. Setiap orang punya cerita yang beda. Sama sekali tidak ada yang pasti.

 

junya

Kanagawa Institue of Technology Workshop karya Junya Ishigami.
Source: Archeyes.com

 

Sebenarnya, saat saya datang ke bangunan itu, saya nggak tahu mengenai narasi konsepnya. Baru setelah dari sana, saya baru cari-cari ceritanya untuk kemudian dituliskan. Ya, yang diceritakan akhirnya praktis sekali, tentang bagaimana dia merencanakan strukturnya.

Atau saat dia mendesain meja dari besi 9 milimeter dengan panjangnya 9 meter itu. Apakah dia menceritakan “saya mau menciptakan sebuah dunia yang suriil,” gitu? Tentu tidak! Dia nggak ngomong gitu. Dia cuma cerita, “Bisa nggak sih, saya bikin meja panjangnya 9 meter, tebelnya 9 mili?” Tujuannya hanya mau tes titik ekstrim dari sebuah material. Itu doang, iya kan?

Tapi, jika kemudian saat kita melihat meja itu kita akan merasakan sebuah fenomena suriil, itu lebih seperti impact. Merinding nggak sih lihat di atas meja itu diletakkan benda-benda kecil sehari-hari, yang kalau kita angkat mejanya juga ikut gemetar? Itu kan jadi bikin deg-degan (tertawa).

Y: Kalau kita berbicara konteks Indonesia, apakah sekarang banyak praktik arsitektur yang menggunakan narasi fiksi tapi tidak tepat sasaran?

A: Sebenarnya bukannya tidak tepat sasaran, tapi kadang kita melihat bahwa fiksi itu malah mengalihkan arsitek dari masalah utamanya. Dan sering juga kita lihat bahwa akhirnya fiksi itu merupakan justifikasi dari intensi desainnya.

Saya berharap, sebetulnya justru sebelum mulai mengarang fiksi, arsitek berusaha sama kerasnya untuk mencari akar permasalahan atau problem yang sesungguhnya dari penugasan yang dia dapat.

Y: Yang dimaksud dengan mengarang fiksi dalam berpraktik arsitektur itu seperti apa?

A: Basically adalah pembuatan konsep itu. Dewasa ini, kita kalau mau melakukan riset kan mudah sekali. Tapi, sering sekali arsitek tidak melakukan riset yang cukup untuk melandasi desainnya. Lebih mudah mengarang cerita.

Saya sih tetap berpendapat bahwa arsitektur adalah solusi dari masalah tertentu. Jadi, masalahnya harus ditemukan dulu. Nanti dalam proses mendesainnya, tentu tidak bisa lepas dari imajinasi. Dan itu tidak salah, sepanjang imajinasi itu tidak mengalihkan kita dari masalah sesungguhnya.

Apakah nanti pendekatan fiksi itu bisa menimbulkan masalah? Kita sering lihat di majalah, di media online. Dari tampilan fotonya saja, kita sudah bisa menduga masalah yang akan timbul. Misalnya, borosnya penggunaan energi oleh AC, karena bangunannya banyak menggunakan kaca. Itu sudah terlihat. Daripada dia mengarang cerita mengenai konteks lingkungan yang stagnan, kenapa dia tidak mencoba mengatasi dahulu penggunaan energi yang hemat di rumah itu.

R: Jadi apa intensi narasi fiksional itu sebenarnya untuk menciptakan bunga-bunga yang memperindah proyek?

A: Ya, bisa. Di era saat yang visual itu lebih laku dijual, ya… itu bisa sekali.

 

Screen Shot 2017-05-03 at 5.25.47 PM

Menguatnya peran media online arsitektur semakin menyuburkan narasi fiksi sebagai strategi penarik perhatian.
Source: archdaily.com

 

Y: Sebelumnya Mbak Vivi juga menyatakan bahwa tren narasi fiksional ini mungkin bentuk postmodernisme yang terlalu jauh. Kenapa mengambil kesimpulan seperti itu?

A: Sebetulnya kalau kita lihat sejarah kan selalu bergerak dari ekstrim ke ekstrim. Modernism, dengan kredo “form follows function” akhirnya membuat bangunan dipretelin dari semua ornamen dan dekorasi. Jadi dingin, dan beberapa merasa bangunan menjadi soulless.

Kemudian akhirnya timbul semacam pemberontakan yang dilakukan Venturi dan teman-temannya. Lalu oleh Charles Jencks diberi label postmodernisme, atau sesudah modernisme. Semua dekorasi dan fiksi seolah dikembalikan lagi. Menjadi menu utama. Nah, makin kesini, dengan adanya media, orang kemudian berlomba untuk mengeksplor dekorasi-dekorasi tersebut. Kredonya sekarang jadi “yang penting tampil”.

Apalagi sekarang konteks tidak hanya berupa yang riil, tapi juga yang virtual. Media online cepat sekali berganti informasinya. Akhirnya kita ditantang untuk menarik perhatian sebisa mungkin, supaya orang tidak lupa dengan eksistensi kita. Caranya? Ya, dengan membuat fiksi segila-gilanya, seheboh-hebohnya.

Y: Terakhir. Bagaimana harapan Mbak Vivi terhadap dunia penulisan fiksi dalam relasinya dengan dunia arsitektur?

A: Nah, ini loh. Di Indonesia, orang kalau bikin cerita itu seperti kena penyakit novel-novel Rusia. Tahu kan novel-novel Rusia tuh yang tebal-tebal…. Intinya engga pernah simpel. Seribu halaman dan ceritanya tuh wuughh, bombastis.

Sama seperti film India. Minimal ada tiga generasi, kan. Dari bapaknya punya anak, lalu nanti akhirnya musuhan, trus cucunya ketemu, langsung kawin gitu kan? (tertawa). Jadi, nggak pernah simpel. Padahal berapa banyak sih orang-orang yang drama begitu? Yang minum kopi hitam biasa aja kan jauh lebih banyak? Dan apakah cerita orang-orang yang biasa-biasa itu tidak menarik? Menarik, loh!

Nah, karena itu kalau lihat di Buku Tentang Ruang, atau puisi saya yang lain, obyek atau subyeknya adalah hal-hal yang sederhana. Peristiwa yang sehari-hari. Karena kalau kita nggak menarik perhatian ke yang sehari-hari, akhirnya kita selalu bermimpi tentang hal-hal yang besar. Dan kemudian kehilangan kepekaan untuk mendeteksi masalah-masalah yang riil, itu kan yang akhirnya juga terjadi di arsitektur. Everybody wants to be a big hero. Padahal, what we need is actually an everyday hero. Dan itu gampang sekali, kok. Kita selesaikan saja masalah pagar karena itu berhubungan sama keamanan, tukang sampah, dan tetangga. Kita selesaikan saja masalah tempat parkir. Atau masalah ketersediaan air; bagaimana supaya nggak membebani lingkungan. Hal-hal seperti itu, yang remeh, tapi sebetulnya masalah kita sebenarnya.

Jadi cara kita menulis, memandang dan membaca fiksi itu terkait juga dengan bagaimana cara kita memandang kehidupan. Dan itu harus terus-menerus diingatkan kembali.

 

 

 

Yusni Aziz
Alumnus dari double-degree bachelor program kerjasama antara ITS dan Saxion Hogeschool of Applied Sciences. Kemudian menyelesaikan riset di Berlage Institute pada tahun 2013. Saat ini sedang sibuk dengan riset independen dan mengasuh blog pribadi di www.yusniaziz.com
Rofianisa Nurdin
Menjadi sarjana Arsitektur ITB pada tahun 2012. Ketertarikannya kepada kota, manusia, dan budaya membawanya ke dalam ranah industri kreatif dengan semangat kolaborasi melalui Vidour yang digagas pada tahun 2011 dan CreativeMornings Jakarta yang digagas pada tahun 2014. Memori kolektifnya tersebar di kota-kota Asia Tenggara: Bandung, Ubud, Jakarta, George Town (Penang), dan Singapura. Saat ini menjadi Jakarta Chapter Ambassador di CreativeMornings, Community Manager di lingkaran.co, dan Program Manager di rabu(n) senja bersama tim a publication andramatin.