Arsitektur, kota, dan destruksi

784 Views |  Like

Arsitektur hampir selalu identik dengan aktivitas membangun (konstruksi) – menambahkan sesuatu kepada lahan. Hal ini dapat diikuti oleh atau tanpa proses penghancuran terlebih dahulu terhadap lahan, lingkungan, atau kota. Arsitektur, hampir bisa dibilang, setara dengan proses adisi.

Proses destruksi  juga hampir selalu hadir dalam setiap proses konstruksi. Sebelum kota dan arsitekturnya hadir, alam telah hadir terlebih dahulu. Kemudian arsitektur datang dan memulai proses destruksi untuk menaklukan alam menjadi konstruksi kota. Begitu juga dengan kota, arsitektur yang baru pun menggantikan yang lama. Dalam prosesnya, tentu diperlukan sebuah perataan. Entah kondisi semula adalah bangunan bersejarah atau bangunan kumuh, pengembang yang menyebut diri mereka pembaharu, darang untuk menggusur dan meratakan lahan untuk menggantikannya dengan sebuah kawasan baru. Sehingga, lapisan kota yang telah tersusun akan digantikan oleh yang lebih baru, terkini, dan modern. Kota terbentuk dari proses-proses ini yang saling tumpang tindih. Kota adalah konsentrasi rekaman lapisan sejarah, juga penghapusannya. Destruksi adalah sebuah usaha untuk mengkonstruksi.

Artikel ini akan mengilustrasikan keterkaitan proses destruksi-konstruksi melalui beberapa contoh, dari berbagai konteks diantaranya, pada kota abad pertengahan Roma, kota pos-kolonial Jakarta, dan terakhir proyek riset dengan  fokus regenerasi kota Yunani modern yang tentunya memiliki alasan tersendiri dibalik proses tersebut.

Destruksi dengan ekskavasi

Roma adalah kota yang berkembang karena aglomerasi penduduk dari berbagai macam suku dan etnis. Begitu pula dengan arsitekturnya, Roma tersusun dari konstelasi monumen dan katedral dari berbagai macam periode arsitektur yang bertumpuk dan berlapis-lapis.

Rencana Roma oleh Sixtus V

Rencana Roma oleh Sixtus V

Kota ini telah melalui berbagai jenis perencanaan kota untuk merestorasi dan memodernisasinya semenjak abad ke-16, diantaranya proyek perencanaan yang dilakukan oleh paus Sixtus V. Kontribusi terbesarnya terhadap kota Roma pemetaan elemen-elemen dan monumen-monumen bersejarah di kota ini. Pemetaan ini diperkuat oleh rencana penghubungan artefak-artefak ini secara langsung dengan jalur-jalur strategis. Simbol arsitektur, seperti tugu, digunakan untuk memperkuat jalur tersebut sebagai petanda koneksi visual. Roma terbaca menjadi jaringan keterhubungan antar monumen. Sementara, lapisan penyusun kota lainnya dianggap sebagai sebuah karpet homogen yang memberi latar bagi petanda-petanda tadi. Koneksi fisik dan visual ini dibangun dengan penghancuran karpet urban yang terlalui oleh rencana jalur-jalur tadi, misalnya saja reruntuhan kuno Septizonium. Pusaka-pusaka dari penghancuran ini nantinya digunakan kembali untuk membangun istana Vatikan.

Siktus V berpandangan bahwa untuk meremajakan kota abad pertengahan Roma, keberadaan laten monumen-monumen yang ada harus ditemukan kembali. Dengan tabula rasa Roma dihancurkan untuk dibuat kembali. Penghancuran ini membentuk sebuah keterhubungan fisik dan visual yang baru dari kota lama. Seperti sebuah proses penggalian arkeologis terhadap kota lama demi menemukan makna baru. Modernisasi kota tidak selalu dilakukan dengan cara penambahan, namun pengurangan dapat membentuk persepsi baru terhadap kota lama.

Penghancuran kota Roma tidak berhenti sampai di era Sixtus V, proses modernisasi melalui destruksi berikutnya dilakukan oleh Benito Musollini pada tahun 1936. Dengan mengayunkan beliungnya kepada salah satu, secara simbolis, ia memulai proyek penghancuran spina of Borgo. Proyek ini dilakukan untuk menghubungkan kota Roma dan kota Vatikan secara fisik dan simbolis. Ia cukup kontroversial dengan banyaknya penduduk yang dipindahkan, serta bangunan bersejarah yang dihancurkan dan dibangun kembali di tempat yang lain. Beberapa bangunan dipotong demi membuat sebuah jalan monumental. Ketidakteraturan tampak pada bangunan yang dipotong ‘diakali’ dengan pembangunan dua ruas jalan yang dihiasi barisan tugu yang memberi datum dalam mengantarkan pengguna ke plaza St. Peter.

Destruksi memori kolektif Jakarta

Okupasi Belanda terhadap bangsa kita selama 350 tahun, meninggalkan luka  juga akulturasi budaya yang cukup dalam. Beberapa warisan kolonis, seperti sistem transportasi trem, bangunan, atau penataan kota sempat menjadi bagian dari keseharian kehidupan kota-kota di Indonesia, sebelum dihapuskan secara perlahan. Ketika Indonesia memperoleh kemerdekaannya, secara heroik, presiden Soekarno berusaha membangun kembali semangat bangsa Indonesia dari keterpurukan dengan merekonstruksi memori kolektif baru bagi bangsa Indonesia.

Diawali oleh proses penghancuran warisan kolonial, baik arsitektur – bangunan dan vila kolonial – atau infrastruktur – misalnya, sistem transportasi tram. Sebisa mungkin memori sisa penjajahan disingkirkan, (mungkin) hanya disisakan di kota lama sebagai sedikit penggalan memori. Soekarno melanjutkannya dengan ambisi arsitektur monumental demi membangun semangat kebangsaan (nation building). “Bangunan yang besar dan monumental untuk menunjukkan bahwa [bangsa Indonesia] adalah bangsa yang besar.”  Mereka lalu digantikan oleh bangunan modern yang monumental, misalnya Gedung DPR/MPR, Monumen Nasional, Masjid Istiqlal, dan lainnya. Arsitektur menjadi korban sekaligus pahlawan. Arsitektur menjadi alat untuk mendestruksi juga mengkonstruksi memori kolektif. Ia membekukan waktu menjadikannya sebagai sejarah, kemudian mengkonstruksi waktu dengan memulai sebuah era baru. Sejarah menjadi proses konstruksi dan destruksi sebuah waktu, dengan arsitektur sebagai alatnya.

Destruksi yang membentuk ruang

Kota Athena merupakan manifestasi puncak dari urbanisasi. Terlepas dari beberapa pengecualian, seperti artefak acropolis atau reruntuhan di tengah-tengah alam bukit Lykavittos, hampir seluruh permukaan kota itu telah terurbanisasi. Jika diamati dari udara, ia nampak seperti karpet urbanisasi tanpa ujung. Hanya pegunungan yang mengelilinginya yang mampu membendung arusnya.

img_4442

Kota Athena dan archetype urbanisasinya, Polykatoikia © Ivan Nasution

Struktur kota Athena pun terlihat ambigu, seperti sebuah ketidakaturan dalam keteraturan. Ia terlihat tersusun atas kisi-kisi (grid) yang teratur, namun terbagi-bagi secara acak dan menjelimet menjadi lahan-lahan kecil tempat terbangunnya bangunan yang tidak teratur pula. Ia terjenuhkan oleh perekonomian kota yang mengundang kepadatan penduduk dengan meninggalkan pembagian kontras antara ruang publik dan privat.

Athena tidak pernah memiliki rencana kota. Hanya ada sebuah kerangka Rencana Segitiga Neoklasik yang dibuat pada abad ke-19 yang memberi struktur umum kota tersebut. Selebihnya, ia diisi oleh pengulangan bangunan yang sama, sebuah pola dasar (archetype) bernama polykatoikia. Polykatoikia, yang secara literal berarti hunian majemuk. Namun, ia dijabarkan menjadi pengaturan bangunan dengan mendetil, sehingga (hampir) mengatur semua bangunan di Athena terlihat sebagai replika ‘rumah contoh’ secara massal. Semua bangunan nampak sama – memiliki  modul yang identic, tinggi jendela yang serupa, balkon yang sama dengan hanya perbedaan warna penutup kanopi. Polykatoikia telah mengatur sedemikian rupa, sehingga bangunan buatan pengembang atau yang dibangun secara ilegal menjadi identik. Sebuah sistem yang mengatur struktur kota Athena.

Dalam sebuah proyek penelitian desain, kami berusaha mengintervensi kota Athena dengan elemen arsitektur yang membentuk ruang. Ia bertugas memberi pemaknaan baru terhadap kota dengan menemukan lagi hubungan antara arsitektur dan kota serta penghuninya. Intervensi ini dimulai dari skala kecil, namun jika berkelompok ia menjadi sesuatu yang berdampak signifikan. Ia dapat beradaptasi dalam konteks yang berbeda tergantung lokasi tempat ia berada. Ia akan menjadi paradigma yang bersifat sebagai exemplar dan exemplum, sebuah imitasi dan juga prototipe yang adaptif.

Platform © Ivan Nasution

Platform © Ivan Nasution

Salah satu proyek intervensi tersebut bertajuk Platform (panggung). Platform adalah lantai yang terangkat setengah meter dari  jalan, dan diukir dalam polykatoikia eksisting. Ia bisa terbentuk dengan menghancurkan pembungkus bangunan – dinding, jendela, pintu, dan pagar – di lantai dasar polykatoikia, dan tetap mempertahankan sirkulasi vertikal, seperti lift dan tangga. Penghancuran ini akan mengekspos susunan struktur bangunan berupa kolom-kolom berukuran 60cm x 60cm dengan bentang 6 meter antar kolomnya. Ia menelanjangi arsitektur sebatas elemen infrastrukturalnya saja.

 

Denah-Potongan Platform © Ivan Nasution

Denah-Potongan Platform © Ivan Nasution

Platform menyatukan area-area privat yang terisolasi menjadi terhubung dengan destruksi tadi. Dengan melapisi lantai panggung tadi menggunakan material yang sama, lantai granit setebal 3 cm dengan modul 1m x 1m, maka terbentuklah sebuah permukaan yang kontinu. Dengan tetap mempertahankan area pejalan kaki selebar 2m pada perimeternya, ia dapat diakses dari keempat sisinya. Platform menampung jalan masuk menuju ruang domestik, toko, dan fasilitas. Dengan penyatuan, ia mendefinisikan kembali sebuah kesatuan blok yang terfragmentasi oleh pembagian lahan yang jelimet.

05-copy2

Platform sebagai tempat pertukaran informasi dan bekerjasama © Ivan Nasution

Platform akan memperkenalkan ruang yang ambigu, ia terasa seperti interior dan eksterior pada saat bersamaan. Ia memberikan lapisan ruang komunal diantara ruang-ruang privat dari polykatoikia dan ruang publik – jalan. Sebuah ruang yang tak bertuan yang digunakan secara bersama-sama oleh blok, sebuah lobi komunal. Ia menjadi tempat pertukaran informasi antara penghuni-penghuni polykatoikia untuk bekerjasama. Ia  mengoptimalisasi kemampuan komunikasi manusia untuk memproduksi hal-hal immaterial.

typical-ground-floor

Mengekspos denah tipikal kota © Ivan Nasution

Platform tidak menambahkan massa pada kota, melainkan hanya mengekspos typical plan dari lantai dasar kota.  Ia tidak menolak sebuah elemen dasar dari kota generik – kolom, dinding, tangga, dan sirkulasi vertical – melainkan mengeksposnya. Dengan menghapus pembungkusnya, ia menemukan ketelanjangan dari kota untuk menemukan sebuah kesadaran baru bagi penduduk kota.  Kesadaran ini akan mengkonstruksi sebuah memori kolektif baru dengan menghapus memori lama terhadap kota yang ada.

Usaha menemukan sebuah ruang kota tidak hanya dapat diperoleh melalui proses penambahan sebuah massa, namun dapat dicapai melalui proses pengurangan terhadap massa yang ada. Ia mengurangi sesaknya urbanisasi dengan menemukan void diantara ruang kota yang padat. Platform adalah sebuah usaha menemukan makna baru dengan cara penggalian arkeologis di reruntuhan kota lama. Ia akan menyerap konteks, menguatkannya bahkan mengubahnya.

Destruksi menjadi proses menemukan ruang.

Ivan Nasution
Ivan Nasution lulus dari Arsitektur ITB pada tahun 2006, lalu bekerja di Park+Associates Architect, Singapura. Di tahun 2011, ia menyelesaikan pendidikan penelitian pascasarjana di Berlage Institute Rotterdam. Saat ini menjadi peneliti di Centre for Sustainable Asian Cities, National University Singapore. Di sela waktu luangnya, ia aktif menjadi fasilitator bagi Participate in Design, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang desain, perencanaan, dan pendidikan.