Arsitek, berkata dalam karya

2831 Views |  Like

Arsitektur, secara etimologis berasal dari bahasa latin “architectura” yang diambil dari bahasa yunani kuno “arkhitekton”, yang secara harfiah berarti “chief builder” atau pembangun utama. Sekitar dua ribu tahun yang lalu, seorang arsitek Romawi, Marcus Vitruvius Pollio menulis sebuah risalah mengenai arsitektur yang berjudul De Architecture, atau kini lebih dikenal dengan The Ten Books on Architecture. Dalam karyanya, Vitruvius menyatakan sebuah structure (gedung) harus mampu menampilkan kualitas firmitas, utilitas dan venustas. Sebuah arsitektur harus kuat, berguna dan juga elok. Pemahaman tersebut sangat popular dalam dunia arsitektur dan masih berlaku sampai dengan sekarang. Namun seiring waktu berputar, definisi arsitektur menjadi semakin luas dan kompleks, tidak hanya mencakup tiga elemen tersebut. Bahkan, kata arsitektur sering digunakan oleh displin ilmu lain untuk menggambarkan sebuah sistem yang kompleks.

Vitrivius menyatakan bahwa ada dua komponen utama dalam berarsitektur yakni latihan (practice) dan pemikiran (reasoning). Latihan mengacu pada pekerjaan atau kemampuan tangan dan pemikiran merujuk pada kemampuan untuk menghasilkan sebuah proporsi yang tepat. Dengan menggabung kedua kemampuan tersebut, seorang arsitek dapat menghasilkan sebuah arsitektur yang baik.

Arsitektur sangat erat dengan budaya. Arsitektur merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan budaya, dimana budaya merupakan pengejewantahan nilai dari sebuah sejarah. Setiap zaman memiliki budaya sendiri dan setiap budaya memiliki langgam (style) arsitektur sendiri. Arsitektur mengalami banyak perkembangan seiring berjalannya waktu. Dari masa arsitek Vitruvius, ke Le Corbusier sampai dengan Rem Koolhaas. Dari langgam Romawi, Art Deco, de stijl, sampai dengan dekonstruksi.

Perkembangan teknologi juga ikut berpengaruh pada proses arsitektur. Ditemukannya teknologi terbaru, memungkinkan eksploitasi bentuk-bentuk arsitektur yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Opera House Sydney dan Stadium Bird Nest di Beijing merupakan sebuah teroboson baru di dunia arsitektur dan kontruksi. Arsitektur selalu berkembang mengikuti perkembangan budaya dan teknologi menghadirkan sebuah tempat yang (seharusnya) menyehatkan dan menyenangkan penghuni dan lingkungannya.

Arsitektur mungkin tidak memiliki peran yang strategis terhadap tatanan kehidupan manusia, namun dalam kenyataannya arsitektur menjadi pengiring utama peradaban kehidupan manusia. Salah satu kutipan dari Winston Churchill, We shape our buildings and afterwards our buildings shape us menunjukkan adanya jembatan antara arsitektur dan perilaku manusia. Arsitektur merupakan sebuah manifesto fisik, yang kemudian bertransformasi menjadi pembentuk perilaku manusia dan pada akhirnya bermuara pada pembentukan peradaban manusia.

Lingkungan dan Hijau 

Saat ini, isu sustainable architecture (atau lebih dikenal dengan green architecture) menjadi salah satu instrument dari dunia arsitektur dalam merespon global warming. Di US, Bangunan mengkonsumsi kurang lebih 50% dari sumber daya alam dan berkontribusi 35% dari total emisi CO2 (Edwards, 2001). Hal yang sama terjadi di hampir seluruh negara.

Sustainable architecture mengajak elemen masyarakat untuk terlibat secara fisik dalam mengelola arsitekturnya menjadi ramah terhadap lingkungan. Di beberapa negara, seperti US, Japan, Australia, UK; terdapat sertifikasi nilai “hijau” bangunan terhadap lingkungannya. Di US, terkenal sistem LEED (The Leadership in Energy and Environmental Design), di Japan ada CASBEE (Comprehensive Assessment System for Building Environmental Efficiency), dan di Australia ada Green Star. Adanya sertifikasi ini menuntut arsitek untuk berfikir cerdas dan bijak dalam menghasilkan arsitektur yang tak hanya elok, fungsional dan kuat, namun juga bersahabat terhadap lingkungan sebagai bagian dari upaya melestarikan bumi.

Arsitektur hijau fokus pada atribut-atribut lingkungan secara holistik, tidak hanya pada saat telah dihuni namun telah dimulai sejak brainstorming ide dan proses kontruksi (pembangunan). Arsitektur hijau merupakan sebuah sistem yang mengintegrasikan harmonisasi ekosistem, lanskap, efisiensi energy, dan teknologi kontruksi. Xu (2010) mengatakan ada tiga konsep utama dalam arsitektur hijau yakni penghematan energi, penghematan sumber daya alam dan optimalisasi sumber daya alam.

Bilbao Effect

Selain bisa memberikan dampak lingkungan yang positif, ternyata arsitektur yang tepat dapat memberikan efek positif terhadap kondisi ekonomi suatu daerah. Salah satu contoh karya arsitektur yang berhasil menstimulasi ekonomi suatu daerah melalui sector pariwisata adalah Museum Guggenheim di Kota Bilbao Spanyol, rancangan arsitek ternama Frank O. Gehry. Pada awal tahun 90-an, Kota Bilbao mengalami krisis ekonomi dengan tingkat pengangguran yang cukup tinggi mencapai 25% (Beatriz, 2007). Di tahun 1993, pemerintah Kota Bilbao menghasilkan sebuah blue print yang bertujuan untuk melakukan redevelopment kota Bilbao. Untuk mensukseskan blue print tersebut, dibangunlah beberapa bangunan untuk mengubah citra kota, dimana salah satunya adalah Museum Guggenheim Bilbao. Museum yang memiliki desain sangat unik ini ternyata banyak mendapatkan kritikan di awal masa pembangunan akibat anggaran yang terlalu besar mencapai 119,6 juta US$ (Beatriz, 2007).

Museum Guggenheim

Namun kini, Museum Guggenheim ini berhasil menciptakan “Bilbao effect”, dimana banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia datang ke Bilbao untuk mengunjungi Museum ini. Harmonisasi antara orientasi letak bangunan, material bangunan, konsep desain bangunan dan struktur pendukung menjadikan Museum Guggenheim sebuah landmark yang tak hanya berhasil secara visual, namun juga secara makro terhadap kota. Sampai tahun 2009, Museum ini telah dikunjungi lebih dari 10 juta wisatawan dan pada tahun ke 6, investasi musem ini telah mencapai break-even point (Beatriz, 2007). Kehadiran Museum Guggenheim ini telah meningkatkan sektor pariwisata Bilbao dan juga menghasilkan banyak lapangan pekerjaan baru guna memperkuat ekonomi lokal. Hal serupa juga terjadi pada Sydney Opera House karya arsitek Jorn Utzon. Desain arsitektur yang eye-catching dan unik bisa membangkitkan sektor pariwisata sebagai katalisator ekonomi. Arsitektur tidak hanya memberikan wajah untuk suatu daerah, tetapi dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap perekonomian suatu daerah.

Neuroscience dan arsitektur

Neuroscience merupakan ilmu yang mempelajari mengenai otak dan fungsi syaraf. Para peneliti neuroscience (neuroscientist) mencoba mencari benang merah antara arsitektur dan neuroscience. Mereka menyatakan bahwa selama ini arsitektur sudah berhubungan dengan neuroscience dalam hubungan merespon kebutuhan penggunanya melalui penyediaan pencahayaan yang cukup, sistem pengaturan suhu (termal) yang baik, akustik yang tepat dan keselamatan pengguna yang mana itu merupakan hal fundamantel pada physical science (Eberhard, 2009). Mereka menganggap bahwa arsitektur tidak hanya berhubungan dengan keindahan, namun juga dengan kemampuan otak manusia.

Neuroscience merupakan dasar pengetahuan baru untuk mendukung posisi arsitektur. Teknologi di bidang neuroscience memungkinkan manusia untuk mengetahui bagaimana kita mempersepsikan arsitektur di sekitar kita dan bagaimana itu mampu mempengaruhi kemampuan kognisi dan mood kita.

Dalam penelitiannya, Eberhard (2009) berkesimpulan bahwa sebuah desain ruang kelas yang tepat ternyata mampu meningkatkan kemampuan kognitif para siswa, sebuah desain rumah sakit yang tepat mampu mempercepat masa penyembuhan pasien dan sebuah desain kantor yang tepat mampu menstimulasi kinerja para karyawannya.

Pada sebuah dokumenter the secret life of buildings di Channel 4 UK, dipertunjukkan bagaimana korelasi antara otak, mental dan pengalaman berarsitektur. Diadakan penelitian terhadap orang yang tinggal dengan pencahayaan yang sangat baik dan pencahayaan yang sangat kurang (dengan menutup sebagian besar jendela dalam rangka mereduksi sinar matahari yang masuk) di dalam sebuah rumah yang sama. Setelah meneliti selama satu minggu, didapatkan hasil bahwa orang yang tinggal dengan pencahayaan yang terang cenderung lebih gembira dan memiliki kadar gula darah yang normal dibandingkan dengan yang tinggal pada pencahayaan kurang. Selain itu, tayangan tersebut juga menunjukkan salah satu arsitektur sekolah yang mampu merubah karakter para siswa dari perilaku nakal menjadi lebih bersahabat melalui desain yang lebih terbuka (menghindari adanya ruang-ruang gelap dan lorong) dan .menghadirkan desain ruang tengah terbuka yang lebih berwarna dan interaktif. Meski mewakili sampel yang kecil, hal tersebut menjadi satu gagasan mengenai pentingnya arsitektur dalam merangsang otak dan mental manusia.

Arsitektur untuk Siapa saja

Tidak sedikit yang berfikir bahwa arsitektur hanya untuk sekelompok orang atau kelas social tertentu. Arsitektur popular yang ditawarkan melalui buku-buku best sellers seolah-olah hanya menghadirkan bentuk-bentuk rumah kelas sosial menengah ke atas, gedung kantor, hotel, apartemen, museum, atau galeri. Arsitektur itu tidak terbatasi oleh kelas sosial tertentu, oleh suku tertentu, oleh sekelompok orang tertentu. Arsitektur dapat hadir untuk setiap elemen dari masyarakat.

Beberapa arsitek mendedikasikan dirinya untuk berkontribusi berbagi arsitektur kepada setiap lini sosial masyarakat. Arsitektur tidak harus diwujudkan dalam material yang mahal, teknologi yang super canggih, bentuk yang spektakuler dan tampilang yang mewah. Arsitektur adalah sebuah bentuk komunikasi. Mengkomunikasikan antara penghuni dan tempat huniannya. Komunikasi yang baik akan membicarakan pesan-pesan masalah kesehatan, keamanan, dan kenyamanan. Tiga hal tersebut dapat hadir dalam bentuk kesederhanaan.

Arsitektur hadir mempertimbangkan elemen-elemen kesehatan seperti pada pemilihan material, jarak antar septic tank terhadap ruang-ruang tertentu, atau penggunaan bahan-bahan kimiawi yang tidak berbahaya. Keamanan berhubungan pada perasaan penghuni terhadap kemungkinan gangguan ketika sedang berada dalam huniannya. Arsitektur tak harus menjawab keamanan tersebut melalui pagar besi yang menjulang tinggi, pagar massif, atau tampilan (façade) rumah yang tertutup tanpa lubang. Seorang arsitek asal bandung menghadirkan rumahnya sebagai tempat terbuka untuk masyarakat sekitar sebagai upaya mentransformasi keamanan menjadi kebersamaan. Kenyamanan harus mampu dijawab arsitektur melalui desain yang sejuk, yang mampu menangkap keinginan penghuni, dan memfasilitasi kaum disable dan orang tua. Kesemua hal tersebut tak perlu diimbangi dengan pengeluaran yang berlebihan. Kesederhanaan berarsitektur dapat hadir di semua level masyarakat.

“Secara alami, semua orang memiliki potensi untuk merancang rumah atau tempat tinggalnya sendiri. Setiap orang berhak untuk menentukan desain arsitektur mereka sendiri selama itu memenuhi persyaratan legalitas. Namun, seorang arsitek dapat menghadirkan sebuah arsitektur yang baik. Arsitek hadir bukan hanya sebagai juru gambar. Artikulasi bahasa seorang arsitek tertuang dalam ide-ide. Arsitek (bersertifikat) yang tepat memiliki tanggung jawab dan kemampuan untuk menghasilkan sebuah arsitektur yang cantik secara fisik, yang sopan terhadap lingkungan, yang kokoh secara struktur, yang taat terhadap perundangan yang ada, yang efisien dalam pengorganisasian ruang dan penggunaan energi, dan yang mampu menstimulasi kemampuan pengguna ke tingkat optimal. Arsitek tidak hanya berkata dalam lisan, tetapi berkata dalam karya”.

***

Pustaka
Baydar, g. (2004), The Cultural Burden of Architecture. Journal of Architectural Education, 57: 19–27
Beatriz, P. (2007). The Bilbao Effect (Guggenheim Museum Bilbao). Museum News, 86(5), 1-6.
Eberhard, J. P. (2009). Applying Neuroscience to Architecture. Neuron, 62, 753-756.
Edwards, Brian (2001) ‘Green Architecture’, Architectural Design 71(4).
Sternberg, E. M., & Wilson, M. A. (2006). Neuroscience and Architecture: Seeking Common Ground. Cell, 127, 239-242.
Xu, S. (2010). Green Architecture: Traditional Architecture Rejuvenated From Green Design. IEEE, 1018-1021.

Giri Narasoma
Alumni arsitektur ITB angkatan 2002 yang mengenyam pendidikan magister di London, UK. Sebelumnya, sempat bekerja di salah satu biro konsultan arsitektur di Jakarta dan salah satu Bank Swasta Nasional.