Architectural Show Case: Communiculturation

1108 Views |  1

“Engga usah mbak, saya ngga perlu arsitek, mahal dan banyak teorinya”

Bukan satu atau dua kali saya mendengar pernyataan demikian sepanjang karir saya yang masih pemula dalam sebagai desainer di Indonesia. Sadar atau tidak, label ‘arsitek’ pada seorang sarjana teknik arsitektur membuat profesi ini kadang berjarak dari siapa yang seharusnya mendapat manfaat: masyarakat awam, masyarakat biasa yang rata-rata. Entah karena kesan canggih yang begitu lekat menempel pada profesi arsitek ataupun kesan keeksklusifannya sebagai benda tersier.

Arsitektur adalah produk dari buah pikir rasional dan intuisi artistik sang arsitek. Arsitektur memberi ruang (space) yang dapat dijadikan area aktivitas sehingga menjadi tempat –place. Salah satu pernyataan yang menggambarkan ‘kehidupan’ dalam sebuah karya arsitektur dilontarkan oleh Frank Lloyd Wright: “Architecture is that great living creative spirit which from generation to generation, from age to age, proceeds, persists, creates, according to the nature of man, and his circumstances as they change. That is really architecture.”.

Bagi seorang sarjana arsitektur, kepekaan desain merupakan kumpulan dari proses sosial. Arsitektur adalah benda budaya. Desain yang dibuat oleh seorang arsitek mengandung nilai-nilai yang ditransfer melalui proses berkebudayaan: difusi, akulturasi, dan asimilasi. Proses difusi dalam arsitektur terjadi ketika langgam, gaya atau ide mengenai bentuk tertentu di suatu belahan dunia menyebar ke seluruh dunia. Dalam hal ini di masa sekarang dapat dilakukan melalui internet. Akulturasi dalam arsitektur sebagai produk budaya terjadi ketika informasi dari luar yang diterima diserap dan dibenturkan dengan nilai budaya lokal, kemudian tanpa mengubah sifat masing-masing budaya membentuk budaya campuran. Lebih rumit dari itu, asimilasi nilai budaya sehingga yang disampaikan menjadi bagian yang lebur menghilangkan sifat masing-masing lalu membentuk budaya yang sama sekali baru. Penanaman nilai budaya dalam masyarakat dapat dilakukan dengan medium arsitektur. Permasalahannya, apakah medium ini telah menyampaikan informasi mengenai nilai yang dikandungnya dengan baik?

Terputusnya informasi mengenai arsitektur pada masyarakat, termasuk mengenai nilai-nilai ber’ruang’ yang baik adalah terputusnya komunikasi antara si pembawa pesan dan sasaran yang dituju. Pada masa menjadi mahasiswa jurusan arsitektur, seringkali mahasiswa merancang dengan kondisi lepas dari beberapa konteks di dunia nyata demi mengejar eksplorasi ide yang ekstravagansa. Mahasiswa adalah gudang ide, kreativitas yang muncul terkadang mengejutkan dan orisinal. Kesulitan yang dihadapi pada kehidupan nyata adalah menurunkan nilai-nilai yang dicapai –estetika, filosofi, kebenaran struktur, dan lain-lain, pada masyarakat awam yang tidak memiliki pengetahuan mengenai arsitektur. Hal ini bisa jadi merupakan cerminan bahwa perkuliahan seringkali mengajarkan bahasa yang berbeda dengan apa yang dimengerti oleh kebanyakan masyarakat.

Architectural show case yang biasa digunakan sebagai ajang pameran karya akhir mahasiswa calon sarjana arsitektur merupakan momen yang baik untuk menjembatani keterpisahan antara dunia pendidikan dengan dunia yang sesungguhnya membutuhkan pelayanan dari para calon arsitek ini. Show case semacam ini juga bisa berarti ajang komunikasi antar jurusan arsitektur dari berbagai universitas untuk saling mengetahui perkembangan masing-masing. Dengan demikian, masyarakat awam memiliki akses terhadap ide yang dibangun, untuk memberi masukan ataupun sekedar bertanya ‘mengapa begini-mengapa begitu’, memberikan gambaran pada mahasiswa tentang pandangan masyarakat terhadap arsitektur yang sejujurnya, juga menjadi ajang transfer ilmu bagi sesama mahasiswa.

Komunikasi Mahasiswa Arsitektur dan Publik di Jepang

Jepang adalah negara yang memiliki budaya menempatkan kepentingan komunitas pada tempat yang tinggi. Untuk menjaga keeratan hubungan komunitas, komunikasi dan pengambilan keputusan dilakukan dengan persetujuan atau atas sepengetahuan anggota masyarakat. Oleh karena itu banyak kegiatan dilakukan atas nama show case, sebagai sebuah ajang komunikasi. Termasuk juga bagi mahasiswa arsitektur.

Salah satu contoh architectural show case yang pernah saya hadiri dilakukan oleh mahasiswa adalah proyek pameran tugas akhir oleh mahasiswa dari Universitas Kinki Fukuoka. Beberapa karya dari mahasiswa dipajang di ruang publik yaitu di gedung ACROS Fukuoka, salah satu tempat perbelanjaan sekaligus public hall di Prefektur Fukuoka. Pada show case ini mahasiswa diminta untuk berada di dekat karya mereka sehingga pengunjung –yang kebanyakan adalah awam dapat bertanya mengenai konsep dan desain. Mahasiswa dilatih untuk menghadapi komentar awam yang jujur dan mungkin naif. Dalam hal penyelenggaraan, lokasi pameran yang dapat diakses oleh seluas-luasnya publik menjadi sebuah kekuatan.

Kinki Daigaku Fukuoka – ACROS Fukuoka

Kinki Daigaku Fukuoka – ACROS Fukuoka

Maka dari itu komunikasi terbuka antara mahasiswa sebagai penampil dan masyarakat umum sebagai audiens menjadi momen pembudayaan arsitektur di area publik. Pada momen ini mahasiswa dilatih untuk mendewasakan intuisi desainnya, yaitu dengan mendengarkan apa yang terjadi di luar tembok kampus. Dengan pikiran yang terbuka akan suara dari masyarakat awam, mahasiswa juga berlatih untuk membaca realitas. Momen ini juga dapat menjadi salah satu cara pendewasaan intuisi publik tentang estetika dan arsitektur.

Architectural show case lain yang pernah dilakukan adalah oleh sekelompok anak muda yang berkumpul dalam komunitas arsitektur antar universitas yang bernama Tonica. Sekelompok anak muda di kota Kitakyushu menginisiasi acara gathering yang dimulai dengan kolaborasi antara fakultas arsitektur dari tiga universitas di Kitakyushu.

Pada acara ini semua peserta diminta untuk menampilkan karya terbaiknya di sebuah ruang publik diminta untuk menjelaskan konsep dan desain pada pengunjung, dan yang lebih penting adalah hadirnya kritikus dan arsitek-arsitek terkenal yang datang untuk mereview karya, kemudian memilih karya terbaik untuk dibedah bersama dalam forum. Pada acara ini, review yang dilakukan menjadi pembelajaran bagi peserta dan pengunjung dengan cara yang lebih massal dan cepat. Komunikasi antar universitas terjadi sehingga menimbulkan daya saing untuk menjadi yang terbaik, tetapi bentuk gathering menjadikan acara ini sebagai sebuah kegiatan komunitas yang prinsipnya berjalan dengan kerjasama. Dengan gathering semacam ini, seluruh universitas di kota ini mengerti, bahwa kepentingan mengedukasi masyarakat tentang nilai-nilai ber’ruang’ yang baik adalah tujuan bersama.

Eksibisi arsitektur berbasis workshop publik juga dilakukan dalam skala yang lebih besar di Fukuoka dalam event Fukuoka-Designing. Event ini dilakukan di beberapa mall dan pusat perbelanjaan di Fukuoka. Tahun ini, tidak kurang dari dua puluh penampil termasuk di antaranya UN-Habitat dan beberapa pematung dari Eropa mengadakan pelatihan bagi warga Fukuoka yang ingin mengenal desain lebih dekat. Diadakan oleh komunitas arsitek dan desainer produk di Fukuoka, didukung dengan semangat volunteer dari para mahasiswa, pada tahun 2010 acara ini berhasil mengundang 320.000 orang untuk hadir. Ketua pelaksana acara besar ini –seorang mahasiswa magister tingkat pertama, Shin Suzuki, menyatakan bahwa pada awalnya acara ini merupakan acara tahunan untuk mendukung event budaya Hakata Dontaku –festival musim semi– tetapi kemudian berkembang menjadi acara selebrasi bagi para arsitek dan desainer di Fukuoka dan ajang untuk menempatkan ‘desain dan arsitektur’ di tengah keramaian publik.

Tonica – maket peserta

Tonica – maket peserta

Show case lain dilakukan melalui media televisi. Dengan memanfaatkan jaringan televisi internet, mahasiswa Fukuoka melakukan streaming siaran dengan topik-topik mengenai arsitektur. Jika dibandingkan dengan Indonesia yang kapasitas internetnya masih jauh dibandingkan dengan Jepang cara ini sedikit sulit dilakukan, tapi bukan tidak mungkin. Hal yang sama sudah mulai dilakukan oleh sekelompok anak muda Bandung yang tergabung dalam Vidour.

Sejauh pengalaman saya selama di bersekolah di Bandung, saya jarang mendapati mahasiswa arsitektur berpameran di ruang publik. Kalaupun ada, misalnya pada event Helarfest, pameran karya arsitektur hanya sebatas pameran. Mahasiswa sendiri tidak ada di sana untuk menyampaikan idenya. Bagi orang awam, terkadang sulit untuk memahami arti dari presentasi dan maket yang sedang dipajang. Dengan kondisi yang demikian bagaimana kita bisa berharap masyarakat mengenal dan merasa dekat dengan ‘arsitektur’. Bagaimana kita bisa berharap masyarakat ikut berkontribusi dalam membentuk ruang yang baik di dalam kota maupun di lingkungan tempat tinggalnya, sementara nilai yang dianggap ‘baik secara arsitektur’ hanya menjadi barang pajang dan sebatas teori. Padahal mahasiswa merupakan medium pembawa nilai yang potensial, mengingat idealisme dan kesegaran ide masih lekat pada jiwa mereka. Mereka perlu berlatih menyampaikan ide pada masyarakat yang awam sedangkan terkadang lebih sulit bicara dengan bahasa sederhana ketimbang berbicara dengan gaya selangit. Masyarakat pun perlu terbiasa untuk melihat perkembangan arsitektur sebagai wadah kehidupan mereka.

Dengan demikian, adanya acara architectural show case yang dilakukan dengan skala yang lebih publik dan lebih interaktif, komunikasi antara arsitek dan masyarakat bukan sebatas pameran. Komunikasi bukan hanya karya terpajang dan bicara untuk dirinya sendiri sementara ia bicara dengan bahasa yang belum tentu dimengerti oleh orang awam, melainkan terjadi interaksi langsung antara arsitek dengan penikmat karya desain. Cara sederhana ini adalah sebuah komunikasi yang walaupun perlahan, secara langsung menyampaikan nilai-nilai kepada masyarakat. Bagaimanapun, arsitektur bukan semata benda mati. Ada kehidupan yang diwadahinya. Ada budaya yang dibentuk melaluinya. Bisa jadi tidak penting apa bentuknya, yang lebih penting adalah bagaimana sebuah desain dapat memberi manfaat dan perubahan yang baik bagi masyarakat.

Tiffa Nur Latifa
Menempuh studi di Program Studi Arsitektur ITB pada tahun 2003-2007 dan meraih juara ketiga dalam kompetisi Mahasiswa Terbaik ITB 2007 serta lulus dengan predikat cum laude. Pada tahun 2008 bersama beberapa rekan merintis kelompok studio arsitek muda SAB-Indonesia yang berbasis di Bandung. Tahun 2010 lulus dari kelompok studi Lanskap, Program Studi Magister Arsitektur, Institut Teknologi Bandung. Telah mengambil program research student di Urban Studies, Planning, and Landscape Laboratory Department of Architecture University of Kitakyushu, Fukuoka Jepang. Dalam periode ini telah memenangkan peringkat ketiga dalam kompetisi internasional perancangan lanskap yang diadakan oleh International Federation of Landscape Architect-Asia di Thailand. Tulisan-tulisan dan karya lain dapat dinikmati pada laman www.talesofthebreeze.wordpress.com