Antara Kedekatan dan Kepadatan

1817 Views |  Like
Antara Kedekatan dan Kepadatan. China Town, Singapura. (foto: Ivan Nasution)

Antara Kedekatan dan Kepadatan. China Town, Singapura. (foto: Ivan Nasution)

Kedekatan dan kepadatan sama-sama sebuah paradoks.

Kebutuhan akan kedekatan memicu pertumbuhan populasi, ekonomi, dan fungsi kota. Maka kedekatan akan menarik kepadatan. Sementara itu kepadatan menstimulasi kota untuk membangun lebih tinggi, lebih dalam, dan lebih beragam (Uytenhaak, 2008). Maka, kepadatan akan menghadirkan kedekatan. Namun, keduanya sama-sama melegitimasi alasan kota ada. Ketika ‘kota’ disebut di sini akan mengacu kepada pembacaan Rossi (1982) dimana hubungan arsitektur dengan kota disejajarkan dengan hubungan kontras antara khusus dan umum, antara individu dan kolektif. Dengan kata lain kota di sini adalah susunan beragam arsitektur dalam rentang waktu tertentu.

Muncul pertanyaan berikutnya, apa arti ‘arsitektur’ di sini?

Untuk kepentingan artikel ini, arsitektur akan dilepas dari bebannya sebagai sebuah monumen, sebuah pengecualian. Demi memberi gambaran lebih tepat antara hubungan individu dan kolektif, arsitektur tidak hanya akan dilihat dari pandangan Vitruvius melalui kekuatan, keindahan, dan kegunaan (firmitas, venustas, dan utilitas). Namun, ada aspek keempat akan diperkenalkan (dan dipertanyakan): ‘keberlangsungan’. Keberlangsungan memiliki sedikit dari ketiga aspek di atas. Keberlangsungan menyediakan seminimal mungkin fungsi  yangg disesuaikan dengan dibutuhkan. Kekuatan menjadi sesuatu yang tidak stabil namun mencukupi. Dan keindahan dilihat tidak dalam tata, proporsi, dan hierarki. Namun, estetika yang selalu dalam keseimbangan dan negosiasi. Hampir runtuh, tapi masih berdiri.

Elemen penyusun kepadatan tak lain adalah manusia. Tentu, jika berbicara mengenai manusia, kita akan berbicara mengenai tempat berlindung, baik yang formal maupun nonformal. Formal’ dan ‘nonformal’ di sini tidak berbicara mengenai legalitas, karena selama harga tanah di kota dikuasai oleh spekulan, berbicara legalitas akan menjadi hal yang dilematis. Namun, berbicara mengenai sesuatu yang tumbuh menjadi berbentuk atau tumbuh dengan tidak terdefinisi bentuk.

Lalu, jika di awal disebutkan bahwa arsitekturlah yang menyusun kota, kebutuhan manusia akan kedekatan membawa kepadatan, kota dilegitimasi oleh kepadatan dan kedekatan dan demi keberlangsungannya, kepadatan membutuhkan tempat berlindung, apakah layak jika tempat berlindung itu kita disebut  ‘arsitektur’? Bahkan, jika diamati lebih jauh, salah satu aspek penyusun kota yang dominan adalah tempat berlindung. Tempat berlindung itu seringkali hadir dengan sebutan ‘rumah’.

Keterbatasan ruang

Kepadatan dan kedekatan memaksa ruang menjadi sebuah komoditas, di mana pemanfaatan ruang di kota  sangat diperhatikan. Ada dua respon ekstrim dari pemanfaatan ini, untuk kepentingan artikel ini, mari kita sebut ‘maksimalisasi’ dan ‘minimalisasi’.

Maksimalisasi adalah usaha menumpuk kepadatan dengan sebanyak dan setinggi mungkin demi pemanfaatan lahan secara maksimal, jauh dari optimal. Dengan kata lain, maksimalisasi mengakali kepadatan dengan menumpuknya. Hal itu melahirkan bangunan tinggi berkepadatan tinggi, di sisi proletar hadir denagan nama rumah susun dan di sisi borjuis hadir dengan nama apartemen. Sementara itu, kelas menengah sangatlah adaptif dan reaktif, mereka mampu menyesuaikan diri dengan setiap spektrum yang ada dari rumah susun ke apartemen. Maksimalisasi juga melahirkan bangunan rendah berkepadatan rendah namun berluasan besar. Tipe ini lebih dikenal dengan istilah ‘rumah gedong’, yang juga hadir di sisi borjuis. Apartemen maupun rumah gedong berbicara hal yang sama: luasan.

 Maksimalisasi menyejajarkan kepadatan dengan luasan.

Maksimalisasi menginginkan keduanya, suasana luas atau luasan juga kedekatan ekonomi. Keduanya terpaut dengan angka. Kuantitas seolah mengungguli kualitas. Setiap jengkal ruang tidak luput dari komodifikasi. Kualitas dipertanyakan, bahkan seolah bergeser maknanya menjadi luasan. Lalu, mantra ‘gaya hidup’ dan komodifikasi ruang menjustifikasi dan meringankan alasan terjadinya penumpukan kepadatan. Konsekuensinya, rumah (arsitektur) tidak lagi berbicara kekuatan, keindahan, dan kegunaan, juga keberlangsungan, tapi tergantikan oleh simbol yang merepresentasikan status sosial dengan parameter luas bangunan. Rumah menjadi label bagi si pemilik. Rumah dipaksa dipercantik oleh susunan elemen arsitektur yang megah untuk menjadi topeng bagi penghuninya.

Terlebih lagi, demi melindungi pemilik borjuisnya, rumah diperlengkapi oleh beberapa elemen  yang membuatnya terlihat ‘kokoh’, diantaranya pagar, alarm, CCTV, dan pos penjaga. Rumah mengisolasi pemiliknya dari hal-hal ‘buruk’ dan infrarealitas yang terkandung dalam kota. Rumah memberi jarak antara pemilik dengan orang lain, menutup diri untuk bersimpati serta mempunyai harapan akan kolektivitas, yang ada hanyalah individu.

Rumah menjadi topeng dan sebuah benteng.

Dengan luasan tadi, kebutuhan ruang dipaksa melebar untuk menyesuaikan luasan. Fungsi ruang menjadi terbagi-bagi dengan lebih spesifik. Setidaknya untuk bersosialisasi saja terdapat empat jenis ruangan, sebutlah teras, ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang televisi. Masing-masing membicarakan aspek ‘sosial’ dengan kadar tertentu. Fungsi ruang dipurifikasi, sehingga sebuah ruang seolah tidak diperkenankan mengkontaminasi ruang yang lain. Satu fungsi setara dengan satu ruang. Ruang terspesialisasi dan steril.

Rumah menjadi ekpresi soliter.

Minimalisasi. Bukit Duri, Jakarta Selatan. (foto: Ivan Nasution)

Minimalisasi. Bukit Duri, Jakarta Selatan. (foto: Ivan Nasution)

Lain halnya dengan respon kedua, minimalisasi yang cenderung lebih resilien, elastis, melenting. Mereka (terpaksa dan dipaksa) mengerti bahwa ada hal yang harus dikorbankan demi ‘kedekatan’ ekonomi; kepadatan harus diterima sebagai konsekuensi. Minimalisasi tak hanya menumpuk kepadatan, juga hidup dengannya. Bangunan rendah berkepadatan tinggi hadir, dan seringkali disebut kampung kota.

Minimalisasi merelakan kenyamanan  dan keleluasan yang dipersikukuhkan maksimalisasi demi kedekatan ekonomi. Mereka hidup dengan keberlangsungan. Secara fungsional, rumah hanya diperuntukkan untuk makan dan tidur. Secara struktural, minimalisasi hanya membutuhkan sebuah pelindung yang temporer dan cukup kokoh untuk berteduh. Estetika dinilai dengan cara yang cukup berbeda dengan keteraturan umumnya, dan lebih mengarah kepada etika. Kecantikan yang dinegosiasikan dan diterima, tidak dogmatis dan memaksa. Rumah berada di batas minimal sebuah tempat berlindung, eksistensminimum.

Minimalisasi memaksa rumah sebatas pada proses keberlangsungan.

Dengan keadaan seperti ini, tak jarang fungsi ‘dikeluarkan’ dari dalam rumah, beberapa diantaranya fungsi sosialisasi, produksi, penyimpanan bahkan servis. Sebagai gantinya, minimalisasi memanfaatkan bahkan mengeksploitasi ruang-ruang publik seperti ‘jalan’ di depan rumah mereka. Jalan seolah diposisikan sebagai perpanjangan dari rumah, menjadi tempat menerima tamu, tempat produksi, dan etalase untuk usaha. Fungsi rumah dipecah dan didistribusikan ke ruang-ruang disekitarnya. Sehingga hal yang menyangkut publik dan privat menjadi rancu. Rumah menjadi entitas yang menyebar.

Rumah seolah menjadi sebuah jaringan yang saling terikat.

Setiap jengkal ruang juga dinegosiasi, diapropriasi, dikomodifikasi,  bahkan dijejali sepenuh-penuhnya, oleh minimalisasi. Kuantias (terpaksa) tetap mengungguli kualitas. Privasi seolah melebur, dihimpit oleh gang-gang kecil. Ruang dipaksa untuk mengakomodir hampir segala jenis kegiatan, sebuah bilik 3 m x 4 m dapat menjadi tempat memproduksi dagangan di pagi hari, tempat belajar di sore hari, dan tempat istirahat di malam hari. Ruang yang sama berubah fungsi secara terus-menerus. Kemajemukan tercipta di tengah kepadatan.

Rumah menjadi wajah yang majemuk.

Disamping itu estetika menjadi perdebatan, selalu berada dalam proses negosiasi. Estetika menjadi konsensus, kesepakatan bersama. Individualitas tetap diekspresikan, namun, entah sengaja atau tidak, seolah di-rem oleh individu-individu yang lain. Kumpulan individu ini membentuk kolektif. Demi mengeksploitasi ruang-ruang publik untuk kepentingan pribadi, mau atau tidak mau, seorang individu akan terlibat dalam dialog konstruktif maupun destruktif dengan kolektif. Proses negosiasi yang berkelanjutan itulah yang membuat minimalisasi seolah tumbuh dengan tidak berbentuk namun memiliki pola.

Rumah menjadi sarana dialog dan negosiasi.

 Antara maksimalisasi dan minimalisasi

Maksimalisasi, hampir selalu, hidup bersebelahan dengan minimalisasi, tapi belum tentu berdialog. Dua entitas ini tidak serta-merta merepresentasikan mana yang baik dan mana yang buruk. Setidaknya selalu ada dua sisi argumen untuk membenarkan salah satu diantara keduanya.

Dua entitas ini memiliki caranya masing-masing dalam bersikap terhadap kepadatan dan kedekatan sebagai konsekuensi dari kota. Yang satu menolak kepadatan kota dengan menumpuk lebih tinggi yang lain menerimanya dengan melepas beberapa elemennya; memaksimalkan ruang dan meminimalkan ruang.

Dua-duanya tetap mengeksploitasi kota dengan caranya masing-masing, yang satu memanfaatkan seluas-luasnya sebuah lahan, yang lain yang lain mengkontaminasi sebesar-besarnya fasilitas bersama seperti jalan atau gang; yang satu introver yang lain ekstrover.

Dua entitas tersebut memiliki cara beradaptasi dengan kepadatan, yang satu mengatur kepadatan, yang lain hidup dengan kepadatan; yang satu mendorong individu dan individualisasi, yang lain terpaksa menerima orang lain; yang satu menginginkan privasi, yang lain merelakannya demi kolektivitas.

Antara terpaksa dan rela menjadi kabur,antara memanfaatkan dengan baik dan mengeksploitasi seolah tipis, antara mengatur dan hidup dengan seolah pilihan.

Tapi, apakah hanya ada dua pilihan? Apakah sesederhana memilih yang satu berarti mengorbankan yang lainnya? Bukankah abu-abu kadangkala lebih baik dibandingkan dengan hitam dan putih?

 

Ivan Nasution
Ivan Nasution lulus dari Arsitektur ITB pada tahun 2006, lalu bekerja di Park+Associates Architect, Singapura. Di tahun 2011, ia menyelesaikan pendidikan penelitian pascasarjana di Berlage Institute Rotterdam. Saat ini menjadi peneliti di Centre for Sustainable Asian Cities, National University Singapore. Di sela waktu luangnya, ia aktif menjadi fasilitator bagi Participate in Design, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang desain, perencanaan, dan pendidikan.