Alter Shelter Fiksi Hunian Metropolitan

598 Views |  2

 

Di saat kota semakin melebar, akses ke hunian terjangkau semakin menyempit. Pembangunan hunian di tengah kota tak kunjung berhenti, tapi tiap harinya penduduk semakin terpinggirkan dari sana. Mayoritas kelas menengah dan bawah sudah hanyut dibawa arusnya, sehingga janji manis untuk melepas jeratan biaya rumah jadi senjata ampuh politikus di kala pemilihan gubernur.

Johan Silas telah menuliskan realita ini secara rinci di “Perumahan Dalam Jejak Paradoks”. Ia berpendapat para pengembang memang tidak memiliki prioritas untuk membuat ruang yang dihuni, tetapi untuk mengeruk kekayaan sebesar-besarnya. Akhirnya yang mampu membeli, belum tentu mau. Dan yang mau, malah belum tentu mampu.

Situasi yang ironis lalu tersibak saat malam menjelang. Lampu unit-unit apartemen dan banyak perumahan tetap mati, meski mereka ada yang memiliki. Semua sengaja dibiarkan kosong, menunggu dijual lagi dengan harga yang lebih tinggi. Di tahun 2014 saja, Bappenas sudah mencatat ada sekitar 200 ribu unit hunian tidak ditinggali di Jabodetabek, dan mayoritas adalah hunian mewah. Pengembang tentu senang dengan cepatnya para investor dan spekulan melahap hunian yang mereka sediakan, namun awam hanya bisa meratapi saat harga rumah dan tanah meroket karena kompetisi yang tak berkesudahan.

Generasi milenial sudah terkena imbasnya. Riset Rumah123.com dan Karir.com menemukan hanya sekitar 17% dari mereka yang mampu membeli rumah tapak sekunder di Jakarta. Standar gaji minimal digunakan dalam penelitian dimana seseorang harus memperoleh sekitar 7,5 juta per bulannya agar dapat mencicil rumah. Lambatnya kenaikan upah karyawan tentu tidak dapat mengimbangi lonjakan harga properti dari waktu ke waktu. Tuntutan hunian akan semakin mencekik calon penghuninya.

Berbagai opsi bermukim lalu muncul sebagai siasat, baik formal maupun informal. Di Surabaya, area pergudangan kosong dihuni secara komunal oleh 20-30 keluarga. Sedangkan di Jakarta, gaya hidup Co-Housing sudah mulai mewabah di kalangan muda. Tidak ketinggalan, gaya hidup Co-Living juga mulai diujikan di perkampungan melalui rumah contoh Tongkol. Setelah ini, alternatif apa lagi yang akan muncul?

Bergerak dari kegelisahan serupa, Orange House Studio mengadakan Alter Shelter pada tanggal 6-11 Februari 2017 di Surabaya. Workshop ini mengajak para pesertanya untuk membedah kembali narasi hunian metropolis dan menggali alternatif yang tidak hanya hadir sebagai sebuah ide, tapi juga kritik terhadap realita. Selama seminggu, peserta berkesempatan untuk melakukan riset dan studi lapangan, didampingi oleh lima mentor. Mereka juga dapat berdiskusi langsung dengan pakar dan praktisi di bidang permukiman, seperti Johan Silas (Lab. Permukiman ITS), Retno Hastijanti (UNTAG), dan Epriyanta Hermawan (perwakilan developer properti syariah).

Dari kegiatan ini, lahir empat proyek yang dipresentasikan dalam berbagai media. “Extreme Privacy” muncul dari refleksi Niti Anggarajati akan pengaruh teknologi pada gaya berhuni di masa depan. “Mall Sudah Suratan” datang dari keinginan Salanura Amini untuk menceritakan terhapusnya kampung Plemahan Surabaya, dengan keterlibatan sukarela dari para penghuninya.

Faisal Rizaldy mencoba mempertanyakan apakah kaum freelancer membutuhkan hunian yang luas saat sebagian besar aktivitasnya dihabiskan di luar rumah lewat “Kapsul Musafir”. Dan “Minimal-is” karya Shalim T.R.Y. mengusulkan sistem okupasi ruang-ruang kosong kota melalui hunian temporer yang diselenggarakan secara komunal.

Di hari terakhir, para peserta membahas karya mereka bersama Johan Silas dan Retno Hastijanti. Saat merespon “Extreme Privacy”, Johan menyatakan gaya hidup smart living tak akan berfungsi baik di kota Indonesia jika masyarakatnya belum smart. Karena itu Surabaya tidak hanya berusaha membangun infrastruktur dan pemerintahan yang smart, tapi juga menyebar Broadband Learning Center dan seribu perpustakaan di berbagai kampung. Jika masyarakat sudah mampu, maka gaya hidup akan otomatis mengikuti.

Menanggapi “Minimal-is”, Johan berujar sistem okupasi yang diusulkan sangat potensial karena kota masih punya banyak ruang kosong yang bisa diolah kembali. Ia menambahkan, “kita harus berubah pikiran bahwa hunian membutuhkan tanah. Ia hanya butuh ruang kok. Kalau kita bicara ruang yang tentu masih banyak kesempatan. Seperti di atas sebuah bangunan, area-area sisa di dalam kota, dan sebagainya”.

Retno Hastijanti mengatakan “Kapsul Musafir” berpotensi menjadi permukiman sederhana daerah rawan bencana, dan area bantaran sungai karena strukturnya yang temporer. Saat membahas “Mall sudah Suratan”, ia berpendapat arsitek dan ahli tata ruang tidak bisa menghalangi warga untuk menjual rumah mereka karena ingin kondisi ekonomi yang lebih baik. Apa yang kemudian bisa dilakukan adalah pemberdayaan komunitas, dan usulan inovasi pada program dan tipologi rumah kampung. Sesederhana mengenalkan ruang-ruang produksi yang dapat mendatangkan keuntungan ekstra seperti kos, hotel untuk pelancong, atau lainnya. Hal itu dapat memberi alasan warga untuk mempertahankan rumahnya, dan tidak menjual pada pengembang.

Pada akhirnya, keempat proposal masih membuka diri untuk menjadi wacana lebih lanjut dengan berbagai pihak. Orange House Studio juga berencana untuk membuka Alter Shelter II, yang juga akan mengupas problematika sekitar cara berhuni di metropolis. Untuk mencari narasi baru hunian, untuk kita dan anak cucu kita nanti.

 

Extreme Privacy

Oleh Niti Anggarajati

Extreme Privacy. ©Niti Anggarajati

Ada hal kontras yang bisa kita temukan di dua tipe tempat bermukim masyarakat. Ketika di kampung, permukiman padat dengan luas tiap unit yang terbatas: aktivitas komunal seperti mengobrol, mencuci baju bersama, mandi di sungai, dan anak-anak bermain, adalah pemandangan umum yang dapat dengan mudah kita temui. Namun tidak ditemukan jika kita berada di perumahan formal. Rumah berpetak rapi, halaman-halaman asri dengan tatanan apik tanaman di fasilitas umumnya ternyata tidak dibarengi dengan semarak kegiatan manusia di dalamnya. Kemana mereka?

Sebuah temuan akan ketidaksempurnaan ruang yang terjadi di setiap unit tinggal di perkampungan menggelitik kami untuk menggali lebih dalam bagaimana cara hidup mereka dalam merespon ketidaksempurnaan tersebut. Luasan rumah yang terbatas, tidak memungkinkan untuk menyediakan seluruh fungsi ruang yang dibutuhkan. Sehingga muncul lah ruang-ruang berbagi seperti dapur bersama, toilet bersama, halaman dengan susunan-susunan kursi dan meja untuk mengobrol yang pada akhirnya dapat melengkapi kebutuhan ruang mereka yang belum tercapai.

Di sisi lain, perkembangan teknologi menawarkan kemudahan hidup bagi manusia saat ini. Mesin cuci yang menggeser kebiasaan mencuci bersama di tepi sungai, pagar rumah yang menggantikan sistem siskamling demi keamanan, semakin banyaknya teknologi informasi (smartphone, tablet, televisi, dsb) yang mengurangi usaha orang untuk mencari informasi. Pada akhirnya, kemudahan teknologi ini mengurangi intensitas dan luasan gerak manusia oleh karena kebutuhan dapat didatangkan dengan mudah ke tempat mereka berada.

Mock-up Extreme Privacy

Mock-up Extreme Privacy ©Orange House Studio

Ditambah dengan teknologi VR yang marak saat ini, yang menyajikan pengalaman secara virtual (imajinatif) dan memungkinkan bagi penggunanya untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar tanpa perlu hadir secara langsung di tempat. Menjadi semakin tak terelakkan, jika manusia di masa depan tidak lagi membutuhkan perpindahan tempat jika suatu tempat yang ia ingin kunjungi dapat terepresentasi secara virtual (imajinatif). Bisa jadi juga jika keberadaan ruang-ruang bersama di masa mendatang tidak lagi berwujud fisik namun secara virtual.

 

Mall sudah suratan

Oleh Salanura Amini

Kampung Plemahan Surabaya. ©Orange House Studio

Di masa depan, kampung Surabaya mungkin hanya tinggal kenangan. Pembangunan sedang menghapus mereka secara perlahan. Kebijakan pemerintah kota Surabaya untuk melindungi kampung dari penggusuran, ternyata tidak cukup untuk menahan eksistensinya.

Perkembangan Tunjungan Plaza saat ini sedang mendesak kampung Plemahan tanpa ada huru hara media. Banyak rumah di dalam kampung yang terus dibeli dengan harga yang dirasa layak oleh kedua belah pihak: investor dan pemilik rumah. Apakah realita ini sedang menunjukkan batas resiliensi kampung kota?

Realita ini menunjukkan bahwa ternyata pembangunan tidak selalu hitam putih, tetapi abu-abu. Mimpi untuk kondisi ekonomi lebih baik selalu menjadi garda depan pembangunan. Lantas memudahkannya menghilangkan memori semangat komunal dan kepedulian warga terhadap kondisi kota dan sekitarnya.

Jika ini terus berlanjut, seberapa besar harga yang kita bayar untuk pembangunan? 

Instalasi Mall Sudah Suratan Tusuk Gigi: tiang pancang pembangunan. Benang: Simbol menyambungkan namun dapat terputus (kondisi dimana TP menyokong kebutuhan fisik kampung namun juga dapat memutus eksistensi kampung). Gradasi tusuk gigi dan benang yang semakin renggang ke arah kampung merupakan gradasi kondisi fisik kampung saat ini dalam perkembangan kota. ©Salanura Amini

 

Kapsul Musafir

Oleh Faisal Rizaldy

Kapsul Musafir ©Faisal Rizaldy

Kapsul Musafir ©Faisal Rizaldy

Seiring bertambahnya tahun, biaya hidup di Surabaya jadi makin menyesakkan. Harga tanah dan rumah selalu meroket, sementara pendapatan yang saya peroleh tidak kunjung naik. Jika kondisi ini masih berlanjut hingga puluhan tahun ke depan, saya lalu ingin bertanya. Di kota masa depan, apakah kaum seperti saya masih butuh rumah?

Saya adalah pekerja lepas kelas menengah yang banyak menghabiskan waktu berpindah-pindah di dalam kota Surabaya. Kafe, restoran, warung kopi atau kos teman dapat menjadi tempat kerja sesuai kebutuhan. Terima kasih pada koneksi virtual. Saya tidak perlu alamat kantor, atau rumah untuk menyediakan tempat surat menyurat. Alamat rumah saat ini hanya penting untuk legalitas. Selebihnya, ia hanya menjadi tempat tidur, dan makan seperlunya.

Seperti mayoritas pekerja seumuran, saya juga belum memiliki rumah sendiri. Yang dapat saya jangkau, jika memaksakan diri dengan gaji saat ini, hanya hunian yang berada jauh di pinggir kota. Mungkin saya akan menghemat di biaya cicilan rumah, tapi saya harus siap menghabiskan waktu dan biaya untuk komuter setiap harinya.

Padahal di tengah kota, banyak hunian yang masih kosong. Mereka tidak menunggu untuk dibeli. Sang pemilik memang tidak melihatnya sebagai tempat tinggal, tapi alat investasi. Masih juga banyak tanah kosong, gedung mangkrak yang (entah kenapa) tidak dialihfungsikan untuk jadi hunian kaum saya.

Jika ini terus terjadi, lantas apa yang bisa pemerintah masa depan lakukan?

Semakin mekarnya jumlah pekerja di bidang jasa, berarti semakin banyak jumlah kaum nomaden yang akan datang di masa depan. Kami sadar, kami tidak butuh banyak. Kami dapat kerja di mana saja. Kami juga bisa bertemu teman dan klien di mana saja. Kami hanya berharap agar hidup kami lebih efisien. Supaya alat untuk kebutuhan dasar kami (mandi, makan, kerja) dapat kami bawa setiap harinya. Supaya mobilitas kami difasilitasi. Dan juga, agar tempat beristirahat dekat dengan area tempat kami bekerja.

Pemerintah dapat memanfaatkan data, koneksi virtual, daya wirausaha masyarakat dan ruang-ruang potensial di tengah kota untuk mewujudkan kemungkinan tersebut.  Mereka akan memproduksi rumah kapsul untuk kemudian dapat disebar dan disewakan ke kaum nomaden. Kamar mandi, dapur dan ruang makan akan menjadi fasilitas komunal yang disediakan oleh masing-masing pemilik properti.

Dengan ini, para pengembara di masa depan mungkin tidak lagi butuh rumah untuk diri mereka sendiri.

 

 

Minimal-is

Oleh Shalim T.R.Y

Brosur promosi hunian Minimal-is. ©Shalim T.R.Y.

 

Arus promosi tren properti yang begitu kuat membutakan masyarakat akan cara menghuni alternatif dalam kota. Masyarakat diyakinkan bahwa cara menghuni terbaik adalah dengan membeli dari sektor formal, menciptakan ketergantungan dan menghilangkan kesadaran akan potensi bahwa mereka dapat membangun hunian mereka sendiri. Pemerintah pun mendukungnya dengan tidak pernah memperhitungkan potensi perumahan swadaya dalam kebijakan nasional, serta memberi banyak subsidi dan deregulasi untuk melancarkan perkembangan sektor properti.

Kehidupan komunal kampung juga tidak pernah dipromosikan sebagai mimpi masa depan oleh para developer. Begitu juga karakter fisiknya yang menyesuaikan kebutuhan penghuninya. Padahal efisiensi dan komunalitas ini bisa menjadi jawaban untuk menghuni lahan kota yang makin mahal dan sempit. Terutama untuk kalangan ekonomi yang tidak terlalu mumpuni.

Mockup Minimal-is ©Shalim T.R.Y.

Eksploitasi lahan kota oleh pemerintah dan developer juga sudah sangat membahayakan. Hunian masyarakat semakin terpinggirkan, sementara investasi yang mereka beli dan bangun di pusat kota malah banyak yang cenderung kosong dan mangkrak.

Minimal-is kemudian dapat menjadi alternatif hunian masa depan. Ia juga hadir sebagai resistan terhadap eksploitasi lahan berlebih. Minimal-is harus dipromosikan secara setara dengan produk sektor formal, dan didukung oleh pemerintah setempat. Unit minimal-is akan didirikan secara organik oleh sekelompok komunitas di properti kosong yang banyak tersebar di pusat kota, dan telah dijaminkan oleh pemerintah setempat.

Dengan Minimal-is, masyarakat akan merebut kembali lahan kota di masa depan.

 

 

Yusni Aziz
Alumnus dari double-degree bachelor program kerjasama antara ITS dan Saxion Hogeschool of Applied Sciences. Kemudian menyelesaikan riset di Berlage Institute pada tahun 2013. Saat ini sedang sibuk dengan riset independen dan mengasuh blog pribadi di www.yusniaziz.com