Aktivisme Ruang

871 Views |  1

 

“Kita telah lama jadi penghuni “waktu”, sementara rumah telah menjadi sekadar “ruang transit”” – Avianti Armand, Arsitektur yang Lain

IMG-20180629-WA0025

Tim Bom Benang menggunakan Eceng Gondok sebagai bahan karya ©Tanahindie

 

RUMAH

Ruang paling awal yang kita alami dalam sebuah aktivisme adalah rumah. Mulai dari lahir hingga, mungkin menikah lalu mati; mulai dari bangun pagi hingga tidur lagi. Rumah menjelma menjadi ruang yang semakin nomaden seiring perkembangan kota—anti-arsitektur. Dalam buku Arsitektur yang Lain, Avianti Armand (2017:9) menulis:

Arsitektur dipercaya lahir dari kebutuhan akan ‘ruang tinggal’, a space of staying, bukan a space of going—dua pengalaman spasial yang berbeda: ruang dalam gua-gua dengan tanah-tanah yang terbajak, ruang-ruang yang terbentuk dari bumi yang digali, dan tenda-tenda yang bergerak menyeberangi muka bumi, tanpa meninggalkan jejak yang lama.

Rumah sebagai sebuah ruang untuk pranata sosial bernama keluarga, memberi sebuah perlindungan yang membatasi dua hal: publik dan privat. Sebuah ruang yang secara material, menyekat hal-hal yang umum dan khusus. Kita mengenal beberapa ruang yang memakai kata ‘rumah’ sebagai pemisah. Rumah sakit, rumah ibadah, rumah bordil, dan lainnya. Jika berdasar KBBI, rumah berarti bangunan untuk tempat tinggal. Rumah juga mewadahi sembilan fungsi keluarga: fungsi biologis atau reproduksi, fungsi protektif, fungsi ekonomi, fungsi edukatif, fungsi sosialisasi, fungsi afeksional, fungsi religius, fungsi rekreatif, dan fungsi pengendalian sosial.[1]

Percepatan baik pembangunan ruang secara fisik, yang berimbas pada ekonomi, kemudian membuat rumah sekadar jadi ruang-ruang pergi. Masih dalam Arsitektur yang Lain, Avianti Armand menulis:

Dalam lipatan-lipatan kota, ruang-ruang transit ini telah bertumbuh, teritori-teritori dalam perubahan terus-menerus dalam waktu …Rumah, juga kota, telah jadi sangat cair, di mana ruang-ruang antah-berantah mengambil bentuk yang spontan, sebuah kepulauan urban dalam mana ‘ruang-ruang tinggal’ adalah pulau-pulau dalam lautan luas yang dibentuk oleh ‘ruang-ruang pergi’ …lalu tak ada lagi ‘tempat’, ruang yang diikat oleh hal-hal yang dekat dan intim. Semua lepas jadi hal-hal yang sekadar persinggahan dan tak kita kenali. Apalagi kita cintai.

Ini mengingatkan saya pada pertanyaan klise, “mengapa rumah orang Bugis-Makassar di kampungnya lebih bagus daripada rumahnya di perantauan?” Avianti Armand telah menjelaskan bagaimana rumah telah jadi sekadar ‘ruang-ruang pergi’, namun hal yang luput dari pandangannya adalah manusia dipaksa untuk ‘pergi’ oleh perkembangan kota. Meski kepergian yang berlangsung hanya ‘perantauan’ saja.

Seperti katanya lagi:

“Mungkin kita perlu jangkar: momen-momen, benda-benda, orang-orang—yang bisa mengikat ingatan lepas dan mengembalikan rumah menjadi sesuatu yang intim. Yang membuat betah dan memberi makna. Mungkin juga cinta.”

Bisa saja perantauan menjadi intim karena punya momen, benda, dan orang yang mengikat ingatan. Namun tidak mengembalikan, justru menghadirkan sesuatu yang intim ke dalam sebuah ruang. Rumah orang Bugis-Makassar yang bagus di kampung dari pada di perantauan, bisa saja karena gunanya sebagai ‘arsitektur sosial’, di mana bentuk dan estetikanya menjadi tolak ukur sosial yang mengangkat derajat pemiliknya.

IMG-20180629-WA0032

Tim Fasilitator Bom Benang 2016 sedang Memfasilitasi Cara Belajar Menganyam Eceng Gondok di Sungai Sinre’Jala ©Tanahindie

 

HALAMAN

Rumah dan halaman, dua ruang dalam satu gugus yang sama: aktivisme, menjadi sebuah ruang laboratorium komunitas.

Anwar Jimpe Rachman (2017:1), dalam buku Halaman Rumah/Yard, menulis, “… ‘halaman’ bagi orang Indonesia adalah tempat bermain, bekerja, bercengkrama, memasak, menerima tamu, dan lain-lain. Mungkin sebab itu pula perbendaharaan kata kita menggunakan ‘kampung halaman’ untuk merujuk ‘asal’ kita ‘lahir’ dan ‘bertumbuh’.

Ada dua pengalaman yang paling saya ingat tentang halaman rumah saya di Nabire, Papua. Pertama, ketika saya belajar mengendarai sepeda hingga motor. Kedua, ketika halaman rumah kami dua kali menjadi ‘rumah sementara’—gempa pada bulan Juni dan bulan November, tahun 2004, dengan kekuatan 7 dan 6,4 skala richter.

Memori itu sangat melekat karena saat belajar mengendarai sepeda, saya harus terluka berkali-kali sebelum mahir. Kemudian ketika gempa, halaman rumah menjadi tempat teraman setelah seisi rumah berhamburan dan belum bisa diperbaiki saat gempa susulan masih sering terjadi. Gempa juga mendorong berdirinya ‘rumah sementara’ berupa tenda yang tiangnya dari kayu-kayu bekas. Bukan hanya kami, hampir seluruh keluarga membangun ‘rumah sementara’ di halaman rumah masing-masing.

Di Makassar, saya bergabung dengan lembaga penelitian bernama Tanahindie, yang turut bersekretariat di Kampung Buku. Aksi pertama yang saya ikuti adalah Bom Benang di tahun 2016. Sebuah kegiatan yang mengangkat tema ‘Benang Kandung’, untuk menyasar ibu rumah tangga sebagai penerima manfaat. Bertolak dari isu kekerasan rumah tangga, kemudian dengan media benang, warga diajak menjadi seniman dan berpameran di ruangnya sendiri.

Sukaria, Mariso, Batua, Barukang III, dan Barukang IV, adalah nama-nama lokasi yang menjadi titik kegiatan Bom Benang 2016. Penggodokan konsep Bom Benang dilakukan di halaman Kampung Buku. Ruang itu akhirnya juga menjadi sentra informasi kegiatan tersebut.

Saya sendiri bergabung dalam tim peneliti, bersama empat orang lainnya. Kami selalu berkumpul sehabis riset mengitari lima kampung di halaman Kampung Buku. Mencari bolong data penelitian, membaca tulisan yang dirangkum, serta bertukar pikiran dengan tim lain. Halaman rumah menjadi sentra informasi, sebab semua hasil temuan, kesulitan, pertengkaran, curhatan, dan lainnya tumpah-ruah di sana lewat obrolan yang justru banyak terjadi di luar rapat.

Sambil mengajari ibu-ibu merajut, tim fasilitator mencoba menggali data untuk lalu didiskusikan di halaman Kampung Buku. Mereka kemudian mengolahnya menjadi metode, atau rekomendasi yang ditindaklanjuti tim lainnya. Benang yang telah dirajut menjadi karya lalu dijejer dan ditempel guna menjadi ‘bom’ yang mendengungkan bunyi. Karya yang dihasilkan, sesuai tema, menjadi ‘kandung’ untuk warga itu sendiri. Sebuah proses di mana warga sebagai seniman, tampil dan berpameran di halaman mereka sendiri untuk mengikat kembali ingatan-ingatan lepas, seperti kata Avianti.

Cara kerja seperti ini, membuat kedua bela pihak mendapat manfaat yang sama. Tim kerja belajar tidak mengedepankan ego senimannya, dan belajar mengorganisir, terutama diri sendiri. Saya pribadi, sebagai orang yang mengambil jurusan Sistem Informasi, belajar menulis dan meneliti di halaman Kampung Buku. Halaman Kampung Buku benar-benar menjadi laboratorium. Dari halaman, saya belajar melihat hal-hal yang paling dekat dengan kita, namun sering luput dari perhatian.

Tanahindie menganggap halaman rumah sebagai wacana dan ranah untuk mengeksplorasi isu perkotaan. Komunitas ini tumbuh dan besar di antara masyarakat Bugis dan Makassar, yang memiliki hunian berbentuk rumah panggung. Di mana kolong rumah, daerah yang paling sejuk di dua masyarakat suku tropis ini, sehingga menjadi pusat kehidupan dari pagi hingga sore.[2] Tanahindie percaya, arsitektur Indonesia berorientasi di halaman, dan menjadikannya pusat kehidupan. Tanahindie pun banyak melakukan kegiatan di halaman rumah. Di antaranya ‘Benang dan Halaman’, pameran foto ‘Lembaran yang Hilang’ oleh Sofyan “Pepeng” Syamsul, pameran lukis ‘The Makassar Impression’ oleh Hyeong Man, Gerobak Bioskop Dewi Bulan, serta Yayasan Sabtu Malam.

IMG-20180629-WA0020

Salah satu sesi diskusi yang diadakan Tanahindie ©Tanahindie

 

Anwar Jimpe Rachman (2017:4-5), menulis dalam buku Halaman Rumah:

Orang-orang yang menyemarakkan halaman mulai dasawarsa 2000-an adalah mereka yang mengalami masa-masa ketika kampus yang ‘bebas gravitasi militer dan polisi’ menjadi ruang mengungsi komunitas-komunitas dalam membangun gerakan. Deretan kelompok anak muda itu lalu bergerak keluar kampus dan memulai hidup di rumah-rumah. saat gerakan itu dikeluarkan (dari kampus), mereka menggodok, dan membicarakannya di ‘ruang tengah’ dan ‘ruang belakang’ rumah.”

Di tahun 2017, Tanahindie secara serius meneliti tentang ‘halaman rumah’. Penelitian yang saya dengar dari Anwar Jimpe Rachman, telah dicanangkan sejak empat tahun yang lalu oleh para pendahulu Tanahindie. Saya dan tiga orang kawan, terlibat sebagai asisten peneliti yang meneliti tiga kampung kota: Kampung Rama, Kampung Paropo, dan Kampung Sukaria. Tiga kampung kota yang terdesak oleh ruang karena pembangunan yang cepat.

Saya pribadi, menghitung minimarket yang ada di sekitaran Panakkukang, dan menemukan 16 alfamart dan 15 indomaret. Keadaan ini membuat halaman rumah warga turut dimanfaatkan sebagai ruang-ruang ekonomi dengan membuat gadde-gadde[3]. Selain itu, juga ada yang membuka warung makan, karena letaknya yang ada di tengah empat kampus besar.

Di sela-sela peneltian itu, Heather Rose Lander, seniman Skotlandia, melakukan residensi di Tanahindie. Dalam kurun waktu itu, kami belajar cara dia bekerja. Tidak hanya hal-hal teknis, kami juga belajar mengemas konsep, mencari bentuk, hingga visual. Semua bermula dan berakhir di halaman, setelah dia memantulkan bayangan dari proyektor pada sebuah kertas bening, lalu menghasilkan bayangan yang cantik.

Sebelum Heather kembali ke Skotlandia, ia bersama The Ribbing Studio, Ibrahim LBH Makassar, dan Unit Pengembangan Kreativitas Seni Budaya dan Sastra (UPKSBS) UMI, membuka diskusi seni bertema “Mata Air: Seni, Air, dan Isu lainnya” di halaman Kampung Buku. Heather sempat mengatakan bahwa ia melihat cara kerja Tanahindi yang banyak berupaya politis lewat kegiatan seni, yang banyak terkait dengan masyarakat dan air.

Malam itu ditutup Teater Tangan UPKSBS UMI yang berjudul “Ku Partai Batu II.” Tiga pementas, Nono, Momo dan Junad; telah melepaskan bajunya kemudian memulai aksinya dari kerumunan penonton, dan masuk ke dalam ruang yang terdiri dari sebuah bambu, batu-batu yang disusun, dan beberapa potong daun nipah.

Sepanjang pementasan, beberapa warga mendekat. Setelah selesai, tiga pemuda itu bergantian menjelaskan proses mereka dalam membuat karya. Menurut Junad, awalnya kegelisahan mereka berasal dari sampah-sampah yang ada di kampus mereka, kemudian lambat laun mengerucut ke air.

“Manusia butuh air, tetapi air kemudian dicemari, dieksploitasi, dan warga kemudian tidak bisa mengakses air, akhirnya terjadilah konflik,” kata Junad. Dari pembicaraan kecil-kecilan itu, kemudian mengerucut pada pegunungan karst yang menjadi sumber cadangan air warga.

Membicarakan air, Bom Benang pun sempat mengangkat tema ‘Benang dan Sungai’ di tahun 2017. Kegiatan ini dilakukan di pinggir Sungai Sinre’jala yang artinya jala robek.[4] Format tim kerja yang bertambah—tim artistik, membuat kegiatan ini meningkat satu tingkatan. Pada tahun 2017, tim kerja mencoba mencari bahan dasar dari halaman warga: sungai. Eceng gondok kemudian dipilih sebagai bahan dasar dari kegiatan ini. Bom Benang 2017 bertambah ramai dengan hadirnya dua seniman residensi: Andi Seno Aji (visual) dan Fadriyah Syuaib (lukis).

Selama tiga bulan, halaman warga menjadi sentra kegiatan ini. Dari latihan menganyam, focus grup discussion, hingga pameran, semua dilakukan di halaman rumah warga. Anak-anak dan ibu-ibu turut berpartisipasi dalam pameran. Tetapi halaman rumah tetaplah milik warga. Beberapa lelaki dewasa, suami dari para istri itu, ikut terlibat dengan memasang rajutan di pohon, mengangkat bambu yang dipakai sebagai penanda pintu masuk, bahkan turut menyampaikan pendapat. Andi Seno Aji, melempar gambar ikan dan rumah dengan proyektor ke arah sungai Sinre’jala.

“Yang kita lakukan di hulu, pastilah berefek ke hilir,” jelas Andi Seno Aji di tepi sungai, sembari memegang menatap kerumunan orang di belakangnya. Gambar yang ditampilkan cukup jelas, karena dilakukan pada malam hari. Sementara Fadriyah, melukasi eceng gondok pada buku-buku yang dirajut dari bahan dasar eceng gondok pula.

Mengalami halaman rumah dari perjalanan pribadi saya, membuat saya paham. Mengapa ‘kampung halaman’ begitu dirindukan. Sebuah tempat, sebuah ruang yang penuh dengan aktivisme dan kenangan. Sayang, kota dengan perkembangannya, membuat halaman rumah, jadi sekadar tempat untuk memarkir motor saja, karena ukurannya yang semakin menyempit, dan aktivisme yang semakin sulit.

IMG-20180629-WA0019

Teater Tangan Kupartai Batu II oleh UPKSBS UMI di depan halaman Kampung Buku ©Tanahindie

 

Catatan kaki:

[1] Bob Susanto, http://www.spengetahuan.com/2015/09/9-fungsi-lembaga-keluarga-dan-penjelasannya-lengkap.html, diakses pada 7 Januari 2018, pukul 12.14 WIT.

[2] Tanahindie, Pendahuluan Halaman Rumah/Yard, (2017:1).

[3] Warung kecil yang menjual sembako, minuman ringan, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

[4] Anwar Jimpe Rahman, saintjimpe.blogspot.com, diakses pada 7 Januari, pukul 14.31 WITA.

 

Fauzan Al Ayyuby
Fauzan Al Ayyuby lahir 4 maret 1994 di Nabire, Papua. Menjadi alumni STMIK AKBA, Makassar, jurusan Sistem Informasi pada tahun 2017. Ia pernah menjadi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (HIMASISFOR) STMIK AKBA periode 2015-2016. Ikut juga membantu mengelola Taman Baca Anak Bangsa dan Taman Baca Vrede dari tahun 2016 sampai sekarang. Ia juga terlibat sebagai Tim Penulis/Peneliti di Bom Benang 2016, dan Tim Fasilitator Bom Benang 2017. Saat ini sedang bekerja, dan belajar meneliti kota di Tanahindie, serta ikut urunan daya di Makassarnolkam(dot)com. Biasa nongkrong di Yayasan Sabtu Malam (Yassalam). Pernah menerbitkan buku antologi puisi berjudul Luka.