Apa itu rumah?

840 Views |  Like

Ruang bahagia menghadirkan kontribusi yang beragam dari mulai pelajar, pendidik, pengguna kota dan kata, praktisi, klien, penulis hingga pelukis. Jika bukan sebuah keberuntungan, entah apa namanya. Dua belas kontributor berusaha menceritakan, menggambarkan, dan menawarkan pandangan mereka akan ‘rumah’, dari makna yang sederhana hingga rumit, kepemilikan yang personal hingga umum, bahkan dengan melihat detail kecil hingga konteksnya secara luas.

.

Kami, para kontributor, membagi persepsi, pemahaman, pemikiran, bahkan pertanyaan akan makna rumah yang kami alami dan mungkin dialami juga oleh sahabat-sahabat lain. Riza Nur Afifah membuka dengan pernyataan bahwa rumah adalah hal pribadi dan sederhana. Lalu Yandi Andri Yatmo dan Kristanti Dewi Paramita memaparkan makna kata ‘rumah’ itu sendiri justru cenderung tidak stabil dan majemuk tergantung penggunaan dan konteks. Priscilla Epifania menawarkan kata ‘omah’ untuk membedakan dengan rumah, seperti home dan house. Pencarian pribadi dilakukan oleh Asa Darmatriaji melakukan mencari makna ‘rumah’ tersebut dengan mendatangi langsung dua orang arsitek Indonesia: Tan Tjiang Ay dan Eko Prawoto. Hal serupa dilakukan oleh M. Yusni Aziz, dalam perjalanannya ke Iran, menemukan kepingan-kepingan makna ‘rumah’ sebagai sebuah ruang pelarian dan pemberontakan.

Rumah dibedah secara fisik, hingga terlihat elemen-elemen penyusunnya, sebagaimana diceritakan dengan sangat baik oleh tulisan Realrich Sjarief juga Anditya Dwi Saputra di dua konteks berbeda, Indonesia dan Singapura. Hal itu dilengkapi oleh tulisan Dinda Jouhana yang menarasikan rumah sebagai proses menyusun elemen-elemen tersebut juga proses membentuk diri. Di sisi lain penceritaan oleh Ivan Nasution dan Rofida Amalia menggambarkan makna rumah yang meluas secara sosial, hingga pertentangan kaum konglomerat dan proletariat yang terlihat di kota. Ditutup oleh Rofianisa Nurdin yang memecah kepingan-kepingan ‘rumah’-nya ke sudut-sudut kota dan mengumpulkannya kembali.

Apakah ‘rumah’ adalah kumpulan kepingan-kepingan itu? Mungkinkah ‘rumah’ adalah proses pencarian

itu? Apakah rumah itu adalah tempat kita kembali pulang?

…saya bertanya, apakah makna rumah baginya. Ia menatap ke dalam mata saya, menjawab tanpa ragu: Kamu.” (Avianti Armand, Arsitektur yang Lain)

Selamat menikmati ruang | kreativitas tanpa batas

ruang arsitektur

admin
Ruang adalah sebuah majalah online bertema arsitektur, kota, dan lingkungan binaan, beserta segala permasalahannya. Kami tertarik dengan cara pandang yang beragam dalam melihat sebuah tema; karenanya, kami mengambil sebuah posisi yang objektif dengan memberikan kesempatan kepada setiap pandangan untuk menyuarakan argumennya. Tidak ada benar dan salah dalam berpendapat, yang ada hanya argumen yang lebih berdasar. Kami percaya bahwa konsensus bukanlah sebuah tujuan. Karenanya kami berupaya agar setiap edisi diwarnai oleh beragam kontributor: praktisi, akademisi, pengamat, penikmat, pengguna, patron maupun kritikus dari berbagai disiplin ilmu.

Ruang tidak mencari solusi terhadap sebuah permasalahan yang diangkat dalam setiap tema. Bagi kami, untuk saat ini merupa pertanyaan yang baik dan tepat lebih diperlukan daripada terburu-buru mengambil solusi. Maka, setiap edisi akan dibuka oleh sebuah pertanyaan berupa call for paper yang akan melahirkan sebuah edisi. Dan, edisi tersebut menjadi pengantar bagi sebuah temuan awal dari tema yang ditampilkan. Namun edisi tersebut belum akan ditutup, dan akan terus dibuka untuk mencari cara pandang lain mengenai permasalahan dalam tema tersebut.